Powered By Blogger

Kamis, 07 Maret 2013

Laporan Keuangan Konsolidasian. (Standar Akuntansi Pemerintahan)


Laporan Keuangan untuk tujuan umum dari unit pemerintahan yang
ditetapkan menurut aturan perundangan sebagai entitas pelaporan disajikan secara
terkonsolidasi agar mencerminkan satu kesatuan entitas. Laporan keuangan untuk
unit pemerintah pusat mencakup laporan keuangan semua entitas akuntansi 
kementerian departemen, lembaga, instansi dan proyek, termasuk laporan keuangan
badan layanan umum. Sedangkan, laporan keuangan untuk unit pemerintah daerah
mencakup laporan keuangan semua entitas akuntansi  dinas yang ada pada
pemerintah daerah.
Laporan Keuangan yang harus dikonsolidasi terdiri dari Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan Arus Kas tidak
memerlukan laporan konsolidasi, karena suatu entitas pelaporan hanya mempunyai
satu laporan arus kas, mengingat laporan kas hanya disusun oleh unit yang
mempunyai fungsi kebendaharaan saja, baik untuk pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah.
Laporan keuangan konsolidasi disajikan untuk periode pelaporan yang sama
dengan periode pelaporan keuangan entitas pelaporan dan berisi jumlah komparatif
dengan periode sebelumnya. Konsolidasi dilakukan dengan cara menggabungkan
dan menjumlah rekening yang diselenggerakan oleh entitas pelaporan dengan
entitas pelaporan lainnya. Proses konsolidasi diikuti dengan eliminasi rekening-
rekening       timbal      balik       (reciprocal)              misalnya      sisa       uang      yang       harus dipertanggungjawabkan       (UYHD)       yang       belum      dipertanggungjawabkan       oleh bendaharawan pembayar sampai akhir periode akuntansi, kecuali eliminasi tersebut
belum dimungkinkan. Apabila kondisi ini terjadi, hal tersebut harus diungkapkan
dalam catatan atas laporan keuangan.

Catatan atas Laporan Keuangan Pemerintah (Standar Akuntansi Pemerintahan)


Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
laporan keuangan itu sendiri. Penyajian catatan ini dimaksudkan agar laporan
keuangan dapat dipahami secara lebih baik oleh pembaca laporan yang tidak
terbatas       oleh       pembaca       tertentu.        Tujuannya       adalah       untuk       menghindari
kesalahpahaman diantara pembaca laporan karena mungkin saja diantara pembaca
yang mempunyai latar belakang yang berbeda dapat menafsirkan pos-pos yang
terdapat dalam laporan keuangan dengan persepsinya masing-masing.
Pengguna laporan yang terbiasa dengan laporan keuangan komersil cenderung
akan melihat laporan keuangan pemerintah seperti laporan keuangan perusahaan.
Demikian juga dengan pengguna laporan yang terbiasa dengan orientasi anggaran
akan mempunyai potensi kesalahpahaman dalam memahami konsep akuntansi
berbasis akrual. Untuk itu diperlukan penjelasan yang bersifat umum yang mengacu
pada pos-pos dalam laporan keuangan.

Pengungkapan lainnya seperti basis akuntansi yang digunakan serta kebijakan
akuntansi yang diterapkan juga akan membantu pembaca dalam memahami laporan
keuangan tersebut.
Dalam Catatan atas Laporan Keuangan informasi yang disajikan dalam catatan
tersebut harus mempunyai referensi silang kepada setiap pos yang terdapat dalam
Neraca, Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Arus Kas dan disajikan secara
sistimatis. Jadi Catatan atas Laporan Keuangan merupakan penjelasan atau daftar
terinci atau analisa atas nilai suatu pos yang terdapat dalam laporan keuangan
termasuk pengungkapan-pengungkapan lain yang diperlukan sebagai syarat bahwa
laporan keuangan telah disajikan secara wajar, misalnya adanya kewajiban
kontijensi (bersyarat) dan komitmen-komitmen lainnya.
Pengungkapan dalam Catatan atas Laporan Keuangan dapat berbentuk narasi,
bagan, grafik atau bentuk lain yang lazim yang mengikhtisarkan secara ringkas
kondisi dan posisi keuangan entitas pemerintahan.

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan No 4, Catatan atas
Laporan Keuangan sekurang - kurangnya disajikan dengan susunan sebagai berikut:
1. Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian
target Undang-undang APBN/Perda APBD, berikut kendala dan hambatan
yang dihadapi dalam pencapaian target.
2. Ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan.
3. Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-
kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan
kejadian-kejadian penting lainnya.
4. Pengungkapan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.
5. Pengungkapan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul
sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan
rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas
6. Informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak
disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.
7. Daftar dan skedul.

Catatan atas Laporan Keuangan disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas harus mempunyai
referensi silang dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis
atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan
Laporan Arus Kas. Termasuk pula dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah
penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Standar Akuntansi
Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk
penyajian yang wajar atas laporan keuangan, seperti kewajiban kontinjensi dan
komitmen-komitmen lainnya.
Dalam keadaan tertentu masih dimungkinkan untuk mengubah susunan
penyajian atas pos-pos tertentu dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Misalnya
informasi tingkat bunga dan penyesuaian nilai wajar dapat digabungkan dengan
informasi jatuh tempo surat-surat berharga.