Powered By Blogger

Rabu, 28 Desember 2016

Pengertian Rentabilitas

      Kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan modal yang digunakan dan dinyatakan dalam prosentase. Pada tingkat rentabilitas mencerminkan modal perusahaan dalam menghasilkan laba, ini berarti bahwa tingkat rentabilitas yang tinggi dapat merupakan efisiensi yang tinggi pula.
      Lukman, Analisa Laporan Keuangan, (2001 : 39), cara menggunakan tingkat rentabilitas untuk ukuran-ukuran efisiensi yang merupakan cara yang baik, sebab suatu perusahaan akan sulit meningkatkan rentabilitasnya tanpa kenaikan efisiensinya. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua kenaikan rentabilitas akan mencerminkan naiknya efisiensi, sebab dapat pula terjadi sebaliknya. Misalnya rentabilitas perusahaan naik, pada hal sat itu perusahaan sering mengalami pemogokan buruhnya, dan kerusakan-kerusakan mesin, setelah diselidiki, ternyata kenaikan rentabilitasnya dipengaruhi oleh harga jual yang kebetulan dapat diperoleh karena datangnya barang-barang saingannya terlambat, disebabkan karena adanya pemogokan yang tak terduga, guna melihat efisiensi penggunaan dana yang di tanamkan ke dalam perusahaan mengutamakannya untuk memaksimalkan laba.
      Perusahaan berusaha untuk menaikan rentabilitasnya dapat saja meningkatkan laba yang relatif rendah akan memberikan rentabilitas yang tinggi,  alternatif semacam  inilah pimpinan perusahaan akan menggunakan dana yang ada seefisien mungkin.
      Untuk menilai rentabilitas suatu perusahaan, dapat menggunakan tiga macam cara, (Lukman, Analisa Laporan Keuangan, 2001 : 257) adalah
           Earning before interest and taxes
   a.                                                 x 100%
                      Total Assets

Rasio ini digunakan  untuk mengetahui sampai sejauhmana modal yang di investasikan pada seluruh assets yang ada dalam perusahaan dapat memperoleh keuntungan. Keuntungan yang dimaksud adalah keuntungan sebelum dikurangi bunga dan pajak.
              Net Profit
   b.                      x 100%
            Total Assets

Ratio ini untuk melihat antara net profit (laba bersih) setelah dikurangi bunga dan pajak yang dibagi dengan dengan total assest.
              Net Profit
   c.                      x 100%
               Net Work

Rasio ini digunakan untuk melihat tingkat kemampuan modal sendiri untuk memperoleh laba. Namun untuk mengetahui tingkat batas kemampuan suatu perusahaan dalam memperoleh laba, dapat pula digunakan rasio antara net operating in come dengan net sales, maka perbandingan tersebut dinyatakan dalam prosentase, yaitu :
                                 Net Operating In Come
       Profit Margin =                                                x 100%

                                      Net Sales  

Pengertian Solvabilitas

      Perusahaan yang bonafit dan dapat mengimbangi seluruh hutang-hutangnya, maka perusahaan tersebut dapat berkelanjutan. Bambang Cahyono, Analisa Kinerja Keuangan, (2000 : 117)  solvabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk membayar seluruh kewajiban-kewajibannya baik berupa hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang seandainya perusahaan dikuiqidir/dibubarkan. Apabila perusahaan mampu membayar seluruh hutang-hutangnya bilamana diliquidir/ dibubarkan, maka perusahaan dikatakan bahwa dalam keadaan solvabel. Tetapi sebaliknya bilamana perusahaan tidak mampu membayar seluruh hutang-hutangnya baik berupa jangka pendek maupun jangka panjang bila diliquidir, maka perusahaan tersebut dikatakan dalam keadaan insolvabel atau tideak solvabel.                                
      Kemampuan suatu perusahaan dapat diketahui melalui neraca suatu perusahaan yang menunjukkan posisi aktiva lancar, aktiva tetap dan kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang yang dapat dianalisa untuk mengetahui perusahaan tersebut solvalbel atau insolvabel.
      Solvabilitas suatu perusahaan oleh Amin Tunggal Analisa Laporan Keuangan, (1998 122) dapat diketahui melalui neraca perusahaan yang bersangkutan dan perhitungan pada tingkat solvabilitas menggunakan dua macam ratio, yaitu :
                                         Total Assets
     a.    Solvabilitas =                            x 100 %        
                                    Total debt  

   Total assets suatu perusahaan adalah jumlah seluruh  aktiva yang dimiliki oleh perusahaan, yang terdapat pada sebelah debet suatu neraca atau pada bagian atas suatu debet. Perlu diperhatikan, bahwa di dalam total  assets ini, tidak diperhitungkan aktiva bersifat inmaterial (yang tidak nyata), sedangkan total deb pada suatu perusahaan adalah sejumlah hutang perusahaan, baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang dengan rumus dibawah ini.
                                                  Net worth
    b. Net Worth to debt ratio =                       x 100 %
                                                  Total debt
                       

         Net worth adalah jumlah modal sendiri yang dimiliki perusahaan yang mengcakup modal, saham, cadangan,  surplus dan lain-lain. Pengertian lain net worth adalah selisih antara jumlah hutang perusahaan dikurangi dengan total assets. Sedangkan net worth to debt ratio yang normal adalah 100% yang berarti bahwa jumlah hutang sama dengan jumlah modal sendiri.

Pengertian dan Evaluasi Kinerja

      Pengertian Kinerja
         Kinerja identik dengan prestasi kerja yang merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian atau hasil yang dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan, program, kebijaksanaan, dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi.
Berikut ini menurut John Soeprihanto dalam buku Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karyawan, (2000 : 219) mengemukakan bahwa kinerja berasal dari kata kerja yang dapat diartikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan, maka kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.  
Selanjutnya Ridyah Hanafi dalam buku Pengantar Manajemen (2002 : 137) menyatakan bahwa (job performance) merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Lebih lanjut B. Siswanto Sastrohadiwirya dalam buku Produktivitas Kerja Bagi Eksekutif ( 2000 : 235 ) menyatakan bahwa prestasi kerja adalah kinerja yang dicapai oleh seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Pada umumnya kerja seseorang tenaga kerja antara lain dipengaruhi oleh kecakapan, keterampilan, pengalaman, kesungguhan dan tenaga kerja yang bersangkutan.
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 1997 mengartikan bahwa kinerja kerja sebagai hasil kerja yang dicapai oleh seseorang pegawai negeri sipil dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya.
Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut adalah merupakan prestasi kerja yang dihasilkan oleh seorang tugas yang diberikan kepadanya dapat terus ditingkatkan, maka diperlukan penilaian terhadap kinerjanya. Berhubungan dengan penelitian tersebut, maka menurut Moekijat dalam buku Manajemen Sumber Daya Manusia (2001 : 197) menyatakan bahwa penilaian sebaiknya menciptakan suatu gambaran yang cermat tentang pelaksanaan pekerjaan dari seseorang individu. Untuk mencapai sasaran ini sistem penilaian harus berhubungan dengan jabatan, praktis mempunyai standar dan menggunakan ukuran yang dapat dipercaya.
     Evaluasi Kinerja
 Untuk dapat mengetahui apakah karyawan telah bekerja sesuai dengan standar-standar yang telah ditentukan sebelumnya serta manfaat yang telah diperoleh dari pekerjaan yang dibebankan kepadanya, maka kiranya perlu diadakan evaluasi kinerja.
Evaluasi kinerja menurut B. Siswanto Sastrodiwiryo dalam buku Produktivitas Kerja Bagi Eksekutif (2000 : 220) menyatakan bahwa evaluasi merupakan protes deskripsi perilaku para peserta secara kualitatif dari sisi pandangan pendidikan dan pelatihan, evaluasi dapat diartikan sebagai suatu proses sistematis untuk meningkatkan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan program pendidikan dan pelatihan.
Sedangkan merurut Gugup Kismono  dalam buku Pengantar Bisnis (2000 : 173) menyatakan bahwa evaluasi dilakukan untuk mengetahui kesuksesan atau kegagalan penarikan antara lain dengan melihat jumlah pelamar, jumlah pelamar yang diterima, dan penempatan karyawan yang berhasil.
Lebih lanjut merurut Gugup Kismono  dalam buku Pengantar Bisnis (2000 : 178) mengemukakan penilaian kinerja merupakan prose berkesinambungan yang mencakup :
1.   Evaluasi terhadap kinerja
2.   Sasaran untuk meningkatkan kinerja
2      Definisi penghargaan atas pencapaian sasaran di masa yang akan datang.
3     Spstem umpan balik yang memungkinkan pemimpin dan karyawan memantau kinerjanya.
4     Pertemuan secara periodik antara pemimpin dengan karyawan untuk membahas kemajuan karyawan terhadap sasaran.

5     Tindakan koreksi karyawan tersebut berusaha untuk mencapai sasarannya.

Pengertian dan Jenis-Jenis Pelatihan

  Pengertian pelatihan
    Adapun beberapa rumusan tentang pelatihan menurut Wursanto dalam buku Manajemen Personalia (1998 : 59), yaitu :
a. Latihan atau training adalah suatu kegiatan atau usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seorang pegawai atau karyawan dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan tertentu.
b. Menurut Instruksi Presidan Nomor 15 Tahun 1974, latihan adalah bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat dengan metode yang mengutamakan praktek dari pada teori.
Dari rumusan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa latihan adalah suatu proses pengembangan pegawai baik dalam bidang kecakapan pengetahuan, keahlian maupun sikap dan tingkah laku pegawai untuk memperbaiki ataupun meningkatkan keterampilan dan kemampuan dari para tenaga kerja sehingga dapat memiliki kemampuan seperti yang diharapkan oleh perusahaan perlu memilirkan langkah-langkah untuk menentukan latihan kerja yang perlu diberikan kepada para karyawannya.
 Jenis-Jenis pelatihan
    Adapun jenis-jenis pelatihan yang dikemukakan oleh Robert John dalam  buku Manajemen Sumber Daya Manusia, (2002 : 17), yaitu :
a. Pelatihan internal
    Petihan dilokasi kerja (on the job training) cenderung dipandang sebagai hal yang sagat aplikatif untuk pekerjaan, menghemat biaya untuk mengirim karyawan dalam pelatihan, dan terkadang dapat terhindar dari biaya untuk pelatihan yang belajar sambil bekerja yang dapat menimbulkan biaya dalam bentuk kehilangan pelanggan dan rusaknya peralatan, dan mereka bisa menjadi frustrasi bila keadaan tidak kunjung membaik.
b. Pelatihan eksternal
      Pelatihan eksternal muncul karena beberapa alasan :
2     Pelatihan adalah lebih murah bagi pengusaha untuk menggunakan pelatihan dari luar menyelenggarakan pelatihan di tempat di mana sarana pelatihan internal terbatas.
3     Mungkin waktunya tidak memadai untuk persiapan pengadaan materi pelatihan internal.
4     Staf sumber daya manusia mungkin tidak memiliki tingkat keahlian yang dibutuhkan untuk materi di mana pelatihan diperlukan.
5     Ada beberapa keuntungan di mana para karyawan berinteraksi dengan para manajer dan rekan-rekan kerja perusahaan lain dalam suatu program pelatihan yang dilaksanakan di luar.
        Salah satu trend yang sedang berkembang saat ini adalah “Outsourcing” dari pelatihan.  Pabrik (vendors) digunakan untuk pelatihan para karyawan mereka. Sebagai contoh banyak menyedia perangkat lunak (sofware) menyediakan konferensi bagi pemakai perangkat lunak tersebut di mana para karyawan dari beberapa perusahaan penerima pelatihan secara rinci dalam menggunakan perangkat lunak tersebut dan beberapa materi baru yang ditambahkan. Juga pabrikan dapat melaksanakan pelatihan di dalam organisasi jika jumlah karyawan yang akan dilatih untuk mencukupi.

      Setiap unsur ketika tenaga pekerja diharapkan untuk melaksanakan pekerjaannya berhasil dan produktif. Untuk itu dia dituntut kemampuan yang serasi, dan oleh karenanya dia harus bekerja dengan baik, belajar terus menerus dan mengikuti kegiatan pelatihan yang dirancang bagi yang bersangkutan.

Pengertian dan Komponen-Komponen Ilmu Pendidikan

       Pengertian Pendidikan
          a.  Batasan tentang pendidikan
               1.  Pendidikan saf dalam proses transformasi budaya yang  diartikan sebagai kegiatan pariwisata budaya dari satu generasi ke generasi yang lain.
              2.  Pendidikan sebagai  proses  pembentukan  pribadi yang  diartikan
                   Sebagai suatu  kegiatan  yang  sistematis  dan  sistematik  terarah  
                   Kepada terbentuknya kepribadian peserta didik.
3.  Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja yang diartikan sebagai suatu kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja. 
             4. Definisi pendidikan menurut GBHN adalah pendidikan Nasional yang berakar pada kekayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya serta dapat memenuhi kebutuhan Pembangunan Nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
         b. Tujuan dan proses pendidikan
             Tujuan pendidikasn memuat gambaran tentang nilai yang baiik, luhur, pantas, benar, indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu :
1.  Memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan
 2. Merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan dalam pendidikan.
Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik ke arah kepada pencapaian tujuan pendidikan.
Menurut ahli pendidikan yang terkenal yaitu John H. Jakson Robert L Mathis, Sumber Daya Manusia, (2002 : 118), yang mengemukakan bahwa ilmu pendidikan dipandang sebagai ilmu teoritis dan ilmu praktis, mempelajari proses pembentukan kepribadian manusia yang dirancang secara sistematis dalam proses interaksi antara pendidikan dengan peserta didik di dalam dan di luar sekolah.
Dalam ilmu pendidikan memang dituntut pengembangan ilmu menurut Andi Muslimin Passamula dalam buku Pengantar Pendidikan (2004 : 112) menyatakan bahwa pendidikan dirumuskan sebagai proses pengembangan dan latihan yang mencakup aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan kepribadian (chacter), terutama yang dilakukan dalam suatu bentuk formula (persekolahan), kerja atau pendidikan yang mencakup proses dalam menghasilkan (production) dan tranfer (distribution) ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh individu atau organisasi belajar (learning organization). Organisasi belajar dimaksudkan dapat tercapai dari lembaga-lembaga pemerintah atau swasta, tingkat dasar, menengah dan pendidikan tinggi.
       Konponen-Komponen Ilmu Pendidikan
Bentuk dari landasan filosofis, psikologis dan sosial budaya dan nilai-nilai yang menjadi acuan, ilmu pendidikan yang membentuk batang tubuh. Ilmu Pengetahuan bergantung pada komponen-komponen sebagai berikut :
a. Kurikulum    
Kurikulum merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplesif maupun implisit/ tersembunyi teori ini dikembangkan dalam komponen ini meliputi, antara lain teori tentang tujuan pendidikan, organisasi kurikulum, dan modul-modul pengembangan kurikulum.                 
b. Belajar    
Belajar merupakan ilmu pendidikan yang berkenaan dengan proses pelaksanaan interaksi ditinjau dari sudut peserta didik. Teori-teori yang dikembangkan dalam komponen ini meliputi antara lain, teori tentang karakteristik peserta didik, jenis-jenis belajar, caca belajar, hirarkhi, jenis-jenis dan kondisi-kondisi belajar.
c. Mendidik dan mengajar
Mendidik dan mengajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkaitan dengan proses pelaksanaan interaksi ditinjau dari sudut pendidikan. Teori-teori yang dikembangkan dalam komponen ini meliputi antara lain teori tentang karakteristik pendidikan, karakteristik pembuatan pendidikan dan mengajar, metode dan teknik mendidik dan mengajar dan sistem pengolahan kelas.
d. Lingkungan pendidikan

Lingkungan pendidikan berkenaan dengan situasi di mana interaksi belajar mengajar berlangsung. Teori-teori yang berkaitan dengan lingkungan pendidikan adalah perencanaan pendidikan, manajemen pendidikan, bimbingan konseling, kebijakan pendidikan, (daktik) dan ekonomi pendidikan.

Pengertian dan Jenis-Jenis Sistem  

  

        Pengerrtian Sistem
      Secara umum pengertian sistem adalah jaringan sejumlah prosedur yang saling berhubungan yang dikembangkan sesuai dengan pola (rencana) guna melaksanakan aktivitas perusahaan. Menurut                             M. Syamsul dalam bukunya Penilaian Kinerja (1999 : 42) mengemukana bahwa sistem adalah sistem adalah kumpulan elemen-elemen yang saling berkaitan untuk  mencapai tujuan tertentu.
      Menurut James A Hali dalam bukunya Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karyawan (2001 : 5) mengemukakan bahwa sistem adalah sekelompok atau lebih komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan yang sama.
      Menurut Ludwing Van Bertatanfly (1996 : 50) mengemukakan bahwa sistem adalah seperangkat merupakan unsur-unsur yang berkaitan dalam suatu relasi diantara unsur-unsur tersebut dan dengan lingkungannya.
          Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2001: 950), menyatakan bahwa sistem adalah perangkat dari unsur-unsur yang secara teratur saling berkaitan satu sama lainnya sehingga dapat membentuk suatu totalitas.
           Moekijat, dalam bukunya Sistem Informasi Manajemen, (2001 : 157), menyatakan bahwa "sistem  adalah suatu  susunan secara teratur dari pada kegiatan-kegiatan yang saling bergantung dan prosedur-prosedur yang berhubungan saling melengkapi dan memudahkan pelaksanaan  pekerjaan dari suatu kegiatan organisasi yang penting.
           Berdasarkan definisi di atas bahwa serangkaian kegiatan yang saling terkait satu dengan yang lainnya dan saling melengkapi dari kekurangan kegiatan yang dilaksanakan. Sistem merupakan pekerjaan yang berentang dikerjakan harus sesuai dengan prosedur dan ditata sedemikian rupa tentang urut-urutnnya mulai pertama sampai terakhir tidak bisa melangkah pekerjaan lain.
           Dalam melaksanakan pekerjaan secara berurut dan berantai dan tidak terpisahkan yang saling mendukung pelaksanaan pekerjaan menurut urutannya.    
           Gordon B. Davis, Sistem Informasi Manajemen, (2001 : 67), mengatakan bahwa Sistem dapat abstrak maupun fisik. Sebuah sistem abstrak adalah suatu susunan yang teratur mengenai gagasan atau konsepsi yang saling bergantung. Sebuah sistem fisik terdiri dari bagian-bagian saling berkaitan yang beroperasi bersama untuk mencapai sasaran atau maksud.                                                                                                                      
          Selanjutnya, oleh Soegarda Poewodarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2001  329), menyatakan bahwa sistem adalah suatu keseluruhan rangkaian yang sudah tersusun dari berbagai bagian.
          Berdasarkan definisi tersebut di atas, maka berarti bahwa sebuah sistem bukanlah seperangkat unsur yang tersusun secara  tak  teratur, tetapi terdiri  dari unsur-unsur yang  dapat  dikenal sebagai saling melengkapi karena satu-satunya maksud dan tujuan atau sasaran sudah tertentu. Dalam hubungan ini dapat dilihat dengan keterkaitan dengan satu sama lainnya yang saling melengkapi sistem itu yang berlaku.
      Sedangkan menurut William S Shatde dan Voich J.R dalam bukunya Organisation and Management membagi dalam 6 ciri sistem, sebagai berikut :
1.  Tujuan tertentu      : Sistem terorientasi pada sasaran tertentu
2.  Keseluruhan          : Keseluruhan melebihi jumlah semua bagian
      3.  Keterbukaan        : Sistem saling berhubungan dengan sebuah sistem yang lebih besar, yakni lingkungannya.
4.  Transportasi           : Bagian-bagian    yang    beroperasi   menciptakan
                                      Sesuatu yang mempunyai nilai
5.  Antar hubungan   : Berbagai macam bagian  harus  cocok satu  sama
                                     Lain.
     6. Mekanisme kontrol :   Adanya   kekuatan  yang   mempersatukan  dan
                                                 Mempertahankan sistem yang bersangkutan.
      Jenis-Jenis Sistem
           a. Sistem abstrak dan sistem fisik (akstract system and physical system)
                 1. Sistem abstrak
                     Sistem abstrak adalah susunan yang teratur dari gagasan-gagasan yang satu sama lain berada dalam ketergantungan.
                  2.  Sistem fisik
            b. Sistem deterministik dan sistem probabilistik (deterministic system and probabilistic system)          
                  1.  Sistem deterministic
                       Sistem deterministic adalah sistem yang ada dalam  operasinya
                       Dapat menentukan hasilnya secara pasti.
                   2.  Sistem probabilistik
                        Sistem probalistic adalah  sistem  yang  ada dalam  operasinya
                        Dapat diduga hasilnya  secara pasti.
            c. Sistem tertutup dan sistem terbuka (closed system and open system)
                 1.  Sistem tertutup
                      Sistem tertutup adalah sistem  di mana  tidak  terjadi  pertukaran
                       Bahan, informasi atau energi dengan lingkungan.
                 2.  Sistem terbuka
                       Sistem  terbuka adalah sistem  yang  memungkinkan  terjadinya

                        Peraturan bahan, informasi atau energi dengan lingkungan.

Pengertian dan Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia

     Pengerrtian Manajemen Sumber Daya Manusia
      Sumber daya manusia paling penting dalam usaha organisasi untuk mencapai keberhasilan perusahaan. Sumber daya manusia ini menunjang organisasi dengan karya, bakal, kreativitas dan dorongan betapaun sempurnanya aspek teknologi dan ekonomi, tanpa aspek manusia sulit kirannya tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai.
      Perusahaan menggunakan tenaga kerja dalam artian masyarakat telah menunjukkan perhatian yang meningkat terhadap aspek manusia tersebut. Nilai-nilai manusia semakin diseleraskan dengan aspek-aspek teknologi maupoun ekonomi. Dengan demikian, fokus yang dipelajari manajemen sumber daya manusia ini hanyalah masalah yang berhubungan dengan tenaga kerja manusia saja.
      Berikut ini Manullang M, dalam buku Manajemen Personalia (2003 : 17) memberikan definisi manajemen sumber daya manusia menyatakan bahwa manajemen sumber daya manusia adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan dan pengawasan dari sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
      Selanjutnya Alex S. Nitisemito, dalam buku Manajemen Personalia (2000 : 10) mengemukakan bahwa manajemen sumber daya manusia adalah suatu ilmu dan seni untuk melaksanakan antara lain, planning, organizing, leading, controllong, sehingga efektivitas dan efisiensi sumber daya manusia dapat ditingkatkan semaksimal mungkin dan mencapai tujuan.
      Lebih lanjut Moh. Agus Tulus dalam buku Manajemen Sumber Daya Manusia (1998 : 4) mengemukakan bahwa manajemen sumber daya manusia mempunyai tugas untuk mengolah unsur manusia seefektif mungkin agar diperoleh suatu satuan tenaga kerja yang puas dan memuaskan.
      Dengan memperhatikan uraian di atas, maka jelaslah bahwa pokok dalam manajemen sumber daya manusia ialah adanya tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu, kemusian diusahakan untuk mencapainya. Untuk mencapai tujuan tersebut maka digunakan tenaga orang lain yang menggunakan sumber lain yaitu natural resource. Dengan demikian seorang manajer dalam usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tidak bekerja sendiri tetapi menggunakan tenaga orang lain atau bawahannya. Dan usaha seperti itu merupakan suatu proses yang sistematis dalam melakukan sesuatu. Oleh karena itu menurut uraian di atas, planning, organizing, leading dan controlling merupakan fungsi pada manajemen sumber daya manusia.
      Selanjutnya, sesuai dengan gambaran manajemen sumber daya manusia diberikan uraian secara garis besarnya mengenai fungsi manajemen sumber daya manusia tidak lain adalah untuk meningkatkan daya guna kerja dengan memperhatikan segala sesuatu yang berhubungan dengan kepuasan bekerja sehingga dapat terciptanya suatu kerja sama yang baik.
Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
      B. Flippo dalam buku Principle of Personal Management (1999 : 5) menyatakan bahwa manajemen sumber daya manusia adalah merupakan gabungan dari fungsi-fungsi operatif di bidang sumber daya manusia. Fungsi manajemen sumber daya manusia yang dimaksud yaitu :
a.  Pengadaan tenaga kerja (procurement)                     
                Fungsi ini berhubungan dengan usaha untuk mendapat tenaga kerja dalam jumlah dan kualitas yang butuhkan, penentuan calon karyawan, mengadakan seleksi dan penempatan karyawan.
b.  Pengembangan (development)
Fungsi manajemen sumber daya manusia berhubungan dengan peningkatan kecakapan tenaga kerja yang sudah ada dengan jelas memberikan latihan intensif, yang sudah ada dengan jelas memberikan  latihan insentif, sehingga diharapkan dapat menduduki jabatan yang lebih tinggi yang dituntut akan keahlian tertentu serta dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan cara kerja yang efisien.
c.   Kompensasi (compensation)
Kompensasi berfungsi dalam kaitannya dengan inti pembahasan mengenai penetapan balas jasa yang wajar dan dirasakan adil oleh setiap pekerja, sehingga diharapkan adanya motivasi dalam diri tiap pekerja untuk meningkatkan prestasi kerjanya.
d.  Intergrasi (integration)
Fungsi ini merupakan upaya kepentingan antara pihak majikan balas jasa maupun harga diri kemudian dicarikan penyelesaian guna tercapainya suasana aman dan tenteram.
e.   Pemeliharaan (maintenance)
 Fungsi pemeliharaan merupakan pengrealisasian dari empat fungsi terdahulu dalam usaha untuk mempertahankan, memelihara dan memperbaiki kondisi dari pada pekerja.
F.   Pemutusan hubungan (separation)

Pemutusan hubungan berfungsi untuk memutuskan dan mengembalikan karyawan tersebut kepada masyarakat, sebab masalah ini dapat saja terjadi karena satu dan lain hal dalam pemutusan hubungan ini pula harus sesuai dengan ketentuan serta menjamin agar  warga masyarakat yang dikembalikan berada dalam keadaan yang sebaik-baik mungkin.

Pengertian Produksi

Sebagaimana sifatnya suatu perusahaan bisa bertahan lama untuk mempertahankan kontinuitas produksi dan mutu kwalitas, karena perusahaan memperhatikan selera harga dan kondisi konsumen dimana berada.
Dalam menguraikan pengertian produksi oleh beberapa ahli ekonomi seperti Sofyan Assauri (1993: 7), menyatakan bahwa produksi adalah segala kegiatan dalam menciptakan dan menambah kegunaan (utility) barang dan jasa pada suatu perusahaan.
Sedangkan menurut Martin Kenneth (1990; 3) yang diterjamahkan oleh Mulyadi dalam pengertian produksi    menyatakan bahwa produksi itu merupakan prosedur desaing  barang dan jasa senagai output serta sebagai poduk terakhir input emelent.       
Berdasarkan dari kedua definisi tersebut di atas,    maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa produksi adalah suatu usaha untuk menambah nilai guna suatu barang dan jasa. Jadi barang yang diproduksi mengatalami tahapan tersendiri dengan mempunyai kegunaan tertentu sebagai berikut :
1) Azas efisiensi maksudnya dengan biaya yang kecil mungkin
untuk  mendapatkan hasil tertentu  ataupun dengan pengor
banan tertentu  untuk mendapatkan  hasil yang semaksimal
mungkin.
2) Azas kontinutas, adalah azas yang menghendaki agar dalam
pemakaian alat-alat  produksi terdapat perbandingan yang
serasi.
Selanjutnya akan dikemukakan arti  kualitas ( mutu ) oleh Sofyan Assauri, (1994; 221) mengemukakan bahwa mutu diartikan sebagai faktor-faktor yang  terdapat dalam suatu  hasil yang menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa barang tersebut dibuat. 
Sesuai dengan pengertian  di atas ada beberapa faktor yang dapat  menghasilkan  barang. Faktor-faktor produksi tersebut yaitu :
1) Faktor produksi tanah 
2) Faktor produksi modal
3) Faktor produksi tenaga kerja      
Sedangkan Richard (1990; 84), sebagai berikut dalam berproduksi sangat berhati-hati terhadap kwality untuk di pertahankan bagi para konsumen harus konsisten.
Sesuai dengan definisi tersebut di atas,  menyebutkan                                                           
bahwa unsur keberhati-hatian dalam mempertahankan hasil     produksi, karena hasil produksi inilah yang merupakan pengendalian  mutu untuk berperan serta dalam  bersaing di pasar.  
Dalam hubungannya dengan pengertian diatas, maka dapat dibagi dalam beberapa tahap yang mempunyai bagian dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa sebagai berikut :
- Grade yaitu sifat kelakuan, kemiripan, tingkat reabilitas                                                 tingkat operasinya dan lain-lain.
- Fitenss for use menunjukkan tingkat produk produk yang   mana memberikan kepuasan.
- Consistency in characteristic adalah suatu kumpulan spesifikasi  untuk setiap  komponen  dari produk itu.  Bilamana produk terakhir sesuai dengan spesifikasi design atau maka disebut consistency atau quality ofconformance (mutu sesuai dengan krakteristiknya).             
Jadi setiap perusahaan pabrik/pengolahan dengan     menetapkan suatu standard. Hal-hal yang perlu dipertimbang kan dalam  pembentukan suatu  standard  dikemukakan oleh Harding (1991; 58), menyatakan bahwa :
"1) Memenuhi syarat kegunaan yang ditetapkan
2) Memenuhi standard kualitas perusahaan
3) Diproduksi dengan peralatan  yang ada  sekarang. 
Untuk itulah E.Mansffiel (1990; 121), menyatakan bahwa  proses produksi memerlukan kehati-hatian terhadap variasi dari beberapa produksi barang dan jasa yang sama pada perusahaan.
Selanjutnya menurut R.A. Bilas (1995; 127), adalah sebagai berikut kalau input sabagai salah satu cara proses yang diperhatikan oleh bagian produksi untuk mempertahakna mutu dan kwalitas produksi sesuai dengan permintaan konsu­men, sehingga perusahaan ini tetap produksi, jika tetap memperhatikan selera konsumen.
Dari  beberapa pengertian produksi yang telah di   kemukakan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa produksi merukan suatu proses kegiatan dari berbagai faktor produksi yang dirubah  bentuknya oleh  perusahaan yang  menggunakan  dalam bentuk barang/jasa atau produksi di mana beberapa barang dan jasa  yang disebabkan  input dirubah menjadi barang dan jasa lain yang  disebut output.
Pengertian  produksi  di atas dapat  dikatakan bahwa dengan menggunakan faktor-faktor  produksi sekaligus, maka akan  diperoleh suatu  faedah dalam memenuhi kebutuhan atau pemenuhan  kebutuhan pertanian yang dihasilkan akibat bekerjanya faktor-faktor produksi sekaligus saling terkait dengan satu sama lainnya.
Menurut Paul A. Samuelson (1992; 357), membatasi diri dalam memberikan definisi proses produksi yang menyatakan bahwa produksi ini mempunyai fungsi untuk technical pada relasi diantara faktor-faktor produksi, sehingga out put dari proses produksi garus sepesifikasi produksi, agar barang yang telah diproduksi tetap menjadi pokus perhatian dari relasi.
Sedangkan Soemitro Djoyohadikusumo, (1990; 136), memberikan definisi tentang produksi, berpendapat bahwa produksi pertanian adalah penggunaan unsur-unsur  dengan maksud untuk menciptakan suatu faedah atau untuk memenuhi kebutuhan.
Pendapat di atas, bahwa dapat  menggambarkan fungsi-fungsi dari produksi adalah merupakan hubungan fisik antara input dan output. Dengan kata lain bahwa faktor produksi  yang digunakan sebagai masukan ke dalam proses produksi  dan banyaknya hasil yang akan diperoleh. Misalnya dengan menggunakan input yang akan bisa menambah output atau produksi.
Dalam hubungan antara input dengan output berarti    kita bicarakan  mengenai masalah pendapatan dan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, sehingga dapat di   ketahui hasil  yang telah  diperoleh dapat memperoleh hasil atau tidak memperoleh  keuntungan ( rugi ) dan perlu kita memperhatikan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi dalam satu periode tersebut.