Powered By Blogger

Kamis, 05 Januari 2017

Analisis Likuiditas dan Solvabilitas Pada Perusahaan Pengangkutan

Perusahaan pengangkutan  Makassar dalam mengembangkan usaha diperlukan pembukuan atau pencatatan akuntansi sebagai informasi yang mempunyai peranan penting dalam memberikan gambaran tentang keadaan posisi suatu perushaan. Biasanya gambaran keuangan tersebut pada setiap periode akuntansi dilaporkan dalam suatu laporan keuangan sebagai produk akhir dari suatu kegiatan perusahaan  akuntansi.
Laporan keuangan biasanya dalam bentuk neraca serta perhitungan laba rugi atau laporan rugi laba, di samping itu terdapat pula laporan laba yang ditahan dalam suatu periode tertentu. Perusahaan itu harus menggambarkan tentang posisi atau kekayaan, hutang dan modal, perhitungan rugi laba atau laporan rugi laba, akan memperlihatkan perubahan posisi keuangan untuk suatu periode tertentu. Sedangkan laporan rugi laba yang ditahan merupakan laporan perubahan posisi keuangan yang berasal dari kegiatan usaha sesuatu perusahaan dalam suatu periode tertentu, agar modal sendiri dapat bertambah.
Dengan demikian, tujuan penyusunan laporan keuangan adalah untuk mengetahui apakah perusahaan sanggup melunasi seluruh hutang jangka pendeknya (likuiditas) dan juga dalam melunasi seluruh hutang-hutangnya (solvabilitas), pentingan terhadap kegiatan usaha perusahaan agar dapat diketahui  kedua hal tersebut. Untuk itu, laproan keuangan suatu perusahaan dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan atas dasar laporan keuangan perusahaan, apakah perusahaan ini dapat menilai posisi keuangan suatu perusahaan pada waktu tertentu.

Salah satu tujuan dalam hubungannya dengan kemampuan tingkat perusahaan untuk memenuhi kewajibannya baik jangka pendek dan panjang, sehingga menyajikan hasil analisisnya kepada pihak-pihak memerlukan data dan laporan tentang perusahaan yang bersangkutan, sehingga pihak-pihak dapat mengambil keputusan tentang kebijaksanaan atau langkah ada yang akan diambil. Dalam pembahasan penulisan ini dititik beratkan pada mengukur tingkat likuiditas dan Solvabilitas dalam pengukur tingkat seluruh hutang-hutangnya, karena rasio ini menganalisa dan menginterprestasikan posisi keuangan untuk menyediakan alat-alat yang solvabel guna menjamin pengembalian seluruh hutang-hutangnya tepat pada waktunya dan mengetahui tingkat kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan modal yang digunakan atau ditanamkan. Pada keadaan ini sangat diperlukan oleh para kreditur, bank atau calon-calon kreditur, baik sebagai ukuran kemampuan pengembalian   pinjamannya atau ukuran kemampuan perusahaan memperoleh laba. Hal inilah yang mendorong penulis untuk menelaah tingkat likuiditas dan solvabilitas pada perusahaan pengankutan antara Kota Makassar dengan Bone, Wajo dan  Palopo, karena perusahaan masih sering mengalami kekurangan dana misalnya dalam memainkan perannya dalam pengadaan onderdil mobil yang sangat mahal sekarang, sehingga perusahaan pengangkutan masih sering kesulitan modal (dana).
2.1  Pengertian  Manajemen Keuangan     
            Manajemen keuangan disini adalah penggunaan keuangan  karena adanya transaksi jual beli  oleh perusahaan kepada para  langganannya. Penggunaan keuangan yang harus dipertaggung jawabkan kepada pemegang saham. Di samping itu sering perusahaan yang timbul piutang pada akhirnya akan menimbulkan hak penagihan atau piutang kepada langganan sangat erat hubungannya dengan persyaratan kredit yang diberikan. Sekaligus pengumpulan piutang tidak tepat pada waktu yang sudah ditetapkan namun sebagian besar dari piutang tersebut akan terkumpul dalam jangka waktu yang kurang dan satu tahun. Dengan atasan itulah maka piutang dimasukkan sebagai salah satu komponen aktiva lancar perusahaan.
            Bambang Riyanto, (2004 : 89) penggunaan perlu dipertanggungjawabkan tentang pengelolaannya, apakah terjadi utang piutang, ataukah keungan tersebut dialokasikan secara dengan kepentingan perusahaan.
 Kegiatan perusahaan perlu dilaporkan kepada pemegang saham baik melalui neraca maupun laporan rugi laba biasanya merupakan bagian cukup  besar  dari  aktiva lancar dan oleh  karenanya perlu mendapat perhatian yang cukup serius agar perkiraan piutang ini dapat dihitung dengan cara yang seefisien mungkin. Karena piutang yang tidak dapat ditagih merupakan faktor yang akan merugikan perusahaan. Dengan kata lain tidak tertagihnya piutang dari langganan, adalah tanggung jawab bersama di antara fungsionaris perusahaan. Untuk mengantisipasi timbulnya kerugian akibat tidak tertagih piutang, maka sebelum perusahaan memberikan pinjaman atau menambah pinjaman sebelumnya, pihak perusahaan terlebih dahulu mengadakan evaluasi tentang keadaan atau kemampuan ekonomis calon pembeli.
            Dengan demikian, untuk mengantisipasi akan adanya pencatatan yang dapat menimbulkan kerugian perusahaan perusahaan biasanya kurang tepatnya pencatatan yang dilaksanakan pada bagian pembukuan, sehingga ada kekeliruan yang bisa terjadi menimbulkan kerugian perusahaan, di samping itu karena koordinasi yang kurang bagian pemasaran dan pembelian artinya kros cek antara pemasukan dengan pengeluaran barang kurang akurat. Pencatatan yang diharuskan akurat yang tidak boleh diabaikan oleh pihak perusahaan, agar segala kekeliruan dapat berkurang akan berdampak pada perusahaan yang bisa terhindar dari segala kerugian yang dialami, sehingga pihak perusahaan perlu diperhitungkan kemungkinan kerugian.
            Kerugian piutang yang tidak tertagih, merupakan persoalan yang timbul setelah terjadinya ternsaksi penjualan barang dan jasa hal ini sering diketahui dalam jangka waktu yang relatif lama.                                                                                                                    
            Untuk mengantisipasi terjadinya resiko kerugian seperti diterangkan di atas, maka perlu menentukan standar besar kecilnya pemberian pinjaman kepada langganan. Dalam

2.2  Pengertian dan Jenis-Jenis Laporan Keuangan
2.2.1  Pengertian Keuangan                                    
Analisa laporan keuangan perusahaan berkaitan erat dengan bidang akuntansi yang pada dasarnya merupakan   kegiatan mencatat, menganalisa, dan menafsirkan data keungan dari lembaga perusahaan dan lembaga lainnya dengan aktivitas nya berhubungan dengan produksi dan pertukarang barang dan jasa.
Untuk lebih jelasnya analisa laporan keuangan menurut Djarwanto, (1997: 1), menyatakan bahwa kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan yang tercermin pada laporan-laporan keuangan perusahaan pada hakekatnya merupakan hasil akhir dari kegiatan akuntansi perusahaan.
Pengertian di atas sebagai informasi tentang kondisi keuangan dari hasil operasi perusahaan yang berguna bagi berbagai pihak, baik pihak-pihak yang ada dalam perusahaan maupun diluar perusahaan. Pimpinan perusahaan mengadakan analisa laporan  keuangan pada suatu perusahaan akan dapat mengetahui keadaan perkembangan keuangan dari  hasil yang dicapai baik pada analisa laporan keuangan yang dicapai maupun keberha silan dan kegagalan pada waktu lalu. Dari laporan keuangan memang penting untuk penyusunan kebijaksanaan yang akan dilakukan.     
Laporan keuangan disusun guna memberikan informasi kepada  berbagai  pihak  terdiri  dari meraca, laporan rugi laba, laporan bagian laba yang ditahan atau laporan modal sendiri. Dan laporan perubahan posisi keuangan atau laporan sumber dan penggunaan dana.
Neraca menggambarkan kondisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu, umumnya pada akhir tahun pada saat    penutupan buku. Neraca ini memuat aktiva (harta kekayaan yang dimiliki perusahaan), hutang kewajiban perusahaan untuk membayar dengan uang atau aktiva lain kepada pihak lain pada waktu tertentu yang akan datang dan modal sendiri (kelebihan aktiva di atas hutang).
Laporan laba rugi perusahaan memperlihatkan hasil yang  diperoleh dari penjualan barang-barang atas jasa-jasa dan ongkos-ongkos yang timbul dalam proses pencapaian hasil. Laporan ini juga memperlihatkan adanya pendapatan bersih atau kerugian bersih sebagai hasil dari operasi  perusahaan.
Laporan bagian laba yang ditahan, yaitu digunakan dalam perusahaan yang berbentuk perseroan, menunjukkan suatu analisa perubahan besarnya bagian laba yang ditahan selama jangka waktu tertentu. Sedangkan laporan modal sendiri diperuntukkan                                                              bagi perusahaan perseroan dan pada bentuk persekutuan, meringkaskan perubahan besarnya modal pemilik atau pemilik selama periode tertentu.
Laporan perubahan posisi keuangan memperlihatkan aliran modal kerja selama periode tertentu. Laporan ini memperlihatkan sumber-sumber dari mana modal kerja telah diperoleh  dan penggunaan atau pengeluaran modal kerja yang telah dilakukan selama jangka waktu tertentu.                                                                                                                   
Kalau menurut Ikatan Akuntan Indonesia (1997: 12) menyatakan bahwa laporan keuangan sebagai pertanggungan jawab kepada pihak ekstern harus disusun sedemikian rupa, sehingga :
1. Memenuhi keperluan untuk :
   a. Memberikan informasi keuangan secara kuantitatif mengenai perusahaan tertentu, guna memenuhi keperluan para pemakai dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi.
   b. Menyajikan informasi yang dapat dipercaya menganai posisi keuangan dan    perubahan - perubahan  kekayaan  bersih perusahaan.
   c. Menyajikan informasi keuangan yang dapat membantu para pemakai dalam menaksir kemampuan memperoleh laba  dari  perusahaan.
   d. Menyajikan informasi yang diperlukan mengenai suatu perubahan dalam harta dan kewajiban serta mengungkap kan lain-lain informasi yang sesuai dengan keperluan para pemakai.
2. Mencapai mutu sebagai berikut :
   a. Relevan
   b. Jelas dan dapat dimengerti
   c. Dapat diuji kebenarannya
   d. Mencerminkan keadaan perusahaan
   e. Dapat dibandingkan
   f. Lengkap                                                        
   g. Netral.                                                              
2.2.2  Jenis-Jenis Laporan Keuangan 
Pengertian laporan keuangan perusahaan bahwa yang diperumpakan akuntansi merupakan suatu bahasa bisnis dapat memberikan informasi kondisi bisnis dan hasil usaha perusahaan pada periode tertentu untuk dijadikan sebagai bahan pengambilan keputusan bagi pihak-pihak berkepentingan akuntansi, informasi-informasi yang dimaksud adalah laporan keuangan yang terdiri dari daftar-daftar yang menunjukkan posisi keuangan dan hasl kegiatan suatu perusahaan untuk satu periode.
Untuk lebih memahami tentang laporan keuangan di bawah ini akan dikemukakan oleh bebepara pengertian analisa   laporan keuangan, oleh Myer dijerjemahkan Munawir (1999: 5) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Dua daftar itu adalah neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi laba.                                                            
Selanjutnya, Ikatan Akuntan Indonesia (1999: 1), bahwa istilah laporan keuangan yang meliputi neraca,laporan rugi laba, laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya sebagai laporan atus kas atau laporan arus dana dan catatan laporan keuangan, analisa laporan keuangan lain serta materi penjelasannya merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Beredasarkan pengertian laporan keuangan yang telah dikemukakan  di atas, dapat diketahui bahwa analisa laporan adalah merupakan poduk atau hasil akhir dari suatu siklus akuntansi. Laporan  keuangan inilah yang menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan. Di samping itu bahan informasi analisa laporan keuangan juga sebagai pertanggung jawaban atau accountability dan dapat juga sebagai indikator kesuksesan suatu perusahaan.
1) Komponen-Komponen Laporan Keuangan
Untuk memenuhi kepentingan pemakai laporan keuangan yang meliputi investasi  sekarang  dan  investasi  potensial, karyawan, pemberian pinjaman pemasol dan kredit usaha lainnya, pelanggan, emerintah serta lembaga-lembaga dan masyarakat. Dalam menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda.
   Berdasarkan hal tersebut di atas, maka laporan keuangan bank harus disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuang an dan Standar Khusus Akuntansi Perbankan Indonesia  adalah sebagai berikut :
   a. Neraca
   b. Laporan komitmen dan kontijensi
   c. Laporan laba rugi
   d. Laporan arus kas
   e. Catatan atas laporan keuangan.
   Laporan keuangan mempunyai fungsi dan kegunaan dalam penyampaian  informasi  yang  akurat  dan  efektif untuk kepentingan pemakai laporan keuangan.                                                                            
2) Dasar Penyajian Laporan Keuangan                                                             
    Ikatan akuntansi Indonesia (1999: 31) menyatakan bahwa seluruh penyerahan laporan keuangan bank harus daftar mata uang rupiah. Dalam hal ini bank memiliki aktiva kewajiban komitmen serta kontijensi dalam valuta asing harus disajikan ke dalam mata uang rupiah dengan harus menggunakan kurs tengah yang berlaku pada tanggal laporan Untuk modal yang disetor valuta asing dijabarkan dengan menggu nakan kurs  konversi  Bank Indonesia pada saat modal disetor.
    Adapun yang dimaksud dengan kurs tengah adalah kurs jual beli dari Bank Indonesia dibagi dua pada saat tanggal laporan. Selanjutnya asumsi dasar penyusunan laporan keuangan disusun atas dasar akrual. Dengan dasar ini transaksi dan peristiwa lain diakui saat kejadian dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam  laporan keuangan pada periode yang bersangkutan.
Laporan yang disusun secara karual memberikan informasi kepada pemakai tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas di masa depan serta sumber daya yang memprestasikan kas yang akan diterima di masa depan.
3) Tujuan Laporan Keuangan
       Tujuan laporan keuangan menurut Ikatan akuntansi Indonesia (1999: 121) memberikan informasi tentang posisi keuangan kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebahagian besar kalangan penggunaan laporan dalam rangka keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stawardship) manajemen atas suatu penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.    
       Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang memungkinkan dibutuhkan pemakai dalam hal pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum dapat menggambarkan pengaruh keuangan dari  kejadian  masa  lalu  dan  tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang dilakukan manajemen  atau pertanggungjawaban manajemen atau sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
            Selanjutnya, tujuan laporan menurut APB Statements Nomor 4 berjudul dikutip oleh Syafri Syafif Harahap (1999: 98), mengatakan bahwa laporan ini bersifat deksriptif dan laporan ini banyak mempengaruhi studi-studi berikut nya tentang tujuan laporan keuangan. Dalam laopran keuangan ini berutujuan laporan keuangan digolongkan, sebagai berikut :
   a. Tujuan khusus
       Tujuan khusus dari laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan  posisi  keuangan  lainnya secara wajar dan   
sesuai dengan GAAP.
   b. Tujuan umum                                                   
      Adapun tujuan umum laporan keuangan, sebagai berikut :
      * Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber sumber  ekonomi  dan  kewajiban  perusahaan  dengan   maksud :
        - Untuk menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan
        - Untuk menunjukkan posisi keuangan dan investasinya
        - Untuk  menilai  kemampuannya  dalam  menyelesaikan utang-utangnya
        - Menunjukkan kemampuan sumber-sumber  kekayaan yang ada untuk pertumbuhan perusahaan.                                                  
      * Memberikan  informasi  yang  terpercaya   tentang   sumber  kekayaan   bersih  yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba dengan maksud, sebagai berikut  :                                                
        - Memberikan gambaran tentang dividen yang  diharapkan pemegang saham.
        - Menunjukkan  kemampuan  perusahaan  untuk membayar kewajiban pada kreditur,  supplier, pegawai, pajak,  mengumpulkan dana untuk perluasan.
        - Memberikan  informasi  kepada  manajemen  untuk  diguna kan dalam pelaksanaan fungsi kemampuan perencanaan dan pengawasan.
        - Menunjukkan tingkat  kemampuan  perubahan mendapatkan laba dalam jangka panjang.
      * Memberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi perusahaan menghasilkan laba                                                               
      * Memberikan  informasi  yang  diperlukan   lainnya   tentang   perubahan   harta  dan kewajiban.
      * Pemakai laporan  menentukan standar ini.

2.3  Pengertian Likuiditas
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa dengan menghubungkan setiap elemen dari berbagai aktiva dan passiva dalam neraca pada suatu saat tertentu, maka akan diperoleh gambaran mengenai keadaan financial pada suatu perusahaan. Dalam neraca tersebut menggambarkan nilai aktiva, hutang dan modal  pada suatu saat tertentu,    sedangkan laporan rugi laba menggambarkan hasil yang  dicapai oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. melalui laporan keuangan tersebut dapatlah diketahui    keadaan likuiditas dan profitabilitas suatu perusahaan.
Masalah likuiditas suatu perusahaan berhubungan erat dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi. Untuk dapat memenuhi kewajiban tersebut, maka perusahaan harus mempunyai alat-alat likuid yang berupa aktiva lancar yang jumlahnya harus lebih besar dari jumlah kewajiban-kewajiban yang harus segera dipenuhi berupa hutang-hutang lancar dalam waktu singkat.
Makin besar jumlah aktiva  lancar yang  dimiliki  oleh suatu perusahaan dibandingkan dengan hutang lancar, maka makin besar tingkat likuiditas perusahaan tersebut. Dan sebaliknya apabila jumlah aktiva lancar lebih kecil daripada hutang lancar, berarti bahwa perusahaan tersebut berapa dalam likuid.                                        
Berapa penulis mengemukakan batasan pengertian  rasio likuiditas antara lain Van Horne yang diterjamahkan oleh Junior Tirok (1997: 16) mengemukakan rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.  Kemudian menurut J. Fred Weston (1999: 225), diterje mahkan oleh Jaka Wasana, mengemukakan bahwa rasio-rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk dapat memenuhi kewajiban bila jatuh tempo.
Suatu perusahaan dikatakan memeliki tingkat likuiditas yang baik apabila tingkat likuiditas berada di atas standar 1 : 1. Dengan mementukan tingkat likuiditas yang baik merupakan suatu tindakan hati-hati dari perusahaan dalam mengantisipasi suatu keadaan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada tingkat likuiditas suatu perusahaan memegang peranan yang penting dan dapat perhatian utama apabila perusahaan mengadakan analisis finansial, sebab tingkatan likuiditas suatu perusahaan merupakan salah satu faktor lain yang menentukan berhasil tidaknya suatu perusahaan dikelola karena mengakut penyediaan kebutuhan dana dan uang tunai dan sumber-sumber untuk memenuhi kebutuhan tersebut, serta turut menentukan seberapa jauh perusahaan akan menanggung resiko, dimana faktor-faktor/ resiko tersebut menyangkut dana jangka  panjang serta menyangkut hubungan antara dana pemegang saham.
Adapun hubungan antar dana pemegang saham dan dana pinjaman jangka panjang  biasanya di atas, olehnya itu dengan pembatasan tersebut maka akan tetap dipertahankan tingkat standard yang berlaku untuk pendapatan dan cadangan harta sebagai jaminan dana tersebut.
Jika tingkat likuiditas harus dipertahankan pada standar yang normal, maka salah tugas utama manajer adalah untuk menilai rencana kerja mereka dengan memperhitungkan akan kebutuhan uang tunai untuk jaminan agar dapat memenuhi kewajiban-kewajiban yang  mana kewajiban-kewajiban tersebut berasal dari luar perusahaan yang biasa disebut likuiditas badan usaha, sedangkan kewajiban yang berasal dari dalam perusahaan merupakan suatu untuk memperlancar jalannya operasional seperti gaji karyawan, pembelian bahan baku yang mana kewajiban ini biasanya disebut dengan likuiditas perusahaan atau likuiditas intern.
Tingkat likuiditas badan usaha memeliki arti bahwa perusahaan tersebut harus menjaga ketepatan janji keuangan pada pihak luar karena tanpa perusahaan maka kelangsungan hidup perusahaan akan terancam, sedangkan likuiditas intern menyangkut orang-orang yang sewaktu-waktu dapat menghambat jalannya operasi perusahaan.
Suatu perusahaan dikatakan memiliki tingkat likuiditas yang baik apabila perusahaan tersebut memiliki tingkat likuiditas yang wajar. Tingkat likuiditas yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki jumlah dana yang banyak menganggur dan apabila terlalu rendah maka keselamatan perusahaan terancam.                                                                                                                       
Adapun beberapa peralatan rasio likuiditas oleh Syafaruddin Alwi (1998: 115) yang dapat digunakan untuk mengukur dan mengetahui tingkat likuiditas yaitu :
- Current ratio
- Quick ratio
- Cash ratio
Namun dalam hal ini penulis hanya menggunakan current ratio, maka sebab itu selain untuk umum dipergunakan oleh perusahaan, currnet ratio juga merupakan peralatan yang mengukur pada tingkat likuiditas secara kasar dibandingkan dengan yang lainnya. Untuk lebih jelasnya maka dibawah ini akan dijelaskan mengenai rasio likuiditas yang diukur dengan current ratio.
Current ratio merupakan ukuran yang sangat berharga dalam menilai kemampuan yang dimiliki perusahaan dalam memenuhu hutang-hutang lancarnya yang segera jatuh tempo. Akan tetapi suatu perusahaan dengan current rasio yang tinggi belum tentu menjamin akan dapat membayar hutang perusahaan yang jatuh tempo karena proporsi dan aktiva lancar yang tidak menguntungkan misalnya jumlah persediaan yang relatif tinggi dibandingkan dengan taksiran pada  tingkat penjualan yang akan datang, sehingga tingkat  perputaran persediaan rendah dan menunjukkan adanya saldo piutang yang besar sulit untuk ditagih.
Current ratio yang terlalu tinggi yang menunjukkan kelebihan uang kas atau aktiva lancar dibandingkan dengan yang dibutuhkan sekarang. Namun timbul masalah sampai pada tingkat manakah rasio tersebut akan dapat dipertahankan agar dapat memenuhi kewajibannya dengan segera. Ukuran tentang current rasio yang tepat bagi perusahaan tidak dapat ditentukan dengan pasti, oleh Bambang Riyanto (2004: 25) mengemukakan bahwa pedoman current rasio 2 : 1 sebenar nya hanya didasarkan pada prinsip hati-hati.
Jadi tingkat likuiditas yang sebaiknya dipertahankan adalah 200 %. Namun pedoman ini bukanlah merupakan pedoman yang mutlak dan hanya merupakan tidakan hati-hati bagi perusahaan, sebab apabila suatu perusahaan menetapkan current rasio 2 : 1 atau 200 %, ini berarti bahwa setiap satu rupiah hutang lancar, dapat dijamin dengan dua rupiah aktiva lancar.
Adanya current rasio sebesar 200 % memberikan suatu petunjuk kepada manajer perusahaan tentang berapa besar kredit yang bida dipinjan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek yang tidak mengganggu tingkat likuiditasnya menurut D. Hartanto (2001: 123).
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung current rasio adalah sebagai berikut :
                               Aktiva Lancar 
Current Rasio  =   -------------------   x 100 %
                              Hutang lancar       
                                                  
Current rasio ini merupakan indikator likuiditas yang dipakai secara luas, karena dapat memberikan informasi tentang kemampuan aktiva lancar untuk menutupi hutang lancar.

2.4  Pengertian Solvabilitas
Solvabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk membayar seluruh kewajiban-kewajibannya baik berupa hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang seandainya perusahaan dikuiqidir/dibubarkan. Apabila perusahaan mampu membayar seluruh hutang-hutangnya bilamana diliquidir/ dibubarkan, maka perusahaan dikatakan bahwa dalam keadaan solvabel. Tetapi sebaliknya bilamana perusahaan tidak mampu membayar seluruh hutang-hutangnya baik berupa jangka pendek maupun jangka panjang bila diliquidir, maka perusahaan tersebut dikatakan dalam keadaan insolvabel atau tideak solvabel.                                
Solvabbilitas suatu perusahaan (Anonin, 1999: 122) dapat diketahui melalui neraca perusahaan yang bersangkutan dan perhitungan pada tingkat solvabilitas menggunakan dua macam ratio, yaitu :
                                      Total Assets
-          Solvabilitas =   -----------------  x 100 %        
                                 Total debt  

   Total assets suatu perusahaan adalah jumlah seluruh  aktiva yang dimiliki oleh perusahaan, yang terdapat pada sebelah debet suatu neraca atau pada bagian atas suatu debet. Perlu diperhatikan, bahwa di dalamtodal assets ini, tidak diperhitungkan aktiva bersifat inmaterial (yang tidak nyata), sedangkan total deb pada suatu perusahaan adalah sejumlah hutang perusahaan, baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang dengan rumus dibawah ini.
                                                  Net worth
    b. Net Worth to debt ratio = ----------------  x 100 %
                                                  Total debt
                       
         Net worth adalah jumlah modal sendiri yang dimiliki perusahaan yang mengcakup modal, saham, cadangan,  surplus dan lain-lain. Pengertian lain net worth adalah selisih antara jumlah hutang perusahaan dikurangi dengan total assets. Sedangkan net worth to debt ratio yang normal adalah 100% yang berarti bahwa jumlah hutang sama dengan jumlah modal sendiri.

2.5. Pengertian dan Jenis-Jenis Jasa
            Jasa merupakan indikator yang penting bagi karyawan, jasa adakalanya dikatakan balas jasa pada seorang yang dipergunakan tenaganya atau sering juga dikatakan jasa produk perusahaan yang secara tidak langsung dibalas bagi para si pemakai jasa tersebut. Namun dalam pembahasan ini yaitu jasa sebagai produk perusahaan yang dapat dinikmati oleh pengguna/pemakai produk, sehingga seseorang merasa berkewajiban untuk ganti rugi dari pengguna jasa.
            Oleh karena itu setiap pekerjaan memerlukan pelayanan dan service kepada pengguna jasa, agar pelanggan dapat menikmati dengan sepuas dan jasa itu dipakai sesuai dengan tujuan serta jasa tersebut dipandang produk perusahaan yang secara tidak langsung dibuktikan produknya.
            Untuk lebih jelasnya tentang apa yang dimaksud dengan produk jasa pada perusahaan akan dikemukakan oleh Alex S. Nitisemita (1997 : 361)   menyatakan bahwa penggunaan produk perusahaan kepada pelanggan baik perorangan maupun melembaga yang dapat dipakai dengan tujuan tertentu.
            Sedangkan menurut Susilo Marjono (1998 : 114) adalah sesuatu pengguna jasa yang dapat dinilai dengan uang, yang nantikan disesuaikan dengan nilai guna dari pemakai jasa tersebut.
            Definisi di atas, dapat disadari bahwa suatu pemakai jasa dapat meningkatkan sesuatu aktivitasnya dengan menggunakan jasa produk perusahaan dan bantuan produk jasa dengan secara secepat dan proses dari aktivitas lainnya dapat dipersngkat kegiatan lainnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
            Masalah produk jasa bukan hanya penting karena merupakan produk secara tidak langsung dirasakan oleh seseorang atau secara organisasi dalam mengembangkan produk jasa, karena sesuatu hal yang dapat dipakai oleh siapapun saja, sehingga produk jasa dirasakan manfaat dan tujuan produk tersebut.        

2.6  Pengertian Analisa Ratio Financial
           Analisa ratio financial adalah alat yang digunakan untuk mengukur kelemahan dan kekuatan yang dihadapi oleh perusahaan dalam bidang keuangan dengan membandingkan angka-angka yang lainnya dari suatu laporan, financial yaitu dari neraca dan laporan rugi laba, yang akan menimbul kan bermacam-macam ratio yang dapat dijadikan sebagai ukuran dalam menganalisa.  C. James Van Horne, (2001: 129) memberikan batasan sebagai berikut : Analisa dimaksudkan untuk memudahkan penganalisa dalam mendapatkan gambaran tentang kondisi dan kebijaksanaan  pembelanjaan  perusahaan, maksud diadakannya analisa ratio untuk mengadakan penilaian likwiditas, solvabilitas, rentabilitas dan aktivitas perusahaan untuk memberikan gambaran penggunaan sumber-sumber keuangan yang ada dalam perusahaan. 
Ratio financial tersebut bukan saja dibutuhkan oleh pimpinan perusahaan tetapi juga oleh pihak luar dalam hal ini investor atau calon kreditur. Bagi pimpinan perusahaan berkepentingan terhadap ratio-ratio keuangan tersebut untuk memperoleh gambaran tentang kelemahan dan kekuatan yang dihadapi sehingga perencanaan dan penanggulangannya dapat dipikirkan, sedangkan bagi investor dengan ratio dapat dijadikan pegangan apakah akan membeli saham yang ditawar kan perusahaan atau tidak.
Dengan demikian, jelaslah bahwa mengadakan analisis financial sangat penting artinya baik terhadap perusahaan sendiri maupun terhadap investor atau calon kreditur. Untuk memudahkan dalam usaha mengetahui apakah suatu perusahaan mengerjakan sumber-sumber dananya secara efisien atau tidak maka ada beberapa ratio yang dapat digunakan.                                                         
Bambang Riyanto, (2004: 189) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut :
1) Ratio  likwiditas  adalah ratio dimaksud untuk mengukur likwiditas perusahaan (Current ratio, acid test ratio).                                                      
2) Ratio leverage adalah ratio yang dimaksud untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan hutangnya (Debt to total Assets ratio, Net worth to debt ratio dan lain-lain).                                                     
3) Ratio aktivitas yaitu ratio yang dimaksud untuk mengukur    sampai  seberapa  besar  efektivitas  perusahaan  dalam mengerjakan sumber-sumber dananya (Inventory turnover, Average collection period dan lain-lain). 
4) Ratio profitabilitas yaitu yang menunjukkan hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan keputusan (profit margin on sales, Return on total Assets, Return on net worth dan    lain-lain).
           Ratio satu dan dua disebut sebagai balance sheet   ratio, yang ketiga dikenal dengan istilah inter statement ratio sedangkan yang keempat dikenal dengan income statement ratio.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1999, Standar Akuntansi Keuangan, (PSAR No.31), Ikatan Akuntan Indonesia Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Alwi, Syafaruddin,  1998,  Analisis  Kinerja  Keuangan, Edisi Pertama, Penerbit TPWI, 
                   Jakarta. 

Djarwanto, 1997, Pokok-Pokok Analisa Laporan Keuangan, Edisi Pertama, Penerbit BPFE, Jakarta.

Farid, Djahidin, 1998,  Analisa  Laporan Keuangan, Cetakan Kedua, Cetakan Pertama, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.

Manullang, M, 1997, Manajemen Personalia, Edisi Ketujuh Cetakan Kedelapan, Penerbit PD. Aksara Baru, Jakarta
Munawir,  1999, Analisa Laporan Keuangan, Analisa Ratio, Edisi Pertama, Cetakan Kedua,  Penerbit  Liberty, Yogyakarta.

Riyanto, Bambang, 2004, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Ketujuh, Cetakan Kedelapan, Fakultas Ekonomi Gajah Mada, Yogyakarta.

Syafri, Syarif, Harahap, 1999, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Penerbit Liberty, Yogyakarta.

Van Horne, James C. 2001, Manajemen dan Kebijakan Keuangan Perusahaan, Edisi Ketujuh, Penerbit Intermedia, Jakarta.

Ikatan Akuntan Indonesia, 1997, Prinsip-Prinsip Akuntansi Indonesia, LPFE, Universita Indonesia, Jakarta.   


Analisis Alokasi Biaya Overhead Pabrik Atas Penentuan Biaya Produksi

      Sebagaimana diketahui bahwa kondisi Negara kita yang dilanda krisis moneter yang berkepanjangan, sehinggga bagi perusahaan swasta memerlukan ketelitian dalam mengelolahnya agar aktivitas berkesinambungan, artinya dapat memberikan gambaran tentang keadaan suatu perusahaan. Biasanya gambaran keuangan pada setiap periode tertentu dilaporkan dalam suatu laporan keuangan sebagai produk akhir dari suatu kegiatan akuntansi. Laporan keuangan biasanya dalam bentuk neraca serta perhitungan laba rugi, di samping itu terdapat pula laporan laba yang ditahan dalam suatu periode tertentu.
      Dalam proses perkembangan industri pabrik ini, maka diperlukan informasi-informasi yang cukup untuk dapat mengelolah perusahaan dengan baik. Di antaranya berbagai macam informasi tersebut, maka masalah biaya perlu diperhatikan dan data biaya dalam overhead pabrik diperoleh melalui Sistem Akuntansi Biaya.
       Penentuan biaya produksi adalah tugas akuntansi biaya yang harus mengikuti aliran fisik dari produksi, kemudian menetapkan pencatatan dan analisa dari informasi biaya yang diikutinya tersebut, secara efektif dan efisien. Selama proses produksi berlangsung biaya yang terjadi meliputi :
1.    Biaya bahan baku
2.  Biaya Tenaga Kerja
3.  Biaya overhead pabrik
4. Biaya bahan pembantu
      Selanjutnya, yang perlu diperhatikan dalam penentuan biaya produksi yaitu apakah semua biaya yang merupakan unsur biaya produksi tersebut telah diperhatikan khususnya biaya overhead pabrik. Sehubungan dengan hal tersebut langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan informasi dari sumber biaya (bahan baku, upah langsung, biaya overhead pabrik) kemudian membebankan biaya-biaya tersebut kepada produk baik yang masih dalam proses maupun produk jadi. Kemudian untuk mengetahui besarnya upah tenaga kerja langsung bisa dilihat dari jumlah waktu kerja pekerja Dengan menjumlah gaji menurut kartu kerja bisa diketahui berapa upah langsung satu periode.
      Masalah yang rumit terjadi dalam hal biaya overhead pabrik karena selain jumlah jenisnya banyak juga sukar diikuti jejaknya. Maka sangat penting untuk menentukan berapa besarnya biaya produk setiap saat. Biaya overhead pabrik tidak dapat dibebankan secara langsung terhadap setiap unit produksi, apabila biaya itu tidak jelas sumbernya.
      Kemudian ada tiga tahap yang harus dilakukan untuk menghitung tarif biaya overhead pabrik yaitu :
     1. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik
     2. Memilih dasar pembebanan
     3. Menghitung tarif biaya overhead pabrik
      Dasar yang dapat dipakai sebagai dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk adalah satuan produk, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung jam kerja langsung dan jam mesin. Setelah tarif biaya overhead ditentukan produk yang diproduksi dalam tahun anggaran dibebani dengan biaya overhead pabrik tarif tersebut. Dalam tahun anggaran dikumpulkan biaya overhead pabrik yang sesunggunya terjadi.
      Pada akhir tahun, biaya overhead pabrik yang dibeban kan kepada produk berdasarkan tarif dibandingkan dengan biaya overhead pabrik yang seseungguhnya terjadi, kemudian analisa menjadi empat macam selisih. Selisih tersebut pada akhir tahun diperlukan sebagai penyesuai terhadap rekening-rekening persediaan dan harga pokok penjualan atau diperlukan sebagai penyesuaian perhitungan rugi laba.
      Mengalolakasikan biaya overhead pabrik dalam proses prduksi , maka seluruh jumlah yang digunakan dalam proses produksi tersebut sehingga dapat menghasilkan barang, kalau biaya produksi disini biasanya terbagi9 dua, yaitu tetap dan biaya variabel, jadi ada pengelompokkan sejumlah biaya untuk memudahkan dalam perhitungannya.  
A.  Pengertian dan Klasifikasi Biaya
1.  Pengertian Biaya
      Untuk menghasilkan sesuatu apakah itu barang atau jasa maka perlulah dihitung dan diketahui besarnya biaya yang dikeluarkan atau yang perlu dan kemungkinan memperoleh pendapatan yang  mungkin diterima. Setiap pengorbanan biaya selalu diharapkan akan mendatangkan hasil yang lebih besar dari pada yang telah dikorbankan tersebut pada masa yang akan datang.
      Dengan demikian, seorang pengusaha hendaknya dapat mengetahui bagaimana besarnya pengorbanan dalam proses produksi dengan dasar itulah dapat memulai berhitung harga pada dasarnya setiap untuk yang merupakan komponen biaya  peruhaan. Dalam hal ini, total biaya selalu dapat dihitung dan dapat dibandingkan dengan total penerimaan yang mungkin dapat diperoleh.
      Berbicara mengenai masalah biaya-biaya merupakan suatu masalah yang cukup luas, oleh karena di dalamnya terlihat dua pihak yang saling berhubungan satu yang lainnya dalam proses produksi. Oleh Winardi, (2002: 147), menyatakan bahwa bilamana kita memperhatikan biaya-biaya yang harus dikeluar kan untuk suatu proses produksi, maka dapat dibagi ke dalam dua sifat, yaitu yang merupakan biaya bagi produsen adalah mendapat bagi pihak yang memberikan faktor produksi yang bersangkutan.


Demikian halnya bagi konsumen, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh alat pemuas kebutuhannya atau merupakan pendapatan bagi pihak yang memberikan alat pemuas kebutuhan tersebut. Oleh Ikatan Akuntansi Indonesia, (1997 : 26) di  katakan bahwa biaya (cost) adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang, yaitu sejumlah pengeluaran-pengeluaran dalam bentuk konstan atau dalam bentuk pemindahan kekayaan untuk memperoleh sesuatu dengan proses pengeluaran modal atau saham, jasa - jasa yang disertakan atau kewajiban-kewajiban yang ditimbulkannya, dalam hubungannya dengan barang-barang atau jasa-jasa yang diperoleh atau yang akan diperoleh pada masa yang datang.                                                         
Dari definisi dan pengertian biaya di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa  suatu hal yang merupakan pengertian secara  luas oleh  karena semua yang  tergolong dalam unsur  pengeluaran secara nyata keseluruhannya termasuk biaya tetap diperhitungkan dan menjadi pencatatan dalam proses produksi perusahaan, sehingga biaya yang selama proses produksi menjadi hal secara keseluruhannya..
Sejalan dengan definisi dan pengertian di atas, maka D. Hartanto  ( 2002:                                                           89), memberikan pengertian tentang biaya (cost) dan ongkos (expense), sebagai berikut cost adalah biaya-biaya yang dianggap akan memberikan manfaat atau service potensial di waktu yang akan datang dan karenanya merupakan aktiva yang dicantumkan dalam neraca. Sebaliknya expense atau expred cost adalah biaya yang telah digunakan untuk menghasilkan prestasi. Karena jenis-jenis biaya ini tidak dapat memberi­kan manfaat lagi diwaktu yang akan datang, maka tempatnya  adalah pada perkiraan laba rugi.




2.  Klasifikasi Biaya      
Dalam pengelolaan keuangan perusahaan  utamanya  pada proses produksi tentunya memerlukan biaya, oleh karena akuntansi biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang dibutuhkan manajemen agar mereka dapat mengelola perusahaan atau bagiannya secara efektif di dalam mencatat dan menggolongkan biaya harus selalu diperhatikan untuk tujuan apa  manajemen memerlukan informasi biaya. Sebaiknya  selalu dipakai konsep "different cost for different  purposes”.  
Kalfisikasi biaya tentu ada konsep biaya yang dapat memenuhi berbagai macam tujuan. Oleh karena itu di dalam akuntansi biaya terdapat berbagai macam cara penggolongan biaya sebagai berikut :
1. Penggolongan biaya atas dasar obyek pengeluaran
2. Penggolongan biaya atas dasar fungsi-fungsi pokok  dalam perusahaan.
3. Penggolongan biaya atas hubungan biaya dengan tujuan sesuatu yang dibiayai.
4. Penggolongan biaya atas dasar hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.
5. Penggolongan biaya atas dasar waktu.

B.  Pengertian Produksi   

    Sebagaimana sifatnya suatu perusahaan bisa bertahan lama untuk mempertahankan kontinuitas produksi dan mutu kwalitas, karena perusahaan memperhatikan selera harga dan kondisi konsumen dimana berada. Dalam menguraikan pengertian produksi oleh beberapa ahli ekonomi seperti Sofyan Assauri (2002 : 7), menyatakan bahwa produksi adalah segala kegiatan dalam menciptakan dan menambah kegunaan (utility) barang dan jasa pada suatu perusahaan.
      Sedangkan menurut Martin Kenneth (2000 ; 3) yang diterjamahkan oleh Mulyadi dalam pengertian produksi menyatakan bahwa produksi itu merupakan prosedur desaing  barang dan jasa senagai output serta sebagai poduk terakhir input emelent.       
      Berdasarkan dari kedua definisi tersebut di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa produksi adalah suatu usaha untuk menambah nilai guna suatu barang dan jasa. Jadi barang yang diproduksi mengatalami tahapan tersendiri dengan mempunyai kegunaan tertentu sebagai berikut :
1. Azas efisiensi maksudnya dengan biaya yang kecil mungkin untuk  mendapatkan hasil tertentu  ataupun dengan pengorbanan tertentu  untuk mendapatkan  hasil yang semaksimal mungkin.
1       Azas kontinutas, adalah azas yang menghendaki agar dalam pemakaian alat-alat  produksi terdapat perbandingan yang serasi.
      Selanjutnya akan dikemukakan arti  kualitas ( mutu ) oleh Sofyan Assauri, (2002 ; 221) mengemukakan bahwa mutu diartikan sebagai faktor-faktor yang  terdapat dalam suatu  hasil yang menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa barang tersebut dibuat. 
      Sesuai dengan pengertian  di atas ada beberapa faktor yang dapat  menghasilkan  barang. Faktor-faktor produksi tersebut yaitu :
1.  Faktor produksi tanah
      2.  Faktor produksi modal
2     Faktor produksi tenaga kerja      
      Sedangkan Richard (1999; 84), sebagai berikut dalam berproduksi sangat berhati-hati terhadap kwality untuk di pertahankan bagi para konsumen harus konsisten.
      Sesuai dengan definisi tersebut di atas, menyebutkan bahwa unsur keberhati-hatian dalam mempertahankan hasil produksi, karena hasil produksi inilah yang merupakan pengendalian mutu untuk berperan serta dalam  bersaing di pasar.  
      Dalam hubungannya dengan pengertian diatas, maka dapat dibagi dalam beberapa tahap yang mempunyai bagian dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa sebagai berikut :
   - Grade yaitu sifat kelakuan, kemiripan, tingkat reabilitas singkat operasinya dan lain-lain.
  - Fitenss for use menunjukkan tingkat produk produk yang mana memberikan kepuasan.
  - Consistency in characteristic adalah suatu kumpulan spesifikasi untuk setiap  komponen dari produk itu. Bilamana produk terakhir sesuai dengan spesifikasi design atau maka disebut consistency atau quality ofconformance (mutu sesuai dengan krakteristiknya).              
      Jadi setiap perusahaan pabrik/pengolahan dengan menetapkan suatu standard. Hal-hal yang perlu dipertimbang kan dalam pembentukan suatu  standard  dikemukakan oleh Harding (2001 ; 58), menyatakan bahwa :
        1) Memenuhi syarat kegunaan yang ditetapkan
        2) Memenuhi standard kualitas perusahaan
        3) Diproduksi dengan peralatan  yang ada  sekarang. 
      Untuk itulah E.Mansffiel (2002 ; 121), menyatakan bahwa  proses produksi memerlukan kehati-hatian terhadap variasi dari beberapa produksi barang dan jasa yang sama pada perusahaan.
      Selanjutnya menurut R.A. Bilas (1999; 127), adalah sebagai berikut kalau input sabagai salah satu cara proses yang diperhatikan oleh bagian produksi untuk mempertahakna mutu dan kwalitas produksi sesuai dengan permintaan konsu­men, sehingga perusahaan ini tetap produksi, jika tetap memperhatikan selera konsumen.
      Dari beberapa pengertian produksi yang telah dikemukakan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa produksi merupakan suatu proses kegiatan dari berbagai faktor produksi yang dirubah  bentuknya oleh  perusahaan yang  menggunakan  dalam bentuk barang/jasa atau produksi di mana beberapa barang dan jasa  yang disebabkan  input dirubah menjadi barang dan jasa lain yang  disebut output.
      Pengertian  produksi dapat  dikatakan bahwa dengan menggunakan faktor-faktor produksi sekaligus, maka akan diperoleh suatu  faedah dalam memenuhi kebutuhan atau pemenuhan  kebutuhan pertanian yang dihasilkan akibat bekerjanya faktor-faktor produksi sekaligus saling terkait dengan satu sama lainnya.
      Paul A. Samuelson (2002 ; 357), membatasi diri dalam memberikan definisi proses produksi yang menyatakan bahwa produksi ini mempunyai fungsi untuk technical pada relasi diantara faktor-faktor produksi, sehingga out put dari proses produksi garus sepesifikasi produksi, agar barang yang telah diproduksi tetap menjadi pokus perhatian dari relasi.
      Sedangkan Soemitro Djoyohadikusumo, (2000 ; 136), memberikan definisi tentang produksi, berpendapat bahwa produksi pertanian adalah penggunaan unsur-unsur  dengan maksud untuk menciptakan suatu faedah atau untuk memenuhi kebutuhan.
      Pendapat di atas, bahwa dapat  menggambarkan fungsi-fungsi dari produksi adalah merupakan hubungan fisik antara input dan output. Dengan kata lain bahwa faktor produksi yang digunakan sebagai masukan ke dalam proses produksi  dan banyaknya hasil yang akan diperoleh. Misalnya dengan menggunakan input yang akan bisa menambah output atau produksi.
      Dalam hubungan antara input dengan output berarti kita bicarakan  mengenai masalah pendapatan dan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, sehingga dapat diketahui hasil  yang telah diperoleh dapat memperoleh hasil atau tidak memperoleh  keuntungan atau menderita  rugi  dan perlu kita memperhatikan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi dalam satu periode tersebut.

C.  Sistem Pengumpulan Biaya Produksi
      Bagi perusahaan perdagangan R. Soemita Adikusumah (2001 : 177) mengemukakan bahwa penjualan merupakan kegiatan utama, oleh karena itu, sistem pengumpulan biaya produksi yang diterapkan oleh perusahaan ditetapkan sedemikian rupa sehingga dapat terperinci, sebagai berikut :
   1. Semua biaya-biaya selama  dalam  proses  produksi  harus teliti dan dikumpulan untuk dilakukan pencatatan.
   2. Semua pengeluaran biaya-biaya harus selama proses produksi dianggap sebagai termasuk keperluan lain harus diperiksa sedemikian rupa sehingga kemungkinan pemboson biaya produksi dikurangi sampai semimimun mungkin.
   3. Pencatatan dan pengelompokan harus diklasifikasikan biaya, agar kelak   perhitungan dalam proses produksi dapat diketahui melalui pembukuan dengan tepat.
   4. Biaya administrasi dan penjualan masih termasuk biaya produksi.
   5. Dengan meminimumkan biaya dalam proses produksi agar harga pokok penjualan seminimum, sehingga penjualan barang hasil produksi dapat bersaing.
   6. Pengendalian biaya yang sesuai dengan tujuan harus dilakukan terhadap unsur-unsur biaya, sehingga biaya yang telah dianggarkan digunakan seefisien mungkin, karena efisien yang dapat meningkatkan keuntungan.
      Untuk mencapai adanya di atas maka perlu organisasi yang baik didalam sistem pengumpulan biaya produksi barang agar terdapat pengendalian intern yang baik dalam proses produksi sebaiknya diadakan pemisahan fungsi antara lain :
   1. Bagian pesanan
Pelaksanaan bahan baku bagi perusahaan kecil dipegang  satu orang saja, sedangkan bagi perusahaan besar dipegang oleh satu bagian produksi yang melibatkan beberapa personal fungsi dari bagian adalah :
a.   Mengawasi semua pesanan yang diterima
b. Memeriksa surat pesanan yang diterima dari langganan dan melengkapi yang masih kurang.
c.   Jika pesanan barang, harus diminta persetujuan dari bagian gudang.
d.  Menentukan tanggal pengiriman, membuat surat perintah pengiriman serta tembusan-tembusannya.
e.   Membuat catatan pesanan yang dikirim dan pesanan yang                                                       
sudah diperhitungkan.
f.   Melakukan hubungan dengan pembelian, apakah barang yang diterima sudah cocok dengan pesanan masih ada yang perlu dikemukakan.
   2. Bagian gudang
Bagian gudang ini kredit berarti melibatkan bagian pesanan di mana setiap pengiriman barang yang dijual dengan pesanan harus mendapat persetujuan dari bagian gudang membuat catatan atau kartu  piutang  setiap langganan tentang identitas pembeli, jumlah order dan jangka waktu pembayaran. Faktur penjualan yang dibuat oleh bagian pesanan dan surat perintah pengiriman atau di kirim ke bagian pesanan untuk mendapat persetujuan atau penolakan dan surat perintah pengiriman. Jika ada persetujuan maka faktur penjualan dan surat perintah pengiriman diberikan kepada bagian pengiriman, kemudian  barang tersebut di kirim kepada yang bersangkutan.       
   3. Pengklasifikasian biaya-biaya
Bagian pengumpulan biaya bertugas sebagai berikut :
a. Mencatat sejumlah pengeluaran yang biasanya harus dilengkapi dengan data, pos-pos pengeluaran, misalnya pembelian barang dan jenis-jenis biaya lainnya.
b.  Mencantumkan data biaya pengiriman dan pihak pertam  bahan nilai yang dibebankan kepada pembeli.
c. Biaya-biaya yang telah dicatat itu dikirim pada bagian-bagian memerlukan terlebih dahulu diperiksa kebenaran tulisan dan perhitungannya.                                                                                                           
      Kemudian untuk mengadakan pemisahan wewenang tersebut di atas tergantung dan besarnya perusahaan dan jumlah  pegawai yang ada. Apabila organisasi sudah memisahkan fungsi-fungsi yang perlu ditetapkan adanya wewenang bahwa iniatif untuk menjadi barang datangnya dari satu inisiatif yang ditentukan semula misalnya bagian pesanan atau bagian-bagian lain yang memerlukan. Selain itu dimaksudkan pula agar semua pengeluaran-pengeluaran barang dari gudang baik melalui penjualan maupun untuk keperluan lainnya mendapat pengawasan sedemikian rupa, sehingga kemungkinan terjadinya kecurangan penyalagunaan dapat dihindarkan atau dikurangi sedapat mungkin.
      Di dalam pelaksanaan fungsi pengumpulan biaya pada umumnya dilaksanakan oleh bagian pesanan dan organisasi administrasi serta dipengaruhi oleh sistem penjualan yang dilakukan misalnya sistem penjualan kredit, tunai dan sebagainya.
      Selanjutnya cara-cara yang biasa dipakai di dalam sistem pengumpulan biaya, sebagai berikut :
  1. Pemisahan antara
 a.  Mencatat pengaluaran
Pencatatan pertama-tama dilakukan oleh petugas bagian pengeluaran yang membuat faktur penjualan. Faktur ini sedikitnyas dibuat rangkap 4 (empat) yang pertama (asli) untuk pembelian, lembar ke 2 dikirim ke bagian penyerahan barang, lembar ke 3 dikirim ke pemegang buku  tambahan  piutang dan lembar ke 4 ditahan untuk  arsip.
Jika pembeli akan mengambil sendiri barang yang dibeli nya, maka faktur dibawa ke kasir dan jumlah uang yang tertera di situ dibayar. Kasir akan menghitung uang memutar register kas, mencap faktur pengembalikannya pada pembeli jika ditambah kwitansi. Faktur yang telah dicap oleh si pembeli dibawa ke bagian penyerahan barang dan dikeluarkan dengan barang yang telah diserahkan lembaran kedua.                                                            
Kalau pembeli tidak mengambil sendiri barang yang dibeli, maka sesudah ia membayar kepada kasir diberi kwitansi si pembeli akan mendapat surat perintah pengeluaran atau delivery order. Satu tembusan DO dikirim kepada seksi gudang dan menerima barang-barang yang dinyatakan dalam DO tersebut.
 b.  Penyerahkan barang                                                                                     
Bagian ini bertanggungjawab terhadap kehancuran distribusi barang kepada langganan sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh bagian pengeluaran. Penyerahan barang sering terjadi secara langsung dari gudang dengan memakai DO dan biasa juga secara tidak langsung yaitu dengan pengiriman barang ke rumah langganan dimana karena adanya penyerahan barang secara tunai dan penyerahan barang secara kredit.
 c.  Menerima uang
Barang ini  berada  di bawah koordinasi  bagian keuangan, atas persetuajun pimpinan perusahaan dan bertugas sebagai berikut :                                                                                                             
* Mencatat semua  penerimaan  uang, baik tunai,  cek,
maupun bilyet giro dalam suatu daftar.
*  Daftar penerimaan diserahkan kepada pemegang buku harian dan pemegang buku tambahan piutang.
*  Uang tunai, cek dan giro yang diterima diserahkan kepada kasir dan disetor ke bank seluruhnya, selambat-lambatnya ke esokan harinya.
*  Harus ada pemisahan antara kasir dan petugas yang memegang buku tambahan piutang dan hutang.                                                 
  2.  Penjualan secara kredit   
Pada penjualan kredit ini maka setiap kali nilai kredit, pembeli harus dinilai. Buku piutang harus setiap bulan dibandingkan dengan perkiraan piutang di buku besar.
Pengawasan intern atas piutang meliputi :
 a.  Pembagian tugas antara lain :                                                     
* Penerimaan pesanan 
* Petugas yang harus menyetujui penjualan kredit
* Petugas yang harus mengirim barang
* Petugas yang mencatat buku tambahan piutang
* Petugas yang menerima uang.
* Petugas yang bagian arsip.  
 b.  Pembayaran mengenai faktur-faktur yang tertentu.
 c.  Setiap bulan secara periodik dikirim daftar saldo pada para piutang.

D. Pengertian Biaya Overhead Pabrik dan Departemen Pembantu
1.  Pengertian Biaya Overhead Pabrik
     Sebagaimana diketahui bahwa masalah biaya sangat di perlukan untuk kelangsungan hidup suatu perusahaan. Tanpa biaya, maka perusahaan tidak akan dapat menjalankan kegiatan-kegiatan usahanya  dengan baik, bahkan dapat menghambat pada perusahaan untuk memperoleh suatu produk jadi, guna dipasar kan kepada konsumen dengan sasaran laba yang malsimal.
    Untuk mengatasi agar perusahaan dapat memperoleh suatu barang tidak mengalami hambatan dan bahkan dapat mempengeruhi pula kelangsungan hidup suatu perusahaan, maka diperlukan biaya produk yang digunakan untuk memperoduksi suatu produk jadi. Namun pada dasarnya biaya yang dikeluar kan perusahaan dalam memproduksi suatu produksi jadi dengan laba  yang  semaksimal  mungkin  juga  seringkali mengalami  kekurangan dan kelebihan terhadap biaya prroduksi yang digunakan dalam memproses produk.  
    Dengan demikian, maka diperlukan suatu standar cost dalam memperoduksi suatu produk dengan sasaran laba yang maksimal. Di mana standar cost adalah merupakan suatu alat pengendalian biaya dalam proses produksi barang jadi. Sebab kita ketahui dalam memproduksi suatu produk dengan mengeluarkan biaya produksi yang relatif besar nilainya. Agar lebih menguntungkan perusahaan maka diperlukan standar cost sehingga biaya yang dikeluarkan dapat lebih efisien.
    Perkembangan produksi yang sangat pesat dengan  sendirinya mempunyai peranan yang cukup besar sebagai penunjang terhadap kegiatan perusahaan bahkan dapat dikatakan bahwa sistem produksi produksi yang tepat akan memberikan dampak positif perkembangan serta kemajuan perusahaan sebagaimana kita ketahui bahwa tujuan dan setiap perusahaan adalah untuk merupakan produk guna dipasarkan kepada konsumen dengan sasaran laba yang semaksimal mungkin Dalam hubungannya dengan uraian tersebut di atas, maka masalah produksi dapat dikatakan masalah utama di dalam perusahaan industri yang hendaknya diperhatikan oleh setiap pimpinan perusahaan sebab kegagalan di dalam memproduksi bahan baku menjadi produk jadi akan mengakibatkan perusahaan tidak memperoleh sejumlah dana untuk membiayai operasinya sehingga menghambat masalah pemasaran pembelanjaan di dalam perusahaan yang bersangkutan dan selanjutnya masalah personil di dalam perusahaan.                                                            
    Untuk menunjang pelaksanaan produksi dalam suatu perusahaan sehingga dapat menunjang kelangsungan hidup, maka diperlukan biaya produksi, mana merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mengelolah bahan baku menjadi prodduk. Salah satu biaya yang menjadi titik pokok dalam pembahasan adalah biaya overhead pokok pabrik yang dikemukakan oleh Mulyadi (2003 : 12) yaitu semua produksi selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overad pabrik terdiri dari bahan penolong biaya tenaga kerja tak langsung dan biaya produksi tak langsung lainnya.
    Definisi tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa biaya overhead adalah semua biaya produksi selain bahan baku tak langsung dan biaya tenaga kerja tak langsung Biaya overhead pabrik terdiri dari biaya bahan penolong dan biaya tenaga kerja tak langsung serta biaya produksi tak langsung lainnya.
    Selanjutnya, menurut Mas'ud Machfoedz (1999: 31) yang memberikan pengertian biaya overhead pabrik adalah biaya overhead pabrik adalah seluruh biaya yang digunakan untuk membuat suatu barang jadi selain bahan dasar langsung dan upah tenaga kerja langsung. Dalam artian ini biaya overhead pabrik termasuk biaya bahan dasar tak langsung dan biaya tenaga kerja tak langsung.
2.  Deprtemen Pembantu

     Pada umumnya tarif biaya overhead pabrik hanya dihitung untuk departemen-departemen produksi saja karena pengolahan bahan baku menjadi produk biasanya hanya terjadi di departemen produksi. Oleh karena biaya overhead pabrik tidak hanya terdiri dari di Departemen produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung saja, tetapi juga meliputi semua biaya yang terjadi di separtemen-departemen pembantu.
     Dalam rangka penentuan tarif, biaya overhead departemen pembantu dialokasikan ke departemen produksi. 

E.  Metode-Metode Alokasi Biaya Overhead Pabrik
      Dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen adaha mengalokasikan baya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi yang menikmati jasa departemen pembantu. Pada umumnya tarif biaya overhead pabrik hanya dihitung untuk departemen-departemen produksi saja, karena pengelolaan bahan baku menjadi produk yang biasanya terjadi di departemen produksi. Oleh karena biaya overhead pabrik yang akan dibebankan kepada produk tidak hanya terdiri dari biaya yang terjadi dalam departemen-departemen produksi saja, maka dalam rangka penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen, baya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke departemen produksi.
      Alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut ini :
1.  Metode alokasi langsung (direct alokasi method)
2.  Metode alokasi bertahap (step method) yang terdiri dari :
       3.  Metode alokasi kontinyu
       4.  Metode aljabar
Ad 1 Metode alokasi langsung
         Dalam metode alokasi langsung, biaya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke tiap-tiap departemen produksi yang menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang dihasilkan oleh departemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi saja. Tidak ada departemen-departemen pembantu yang memakai jasa departemen pemantu lainnya.
Ad 2 Metode alokasi bertahap
         Metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja, tetapi digunakan pula oleh departemen pembantu yang lain. Oleh karena itu, sebelum biaya overhead pabrik didua departemen tersebut dialokasikan ke dapartemen produksi.
3     Metode alokasi kontinyu
Dalam metode ini biaya overhead pabrik departemen-departemen pembantu yang saling memberikan jasa, dialokasikan secara terus menerus, sehingga jumlah biaya overhead yang belum dialokasikan menjadi tidak berarti.
   b.  Metode aljabar
             Ketidak lengkapan dalam hal pembagian timbul dalam menggunakan metode bertahap karena pendistribusian yang berturut sehingga departeemen yang ditutup terlebih dahulu tidak menerima pembagian biaya dari departemen yang ditutup kemudian. 

Rabu, 04 Januari 2017

Metode-Metode Alokasi Biaya Overhead Pabrik

      Dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen adaha mengalokasikan baya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi yang menikmati jasa departemen pembantu. Pada umumnya tarif biaya overhead pabrik hanya dihitung untuk departemen-departemen produksi saja, karena pengelolaan bahan baku menjadi produk yang biasanya terjadi di departemen produksi. Oleh karena biaya overhead pabrik yang akan dibebankan kepada produk tidak hanya terdiri dari biaya yang terjadi dalam departemen-departemen produksi saja, maka dalam rangka penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen, baya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke departemen produksi.
      Alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut ini :
1.  Metode alokasi langsung (direct alokasi method)
2.  Metode alokasi bertahap (step method) yang terdiri dari :
       3.  Metode alokasi kontinyu
       4.  Metode aljabar
Ad 1 Metode alokasi langsung
         Dalam metode alokasi langsung, biaya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke tiap-tiap departemen produksi yang menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang dihasilkan oleh departemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi saja. Tidak ada departemen-departemen pembantu yang memakai jasa departemen pemantu lainnya.
Ad 2 Metode alokasi bertahap
         Metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja, tetapi digunakan pula oleh departemen pembantu yang lain. Oleh karena itu, sebelum biaya overhead pabrik didua departemen tersebut dialokasikan ke dapartemen produksi.
1     Metode alokasi kontinyu
Dalam metode ini biaya overhead pabrik departemen-departemen pembantu yang saling memberikan jasa, dialokasikan secara terus menerus, sehingga jumlah biaya overhead yang belum dialokasikan menjadi tidak berarti.
   b.  Metode aljabar

             Ketidak lengkapan dalam hal pembagian timbul dalam menggunakan metode bertahap karena pendistribusian yang berturut sehingga departeemen yang ditutup terlebih dahulu tidak menerima pembagian biaya dari departemen yang ditutup kemudian.