Powered By Blogger

Senin, 09 Juli 2018

ILMU EKONOMI (MIKRO)



ILMU EKONOMI

 Secara umum ilmu ekonomi atau ekonomika dapat diartikan sebagai suatu ilmu tentang usaha-usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya dengan adanya alat-alat pemuas kebutuhan yang langka (scarce). Pengertian lain bahwa ilmu ekonomi mempelajari bagimana cara setiap individu atau segolongan masyarakat mengalokasikan sumber daya yang terbatas jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan manusia.
 Keterbatasan sumber daya seperti alat produksi, konsumsi, barang dan jasa menyebabkan perlu adanya pilihan rasional untuk memenuhi kebutuhan secara optimal. Yang dimaksud dengan manusia disini adalah produsen, konsumen sekaligus pemilik faktor-faktor produksi. Karena alat-alat pemuas (sumber daya) terbatas maka manusia harus berusaha memaksimumkan kepuasannya baik produsen maupun konsumen. Karena sumber daya yang dimiliki masyarakat terbatas atau langka, maka kemampuan untuk memproduksi barang dan jasa  juga akan terbatas.
Akibat kelangkaan (scarcity), seluruh masyarakat menghadapi berbagai masalah ekonomi yaitu:
1.    What           : Barang dan jasa apa yang harus diproduksikan dan berapa jumlahnya.
2.    How                       : Bagaimana menghasilkan barang dan jasa tersebut.
3.    For Whom : Untuk siapa dihasilkan barang dan jasa atau bagaimana barang dan                      jasa  tersebut dibagikan bagi masyarakat.
4.    When          :   Harus ditentukan bila barang dan jasa tadi harus diproduksi.
Bagaimana pembagian barang dan jasa tersebut sepanjang waktu dapat dipergunakan secara efisien ?
Selain pengertian di atas  bahwa ilmu ekonomi dapat juga didefenisikan sebagai berikut:
1.      Ilmu Ekonomi yaitu sebagai alokasi sumber-sumber yang langka diantara berbagai altenatif tujuan penggunaan. Dalam hal ini ada dua (2) aspek masyarakat yang penting yaitu: Pertama  :  Sumber-sumber produksi adalah langka (scarce) artinya tidak mampu memuaskan kebutuhan manusia. Setiap masyarakat jumlah produksinya dibatasi oleh jumlah: tanah, tenaga kerja, modal dan teknologi untuk mengolah sumber produksi tersebut.
Kedua        :  Sumber-sumber produktif yang tersedia dapat dipakai untuk berbagai tujuan.
2.      Ilmu Ekonomi adalah sebagai studi bagaimana masyarakat menentukan pilihannya (study of the ways which society makes choice). Semua individu dalam masyarakat bebas mengadakan pilihan tentang alokasi-alokasi sumber daya yang dimilikinya.  Misalnya: memilih barang yang akan dibeli
3.      Ilmu Ekonomi adalah sebagai apa yang dilakukan para ekonom (what economists do).

1.                  2.PENGERTIAN EKONOMI MIKRO

Dalam literatur ekonomi, teori ekonomi dibedakan dalam dua bagian pokok yaitu:
1.      Teori Makro Ekonomi (Macro Economic Theory)
2.      Teori Mikro Ekonomi (Micro Economic Theory)
Dalam buku ini hanya membahas tentang teori ekonomi mikro. Ekonomi mikro muncul pada abad 18 yang sering dinamakan teori harga (prices theory). Mikro berasal dari kata Yunani. Micros, artinya kecil. Teori mikro sama dengan tidak berarti bahwa teori harga itu kecil atau tidak penting. Teori ekonomi mikro sering mendapat perhatian yang lebih besar dari pada teori ekonomi makro. Teori mikro ekonomi mengadung pemecahan atau disagregasi dari variabel makro ekonomi seperti konsumsi, investasi dan tabungan. Juga dapat menjelaskan susunan (komposisi) dan alokasi dari total produksi. Sedangkan teori makro ekonomi menjelaskan tingkat produksi secara keseluruhan.
 Ekonomi mikro membicarakan unit-unit individu seperti perusahaan dan rumah tanggarumah tangga, misalnya bagaimana suatu rumah tangga mengalokasikan pendapatannya untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa yang beranekaragam. Teori ini juga akan mempelajari ekonomi secara khusus maksudnya membahas aktivitas-aktivitas ekonomi dari suatu satuan ekonomi sebagai bahagian dari keseluruhan seperti konsumen, pemilik faktor-faktor produksi, tenaga kerja, perusahaan, industri dan lain sebagainya.
 Dalam teori ekonomi mikro ini akan membahas tentang penentuan tingkat produksi suatu perusahaan agar dapat mencapai profit/ keuntungan yang maksimum karena laba merupakan salah satu tujuan penting bagi perusahaan. Contoh: misalnya kalau permintaan terhadap hasil industri meningkat maka mikro ekonomi akan mencoba mencari dampak dari kenaikan produksi itu terhadap tingkat harga produksi yang dihasilkan perusahaan tersebut.
 Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ilmu ekonomi mikro merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku individu dalam membuat keputusan-keputusan yang berhubungan dengan aspek ekonomi. Individu dimaksud seperti konsumen, pemilik sumber-sumber daya dan perusahaan dalam perekonomian pasar bebas. Jadi teori mikro atau teori harga mempelajari arus barang dan jasa dari sektor rumah tangga, komposisi arus tersebut serta bagaimana harga-harga barang dan jasa ditentukan dalam arus tersebut. Juga mempelajari arus jasa  sumber-sumber ekonomi dari pemilik sumber-sumber daya ke perusahaan-perusahaan bisnis, kemana penggunaan sumber-sumber mengalir dan bagaimana harga sumber-sumber ditentukan.
 Ekonomi mikro atau price theory, juga akan membahas persoalan-persoalan yang tergolong kedalam dua jenis teori yaitu:
1.      Teori Nilai (Value Theory)
Teori nilai ini membahas persoalan konsumen dan produsen secara individu atau kelompokkelompok konsumen dan produsen yang dikenal sebagai pasar-pasar atau industri-industri.
2.      Teori Distribusi (Distribution Theory)
Teori distribusi ini membahas faktor-faktor yang menentukan harga dari faktor-faktor produksi dan perubahan dari upah, sewa (rent) dan tingkat bunga (interest).

1.3             KEGUNAAN TEORI EKONOMI MIKRO

Teori Ekonomi Mikro dapat bermanfaat:
1.      Sebagai dasar untuk membuat ramalan (basic for predicition), artinya bahwa teori harga dapat membuat ramalan bersyarat atau ramalan kondisional (conditional prediction).
Gambar 1.1

Kurva Permintaan dan Penawaran
P
0
q
d
s
d
s
Surplus di
P
asar
Kekurangan di
Pasar
2.      Sebagai alat untuk merumuskan kebijakan ekonomi (economi policy), artinya menganalisis bagaimana kegiatan pemerintah untuk mempengaruhi perekonomian. Dalam hal ini kita dapat mempelajari kebijakan pemerintah yang mempengaruhi harga dan upah, serta alokasi sumber daya.
3.      Untuk memeriksa syarat-syarat kemakmuran perekonomian (welfare economics).
4.      Sebagai alat dalam pengambilan keputusan manajemen.
Dalam hal ini metode yang dikembangkan dalam analisis permintaan dan analisis biaya yang digunakan dalam linear programming.

1.4        ALIRAN DALAM EKONOMI MIKRO 

 Dalam ekonomi mikro ada tiga agen ekonomi (economics agents) yaitu produsen, konsumen dan pasar yang hubungannya dapat dilihat pada gambar 1.2. 
Dalam hal ini dapat diperinci sebagai berikut:
1.      Sisi konsumen:
a.       Elemen dasar permintaan dan penawaran
b.      Teori perilaku konsumen
c.       Elastisitas
2.      Sisi produsen:
a.       Teori produksi
b.      Teori biaya
3.      Pasar output dan penetapan harga:
Pasar Persaingan Sempurna, Monopoli, Oligopoly dan Persaingan Monopolistik.
4.      Pasar input dan penetapan harga:
Permintaan input.
Gambar 1.2 
Aliran Dalam Ekonomi Mikro
Konsumen
Penawaran
Pasar input 
Permintaan  
Intervensi Pemerintah
Produsen 
Pasar output
Permintaan 
Penawaran

1.5        ASUMSI DALAM EKONOMI MIKRO

 Asumsi yang dipergunakan untuk menyederhanakan fenomena yang ada, juga untuk mengarahkan kajian sehingga dapat menemukan hubungan antara berbagai variabel yang terkait.
            Di dalam ekonomi mikro ada beberapa asumsi yang penting yaitu:
1. Laba Maksimum (Profit Maximizing)
  Setiap teori merupakan abstraksi realitas dan didasarkan pada beberapa asumsi. Teori yang baik tentu mampu menghendaki asumsi yang realitas dan logis. Adapun asumsi yang paling sering digunakan dalam ilmu ekonomi adalah semua agen ekonomi (economic agents) termasuk didalamnya produsen, konsumen dan pemerintah, ingin memaksimumkan kepuasan, profit, kesejahteraan dan sebagainya. Kalau harus merugi maka agen ekonomi tersebut berusaha meminimumkan kerugiannya. Seluruh hal ini sejalan dengan prinsip rasionalitas, bagi semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ekonomi dianggap rasional, konsisten dan dengan prinsip maksimisasi. Untuk mengetahui apakah semua usaha yang dilakukan akan mendapatkan laba maksimum maka ada dua syarat yaitu:
a.      Syarat Perlu (Necessary Condition)
Syarat ini menggunakan asumsi bahwa turunan pertama persamaan   tersebut nilainya sama dengan nol. Jadi untuk mengetahui apakah suatu perusahaan menghasilkan laba maksimum maka digunakan defenisi sebagai berikut:
0
q
q
dq
df
'


Dimana jika q < q’, maka laba yang diperoleh masih dapat ditingkatkan. Sedangkan jika q > q’, maka laba yang diperoleh cenderung menurun. Apabila output sebesar q’ maka akan dapat turunan yang pertama sama dengan nol dengan keuntungan minimum seperti terlihat pada gambar 1.3.(a). Bila  outputnya sebesar q’b turunan pertamanya juga sama dengan nol namun titik tersebut merupakan titik belok saja, seperti pada gambar 1.3. (b)
Gambar 1.3

Syarat Cukup untuk  Memaksimumkan Keuntungan
0

dq
da
q
q
1
q
q’
2
S
0
0

dq
da
q
q’
S
(a)             ( b )
b.      Syarat Cukup (Sufficient Condition)
Syarat ini menunjukkan nilai turunan kedua dari persamaan adalah bernilai negatif. Jadi untuk memperoleh laba maksimum dipergunakan Syarat Perlu (Necessary Condition) dan Syarat Cukup (Sufficient Condition).
q * d = f (p*)
2. Ceteris paribus
Asumsi Ceteris paribus diartikan sebagai hal-hal yang tidak berhubungan dengan analisa dianggap konstan sehingga tidak mempengaruhi analisa yang sedang dilaksanakan.   Satu contoh ceteris paribus yang paling sederhana diberikan oleh fungsi permintaan berikut:
Ceteris Paribus
Persamaan di atas menunjukkan hubungan antara dua faktor yaitu jumlah barang x yang diminta. q* d, ditentukan oleh harga barang x, yaitu sebesar px, jika variabel-variabel lain dianggap konstan. Dengan demikian ceteris paribus pada hubungan diatas menggambarkan persamaan dengan mengetahui bahwa variabel lain tidak selalu konstan.

1.6             ILMU EKONOMI POSITIF DAN NORMATIF

 Para ahli ekonomi membedakan dua analisa ilmu ekonomi yaitu analisa ekonomi positif dan normatif. Ilmu Ekonomi Positif (Positive Economics) yaitu membahas atau mempelajari apa itu (what is) atau bagaimana masalah-masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat sebenarnya diselesaikan. Teori ekonomi positif menentukan bagaimana sebenarnya (in fact) sumber daya dialokasikan dalam suatu perekonomian. Jadi ilmu ekonomi menyangkut apa yang sedang, telah atau akan terjadi. Ilmu Ekonomi Normatif (Normative Economics), yaitu mempelajari apa seharusnya dilakukan atau bagaimana masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat seharusnya diselesaikan.
 Teori ekonomi normatif menentukan bagaimana sumber daya yang seharusnya dialokasikan, misalnya: Suatu perusahaan mengotori udara dalam proses menghasilkan produksi. Jika menganalisa positif maka kita mempelajari berapa biaya membersihkan serta biaya kesehatan yang dibebankan kepada masyarakat. Namun jika menganjurkan seharusnya sumber daya lebih banyak dialokasikan untuk kesehatan maka analisa berhubungan dengan ekonomi normatif. Contoh lain: bila dikenakan upah minimum akan menaikkan tingkat pengangguran, hal ini berhubungan dengan ekonomi positif, karena pernyataan terbukti didukung dengan data-data yang ada. Tetapi bagaimana mengatasi pengangguran, ini berkaitan dengan ekonomi normatif, artinya adanya suatu penilaian sebab untuk mengatasi pengangguran dapat diadakan dengan berbagai cara, seperti mengurangi tingkat upah minimum, menambah pengeluaran pemerintah, menyediakan lapangan kerja, dan lain-lain. Jadi ada berbagai alternatif sehingga adanya penilaian hal ini disebut Analisa Ekonomi Normatif.
Jika seorang ekonom mempergunakan hipotesa maksimisasi laba, maka hal ini menjelaskan ekonomi positif. Tetapi jika dia menganjurkan agar perusahaan  harus memaksimumkan laba, berarti melakukan analisa normatif. Jadi ilmu ekonomi normatif menyangkut apa yang diyakini seseorang harus terjadi. Pernyataan normatif adalah pernyataan yang menghasilkan, atau didasarkan pada keseimbangan nilai (value judgment), yaitu pertimbangan tentang apa yang baik dan apa yang buruk. Jadi  untuk faham positif objek studi adalah skema nyata. Sedangkan faham normatif beranggapan bahwa sebagai ahli ekonomi harus ikut menentukan kemana tujuan pembangunan ekonomi. Untuk itu perlu ditetapkan apa yang harus dilakukan, dan bagaimana aktivitas ekonomi dijalankan yang semuanya melibatkan unsurunsur nilai dan value judgment (perimbangan nilai).

AKAR ILMU EKONOMI MAKRO



Peristiwa-peristiwa ekonomi tahun 1930-an, yakni dasawarsa Depresi Besar, memicu sejumlah besr pemikiran tentang permasalahan perekonomian makro. Tahun 1920-anmerupakan tahun-tahun kemakmuran bagi kemakmuran perekonomian A.S. Sepertinya setiap saat orang yang menginginkan pekerjaan bisa mendapatkannya, pendapatan melonjak tajam, dan harga-harga stabil. Mulai akhir 1929, segala sesuatu tiba-tiba berubah menjadi jelek. Pada tahun 1929, 1,5 juta orang menganggur. Pada tahun 1933, pengangguran itu meningkat sampai 13 juta dari angakatan kerja yang berjumlah 51 juta. Pada tahun 1929, Amerika Serikat memproduksi $ 103 milyar barang dan jasa baru; pada tahun 1933, produksi itu merosot sampai $ 55 milyar, merosot hampir 50 persen. Pada bulan Oktober 1929, ketika harga saham Wall Street anjlok, milyaran dolar kekayaan  pribadi hilang lenyap. Pengangguran tetap diatas 14 persen dari angkatan kerja sampai tahun 1940.

Ø    Model Klasik            
Sebelum Depresi Besar, para ahli ekonomi menerapkan model ekonomi mikro, yang kadang-kadang disebut sebagai “ Model Klasik ” , pada masalah-masalah perekonomian yang luas. ( Kata ilmu ekonomi makro tidak ditemukan sampai sesudah Perang Dunia II.) Sebagai contoh, analisis penawaran dan permintaan klasik mengasumsikan bahwa penawaran tenaga kerja yang berlebih akan menyebabkan turunnya upah ke tingkata keseimbangan baru; akibatnya, pengangguran tidak akan bertahan lama.
Dengan kata lain, ahli ekonomi klasik yakin bahwa resesi (penurunan dalam ekonomi) memperbaiki dirinya sendiri. Ketika jumlah keluaran jatuh dan permintaan akan tenaga kerja bergeser ke kiri, argument itu berlaku, tingkat upah akan menurun, yang karenanya menaikan jumlah tenaga kerja yang diminta oleh perusahaan yang ingin memperkerjakan lebih banyak karyawan dengan tingkat upah baru yang lebih rendah. (Grafikkan sendiri gerakan tersebut sepanjang kurva permintaan baru.).
Akan tetapi, selama Depresi Besar tingkat pengangguran tetap sangat tinggi selama hampir 10 tahun. Dalam ukuran besar, kegagalan model [1]klasik sderhana dalam menjelaskan pengangguran tinggi yang berkepanjangan memberikan dorongan bagi cikal bakal perkembangan ilmu ekonomi makro. Tidak heran bahwa apa yang sekarang kita sebut ilmu ekonomi makro itu lahir pada tahin 1030-an.

Ø    Revolusi Keynesian  
Salah satu karya paling penting dalam sejarah ekonomi, The General Theory of Employment, Interest and Money , oleh Jhon Maynard Keynes,diipublikasikan pada tahun 1936. Berdasarkan apa yang sudah dipahami tentang pasar dan perilakunya, Keynes mulai membangun teori yang akan menjelaskan peristiwa-peristiwa ekonomi yang membingungkan zaman itu.
Sesudah Perang dunia II, dan khususnya ditahun 1950, pandangan Keynes mulai membawa pengaruh baik terhadap ahli ekonomi maupun atas pembuat kebijakan pemerintah. Pemerintaha akhirnya yakin bahwa mereka dapat campur tangan dalam perekonomian untuk mencapai sasaran peluang kerja dan keluaran ke tingkatan tertentu,  dan mereka mulai menggunakan kekuasaaan mereka atas pajak dan pengeluaran, juga kemapuan mereka mempengaruhi tingkat suku bunga dan penawaran uang, yang tujuan ekplisitnya adalah mengontrol naik turunnya pereknomian. Pandangan atas kebijakan pemerintah seperti itu diterima dengan kuat di Amerika Serikat dengan dikeluarkannya Undang-undang Peluang Kerja tahun 1946 (Employment Act of 1946). Undang-undang itu membentuk President’s Council of Economic Advisors, satu kemlompok ahli ekonomi yang menasehati presiden tentang permasalahan ekonomi. Undang-undang itu juga mengikat pemerintah federal untuk melakukan intervensi dalam perekonomian untuk menghindari penurunan besar dalam keluaran dan peluang kerja.

Ø    Penyesuaian Perekonomian secara Tepat pada tahun 1960-an  
Pendapat bahwa pemerintah dapat dan hendaknya, bertindak untuk menjaga supaya perekonomian makro tetap stabil mencapai puncak popularitasnya pada tahun 1960-an. Selama tahun-tahun itu. Walter Heller, ketua Council of Economic Advisors dibawah Presiden Kennedy maupun Presiden Johnson, menyebut penyesuaian perekonomian secara tepat sebagai peran pemerintah dalam mengatur inflasi dan pengangguran. Selama tahun 1960-an, banyak ahli ekonomi pemerintah dapat menggunakan alat yang tersedia untuk memanipulasi tingkat pengangguran dan inflasi dengan sangat tepat.
Ø    Ketidaksesuaian dengan kenyataan Sejak tahun 1970-an           
Sejak 1970-an perekonomian A.S. mengalami serangkaian fluktuasi besar dalam tingkat peluang kerja, keluaran, dan inflasi. Pada tahun 1974 sampai 1975 dan 1980 sampai 1982, Amerika Serikat mengalami resesi yang hebat. Walaupun bencananya tidak sehat Depresi Besar tahun 1930-an, resesi itu menyebabkan jutaan orang kehilangan pekerjaan dan mengakibatkan kerugian milyaran dolar karena kehilangan keluaran dan pendapatan.
Pada tahun 1974 sampai 1975 dan pada tahun 1979 sampai 1981, Amerika Serikat menunjukkan inflasi yang sangat tinggi. Perekonomian A.S. jugaa mengalami resesi yang sedang pada tahun 1990 sampai 1991 dan pertumbuhan ekonomi yang sangat lambat selama kira-kira dua tahun sesudah resesi. (Kita membahas peristiwa ini secara lebih rinci dalam bab-bab kemudian).
Lebih dari itu, pada tahun 1970-an dapat disaksikan kelahiran stagflasi (stagnasi + inflasi). Stagflasi terjadi bila tingkat harga keseluruhan naik cepat (inflasi) selama periode resesi atau tingkat pengangguran yang tinggi dan lama (stagnasi). Sampai 1970-an, harga yang naik cepat dijumpai hanya dalam periode ketika perekonomian makmur dan pengangguran rendah (atau seekurang-kurangnya menurun). Masalah stagflasi itu menjengkelkan, baik bagi ahli teori ekonomi makro maupun bagi pmbuat kebijakan menyangkut kesehatan ekonomi.
Jelas hingga tahun 1975 bahwa perekonomian makro itu lebih sulit dikontrol dibanding kata-kata Heller atau teori dalam buku pelajaran yang telah diyakini oleh ahl ekonomi. Peristiwa-peristiwa tahun 1970-an dan sesudahnya mempunyai pengaruh penting terhadap teori makro. Banyak dari keyakinan akan modek Keynsian yang sederhana dan “kebijaksanaan konvensional” tahun 1960-an yang kehilangan makna. Cara baruuntuk memahami perilaku perekonomian makro telah diusulkan, tetapi sampai sekarang tidak ada kesepakatan tentang pejelasan mana yang paling baik. Karena perubahan yang terus menerus dalam perekonomian makro seperti itulah maka timbul pengertian bahwa disiplin terbuka luas dan bahwa banyak permasalahan paling penting sekarang harus dipecahkan, dan itu membuat ilmu ekonomi makro begitu menyenangkan untuk dipelajari.


2.2.  DEFINISI EKONOMI MAKRO
Ilmu ekonomi makro mempelajari variabel-variabel ekonomi secara agregat (keseluruhan). Variabel-variabel tersebut antara lain : pendapatan nasional, kesempatan kerja dan atau pengangguran, jumlah uang beredar, laju inflasi, pertumbuhan ekonomi, maupun neraca pembayaran internasional.
Ilmu ekonomi makro mempelajari masalah-masalah ekonomi utama sebagai berikut :
  • Sejauh mana berbagai sumber daya telah dimanfaatkan di dalam kegiatan ekonomi. Apabila seluruh sumber daya telah dimanfaatkan keadaan ini disebut full employment. Sebaliknya bila masih ada sumber daya yang belum dimanfaatkan berarti perekonomian dalam keadaan under employment atau terdapat pengangguran/belum berada pada posisi kesempatan kerja penuh.
  • Sejauh mana perekonomian dalam keadaan stabil khususnya stabilitas di bidang moneter. Apabila nilai uang cenderung menurun dalam jangka panjang berarti terjadi inflasi. Sebaliknya terjadi deflasi.
  • Sejauh mana perekonomian mengalami pertumbuhan dan pertumbuhan tersebut disertai dengan distribusi pendapatan yang membaik antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dalam distribusi pendapatan terdapat trade off maksudnya bila yang satu membaik yang lainnya cenderung memburuk.

2.3.  PERBEDAAN EKONOMI MAKRO DAN MIKRO
Sementara ilmu ekonomi mikro mempelajari variabel-variabel ekonomi dalam lingkup kecil misalnya perusahaan, rumah tangga.
Dalam ekonomi mikro ini dipelajari tentang bagaimana individu menggunakan sumber daya yang dimilikinya sehingga tercapai tingkat kepuasan yang optimum. Secara teori, tiap individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi yang optimum bersama dengan individu-individu lain akan menciptakan keseimbangan dalam skala makro dengan asumsi ceteris paribus.

Perbedaan ekonomi mikro dan ekonomi makro dapat dilihat pada tabel 2.1. berikut :
Tabel 2.1. Perbedaan Ekonomi Makro dan Mikro
Dilihat dari
Ekonomi Mikro
Ekonomi Makro
Harga
Harga ialah nilai dari suatu komoditas (barang tertentu saja)
Harga adalah nilai dari komoditas secara agregat (keseluruhan)
Unit analisis
Pembahasan tentang kegiatan ekonomi secara individual. Contohnya permintaan dan dan penawaran, perilaku konsumen, perilaku produsen, pasar, penerimaan, biaya dan laba atau rugi perusahaan
Pembahasan tentang kegiatan ekonomisecara keseluruhan. Contohnya pendapatan nasional, pertumbu8han ekonomi, inflasi, pengangguran, investasi dan kebijakan ekonomi.

Tujuan analisis
Lebih memfokuskan pada analisis tentang cara mengalokasikan sumber daya agar dapat dicapai kombinasi yang tepat.
Lebih memfokuskan pada analisis tentang pengaruh kegiatan ekonomi terhadap perekonomian secara keseluruhan


2.4.      PERMASALAHAN EKONOMI MAKRO
Makro ekonomi adalah teori dasar kedua dalam ilmu ekonomi. Teori dasar lainnya adalah mikroekonomi. Teori mikroekonomi menganalisis kegiatan suatu perekonomian dengan melihat bagian bagian kecil dari keseluruhan kegiatan ekonomi. Manakala makroekonomi melihat kegiatan ekonomi dengan memperhatikan gabaran kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Dari segi analisis teori ekonomi meliputi apa barang yang diproduksi, bagaimana cara memproduksi barang yang efisien dan untuk siapa barang diproduksi. Sedangkan analisis makro ekonomi meliputi masalah masalah utama yang dihadapi perekonomian Indonesia dan kebijakan apa yang digunakan pemerintah.
Ahli – ahli ekonomi selalu mengamati prestasi kegiatan perekonomian dari waktu ke waktu. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diperhatikan data statistik yang mengambarkan perubahan – perubahan dalam kegiatan ekonomi negara. Data statistik tersebut dinamakan indikator makroekonomi. Terdapat banyak indikator diantaranya pendapatan nasional, tingkat pertumbuhan ekonomi, pengangguran, inflasi dan neraca pembayaran.
Salah satu masalah perekonomian yaitu pengangguran, Pengangguran adalah suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Penyebab terjadinya pengangguran yaitu :
1).   Kekurangan pengeluaran agregat   (pembelanjaan masyrakat terhadap barang dan jasa)
2).   Menganggur karena ingin mencari kerja lain yang lebih baik,
3).   Penggunaan alat produksi modern/ mesin – mesin,
4).   Ketidaksesuaian antara keterampilan pekerja yang sebenarnya dengan ketrampilan yang    diperlukan industri.
Akibat buruk pengangguran :pengurangan pengeluaran konsumsinya, menganggu taraf kesehatan keluarga, menimbulkan efek psikologis yang buruk, timbulnya kriminalitas dan terjadi kekacauan politik, ekonomi dan sosial bagi negara.
Kebijakan pemerintah yang digunakan untuk mengatasi masalah – masalah ekonomi dibedakan kepada tiga bentuk tindakan : yaitu kebijakan fiskal, kebijakan moneter dan kebijakan  segi penawaran. Dalam kebijakan fiskal akan dibuat perubahan dalam pengeluaran pemerintahan atau pajak untuk mempengaruhi tingkat pengeluaran agregat. Dalam kebijakan moneter yang dilakukan adalah membuata perubahan dalm penawaran suku bunga untuk mempengaruhi pengeluaran agregat. Kebijakan segi penawaran dilakukan dengan mengurangi pajak, mengurangi insentif fiskal, memberi subsidi, dan menyediakan infrastruktur yang baik untuk menaikkan efisiensi kegiatan perusahaan – perusahaan. Mengembangkan infrastruktur dan membuat peraturan yang kondusif kepada suasana usaha yang baik juga perlu dilakukan.