Powered By Blogger

Selasa, 20 Desember 2016

Pengaruh Promosi Terhadap Peningkatan Volume Penjualan

    Untuk menunjang perkembangan dunia bisnis pada saat sekarang, maka salah satu aspek penting adalah masalah peranan dalam memainkan perilaku konsumen sebagai bagian dari kegiatan perusahaan baik perusahaan pemerintah maupun perusahaan swasta. Apabila perusahaan dapat menjalankan prinsip pemasaran atau marketing dengan baik, tentunya perusahaan mempunyai strategi tentang upaya penjualan barang dagangan dengan di fungsikan perwakilan dalam memenuhi permintaan konsumen.      
      Selanjutnya, perusahaan mempunyai kegiatan-kegiatan lain dalam percaturan dunia perdagangan yang berjalan dengan baik tetapi apabila perusahaan akan memperbaiki strategi dan situasi persaingan pasar kian hari semakin ketat, sehingga perlu mempunyai pisi dan pandangan terhadap barang apa yang akan dipasarkan.
      Sejalan dengan perkembangan tersebut maka sebagai bangsa yang sedang membangun, khususnya bangsa Indonesia sangat penting artinya untuk membangun disegala sektor baik pembangunan disektor pertanian, pertambangan  dan sektor lain yang tak kala pentingnya yaitu pada bidang pemasaran makanan tambahan untuk anak-anak dan barang-barang lainnya, kondisi ini merupakan dorongan bagi perkembangan dunia usaha yang dapat menunjang timbulnya perusahaan-perusahaan yang mendukung pembangunan.
      Promosi  merupakan  sarana  dalam  memperlancar  arus penjualan barang hasil produksi. Dalam mempertahankan  penjualan, perusahaan harus meningkatkan mutu dan  kualitas  produk,  sehingga konsumen tetap terkesan terhadap  barang  yang dihasilkan perusahaan.
      Dengan  demikian, kualitas produk  diperhatikan  agar perusahaan tetap mempertahankan volume penjualan  seminimal mungkin,  karena  peran serta  promosi  dalam  meningkatkan omzet penjualan hasil produksi ditentukan oleh lancar  arus barang,  di samping itu juga bagian promosi (tenaga  sales) yang mempunyai arah dan tujuan keberadaan dalam  perusahaan yaitu  untuk  meningkatkan  kegiatan  operasional  utamanya  pemasaran.
      Selanjutnya,  promosi  pada perusahaan juga  menambah biaya  dalam pemasaran, maka biaya akan  bertambah  karena proses pemasaran bertambah, di samping itu juga lebih  mem­perlancar  arus  penjualan  barang. Mengalami  kepincangan dalam  usaha mencapai tujuan. Dalam usaha mencapai  tujuan perusahaan, maka perusahaan itu mengadakan pengawasan dalam kegiatan utamnanya promosi sebagai salah satu tujuan untuk meraih kesuksesan meningkatkan volume penjualan.
      Pemasaran  memegang  fungsi perusahaan  yang  penting bagi keberhasilan  usaha  suatu  perusahaan,   pengeterapan prinsip-prinsip pemasaran  yang efisien dan  efektif  akan  sangat menunjang  tercapainya tujuan  perusahaan.   Setiap pemilik  perusahaan selalu menghendaki, agar perusahaannya senantiasa  mengalami kemajuan, tetapi tidak semua  pemilik 
perusahaan  mengetahui dengan pasti  bagaimana  menjalankan dan mengendalikan  perusahaan  untuk   mencapai   tingkat kemajuan  yang diharapkan.  Untuk  mengatasi  masalah  ini diperlukan  pengetahuan  yang baik tentang  fungsi  promosi dalam  kaitannya  dengan  penjualan  dalam perusahaan  dan kemampuan mengelola perusahaan itu sendiri. Dalam proses  perkembangan perusahaan  pada  umumnya fungsi  promosi, merupakan fungsi yang  perlu  diperhatikan  oleh  pimpinan perusahaan dalam mengembangkan  perusahaan. 
      Dalam kaitannya  dengan meningkatkan volume penjualan, maka promosi bagian  dari  usaha  memperlancar  barang   hasil produksi. Jika  pengertian promosi diteliti dalam arti  sempit, maka fungsi promosi merupakan usaha bagaimana  meningkatkan cara hasil penjualan perusahaan dengan cara menguntungkan.
      Sedangkan dalam arti luas, fungsi promosi bukan hanya untuk mengetahui tentang   bagaimana  cara   perusahaan   untuk mendapatkan  langganan dalam  jumlah  yang  banyak  dengan menggunakan tenaga secara efisien dan efektif. Tetapi  juga  bagaimana  cara  memperoleh  sejumlah keuntungan yang diharapkan bersama.  Promosi  sebagai  arus  informasi  atau  yang dapat tertarik  konsumen  dalam menggunakan  produksi  dipasarkan yang tidak pernah menggunakan bisa beralih dan yang  telah menggunakan tetap pada barang yang dipromosikan. Sedangkan  iklan adalah penerankan  mengenai  fungsi-fungsi  produk dalam  perintisan  atau  untuk  menciptakan permintaan  produk atau katagori produk tertentu.  
A   Pengertian Pemasaran

      Sebagaimana diketahui bahwa pemasaran ialah bagaimana cara meningkat volume penjualan hasil produksi, karena biasanya hasil produksi susah untuk menembus pemasaran sebab kapan hasil produksi tidak bersaing, yang tidak bisa    bersaing hasil produksi di pasaran.
      Dalam membicarakan pengertian pemasaran kita harus melihat beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli pemasaran karena dalam memberikan defenisi pemasaran kita sering menjupai beberapa penafsiran yang dapat memberikan estimasi bagaimana cara meningkatkan volume penjualan sesuai dengan titik pandang masing-masing ahli. Pada dasarnya prinsip-prinsip ini secara umum defenisi-defenisi tersebut mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu bahwa kegiatan atau aktivitas pemasaran barang dan jasa bukan hanya sekedar kegiatan menjual barang/jasa tetapi lebih luas dari pada itu.
      Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka pemasaran berarti suatu aktivitas atau kegiatan manusia berlangsung dalam kaitannya jual beli di pasar, atau berarti bekerja dengan pasar untuk mewujudkan pertukaran yang potensial dengan maksud untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan  manusia.
      Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilaksanakan dalam  mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan  dengan  tujuan  untuk  memperoleh laba. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan tersebut tergantung bagaimana memasarkan  suatu  produk  itu sendiri sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai.
      Pemasaran merupakan suatu proses pemilihan, pasar mana yang akan kita masuki, produk apa yang kita pasarkan, berapa harga yang kita tetapkan serta distributor mana yang akan kita gunakan. Oleh sebab itu, maka sasaran yang ingin dicapai perusahaan adalah untuk volume peningkatan penjualan Dalam hal ini bukan semata-mata didasarkan pada selera dan pemenuhan keinginan di dalam memasarkan produknya agar supaya produk yang ditawarkan itu dapat terjual.
      Untuk memperjelas pengertian pemasaran ini, maka dikutip oleh beberapa para ahli. Menurut Sofyan Assauri, dalam bukunya Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Analisis (2001: 2), menyatakan bahwa, pemasaran adalah untuk menyediakan dan menyampaikan barang dan jasa tepat pada orang, atau konsumen  pada tempatnya dan waktu serta harga yang tepat dengan promosi dan komunikasi yang tepat.
      Selanjutnya, W.S Stanton dalam bukunya Marketing Praktis, (2000 : 4), mengemukakan bahwa pemasaran adalah stau sistem dari keseluruhan kegiatan yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosi kan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan untuk memenuhi kebutuhan baik pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
      Kalau kita menelaah lebih lebih jauh didifinisikan tersebut, maka pada dasarnya pemasaran merupakan suatu sistem yang terkait untuk membuat perencanaan, penentuan harga, melaksanakan promosi, mendistribusikan barang dan  jasa  dalam rangka  memuaskan  kebutuhan dan  keinginan para  konsumen.
      Sedangkan Winardi, dalam bukunya Azas-Azas Marketing (2002 : 10) mendefinisikan bahwa pemasaran adalah pelaksanaan aktivitas dunia usaha yang mengamati arus benda-benda serta jasa-jasa pada produsen ke konsumen atau pihak yang menggunakannya.
      Dari definisi tersebut di atas menunjukkan bahwa pemasaran adalah semua kegiatan proses pemindahan barang atau jasa dari pihak produsen ke pihak konsumen dengan menggunakan suatu keseluruhan distribusi dalam rangka    memperlancar arus pertukaran barang atau jasa tersebut.
     Alex S. Nitisemito dalam bukunya Azas-Azas Marketing, (2000: 13), memberikan pengertian tentang pemasaran yaitu pemasaran adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk memperlancar arus barang dan jasa dari produsen kekonsumen secara efisien dengan maksud menciptakan permintaan yang efektif.
    Sedangkan Philip Kotler dalam bukunya Manajemen Pemasaran (2002 : 5) mengemukakan bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial yang memberikan kepada individu atau kelompok, apa yang mereka butuhkan, inginkan dan ciptakan serta menukarkan produk-produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya.
     Salah satu beberapa kegiatan manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan adalah melakukan suatu proses pertukaran, jadi dengan demikian dapat diketakan bahwa pemasaran diciptakan oleh para penjual dan pembeli atau lebih dikatakan bahwa pemasaran diciptakan oleh para produsen dan konsumen dalam upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan yang jumlahnya tidak terbatas. Jelas bahwa antara produsen dan konsumen senantiasa beberapa untuk mencari kepuasan dengan cara meraih keuntungan, sedangkan dalam pihak para konsumen memenuhi kebutuhan prestasi pemilikan barang dan jasa yang ditawarkan oleh produsen.
      Dengan memperhatikan beberapa definisi pemasaran yang jelas dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran merupakan suatu interaksi yang berusaha untuk menciptakan hubungan pertukaran serta usaha yang terpadu untuk mengembangkan rencana-rencana strategis yang diarahkan pada pemasaran kebutuhan dan keinginan konsumen, guna mendapatkan penjualan yang menghasilkan laba.

B   Pengertian Manajemen Pemasaran

      Dalam melakukan pemasaran hasil  produksi  pada perusahaan, maka perlu  diperhatikan manajemen terhadap memasarkan hasil produk bagaimana pada  tingkat kepuasan konsumen, apakah  sepatutnya barang tersebut diproduksi,  ataukah sudah sesuai  dengan  selera konsumen. Dengan dasar ini perusahaan perlu adanya  jaminan produk, sehingga mutu dan kualitas tetap menjadi perioritas utama  agar langganan tetap memilih pada produk yang  telah lama disenangi.
      Jika  ditelaah  lebih  lanjut,  sebenarnya  terdapat dalam  berbagai  faktor yang  dapat  mempengaruhi  pilihan ditetapkan para konsumen dalam rangka menentukan pilihannya mengenai mengenai produk yang dikonsumsinya.
Faktor-faktor manajemen  tersebut  pada perusahaan  antara  lain  tingkat pendapatan,  pendidikan  dan status sosial  yang  disandang oleh para konsumen yang secara potensial akan  mengkonsumsi barang  yang akan dipasarkan perusahaan. Ketiga faktor  ini akan  turut  berpengaruh  bagi perilaku  konsumen  sehingga perusahaan  perlu mengkajinya, dan meningkatkan  produknya sehubungan  dengan  upaya perusahaan  didalam meningkatkan volume penjualan.
      Dengan  melakukan  suatu kajian atau  studi  terhadap perilaku  konsumen dalam mengkonsumsi suatu  barang,  akan diperoleh  suatu  petunjuk  yang konkret  mengenai   perlu tidaknya  perusahaan  melakukan  perluasan  dan  penyebaran  produk-produknya  dipasar. Sehubungan dengan hal  ini  maka Sofyan  Assauri, dalam bukunya Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Analisis (2001  : 17)  mengemukakan  bahwa  dengan mengkaji  manajemen pemasaran tersebut, perusahaan   dapat mengetahui  diagnosa tentang siap dan apa  serta bagaimana  kebenaran   mengenai   pemakaian   suatu produk.       Hasil  pengkajian  tentang  perilaku konsumen  tersebut  digunakan oleh perusahaan untuk menentukan perlu tidaknya  perusahaan merubah strategi pemasaran produknya. Dengan demikian, jelas terlihat bahwa aspek  perilaku konsumen perlu mendapatkan perhatian dari manajemen perusahaan,  saat mana perusahaan yang bersangkutan  merencanakan untuk mempertahankan posisinya di pasar. Meskipun  terdapat banyak faktor yang memungkinkan suatu perusahaan untuk mempertahankan posisinya dipasar,namun masalah perilaku konsu­men  ini  perlu mendapatkan perhatian  yang  cukup  serius,   khususnya  bagi barang-barang industri yang pangsa pasarnya berada pada kalangan masyarakat yang berpenghasilan relatif tinggi. Secara  lebih konkret dapat dikemukakan  bahwa  unsur manajemen yang dijalankan bagian pemasaran barang,  pada  dasarnya mencerminkan  tanggapan atau respon mereka terhadap  berba­gai  rangsangan pemasaran. Tanggapan atau  respon tersebut terutama  terlihat  melalui berbagai bentuk pewadahan  pro­duk, harga, daya tarik advertensi dan unsur  lainnya  yang berdampak secara psikologi bagi konsumen.
      Mengenai perlunya perusahaan menelaah mengenai periku konsumen tersebut,  maka perlu adanya  perincian  mengenai  dimensi  penting  dari unsur prilaku  konsumen.  Sehubungan dengan  konteks  ini,  maka Yanti B. Sugarda dalam bukunya Kerangka Strategi Perusahaan (2001:  119) membedakan  adanya  tiga dimensi  perilaku  konsumen  dalam konteks pembelian  suatu  produk,  dimana  dimensi-dimensi tersebut meliputi :
1.  Dimensi cognitif (pikiran)
2.  Dimensi effective (perasaan)
3.  Dimensi conative (perbuatan)
      Komponen  cognitive merupakan elemen rasional  yang dipergunakan dalam proses penelaahan secara mental mengenai adanya perilaku konsumen dalam mengkonsumsi barang.  Kompo­nen efective merupakan elemen emosional serta adanya  unsur perasaan  yang secara alamiah berada pada  setiap  individu yang akan mengkonsumsi barang. Komponen conative merupakan suatu  kecenderungan  untuk melakukan suatu  tindakan  atau perbuatan sehingga konsumen akan melakukan pembelian terhadap produk-produk yang ditawarkan oleh perusahaan di pasar.

C   Pengertian dan Tujuan Promosi
1. Pengertian Promosi

      Sebagaimana diketahui bahwa sukses tidaknya  kegiatan pemasaran tidak hanya tergantung pada kualitas produk  yang dihasilkan,  kebijaksanaan yang tepat, tetapi juga  melalui banyaknya  konsumen yang berkelanjutan untuk menjaga  agar hubungan tersebut jangan terputus, maka diperlukan hubungan yang sistimatis dengan pembeli potensial para perantara. 
      Kata Promosi atau komunikasi pemasaran dapat memberikan interprestasi dan  bahasa  yang  berbeda-beda.   Pada dasarnya  maksud  kata promosi adalah  untuk  memberitahu, membujuk  dan  mengingatkan. Tujuannya untuk mempengaruhi potensial consumer's atau pedagang perantara melalui  komunikasi (bauran  promosi). Ditinjau dari segi ini  maka  yang termasuk dalam  kegiatan ini adalah  advertising,  promosi dagang, publisitas penjualan pribadi. Keempat macam promosi tersebut  merupakan  komunikasi yang  umum  digunakan, guna mempengaruhi  pikiran dan tingkalaku pembeli.  Oleh karena itu, peranan promosi dalam pemasaran sangat diperlukan oleh perusahaan dalam meningkatkan usahanya.
      Untuk lebih mengetahui pengertian promosi sebagaimana yang dikemukakan oleh Winardi, dalam bukunya Manajemen Pemasaran (2003 : 379), bahwa promosi adalah (usaha untuk menunjukkan sesuatu) kerap kali latihan promosi  dihubungkan  dengan  perdagangan,   kepriwisataan, produksi yang berarti untuk memajukan ketiga usaha tersebut dengan sasaran laba yang semaksimal mungkin".
      Berdasarkan  pengertian tersebut di atas, maka  dapat ditarik  suatu kesimpulan bahwa promosi  adalah  merupakan suatu  usaha yang digunakan oleh perusahaan baik yang  ber­gerak di bidang jasa, industri maupun perdagangan.  Promosi penjualan  menurut  Basu  Swastha, dalam bukunya Manajemen Pemasaran Modern  (2002 :  115)  mempunyai tujuan, sebagai berikut :
1.  Memperkenalkan suatu barang  atau jasa yang dihasilkan industri  dengan  sasaran untuk  meningkatkan  penjualan suatu produk sehingga dapat memperoleh laba yang  semaksimal mungkin.
2. Memberikan kesan atau daya tarik bagi orang akan membeli suatu produk yang ditawarkan jika memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
3. Menyampaikan pesan menarik dengan cara yang jujur  untuk menciptakan

2 . Tujuan Promosi

      Promosi  pada perusahaan mempunyai  tujuan  tertentu, yaitu untuk menyampaikan suatu barang yang sudah diproduksi pada konsumen, agar informasi dapat meluas, maka  digunakan beberapa media masa menunjang informasi tersebut.
      Basu Swasta dan Irawan dalam bukunya Manajemen Pemasaran Modern (2002 : 10) bahwa dalam praktek promosi mempunyai beberapa tujuan untuk menyampaikan  misi, sebagai berikut :
1. Modifikasi  tingkah  laku,  dimaksudkan  disini   adalah penjualan dalam promosi yang berusaha menciptakan  kesan tentang  dirinya dan mendorong pembeli barang  dan  jasa melalu  usaha  perubahan  tingkah laku  serta  pendapat konsumen.  Konsumen sebelumnya tidak senang menggunakan produk perusahaan, selanjutnya diarahkan agar mau  beralih  kepada produk yang ditawarkan atau yang  dihasilkan perusahaan,  misalnya dengan mengatakan  "Penjualan  gas elpiji”  pada PT. Nusamin lebih mudah.
2. Memberitahu,  berarti kegiatan promosi  ditujukan  untuk memberitahu tentang  pasaran  produk  perusahaan. Dengan kata lain promosi ini  bersifat informatif kepada  konsu­men  sehingga  dapat membantu mereka  dalam  pengambilan keputusan pembeli.
3. Membujuk,  dengan  cara promosi yang  sifatnya  membujuk (persuasif) yang diharapkan penjualan dapat ditingkatkan dengan terlebih dahulu membujuk konsumen agar mau membe­lanjakan  uangnya terhadap produk yang  ditawarkan  oleh perusahaan. Umumnya metode promosi ini kurang  disenangi oleh  masyarakat,  tetapi kenyataannya  sekarang  justru banyak  muncul adalah promosi yang  sifatnya  persuasif.
      Hal ini dimaksudkan untuk mendorong pembeli dan berusaha untuk menciptakan kesan positif terhadap produk  perusa­haan  serta  memberi pengaruh yang  lama  pada  perilaku pembeli. Di samping itu promosi yang sifatnya  persuasif lebih diutamakan jika produk bersangkutan mulai memasuki tahap pertumbuhan.    
4.   Mengingatkan, yaitu promosi yang sifatnya mengingatkan untuk  dilakukan  terutama  dalam  memperhatikan   merek produk dihati masyarakat dan perlu dilakukan seama tahap kedewasaan di dalam siklus kehidupan produk ini, berarti pula perusahaan berusaha untuk paling tidak mempertahan­kan pembeli yang ada.

D   Promotion Mix/ Bauran Promosi
      Perusahaan harus mendisrtibusikan biaya promosi  yang digunakan dalam pemasangan iklan, baik melalui  elektronik maupun iklan cetak, sehingga perusahaan selalu mencari cara untuk  bisa mencapai efektivitas dengan beralih  dari  satu alat promosi ke alat promosi yang lain karena nilai ekonominya lebih baik. Menurut Agus Maulana dalam bukunya Azas-Azas Marketing (2003 : 115) dalam merancang  bauran promosi akan lebih rumit bila  satu alat  promosi  digunakan untuk mempromosikan  barang  lain.
      Banyak faktor yang mempengaruhi pemasar dalam memilih alat-alat promosi yang bisa meningkatkan volume penjualan. Promosi yang banyak ragam dan penggunaan iklan,  maka sukar sekali membuat generalisasi yang menyeluruh  kualitas khusus  dari iklan sebagai suatu komponen  bauran promosi, namun kualitas kualitas bauran promotion, sebagai berikut :
1) Penampilan  publik, artinya iklan model komunikasi  yang paling  memasyarakat.  Sifat publik  iklan  menghasilkan suatu pengesahan terhadap produk yang diiklankan memberi perwatan standar.
2)   Biaya serap, artinya iklan atau media yang dapat meresap karena  penjual bisa mengurani pesan. Juga  memungkinkan pembeli  menerima dan membandingkan pesan dari  berbagai saingan. Iklan berskala besar memungkinkan sesuatu  yang  positif mengenai besarnya suatu perubahan.
3) Ungkapan perusahaan yang diperjelas, artinya iklan mampu mendramatisasi suatu perusahaan beserta produknya  melalui lukisan inilah, bunyi dan warna.
4)   Tidak  adanya  tatapmuka,  artinya  iklan  tidak  begitu memaksa, seperti tenaga penjual.   

E   Pengertian Penjualan

      Sebenarnya laba yang diperoleh suatu perusahaan merupakan pencerminan diri usaha-usaha perusahaan yang memberikan kepuasan konsumen. Untuk mencapai hal itu, perusahaan harus dapat menyediakan dan menjual barang atau jasa yang paling sesuai menurut konsumen dengan harga yang dapat dijangkau tetapi tidak merugikan produsen artinya dengan harga yang layak.
      Dengan demikian, sasaran perusahaan dalam melaksanakan tugas pokok tersebut serta untuk mencapai tujuan sebagai unit usaha adalah meningkatkan volume penjualannya, karena penjualan adalah sumber pendapatan bagi perusahaan.
      Stanton, dalam bukunya Strategi Pemasaran, (1999 : 8) memberikan definisi sederhana tentang penjualan, bahwa penjualan adalah bagian pemasaran itu sendiri adalah salah satu bagian dari keseluruhan sistem pemasaran.
      Pengertian penjualan berarti bahwa menyerahkan barang atau jasa aktivitas lainnya dalam suatu periode dengan membebankan suatu jumlah tertentui pada langganan/ konsumen atau pembeli/ penerima barang atau jasa.
      Penjualan barang dagangan oleh sebuah perusahaan dagang biasanya hanya disebut “Penjualan” diberikan definisi oleh Soemarso, Akuntansi Manajemen, (1999 : 178) jumlah transaksi penjualan yang terjadi biasanya  cukup besar dibandingkan dengan jenis transaksi yang lain. Beberapa perusahaan hanya menjual barangnya secara tunai, perusahaan yang lain hanya menjualnya secara kredit, dan yang lain lagi menjual barangnya dengan kedua syarat jual beli tersebut.    
      Penjualan adalah suatu proses pertukaran barang dan/ atau jasa antara penjua;l dan pembeli. Tugas pokok adalah mempertemukan pembeli dan penjual. Hal ini dapat dilakukan secara langsung  atau melalui wakil mereka sebagai distrbutor.
      Fungsi penjualan mencakup sejumlah fungsi-fungsi sebagai berikut :
1.    Fungsi perencanaan
2.    Fungsi memberi kontrak ( contractual function )
  3.  Fungsi menciptakan permintaan (demand creation)
  4.  Fungsi ,mengadakan perundingan (negotiation)
  5.  Fungsi kontraktual (contractual fungtion)
      Pada umumnya, para pengusaha mempunyai tujuan untuk mendapatkan laba tertentu (mungkin maksimal), dan mempertahankan atau bahkan meningkatkannya untuk jangka waktu lama. Tujuan tersebut dapat direalisasikan apabila penjualan dapat dilaksanakan seperti yang direncanakan. Dengan demikian tidak berarti bahwa barang dan jasa yang terjual selalu akan menghasilkan laba. Oleh karena itu pengusaha harus memperhatikan beberapa faktor-faktor sebagai berikut :
1.  Modal yang diperlukan
2.   Kemampuan merencanakan
3.    Kemampuan menentukan tingkat harga yang tepat
4.    Kemampuan memilih penyalur yang tepat
5.    Kemampuan menggunakan cara-casra promosi yang tepat
6.    Unsur penunjang
      Perusahaan, pada umumnya mempunyai tiga tujuan umum dalam penjualan   yaitu
       1.  Mencapai tujuan tertentu
       2.  Mendapatkan laba tertentu
      3.   Menunjang pertumbuhan per

F   Pengertian Biaya Promosi  

      Untuk lebih memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen, maka salah satu faktor yang penting adalah penatapan harga jual, akan tetapi sebelum ditetapkan harga jual terlebih dahulu dtetapkan besarnya biaya promosi dalam memasarkan barang. Biaya promosi menurut  Philip Kotler, dalam bukunya Manajemen Pemasaran, (2002 : 28), menyatakan bahwa biaya promosi  sebagai alat yang digunakan untuk sarana penghubung terjadinya transaksi jual beli barang dan jasa.
      Biaya pemasaran merupakan salah satu alternatif bagi perusahaan bagaimana untuk memperlancar barang dan jasa hasil produk, karena  bermunculan produk yang sama, peranan biaya pemasaran dalam memerangi saingan dan tantangan perlu diatasi serta harus dilewati,  kecermatan dan kelihaian pengelola perusahaan ditentukan oleh keunggulan menghadapi pesaing muncul dengan sendirinya.   
      Bilamana terjadi suatu kesalahan dalam pemlihan dalam penatapan harga jual akan memberikan pengaruh yang dapat memperlambat atau menghambat usaha penyaluran barang dan jasa. Produk yang sudah memenuhi Standar Industri Indonesia (SII) dan sudah memenuhi selera konsumen namun jika ternyata harga tinggi dibandingkan dengan produk perusahaan lain, maka produk tidak mempunyai kemampuan dan inisiatif atau  kurang bertanggung jawab, maka usaha penyaluran akan mengalami hamabatan.
      Secara umum biaya pemasaran dapat dibedakan dalam beberapa macam menurut rangkaiannya, sebagai berikut :
 1.  Produsen ke konsumen, ialah dalam bentuk saluran distribusi yang paling pendek dan sederhana adalah saluran distribusi dari produsen langsung ke konsumen tanpa menggunakan perantara, atau bisa disebut distribusi secara langsung. Produsen disini kurang memperhatikan salurtan distrbusi yang telah terbangun selama ini.
 2. Produsen ke pengecer ke konsumen, ialah suatu hal dapat dipengaruhi oleh konsumen atau pengecer secara langsung untuk melakukan penjualan kepada konsumen. Adapun beberapa kriteria produsen yang mendirikan toko pengecer sehingga secara langsung melayani konsumen, mempunyai pengaruh kepada masyarakat, bekepribadian tinggi, dikenal oleh masyarakat.
 3.  Produsen ke pedagangan besar ke pengecer ke konsumen, yang berarti  bahwa saluran distribusi ini banyak digunakan oleh produsen, dan dinamakan sebagai saluran distribusi tradisional. Produsen disini hanya berhubungan kepada pedagang besar (pengusaha besar) tidak melayani pengecer dan penjual. Produsen disini khususnya melayani dalam partai besar tanpa menghiraukan pengecer dan penjual.
 4. Produsen ke agen ke pengecer ke konsumen, dalam melaksanakan saluran distribusi produsen memilih agen (agen penjualan atau pabrik) sebagai penyalurannya. Produsen menjalankan kegiatan perdagangannya besar dalam saluran distribusi yang ada dan sasaran penjualannya terutama diajukan kepada pengecer.
 5.  Produsen ke agen ke pedagangan besar ke pengecer ke konsumen, yang berarti saluran distribusi ini berfungsi untuk saling menggunakan agen sebagai perantara untuk menyalurkan barangnya kepada pedagang besar yang kemudian menjualnya kepada toko-toko kecil agen yang terlihat dalam saluran distribusi ini terutama agen penjualan.

DAFTAR PUSTAKA
Assauri, S, 2001, Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Analisis, Edisi Kedua, Balai Penelitian Fakultas  Ekonomi, UGM, Yogyakarta.  

Kotler, P, 2002, Manajemen Pemasaran, Analisis Perencanaan dan Pengendalian, Terjemahan Jaka Wasana, 2000, Edisi kelima, Cetakan Kedua,  Erlangga, Jakarta.

Maulana, A, 2003, Azas - Azas Marketing, Cetakan Ketiga, Edisi       Kedua,  Alumni, Bandung.

Nitisemita, A,S, 2000, Azas - Azzas Marketing, Edisi Ketiga, Liberty, Yogyakarta.                

Sugarda, B.Y, 2001, Kerangka Strategi Perusahaan, Manajemen dan Usahawan Indonesia,  Edisi ke 21, Jakarta.

Soemarso, 1999, Akuntansi Manajemen, Edisi Ketiga, Cetakan Ketujuh, Liberty, Yogyakarta.

Stanton, W.S, 2000, Marketing Praktis, Edisi Kedua, Cetakan Pertama,  Liberty Yogyakarta.

Swastha,  B, dan  Irawan, 2002,  Manajemen  Pemasaran  Modern, Edisi Kedua,  Cetakan Kedua, Liberty, Yogyakarta.

Winardi, 2002, Azas - Azas Marketing, Cetakan Ketiga, Edisi Kedua, Alumni, Bandung.

Analisis Kelayakan Investasi

      Perkembangan bisnis untuk meningkatkan segala aktivitas menuntut diadakannya pembangunan di segala sektor guna terwujudnya suatu negara berkembang untuk menuju ke negara maju harus mengadakan pembangunan segala bidang, seiring dengan itu, menetapkan pembangunan nasional yang merupakan kegiatan yang berlangsung secara terus menerus guna tercapainya tujuan, tidak terlepas dari masalah pembiayaan dan perkembangan usaha  itu sendiri.
      Terwujudnya kemandirian suatu bangsa atau negara dalam usahanya untuk menyikapi masalah pembiayaan suatu perusahaan,  maka salah satu jalan yang ditempuh pemerintah adalah menggali sumber dana dari dalam beberapa kegiatan. Perkembangan perusahaan menginginkan suntikan dana  (investasi) guna lebih mengembangkan usaha  yang dilakukan perusahaan untuk memenuhi permintaan konsumen.
      Dalam penanaman investasi suatu perusahaan dalam rangka mewujudkan pelaksanaan pembangunan secara menyeluruh dalam berbagai sektor, diantaranya sub sektor usaha di bidang swasta yang merupakan salah satu sektor yang turut memegang peranan penting dalam pembangunan,  dan salah satu bagian yang tak terpisahkan dalam pembanguan ekonomi. Hal lain yang menujukkan adanya perkembangan pembangunan di negara kita dengan semakin banyaknya perusahaan beralih ke usaha lain, baik perusahaan kecil maupun perusahaan multi nasional
Penerima investasi agar dapat berkembang dengan selayak, maka pihak investor telah menganalisa dan mengambil langkah-langkah untuk pengembangan serta memberikan bimbingan, kemudahan, perlindungan dan pengawasan usaha.
Apabila perusahaan layak, dalam penambahan investasi atau tidak, yang harus ditinjau kelayakan usahanya, di samping itu perusahaan perlu memperhatikan resiko yang akan ditanggung resiko itu perusahaan apabila mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan.
Dengan demikian konteks penanaman investasi di Indonesia yang berkelanjutan terhada usaha  masih merupakan political will yang urgen untuk memotivasi jalannya keberhasilan kegiatan. Sejalan dengan konsep tersebut, maka dalam dunia usaha khususnya para pengelola pengusaha lokal, mengalami berbagai macam tantangan. Salah satu diantaranya yang paling berpengaruh adalah kurangannya  modal untuk membuat aktivitas perusahaan. Kekurangan modal ini sangat membatasi ruang gerak aktivitas usahanya dan lebih-lebih lagi telah mempersulit usahanya untuk mengembangkan usaha perusahaan.
Adanya resiko yang memang selalu terbentang pada perusahaan yaitu masalah kekurangan modal (dana) untuk pengembangan selanjutnya. Perusahaan sudah layak pengembangan usaha. Perusahaan tidak memperluasan usaha atau sekaligus kesinambungan usaha itu sendiri, karena faktor modal.

Fenomena permasalahan keuangan bagi perusahaan dan dengan bantuan dana tersebut dipastikan bermanfaat bagi pengembangan usahanya. Untuk itu dapat bermanfaat bagi pengusaha yang merupakan perantara bagi lembaga-lembaga keuangan yang dapat menjamin dan mengembangkan usahanya.

A  Pengertian Investasi
 
      Kunci keberhasian perusahaan ditentukan oleh fungsi manajemen berjalan sesuai dengan perkembangan perusahaan dengan penyesuaian kondisi ekonomi. Fungsi manajemen sangat menentukan untuk mencapai tujuan perusahaan sesuai dengan fungsinya masing-masing dengan memperhatikan hambatan-hambatan yang harus dilalui.
      Telah kita ketahui bahwa dalam penanaman modal pada perusahaan yang dapat dikatagorikan bahwa investasi dimasa depan dengan periode jangka waktu yang cukup lama, maka penulis dapat mengemukakan pengertian tentang investasi oleh para ahli ekonomi.
      Definisi investasi oleh Anthony dan James S. Reece dalam bukunya Management Accounting (1999 : 613), menyatakan bahwa proposal untuk penanaman investasi yang berupa dana, yang biasanya disebut  modal, maka waktu prosentase yang dianalisa pada tingkat perputaranya, maka uang yang telah tertanam akan diharapkan pada masa yang akan datang.
      Menurut definisi di atas, bahwa investasi adalah sebagai modal yang tertanam pada perusahaan untuk memperluas usaha dengan harapan akan diterima kembali setelah beberapa tahun kemudian. Dikatakan bahwa investasi itu meliputi semua dana (modal) yang tertanam dalam suatu perusahaan atau proyek untuk ditanamkan pada harta lancar (current assets) dalam jangka waktu lebih dari satu tahun dalam proses produksi peruahaan.
Pada dasarnya pengertian investasi merupakan usaha penanaman faktor-faktor produksi sebagai langkah-langkah untuk menentukan proyek tertentu untuk menanamkan investasi. Hal ini yang merupakan salah satu faktor produksi, untuk langkah-langkah penanaman modal. Proyek ini sendiri dapat bersifat baru sama sekali, atau perluasan proyek yang ada agar tujuan dari pada proyke dapat dicapai sesuai apa yang diharapkan, maka diperlukan pelaksanaan yang masing-masing pengetahuannya/ keahliannya.    
Menurut M.G. Wrigt B. Com dalam bukunya Manajemen Keuangan (2000 : 59) yang diterjemahkan oleh Charles T.  investasi adalah dengan harapkan bahwa perusahaan akan dapat memperoleh kembali dana yang telah diinvestasikan dalam aktiva tetap lebih dari dana yang telah ternam tersebut.
Berdasarkan pengertian di atas, bahwa apabila suatu perusahaan mengadakan investasi dalam aktiva tetap pada perusahaan, maka neraca sebelah kiri bahwa suatu kegiatan/ aktivitas perusahaan yang akan dapat memperoleh kembali dana yang ditenamkan dengan harapan yang sama investasi aktiva lancar. Perputaran dana yang tertanam pada kedua aktiva itu adalah berbeda, yaitu investasi dalam aktiva lancar itu dapat diharapkanb dalam waktu singkat dapat diharapkan hasil yang dicapai, atau usaha yang secara sekaligus. Kalau investasi aktiva tetap dana yang tertanam di dalamnya kembali secara keseluruhan perusahaan dalam waktu beberapa tahun lamanya, dan kembali lagi secara berangsur-angsur melalui depresiasi.
Sukses atau tidaknya dalam penggunaan dana yang tepat mempunyai pengaruh terhadap perkembangan perusahaan karena pengaruhnya mempunyai waktu jangka panjang terhadap tingkat profitbilitas itu. Hal itu menentukan tingkat kemampuan perusahaan untuk menarik orang untuk menanamkan dananya demi perluasan usaha perusahaan.  
Perusahaan yang lancar aktivitasnya, rata-rata membutuhkan suntikan dana agar usaha yang digelutinya dapat bertambah meningkat usahanya, maka perusahaan tersebut senantiasa mengharapkan bantuan dana darimanapun saja untuk peningkatan usaha yang lebih layak lagi.
Menurut Dj. A. Simarmata dalam bukunya Pendekatan Analisa Proyek (2001 : 155) pengertian investasi dalam rencana investasi pada perusahaan dengan harapan masa depan akan mencerminkan dan tujuan tertentu sebagai berikut investasi adalah mempunyai pengertian secara luas, terutama bila dikaitkan dengan suatu  kegiatan pasar modal yang sekarang. Pada setiap kegiatan yang hendak menanamkan uang dengan aman termasuk investasi.
Kebiasaan umum perusahaan, dalam membicarakan tentang rencana investasi dikaitkan dengan penggunaan uang bagi perusahaan peningkatan usaha dalam kepastian sistem produksi atau dengan kata lain peningkatan assets capital, misalnya pembelian sistem produksi dalam bentuk mesin-mesin yang disertai dengan alat teknologi dan peralatan, pabrik/ gedung atau tanah utuk kebutuhan. Buku ini menunjukkan  pengertian investasi diambil yang bersifat umum, bahwa pada pembicaraan disini dibatasi pada investasi assets capital tetap.
Berdasarkan pengertian tersebut maka penulis dapat menarik suatu asumsi bahwa penanaman modal untuk tujuan tertentu khusus dalam kegiatannya, (Simarmata, 2001 : 12) investasi di bagi dalam kelompok yaitu :
    a.   Investasi baru
         b.   Investasi nasionalisasi
         c.   Investasi perluasan
d.   Investasi modernisasi
e.    Investasi diversifikasi

B   Pengertian Kelayakan Investasi
      Pada setiap perusahaan dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan menyangkut operasionalnya selalu mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya yang dapat disesuaikan dengan ruang lingkupnya perusahaan itu sendiri, maka diperlukan suatu perencanaan yang berlandaskan modal serta anggaran. Investasi pada perusahaan mengharapkan kelayakan pada perusahaan akan memperoleh kembali dana yang diinvestasikan dalam jangka waktu yang cukup lama.

      Lebih jelasnya pengertian tentantg kelayakan investasi pada perusahaan penulis mengemukakan dari beberapa ahli ekonomi yang membahas masalah yang ada kaitannya dengan kelayakan investasi. Bambang Riyanto dalam bukunya Dasar-Dasar Permbelanjaan Perusahaan (2004 : 112) menyatakan bahwa kelayakan investasi mencakup seluruh proses perencanaan pengeluaan modal yang hasilnya diharapkan sampai lebih dari satu tahun lamanya. Pengeluaran modal adalah pengeluaran untuk pembelian tanah, bangunan dan peralatan serta pengeluaran untuk tambahan aktiva tetap pada modal kerja yang berhubungan dengan peralatan pabrik (perusahaan).
      Pengeluaran modal disini dengan jangka waktunya cukup lama, sehingga modal yang tertanam berupa investasi tidak terlalu mengharapkan dalam waktu singkat, artinya modal yang tertanam itu mempunyai jangka waktu lebih dari satu tahun lama.
      Penganggaran modal itu merupakan pengeluaran dana untuk berlangsung untuk jangka waktu yang cukup lama, dimana untuk mengetahui pembelian satu unit kendaraan, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengetahui hasil akhir dari adanya pembelian tersebut. Mengambil keputusan dalam hal ini diperlukan analisa yang cukup matang, sehingga investasi yang telah dilaksanakan telah memperhitungkan resiko yang mungcul oleh perusahaan.
      Charles T. Horngren dalam bukunya Cost Accounting A Managerial Emphasis, (2001 : 204) memberikan definisi tentang investasi kelayakan, menyatakan bahwa dalam pengambilan keputusan penanaman investasi jangka panjang sesuai dengan perencanaan.
       Pengertian kelayakan investasi menurut penulis ialah keseluruhan proses dalam perencanaan dan pengambilan keputusan pengeluaran dana untuk investasi di mana jangka waktu kembalinya dana tersebut melebihi satu tahun lamanya. Hal ini mempunyai arti yang sangat penting bagi kelanjutan hidup perusahaan (kesinambungan). Dana yang dikeluarkan akan terikat untuk waktu yang cukup lama, artinya perusahaan haru menunggu beberapa tahun sampai keseluruhan dana yang tertanam dapat diperoleh kembali. Hal ini berpengaruh terhadap kebutuhan dana untuk keperluan-keperluan lain.
    Keputusan dalam penenaman modal, hal yang paling penting untuk dalam memutuskan langkah-langkah yang harus ditempuh oleh investor, adalah bagaimana metode pengalokasian dana dengan tidak berisiko tinggi. Jadi kelayakan investasi yang dibuat oleh pemgelolah perusahaan adalah pengalokasian modal terhadap suatu usul investasi dimana manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh telah dipertimbangkan sebelumnya untuk masa depan yang akan datang, karena manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh perusahaan belum diketahui secara pasti, yang berarti usul atau rencana investasi mengandung unsur-unsure resiko.     
      Perlulah diadakan evaluasi terlebih dahulu apakah pendapatan yang diharapkan akan diterima dan dapat menutupi kemungkinan-kemungkinan resiko yang mungkin terjadi, bila investor itu sendiri dengan kemungkinan perusahaan ini mempunyai resiko.
       Financing decision making memutuskan apakah investasi tersebut akan dijalankan dengan modal, pinjaman modal sendiri (equity) atau bahkan kombinasi dari keduanya.




C  Methode Penilaian Investasi
 
     Menentukan apakah suatu usul investasi dapat diterima atau tidak, layak atau tidak dilaksanakannya investasi tersebut, maka nalisa secara teliti untuk menyusun usul-usulan investasi yang perlu diperhatikan.
     Berbagai metode penilaian proyek investasi atau metode untuk menyusun “Rangking” dalam usul-usul investasi, jadi menurut Sutoyo Siswanto, dalam bukunya Studi Kelayakan Proyek (2001 : 118) dalam hal ini hanya dibcarakan 4 (empat) metode penilaian investasi dalam penyusunan proyek, yaitu :
a.  Payback period
 b.  Net present value
 c. Internal rate of return
d.  Accounting rate of return
     Pada dasarnya metode penilaian ivestasi tersebut akan diuraikan pada masing-masing tersendiri, sehingga lebih jelas dari masing-masing peranannya, sebagai berikut :
Ad 1. Payback period
Pada metode ini berdasarkan atas suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali sejumlah pengeluaran untuk tujuan investasi dengan mempergunakan proses aliran kas netto (net cash flows). Dasar nilah yang dapat menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan agar dana yang tertanam dalam suatu investasi dapat diperoleh kembali untuk jumlah seluruhnya, bila proses pada setiap tahun sama jumlahnya.
Payback period dari suatu investasi dapat dihitung dengan cara membagi investasi dengan proses tahunan.             
Ad 2. Net present value
         Net present value, metode ini memperhatikan time value of money, maka proses yang selalu digunakan dalam menghitung net present value (NPV) adalah merupakan prosentase atau cash flow yang didiskontokan atau dasar biaya modal (cost of capitral), atau rate of return yang diinginkan. Metode ini pertama-tama yang dihitung adalah nilai sekarang (persent value) dari proceeds yang diharapkan atau dasar discount rate tertentu. Jumlah present value dari keseluruhan proses selama usianya dapat dikurangi dengan present value dari jumlah investasinya (initial investment). Disebutkan sebelumnya sebagai rumus perhitungan-perhitungan investasi dengan memasukkan suku/tingkat bunga di dalamnya.
          Suku bunga dapat juga digunakan pada perhitungan-perhitungan analisa kelayakan investasi statis dalam perhitungan mencarti alternatif  investasi terbaik. Dalam penggunaan metode penilaian sekarang (present value) sebagaimana dilihat di depan, maka V = P (1  +  i), atau rumus secara umum Vn = P ( 1  +  i ), yang berarti bahwa n adalah tahun mendatang, nilai uang sebenarnya P sekarang adalah nilai P dikali faktor pengali bunga berganda yaitu ( 1  +  i  )  faktor ini disebut faktor kompon (Siswanto Sutoyo, 2002 : 15). Sebaliknya bila ada jumlah uang tertentu di masa depan, misalnya n adalah tahun mendatang, maka dapat dicari nilai sekarang dengan formula, sebagai berikut :
                            n            CFT 
          NPV   =      Σ                          - Io
                           t   =  i   (1  +  v)

           NPV disini sebenarnya adalah singkatan dari Net Present Value (nilai sekarang). Analisa proyek, rumus dibuat sedemikian rupa sehingga semua pengeluaran dan penerimaan proyek tercatat dengan teratur, dari tahun ke tahun.
Ad 3. Internal Rate of Return (IRR)         
           Internal rate of return sebagai penilaian usulan investasi lain yang menggunakan discount cash flow ialah apa yang disebut internal rate of return (IRR). Pegertian internal rate of return itu sendiri dapat didefinisikan sebagai tingkat bunga akan menjadikan jumlah nilai sekarang dari proceeds yang diharapkan  akan diterima (PV. Of future proceeds) sama dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran modal (PV. Of capital outlays). Pada dasarnya internal rate of return harus dicari trian and error dengan serba coba-coba. 
            Menurut perhitungan P.V. dari proceeds dri suatu internal rate of return (IRR) (Siswanto Sutoyo, 2002 : 115) dengan fornula :
                              n            NPV 
          IRR   =  i’  +                                  (i” -  i’)
                                     (NPV’ + NPV”)

             Penggunaan metode interpolasi perlu diperhatikan hal-hal sebagai  berikut :
1.  Dipilih dari discount rate yang dianggap dekat dengan nilai IRR yang benar, lalu dihitung NPV dari pada arus benefit dan biaya.
2.  Dalam mengadakan interpolasi hendaknya diantara NPV yang positif dan NPV yang negatif. Jika positif berarti DF-nya masih terlalu rendah sedangkan bila negatif, berarti DF-nya sudah terlalu tinggi.
3.  Perbedaan antara DF atau bunga yang mengadakanb NPV positif dengan DF yang menghasilkan negatif diusahakan yang melebihi 5 % perbedaan yang lebih besar dari 5 % lebih banyak mengandung kemungkinan kesalahan dibandingkan dengan yang lima persen atau lima lebih kecil.    
       Sesuai dengan rumus di atas, maka dapat dijelasakan sebagai   berikut :
         NPV’     = NPV yang positif 
         NPV”     = NPV yang negatif 
         i’            = Tingkat bunga menghasilkan NPV positif
         i”            = Tingkat bunga menghasilkan NPV negatif
Berdasarkan hasil perhitungan IRR diperoleh jika internal rate of return sama dengan nilai i yang yang berlaku sebagai sosial discount rate maka Net Present Value proyek itu adalah sebesar 0, atau sering disebut go preject. Internal rate of return yang diperoleh bila lebih kecil dari sosial discount rate maka proyek tersebut tidak fisibel no go project.
Ad 4.  Accounting Rate of Return
Accounting rate of return, merupakan metode yang biasa disebut avera of return adalah menujukkan prosentase keuntungan netto sesudah pajak yang dihitung dari average ivestment atau initial investment dengan menghasilkan pendapatan bersih setelah dikurangi bunga dan pajak.
Ketiga metode lainnya yang telah diuraikan di muka payback, net present value dan internal rate of return, berdasarkan dari pada proceeds atau cash flow, maka metode accounting ini mendasarkan diri pada keuntungan yang dilaporkan dalam buku (reported accounting income).
Kebaikan dari metode ini ialah pada kesederhanaannya dan mudah dimengerti, sehingga tidak memerlukan penggunaan data tambahan. Metode accounting rate of return ini dalam penyusunan ini tidak dipergunakan karena pada penjelasan di depan memang tidak dijekaskan.
D  Pengertian dan Jenis-Jenis Modal Kerja
    1  Pengertian Modal Kerja
      Modal kerja dalam pembahasan ini dimaksudkan  adalah merupakan investasi jangka pendek dalam perusahaan seperti investasi pada piutang, persediaan kas. Begitu pula perolehan sumber pembelanjaan jangka pendek seperti trade credit dan kredit dari lembaga perkreditan. Kenyataan yang dapat dilihat banyaknya dana yang tertanam pada modal kerja sangat tergantung pada jenis skala perusahaan. Perusahaan skala kecil harus meminimkan investasninya dalam harta tetap agar dana yang dimiliki terbatas jumlahnya dapat dioptimunkan pemanfaatannya. 

     Mendapatkan gambaran yang jelas, maka Weston Brigham dalam bukunya Manajemen Keuangan (2000 : 2) mengemukakan bahwa pengelolaan modal kerja mencakup baik untuk investasi jangka pendek maupun perolehan sumber dana perusahaan. Pengelolaan modal kerja sangat penting melihat kegiatan sehari-hari adalah operasi perusahaan yang menyangkut tentang modal kerja.
Kenyataan lain dapat dilihat bahwa banyaknya dana yang tertanam pada aktiva lancar adalah sangat besar jumlahnya khususnya bagi perusahaan kecil harus meminimunkan investasinya dalam harta tetap oleh karena tidak ada cara lain untuk menghindari investasi dalam biaya, piutang dan persediaan.
     Penentuan besarnya investasi dalam current assets adalah untuk pengelolaan ini sangat penting untuk menjaga likuiditas dan profitabilitas perusahaan. Kekurangan dana akan terganggu operasi perusahaan seperti untuk membayar utang jangka pendek, pembayaran upah, pembayaran utang dagang dan sebagainya.
     Kelebihan akan membawa resiko yang harus ditanggung  terhadap sejumlah modal kerja yang  menganggur dalam perusahaan, untuk selanjutnya Akan memperkecil profitabilitas perusahaan. Besarnya kecilnya kebutuhan modal kerja terutama tergantung pada perputaran atau periode terikatnya modal kerja dan waktu perputarannya, makin besar jumlah modal kerja yang dibutuhkan.
     Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja adalah merupakan keseluruhan atau jumlah dana yang telah tertanam pada periode yang meliputi jangka waktu lamanya pemberian piutang, biasanya lama penyimpangan bahan mentah di gudang, lamanya proses produksi, sedangkan pengeluaran sehari-harinya merupakan pengeluaran untuk pembelian bahan mentah, pembayaran upah buruh dan biaya-biaya lainnya.
     Piutang merupakan investasi dalam modal kerja yang tidak dapat dihindari adanya  dalam dunia usaha. Piutang diberikan kepada perusahaan lain atau individu dan bunganya dengan perusahaan lainnya. Pemberian piutang barang kepada pelanggan merupakan hal yang dapat dimengerti sebab tanpa memberikan piutang. Pengusaha mengalami kesulitan untuk dapat dijual barangnya dengan lancar. Tetapi dilain pihak banyak resiko yang timbul karena memberikan piutang, yakni mendapat kerugian, kemacetan bahkan membawa kegagalan pada perusahaan resiko piutang dapat disebutkan, resiko tidak terbayar, resiko piutang dapat disebutkan resiko tidak terbayar karena keterlambatan penerimaan piutang.
     Cara memperkecil resiko oleh Alex S. Nitisemito dalam bukunya Pembelanjaan Perusahaan (2001 : 29) mengemukakan bahwa kalau perkiraan piutang yang ada akan memberikan kemungkinan akan menimbulkan resiko yang lebih besar dari kemungkinan keuntungan yang akan diterimanya, batalkanlah kemungkinan resiko yang akan muncul yang tidak diguga.
     Perlu adanya batas maksimun piutang yang akan diberikan dan  pertimbangan lain, seperti kemungkinan untuk memenuhi kewajibannya, untuk melihat financial position perusahaan langganan yang diperlihatkan dengan cash flow, pengaruh trend ekonomi pada umumnya untuk perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya investasi dalam piutang adalah volume penjualan kredit, ada syarat-syarat pembayaran, kebiasaan membayar dan kebijaksanaan mengumpulkan piutang.
     Unsur lain dari working capital adalah investasi pada persediaan merupakan peningkatan modal perusahaan untuk persediaan merupakan peningkatan modal perusahaan untuk jangka waktu tertentu seperti bahan baku, barang setengah jadi dan barang jadi, sama halnya piutang dan persediaan pada umumnya tidak dapat dihindari.
     Hubungan ini, maka penetapan sejumlah persediaan adalah penyediaan bahan baku dan bahan pembantu untuk menghasilkan produk. Perlu adanya persediaan barang, jadi untuk menjamin kelancaran penjualan.
Besarnya investasi dalam persediaan tergantung dari pada volume produksi yang direncanakan, estimasi tentang fluktuasi harga bahan mentah, tingkat kecepatan material menjadi rusak, baiay penyimpangan dan resiko penyimpangan digudang.
  2  Jenis-Jenis Modal Kerja
   Jenis-jenis modal kerja pada dasarnya terdiri dari atas modal kerja permanen (permanent working capital) dan modal kerja variabel (variabel working capital) oleh Mulyadi (2002 : 56) sebagai berikut :
      a. Modal kerja permanent (permanent working capital), yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Yang termasuk modal kerja permanent, antara lain :
     b. Modal kerja primer (primary working capital), yaitu jumlah modal kerja yang harus ada pada perusahaan untuk menjalankan kontinutas usahanya.misalnya, kas paling sedikit ada ditangan supaya dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya yang segera harus dipenuhi dalam waktu singkat. Persediaan akhir harus cukup untuk memenuhi pesanan piutang yang merupakan jumlah minimun untuk memperluas kredit kapada langganan.

c.  Modal  kerja  normal (normal working capital), yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan perluasan produksi normal.   
1.  Pengertian normal disini dalam arti yang dinamis yaitu selalu dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan bahan produksi dengan keadaan kebutuhannya.
           2.  Modal kerja variabel (variabel working capital), yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan.
      a. Modal kerja musiman (seasonal working capital), yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim. Misalnya pabrik payung, pabrik gula dan sebagainya.
      b. Modal kerja siklus (cyclical working capital), yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.
      c.  Modal kerja darurat (emergency working capital), yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya. 

E  Pengertian Proyeksi Cash Flow
      Cash flow adalah merupakan suatu alat yang sangat berguna untuk menentukan dana yang diperlukan oleh perusahaan guna menjlankan fungsinya. Dalam arti bahwa perusahaan membutuhkan modal kerja sesuai dengan kegiatan perusahaan, agar fungsi manajemen terarah dan terkontrol utamanya penggunaan keuangan pada perusahaan.                         
      Cash flow merupakan suatu taksiran dari total penerimaan yang diharapkan akan dapat diperoleh, yang disebuty cash in flow selanjutnya menutupi pengeluaran-pengeluaran yang diperkirakan akan timbul selama periode tertentu atau cash out flow.
      Hubungan ini Hunt dan kawan-kawan dalam bukunya Basic Business Finance, (1998 : 35) mengemukakan pengertian cash flow adalah penggunaan dana sesuai dengan proyek proposal yang telah dibuat berdasarkan perencanaan dengan mempunyai jangka waktu tertentu penyelesaian proyek tersebut.
      Pengertian cash flow yang dikemukakan oleh Pearson Hunt memberikan suatu gambaran bahwa proyeksi cash flow adalah meliputi perencanaan uang kas yang akan diterima dimasa yang akan datang dan pengeluaran uang kas tersebut untuk kegiatan operasi perusahaan.
      Ada dua cara metode dalam menyelesaikan  untuk menghitung cash flow adalah :
1. Cash receipt and disbursement method, yaitu metode ini berdasarkan atas rencana laba, dalam penyusunan dan proyekdinya meliputi penjualan dan pola penerimaannya serta dilain pihak biaya yang dikeluarkan.Pada metode ini baik digunakan untuk penyusunan anggaran kas yang bersifat jangka pendek. Jadi dapatlah dikatakan bahwa proyeksi cash flow, dengan menggunakan metode cash flow receipt and disbursement yang dapat diketahui total penerimaan dan pengeluaran yang akan timbul dalam perusahaan.
         2.  Net income cash flow, dengan dasar yang menjadi titik tolak ukur dalam penyusunan proyeksi cash flow adalah income statement daripada perusahaan, sebab dari sinilah dapat dihitung kas, baik sumber maupun penggunaan kas dilakukan oleh perusahaan. Metode ini digunakan untuk proyeksi kas yang bersifat jangka panjang proyeksi cash flow dengan net income cash flow digunakan untuk proyeksi, dengan menggunakan net present value (NPV) sebagai alat evaluasi dalam rencan investasi untuk melihat kemungkinan layak atau tidaknya rencana tersebut untuk dilaksanakan.  

F  Pengertian dan Jenis-Jenis Biaya
    1  Pengertian Biaya
        Menghasilkan sesuatu apakah itu barang atau jasa maka perlulah dihitung dan diketahui besarnya biaya yang dikeluarkan atau yang perlu dan kemungkinan memperoleh pendapatan yang mungkin diterima. Setiap pengorbanan biaya selalu diharapkan akan mendatangkan hasil yang lebih besar dari pada yang telah dikorbankan tersebut pada masa yang akan datang.
          Seorang pengusaha hendaknya dapat mengetahui bagaimana besarnya pengorbanan dalam proses produksi pada dasarnya setiap untuk yang merupakan komponen biaya perubahan. Total biaya selalu dapat dihitung dan dapat dibandingkan dengan total penerimaan yang mungkin dapat diperoleh dengan kemungkinan laba yang akan diperoleh.
   Berbicara mengenai masalah biaya merupakan suatu masalah yang cukup luas, oleh karena di dalamnya terlihat dua pihak yang saling berhubungan. Winardi, dalam bukunya Akuntansi Biaya,                 (2000 : 147), menyatakan bahwa bahwa bilamana kita memperhatikan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu proses produksi, maka dapat dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu yang merupakan biaya bagi produsen adalah mendapatkan bagi pihak yang memberikan faktor produksi yang terbaik pada perusahaan bersangkutan.
         Halnya bagi konsumen, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh alat pemuas kebutuhannya atau merupakan pendapatan bagi pihak yang memberikan alat pemuas kebutuhan tersebut. Oleh Ikatan Akuntansi Indonesia, (1994: Pasal I ayat 1) dikatakan bahwa biaya (cost) adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang, yaitu pengeluaran-pengeluaran dalam bentuk konstan atau  dalam bentuk pemindahan kekayaan pengeluaran modal saham, jasa-jasa yang disertakan atau kewajiban-kewajiban yang ditimbulkannya, dalam hubungannya dengan barang-barang atau jasa-jasa yang diperoleh atau yang akan diperoleh pada masa yang datang, karena mengeluarkan biaya berarti mengharapkan pengembalian lebih banyak.                                                         
          Berdasarkan definisi dan pengertian biaya di atas, dapatlah  dikatakan  bahwa  pengertian biaya yang dikemukakan  di atas adalah suatu hal yang masih merupakan pengertian secara luas oleh karena semua yang tergolong dalam pengeluaran secara nyata keseluruhannya termasuk biaya.
          Sejalan dengan definisi dan pengertian di atas, maka D. Hartanto dalam bukunya Akuntansi Untuk Usahawan, (2002 : 89), memberikan atasan tentang biaya (cost) dan ongkos (expense), sebagai berikut cost adalah biaya-biaya yang dianggap akan memberikan manfaat atau service potensial di waktu yang akan datang dan karenanya merupakan aktiva yang dicantumkan dalam neraca. Sebaliknya expense atau expred cost adalah biaya yang telah digunakan untuk menghasilkan prestasi. Jenis-jenis biaya ini tidak dapat memberikan manfaat lagi diwaktu yang akan datang, maka tempatnya adalah pada perkiraan laba rugi.                                                                                                         
    2  Jenis-Jenis Biaya

         Dalam suatu proses produksi melibatkan suatu jenis-jenis biaya yang dibebankan menurut kelompok biaya tertentu guna menyusun harga pokok produksi yang dapat digabungkan ke dalam jenis-jenis biaya. Tetapi ini tidaklah segera dapat di pandang sebagai biaya, karena itu harus sesuai dengan faktor biaya, karena biaya itu harus sesuai dengan faktor biaya yang dianut perusahaan.
          Sehubungan dengan jenis-jenis tersebut, maka D. Hartanto dalam bukunya Akuntansi Untuk Usahawan, (1999 : 37) mengelompokkan  biaya menurut tujuan perencanaan dan pengawasan, sebagai berikut :          
1.   Biaya variabel dan biaya tetap
6      Biaya yang dapat dikendalikan
        Sedangkan  menurut Mulyadi dalam bukunya Akuntansi Biaya, (2000 : 127) menghubungkan tingkah laku biaya dengan perusahaan volume kegiatan sebagai berikut biaya variabel adalah biaya yang secara total berfluktuasi secara langsung sebanding dengan volume penjualan atau produksi, atau ukuran kegiatan yang lain.
         Sedangkan biaya tetap atau biaya kapasitas merupakan biaya untuk mempertahankan kemampuan beroperasi perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu dengan tetap memperhatikan jenis-jenis biaya apa yang dipergunakan agar memudahkan dalam pengelompokannya.
          Dari gambaran umum di atas, maka dapat dijelaskan, sebagai berikut :
          1. Biaya variaberl adalah sejumlah biaya yang ikut berubah-ubah untuk mengikuti volume prouksi atau penjualan. Misalnya atau bahan langsung hanya ikut dalam proses produksi, bahan baku langsung yang dipakai dalam proses produksi biaya tenaga kerja langsung.
           2. Biaya tetap adalah sejumlah biaya yang tidak berubah-ubah walaupun ada perubahan volume produksi atau penjualan. Misalnya gaji bulanan, asuransi, penyusutan, biaya umum dan lain-lain sebagainya.
 Sifat-sifat biaya tersebut sangat penting untuk diketahui seorang manajer dalam perencanaan usahanya, karena dengan demikian suatu gambaran klasifikasi biaya yang baik untuk tujuan perencanaan dan pengawasan dalam proses produksi.

DAFTAR PUSTAKA


Anthony, N. Robert, and James S. Robert, 1999, Management Accounting, Fifty Edition, Home Work, Illinois Richard, D, Irwin.

Hartanto, D, 2002, Akuntansi Untuk Usahawan, (Management Accounting), Cetakan Kedua Edisi Ketiga, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta.

Horgren, Charles, T, 2001, Cost Accounting, A.Managerial   Emphasis, Fourth Edition, Prentice-Hall, of  India Private Limited, New Delhi.

Person, Hunt, 1999, Basic Business Finance, Second Edition, London : Irwin Dorsay Internationl, Geogetown, Limited New York.

Nitisemito, Alex, S,  2001, Manajemen Resiko Piutang, Edisi III,  Penerbit Erlangga Yogyakarta.

Riyanto, Bambang, 2004,  Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Kedua,  Cetakan Kedelapan, Penerbit Fakultas Ekonomi, UGM, Yogyakarta.       

Simarmata, A. Dj, 2001 , Pendekatan Sistem Dalam Analisa Proyek Investasi dan Dasar Modal,  Penerbit Gramedia, Jakarta.

Sutoyo, Siswanto, 2002, Studi Kelayakan Proyek, Konsep dan Tehnik, Seni Management, No. 66, Jakarta, PT. Pustaka, Binaman Presindo, Jakarta.

Wrigth, M.G. B. Com, 2000, Manajemen Keuangan, diterjemahkan oleh Djoerban, Wachid, Penerbit Yayasan Kanisius, Jakarta.

Weston Fred, J. and Bugene F. Brigham, 2000, Manajemen Keuagan, Edisi Ketujuh, Jilid II, Penerbit Erlangga, Yogyakarta.

Winardi, 2000, Akuntansi Biaya, Edisi Ketujuh, Penerbit Alumni, Bandung

Ikatan Akuntansi Indonesia, 1994, Norma-Norma Pemeriksaan Akuntansi, Penerbit YKPN, Jakarta.