Powered By Blogger

Selasa, 20 Desember 2016

Analisis Kelayakan Investasi

      Perkembangan bisnis untuk meningkatkan segala aktivitas menuntut diadakannya pembangunan di segala sektor guna terwujudnya suatu negara berkembang untuk menuju ke negara maju harus mengadakan pembangunan segala bidang, seiring dengan itu, menetapkan pembangunan nasional yang merupakan kegiatan yang berlangsung secara terus menerus guna tercapainya tujuan, tidak terlepas dari masalah pembiayaan dan perkembangan usaha  itu sendiri.
      Terwujudnya kemandirian suatu bangsa atau negara dalam usahanya untuk menyikapi masalah pembiayaan suatu perusahaan,  maka salah satu jalan yang ditempuh pemerintah adalah menggali sumber dana dari dalam beberapa kegiatan. Perkembangan perusahaan menginginkan suntikan dana  (investasi) guna lebih mengembangkan usaha  yang dilakukan perusahaan untuk memenuhi permintaan konsumen.
      Dalam penanaman investasi suatu perusahaan dalam rangka mewujudkan pelaksanaan pembangunan secara menyeluruh dalam berbagai sektor, diantaranya sub sektor usaha di bidang swasta yang merupakan salah satu sektor yang turut memegang peranan penting dalam pembangunan,  dan salah satu bagian yang tak terpisahkan dalam pembanguan ekonomi. Hal lain yang menujukkan adanya perkembangan pembangunan di negara kita dengan semakin banyaknya perusahaan beralih ke usaha lain, baik perusahaan kecil maupun perusahaan multi nasional
Penerima investasi agar dapat berkembang dengan selayak, maka pihak investor telah menganalisa dan mengambil langkah-langkah untuk pengembangan serta memberikan bimbingan, kemudahan, perlindungan dan pengawasan usaha.
Apabila perusahaan layak, dalam penambahan investasi atau tidak, yang harus ditinjau kelayakan usahanya, di samping itu perusahaan perlu memperhatikan resiko yang akan ditanggung resiko itu perusahaan apabila mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan.
Dengan demikian konteks penanaman investasi di Indonesia yang berkelanjutan terhada usaha  masih merupakan political will yang urgen untuk memotivasi jalannya keberhasilan kegiatan. Sejalan dengan konsep tersebut, maka dalam dunia usaha khususnya para pengelola pengusaha lokal, mengalami berbagai macam tantangan. Salah satu diantaranya yang paling berpengaruh adalah kurangannya  modal untuk membuat aktivitas perusahaan. Kekurangan modal ini sangat membatasi ruang gerak aktivitas usahanya dan lebih-lebih lagi telah mempersulit usahanya untuk mengembangkan usaha perusahaan.
Adanya resiko yang memang selalu terbentang pada perusahaan yaitu masalah kekurangan modal (dana) untuk pengembangan selanjutnya. Perusahaan sudah layak pengembangan usaha. Perusahaan tidak memperluasan usaha atau sekaligus kesinambungan usaha itu sendiri, karena faktor modal.

Fenomena permasalahan keuangan bagi perusahaan dan dengan bantuan dana tersebut dipastikan bermanfaat bagi pengembangan usahanya. Untuk itu dapat bermanfaat bagi pengusaha yang merupakan perantara bagi lembaga-lembaga keuangan yang dapat menjamin dan mengembangkan usahanya.

A  Pengertian Investasi
 
      Kunci keberhasian perusahaan ditentukan oleh fungsi manajemen berjalan sesuai dengan perkembangan perusahaan dengan penyesuaian kondisi ekonomi. Fungsi manajemen sangat menentukan untuk mencapai tujuan perusahaan sesuai dengan fungsinya masing-masing dengan memperhatikan hambatan-hambatan yang harus dilalui.
      Telah kita ketahui bahwa dalam penanaman modal pada perusahaan yang dapat dikatagorikan bahwa investasi dimasa depan dengan periode jangka waktu yang cukup lama, maka penulis dapat mengemukakan pengertian tentang investasi oleh para ahli ekonomi.
      Definisi investasi oleh Anthony dan James S. Reece dalam bukunya Management Accounting (1999 : 613), menyatakan bahwa proposal untuk penanaman investasi yang berupa dana, yang biasanya disebut  modal, maka waktu prosentase yang dianalisa pada tingkat perputaranya, maka uang yang telah tertanam akan diharapkan pada masa yang akan datang.
      Menurut definisi di atas, bahwa investasi adalah sebagai modal yang tertanam pada perusahaan untuk memperluas usaha dengan harapan akan diterima kembali setelah beberapa tahun kemudian. Dikatakan bahwa investasi itu meliputi semua dana (modal) yang tertanam dalam suatu perusahaan atau proyek untuk ditanamkan pada harta lancar (current assets) dalam jangka waktu lebih dari satu tahun dalam proses produksi peruahaan.
Pada dasarnya pengertian investasi merupakan usaha penanaman faktor-faktor produksi sebagai langkah-langkah untuk menentukan proyek tertentu untuk menanamkan investasi. Hal ini yang merupakan salah satu faktor produksi, untuk langkah-langkah penanaman modal. Proyek ini sendiri dapat bersifat baru sama sekali, atau perluasan proyek yang ada agar tujuan dari pada proyke dapat dicapai sesuai apa yang diharapkan, maka diperlukan pelaksanaan yang masing-masing pengetahuannya/ keahliannya.    
Menurut M.G. Wrigt B. Com dalam bukunya Manajemen Keuangan (2000 : 59) yang diterjemahkan oleh Charles T.  investasi adalah dengan harapkan bahwa perusahaan akan dapat memperoleh kembali dana yang telah diinvestasikan dalam aktiva tetap lebih dari dana yang telah ternam tersebut.
Berdasarkan pengertian di atas, bahwa apabila suatu perusahaan mengadakan investasi dalam aktiva tetap pada perusahaan, maka neraca sebelah kiri bahwa suatu kegiatan/ aktivitas perusahaan yang akan dapat memperoleh kembali dana yang ditenamkan dengan harapan yang sama investasi aktiva lancar. Perputaran dana yang tertanam pada kedua aktiva itu adalah berbeda, yaitu investasi dalam aktiva lancar itu dapat diharapkanb dalam waktu singkat dapat diharapkan hasil yang dicapai, atau usaha yang secara sekaligus. Kalau investasi aktiva tetap dana yang tertanam di dalamnya kembali secara keseluruhan perusahaan dalam waktu beberapa tahun lamanya, dan kembali lagi secara berangsur-angsur melalui depresiasi.
Sukses atau tidaknya dalam penggunaan dana yang tepat mempunyai pengaruh terhadap perkembangan perusahaan karena pengaruhnya mempunyai waktu jangka panjang terhadap tingkat profitbilitas itu. Hal itu menentukan tingkat kemampuan perusahaan untuk menarik orang untuk menanamkan dananya demi perluasan usaha perusahaan.  
Perusahaan yang lancar aktivitasnya, rata-rata membutuhkan suntikan dana agar usaha yang digelutinya dapat bertambah meningkat usahanya, maka perusahaan tersebut senantiasa mengharapkan bantuan dana darimanapun saja untuk peningkatan usaha yang lebih layak lagi.
Menurut Dj. A. Simarmata dalam bukunya Pendekatan Analisa Proyek (2001 : 155) pengertian investasi dalam rencana investasi pada perusahaan dengan harapan masa depan akan mencerminkan dan tujuan tertentu sebagai berikut investasi adalah mempunyai pengertian secara luas, terutama bila dikaitkan dengan suatu  kegiatan pasar modal yang sekarang. Pada setiap kegiatan yang hendak menanamkan uang dengan aman termasuk investasi.
Kebiasaan umum perusahaan, dalam membicarakan tentang rencana investasi dikaitkan dengan penggunaan uang bagi perusahaan peningkatan usaha dalam kepastian sistem produksi atau dengan kata lain peningkatan assets capital, misalnya pembelian sistem produksi dalam bentuk mesin-mesin yang disertai dengan alat teknologi dan peralatan, pabrik/ gedung atau tanah utuk kebutuhan. Buku ini menunjukkan  pengertian investasi diambil yang bersifat umum, bahwa pada pembicaraan disini dibatasi pada investasi assets capital tetap.
Berdasarkan pengertian tersebut maka penulis dapat menarik suatu asumsi bahwa penanaman modal untuk tujuan tertentu khusus dalam kegiatannya, (Simarmata, 2001 : 12) investasi di bagi dalam kelompok yaitu :
    a.   Investasi baru
         b.   Investasi nasionalisasi
         c.   Investasi perluasan
d.   Investasi modernisasi
e.    Investasi diversifikasi

B   Pengertian Kelayakan Investasi
      Pada setiap perusahaan dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan menyangkut operasionalnya selalu mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya yang dapat disesuaikan dengan ruang lingkupnya perusahaan itu sendiri, maka diperlukan suatu perencanaan yang berlandaskan modal serta anggaran. Investasi pada perusahaan mengharapkan kelayakan pada perusahaan akan memperoleh kembali dana yang diinvestasikan dalam jangka waktu yang cukup lama.

      Lebih jelasnya pengertian tentantg kelayakan investasi pada perusahaan penulis mengemukakan dari beberapa ahli ekonomi yang membahas masalah yang ada kaitannya dengan kelayakan investasi. Bambang Riyanto dalam bukunya Dasar-Dasar Permbelanjaan Perusahaan (2004 : 112) menyatakan bahwa kelayakan investasi mencakup seluruh proses perencanaan pengeluaan modal yang hasilnya diharapkan sampai lebih dari satu tahun lamanya. Pengeluaran modal adalah pengeluaran untuk pembelian tanah, bangunan dan peralatan serta pengeluaran untuk tambahan aktiva tetap pada modal kerja yang berhubungan dengan peralatan pabrik (perusahaan).
      Pengeluaran modal disini dengan jangka waktunya cukup lama, sehingga modal yang tertanam berupa investasi tidak terlalu mengharapkan dalam waktu singkat, artinya modal yang tertanam itu mempunyai jangka waktu lebih dari satu tahun lama.
      Penganggaran modal itu merupakan pengeluaran dana untuk berlangsung untuk jangka waktu yang cukup lama, dimana untuk mengetahui pembelian satu unit kendaraan, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengetahui hasil akhir dari adanya pembelian tersebut. Mengambil keputusan dalam hal ini diperlukan analisa yang cukup matang, sehingga investasi yang telah dilaksanakan telah memperhitungkan resiko yang mungcul oleh perusahaan.
      Charles T. Horngren dalam bukunya Cost Accounting A Managerial Emphasis, (2001 : 204) memberikan definisi tentang investasi kelayakan, menyatakan bahwa dalam pengambilan keputusan penanaman investasi jangka panjang sesuai dengan perencanaan.
       Pengertian kelayakan investasi menurut penulis ialah keseluruhan proses dalam perencanaan dan pengambilan keputusan pengeluaran dana untuk investasi di mana jangka waktu kembalinya dana tersebut melebihi satu tahun lamanya. Hal ini mempunyai arti yang sangat penting bagi kelanjutan hidup perusahaan (kesinambungan). Dana yang dikeluarkan akan terikat untuk waktu yang cukup lama, artinya perusahaan haru menunggu beberapa tahun sampai keseluruhan dana yang tertanam dapat diperoleh kembali. Hal ini berpengaruh terhadap kebutuhan dana untuk keperluan-keperluan lain.
    Keputusan dalam penenaman modal, hal yang paling penting untuk dalam memutuskan langkah-langkah yang harus ditempuh oleh investor, adalah bagaimana metode pengalokasian dana dengan tidak berisiko tinggi. Jadi kelayakan investasi yang dibuat oleh pemgelolah perusahaan adalah pengalokasian modal terhadap suatu usul investasi dimana manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh telah dipertimbangkan sebelumnya untuk masa depan yang akan datang, karena manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh perusahaan belum diketahui secara pasti, yang berarti usul atau rencana investasi mengandung unsur-unsure resiko.     
      Perlulah diadakan evaluasi terlebih dahulu apakah pendapatan yang diharapkan akan diterima dan dapat menutupi kemungkinan-kemungkinan resiko yang mungkin terjadi, bila investor itu sendiri dengan kemungkinan perusahaan ini mempunyai resiko.
       Financing decision making memutuskan apakah investasi tersebut akan dijalankan dengan modal, pinjaman modal sendiri (equity) atau bahkan kombinasi dari keduanya.




C  Methode Penilaian Investasi
 
     Menentukan apakah suatu usul investasi dapat diterima atau tidak, layak atau tidak dilaksanakannya investasi tersebut, maka nalisa secara teliti untuk menyusun usul-usulan investasi yang perlu diperhatikan.
     Berbagai metode penilaian proyek investasi atau metode untuk menyusun “Rangking” dalam usul-usul investasi, jadi menurut Sutoyo Siswanto, dalam bukunya Studi Kelayakan Proyek (2001 : 118) dalam hal ini hanya dibcarakan 4 (empat) metode penilaian investasi dalam penyusunan proyek, yaitu :
a.  Payback period
 b.  Net present value
 c. Internal rate of return
d.  Accounting rate of return
     Pada dasarnya metode penilaian ivestasi tersebut akan diuraikan pada masing-masing tersendiri, sehingga lebih jelas dari masing-masing peranannya, sebagai berikut :
Ad 1. Payback period
Pada metode ini berdasarkan atas suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali sejumlah pengeluaran untuk tujuan investasi dengan mempergunakan proses aliran kas netto (net cash flows). Dasar nilah yang dapat menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan agar dana yang tertanam dalam suatu investasi dapat diperoleh kembali untuk jumlah seluruhnya, bila proses pada setiap tahun sama jumlahnya.
Payback period dari suatu investasi dapat dihitung dengan cara membagi investasi dengan proses tahunan.             
Ad 2. Net present value
         Net present value, metode ini memperhatikan time value of money, maka proses yang selalu digunakan dalam menghitung net present value (NPV) adalah merupakan prosentase atau cash flow yang didiskontokan atau dasar biaya modal (cost of capitral), atau rate of return yang diinginkan. Metode ini pertama-tama yang dihitung adalah nilai sekarang (persent value) dari proceeds yang diharapkan atau dasar discount rate tertentu. Jumlah present value dari keseluruhan proses selama usianya dapat dikurangi dengan present value dari jumlah investasinya (initial investment). Disebutkan sebelumnya sebagai rumus perhitungan-perhitungan investasi dengan memasukkan suku/tingkat bunga di dalamnya.
          Suku bunga dapat juga digunakan pada perhitungan-perhitungan analisa kelayakan investasi statis dalam perhitungan mencarti alternatif  investasi terbaik. Dalam penggunaan metode penilaian sekarang (present value) sebagaimana dilihat di depan, maka V = P (1  +  i), atau rumus secara umum Vn = P ( 1  +  i ), yang berarti bahwa n adalah tahun mendatang, nilai uang sebenarnya P sekarang adalah nilai P dikali faktor pengali bunga berganda yaitu ( 1  +  i  )  faktor ini disebut faktor kompon (Siswanto Sutoyo, 2002 : 15). Sebaliknya bila ada jumlah uang tertentu di masa depan, misalnya n adalah tahun mendatang, maka dapat dicari nilai sekarang dengan formula, sebagai berikut :
                            n            CFT 
          NPV   =      Σ                          - Io
                           t   =  i   (1  +  v)

           NPV disini sebenarnya adalah singkatan dari Net Present Value (nilai sekarang). Analisa proyek, rumus dibuat sedemikian rupa sehingga semua pengeluaran dan penerimaan proyek tercatat dengan teratur, dari tahun ke tahun.
Ad 3. Internal Rate of Return (IRR)         
           Internal rate of return sebagai penilaian usulan investasi lain yang menggunakan discount cash flow ialah apa yang disebut internal rate of return (IRR). Pegertian internal rate of return itu sendiri dapat didefinisikan sebagai tingkat bunga akan menjadikan jumlah nilai sekarang dari proceeds yang diharapkan  akan diterima (PV. Of future proceeds) sama dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran modal (PV. Of capital outlays). Pada dasarnya internal rate of return harus dicari trian and error dengan serba coba-coba. 
            Menurut perhitungan P.V. dari proceeds dri suatu internal rate of return (IRR) (Siswanto Sutoyo, 2002 : 115) dengan fornula :
                              n            NPV 
          IRR   =  i’  +                                  (i” -  i’)
                                     (NPV’ + NPV”)

             Penggunaan metode interpolasi perlu diperhatikan hal-hal sebagai  berikut :
1.  Dipilih dari discount rate yang dianggap dekat dengan nilai IRR yang benar, lalu dihitung NPV dari pada arus benefit dan biaya.
2.  Dalam mengadakan interpolasi hendaknya diantara NPV yang positif dan NPV yang negatif. Jika positif berarti DF-nya masih terlalu rendah sedangkan bila negatif, berarti DF-nya sudah terlalu tinggi.
3.  Perbedaan antara DF atau bunga yang mengadakanb NPV positif dengan DF yang menghasilkan negatif diusahakan yang melebihi 5 % perbedaan yang lebih besar dari 5 % lebih banyak mengandung kemungkinan kesalahan dibandingkan dengan yang lima persen atau lima lebih kecil.    
       Sesuai dengan rumus di atas, maka dapat dijelasakan sebagai   berikut :
         NPV’     = NPV yang positif 
         NPV”     = NPV yang negatif 
         i’            = Tingkat bunga menghasilkan NPV positif
         i”            = Tingkat bunga menghasilkan NPV negatif
Berdasarkan hasil perhitungan IRR diperoleh jika internal rate of return sama dengan nilai i yang yang berlaku sebagai sosial discount rate maka Net Present Value proyek itu adalah sebesar 0, atau sering disebut go preject. Internal rate of return yang diperoleh bila lebih kecil dari sosial discount rate maka proyek tersebut tidak fisibel no go project.
Ad 4.  Accounting Rate of Return
Accounting rate of return, merupakan metode yang biasa disebut avera of return adalah menujukkan prosentase keuntungan netto sesudah pajak yang dihitung dari average ivestment atau initial investment dengan menghasilkan pendapatan bersih setelah dikurangi bunga dan pajak.
Ketiga metode lainnya yang telah diuraikan di muka payback, net present value dan internal rate of return, berdasarkan dari pada proceeds atau cash flow, maka metode accounting ini mendasarkan diri pada keuntungan yang dilaporkan dalam buku (reported accounting income).
Kebaikan dari metode ini ialah pada kesederhanaannya dan mudah dimengerti, sehingga tidak memerlukan penggunaan data tambahan. Metode accounting rate of return ini dalam penyusunan ini tidak dipergunakan karena pada penjelasan di depan memang tidak dijekaskan.
D  Pengertian dan Jenis-Jenis Modal Kerja
    1  Pengertian Modal Kerja
      Modal kerja dalam pembahasan ini dimaksudkan  adalah merupakan investasi jangka pendek dalam perusahaan seperti investasi pada piutang, persediaan kas. Begitu pula perolehan sumber pembelanjaan jangka pendek seperti trade credit dan kredit dari lembaga perkreditan. Kenyataan yang dapat dilihat banyaknya dana yang tertanam pada modal kerja sangat tergantung pada jenis skala perusahaan. Perusahaan skala kecil harus meminimkan investasninya dalam harta tetap agar dana yang dimiliki terbatas jumlahnya dapat dioptimunkan pemanfaatannya. 

     Mendapatkan gambaran yang jelas, maka Weston Brigham dalam bukunya Manajemen Keuangan (2000 : 2) mengemukakan bahwa pengelolaan modal kerja mencakup baik untuk investasi jangka pendek maupun perolehan sumber dana perusahaan. Pengelolaan modal kerja sangat penting melihat kegiatan sehari-hari adalah operasi perusahaan yang menyangkut tentang modal kerja.
Kenyataan lain dapat dilihat bahwa banyaknya dana yang tertanam pada aktiva lancar adalah sangat besar jumlahnya khususnya bagi perusahaan kecil harus meminimunkan investasinya dalam harta tetap oleh karena tidak ada cara lain untuk menghindari investasi dalam biaya, piutang dan persediaan.
     Penentuan besarnya investasi dalam current assets adalah untuk pengelolaan ini sangat penting untuk menjaga likuiditas dan profitabilitas perusahaan. Kekurangan dana akan terganggu operasi perusahaan seperti untuk membayar utang jangka pendek, pembayaran upah, pembayaran utang dagang dan sebagainya.
     Kelebihan akan membawa resiko yang harus ditanggung  terhadap sejumlah modal kerja yang  menganggur dalam perusahaan, untuk selanjutnya Akan memperkecil profitabilitas perusahaan. Besarnya kecilnya kebutuhan modal kerja terutama tergantung pada perputaran atau periode terikatnya modal kerja dan waktu perputarannya, makin besar jumlah modal kerja yang dibutuhkan.
     Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja adalah merupakan keseluruhan atau jumlah dana yang telah tertanam pada periode yang meliputi jangka waktu lamanya pemberian piutang, biasanya lama penyimpangan bahan mentah di gudang, lamanya proses produksi, sedangkan pengeluaran sehari-harinya merupakan pengeluaran untuk pembelian bahan mentah, pembayaran upah buruh dan biaya-biaya lainnya.
     Piutang merupakan investasi dalam modal kerja yang tidak dapat dihindari adanya  dalam dunia usaha. Piutang diberikan kepada perusahaan lain atau individu dan bunganya dengan perusahaan lainnya. Pemberian piutang barang kepada pelanggan merupakan hal yang dapat dimengerti sebab tanpa memberikan piutang. Pengusaha mengalami kesulitan untuk dapat dijual barangnya dengan lancar. Tetapi dilain pihak banyak resiko yang timbul karena memberikan piutang, yakni mendapat kerugian, kemacetan bahkan membawa kegagalan pada perusahaan resiko piutang dapat disebutkan, resiko tidak terbayar, resiko piutang dapat disebutkan resiko tidak terbayar karena keterlambatan penerimaan piutang.
     Cara memperkecil resiko oleh Alex S. Nitisemito dalam bukunya Pembelanjaan Perusahaan (2001 : 29) mengemukakan bahwa kalau perkiraan piutang yang ada akan memberikan kemungkinan akan menimbulkan resiko yang lebih besar dari kemungkinan keuntungan yang akan diterimanya, batalkanlah kemungkinan resiko yang akan muncul yang tidak diguga.
     Perlu adanya batas maksimun piutang yang akan diberikan dan  pertimbangan lain, seperti kemungkinan untuk memenuhi kewajibannya, untuk melihat financial position perusahaan langganan yang diperlihatkan dengan cash flow, pengaruh trend ekonomi pada umumnya untuk perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya investasi dalam piutang adalah volume penjualan kredit, ada syarat-syarat pembayaran, kebiasaan membayar dan kebijaksanaan mengumpulkan piutang.
     Unsur lain dari working capital adalah investasi pada persediaan merupakan peningkatan modal perusahaan untuk persediaan merupakan peningkatan modal perusahaan untuk jangka waktu tertentu seperti bahan baku, barang setengah jadi dan barang jadi, sama halnya piutang dan persediaan pada umumnya tidak dapat dihindari.
     Hubungan ini, maka penetapan sejumlah persediaan adalah penyediaan bahan baku dan bahan pembantu untuk menghasilkan produk. Perlu adanya persediaan barang, jadi untuk menjamin kelancaran penjualan.
Besarnya investasi dalam persediaan tergantung dari pada volume produksi yang direncanakan, estimasi tentang fluktuasi harga bahan mentah, tingkat kecepatan material menjadi rusak, baiay penyimpangan dan resiko penyimpangan digudang.
  2  Jenis-Jenis Modal Kerja
   Jenis-jenis modal kerja pada dasarnya terdiri dari atas modal kerja permanen (permanent working capital) dan modal kerja variabel (variabel working capital) oleh Mulyadi (2002 : 56) sebagai berikut :
      a. Modal kerja permanent (permanent working capital), yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Yang termasuk modal kerja permanent, antara lain :
     b. Modal kerja primer (primary working capital), yaitu jumlah modal kerja yang harus ada pada perusahaan untuk menjalankan kontinutas usahanya.misalnya, kas paling sedikit ada ditangan supaya dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya yang segera harus dipenuhi dalam waktu singkat. Persediaan akhir harus cukup untuk memenuhi pesanan piutang yang merupakan jumlah minimun untuk memperluas kredit kapada langganan.

c.  Modal  kerja  normal (normal working capital), yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan perluasan produksi normal.   
1.  Pengertian normal disini dalam arti yang dinamis yaitu selalu dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan bahan produksi dengan keadaan kebutuhannya.
           2.  Modal kerja variabel (variabel working capital), yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan.
      a. Modal kerja musiman (seasonal working capital), yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim. Misalnya pabrik payung, pabrik gula dan sebagainya.
      b. Modal kerja siklus (cyclical working capital), yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.
      c.  Modal kerja darurat (emergency working capital), yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya. 

E  Pengertian Proyeksi Cash Flow
      Cash flow adalah merupakan suatu alat yang sangat berguna untuk menentukan dana yang diperlukan oleh perusahaan guna menjlankan fungsinya. Dalam arti bahwa perusahaan membutuhkan modal kerja sesuai dengan kegiatan perusahaan, agar fungsi manajemen terarah dan terkontrol utamanya penggunaan keuangan pada perusahaan.                         
      Cash flow merupakan suatu taksiran dari total penerimaan yang diharapkan akan dapat diperoleh, yang disebuty cash in flow selanjutnya menutupi pengeluaran-pengeluaran yang diperkirakan akan timbul selama periode tertentu atau cash out flow.
      Hubungan ini Hunt dan kawan-kawan dalam bukunya Basic Business Finance, (1998 : 35) mengemukakan pengertian cash flow adalah penggunaan dana sesuai dengan proyek proposal yang telah dibuat berdasarkan perencanaan dengan mempunyai jangka waktu tertentu penyelesaian proyek tersebut.
      Pengertian cash flow yang dikemukakan oleh Pearson Hunt memberikan suatu gambaran bahwa proyeksi cash flow adalah meliputi perencanaan uang kas yang akan diterima dimasa yang akan datang dan pengeluaran uang kas tersebut untuk kegiatan operasi perusahaan.
      Ada dua cara metode dalam menyelesaikan  untuk menghitung cash flow adalah :
1. Cash receipt and disbursement method, yaitu metode ini berdasarkan atas rencana laba, dalam penyusunan dan proyekdinya meliputi penjualan dan pola penerimaannya serta dilain pihak biaya yang dikeluarkan.Pada metode ini baik digunakan untuk penyusunan anggaran kas yang bersifat jangka pendek. Jadi dapatlah dikatakan bahwa proyeksi cash flow, dengan menggunakan metode cash flow receipt and disbursement yang dapat diketahui total penerimaan dan pengeluaran yang akan timbul dalam perusahaan.
         2.  Net income cash flow, dengan dasar yang menjadi titik tolak ukur dalam penyusunan proyeksi cash flow adalah income statement daripada perusahaan, sebab dari sinilah dapat dihitung kas, baik sumber maupun penggunaan kas dilakukan oleh perusahaan. Metode ini digunakan untuk proyeksi kas yang bersifat jangka panjang proyeksi cash flow dengan net income cash flow digunakan untuk proyeksi, dengan menggunakan net present value (NPV) sebagai alat evaluasi dalam rencan investasi untuk melihat kemungkinan layak atau tidaknya rencana tersebut untuk dilaksanakan.  

F  Pengertian dan Jenis-Jenis Biaya
    1  Pengertian Biaya
        Menghasilkan sesuatu apakah itu barang atau jasa maka perlulah dihitung dan diketahui besarnya biaya yang dikeluarkan atau yang perlu dan kemungkinan memperoleh pendapatan yang mungkin diterima. Setiap pengorbanan biaya selalu diharapkan akan mendatangkan hasil yang lebih besar dari pada yang telah dikorbankan tersebut pada masa yang akan datang.
          Seorang pengusaha hendaknya dapat mengetahui bagaimana besarnya pengorbanan dalam proses produksi pada dasarnya setiap untuk yang merupakan komponen biaya perubahan. Total biaya selalu dapat dihitung dan dapat dibandingkan dengan total penerimaan yang mungkin dapat diperoleh dengan kemungkinan laba yang akan diperoleh.
   Berbicara mengenai masalah biaya merupakan suatu masalah yang cukup luas, oleh karena di dalamnya terlihat dua pihak yang saling berhubungan. Winardi, dalam bukunya Akuntansi Biaya,                 (2000 : 147), menyatakan bahwa bahwa bilamana kita memperhatikan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu proses produksi, maka dapat dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu yang merupakan biaya bagi produsen adalah mendapatkan bagi pihak yang memberikan faktor produksi yang terbaik pada perusahaan bersangkutan.
         Halnya bagi konsumen, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh alat pemuas kebutuhannya atau merupakan pendapatan bagi pihak yang memberikan alat pemuas kebutuhan tersebut. Oleh Ikatan Akuntansi Indonesia, (1994: Pasal I ayat 1) dikatakan bahwa biaya (cost) adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang, yaitu pengeluaran-pengeluaran dalam bentuk konstan atau  dalam bentuk pemindahan kekayaan pengeluaran modal saham, jasa-jasa yang disertakan atau kewajiban-kewajiban yang ditimbulkannya, dalam hubungannya dengan barang-barang atau jasa-jasa yang diperoleh atau yang akan diperoleh pada masa yang datang, karena mengeluarkan biaya berarti mengharapkan pengembalian lebih banyak.                                                         
          Berdasarkan definisi dan pengertian biaya di atas, dapatlah  dikatakan  bahwa  pengertian biaya yang dikemukakan  di atas adalah suatu hal yang masih merupakan pengertian secara luas oleh karena semua yang tergolong dalam pengeluaran secara nyata keseluruhannya termasuk biaya.
          Sejalan dengan definisi dan pengertian di atas, maka D. Hartanto dalam bukunya Akuntansi Untuk Usahawan, (2002 : 89), memberikan atasan tentang biaya (cost) dan ongkos (expense), sebagai berikut cost adalah biaya-biaya yang dianggap akan memberikan manfaat atau service potensial di waktu yang akan datang dan karenanya merupakan aktiva yang dicantumkan dalam neraca. Sebaliknya expense atau expred cost adalah biaya yang telah digunakan untuk menghasilkan prestasi. Jenis-jenis biaya ini tidak dapat memberikan manfaat lagi diwaktu yang akan datang, maka tempatnya adalah pada perkiraan laba rugi.                                                                                                         
    2  Jenis-Jenis Biaya

         Dalam suatu proses produksi melibatkan suatu jenis-jenis biaya yang dibebankan menurut kelompok biaya tertentu guna menyusun harga pokok produksi yang dapat digabungkan ke dalam jenis-jenis biaya. Tetapi ini tidaklah segera dapat di pandang sebagai biaya, karena itu harus sesuai dengan faktor biaya, karena biaya itu harus sesuai dengan faktor biaya yang dianut perusahaan.
          Sehubungan dengan jenis-jenis tersebut, maka D. Hartanto dalam bukunya Akuntansi Untuk Usahawan, (1999 : 37) mengelompokkan  biaya menurut tujuan perencanaan dan pengawasan, sebagai berikut :          
1.   Biaya variabel dan biaya tetap
6      Biaya yang dapat dikendalikan
        Sedangkan  menurut Mulyadi dalam bukunya Akuntansi Biaya, (2000 : 127) menghubungkan tingkah laku biaya dengan perusahaan volume kegiatan sebagai berikut biaya variabel adalah biaya yang secara total berfluktuasi secara langsung sebanding dengan volume penjualan atau produksi, atau ukuran kegiatan yang lain.
         Sedangkan biaya tetap atau biaya kapasitas merupakan biaya untuk mempertahankan kemampuan beroperasi perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu dengan tetap memperhatikan jenis-jenis biaya apa yang dipergunakan agar memudahkan dalam pengelompokannya.
          Dari gambaran umum di atas, maka dapat dijelaskan, sebagai berikut :
          1. Biaya variaberl adalah sejumlah biaya yang ikut berubah-ubah untuk mengikuti volume prouksi atau penjualan. Misalnya atau bahan langsung hanya ikut dalam proses produksi, bahan baku langsung yang dipakai dalam proses produksi biaya tenaga kerja langsung.
           2. Biaya tetap adalah sejumlah biaya yang tidak berubah-ubah walaupun ada perubahan volume produksi atau penjualan. Misalnya gaji bulanan, asuransi, penyusutan, biaya umum dan lain-lain sebagainya.
 Sifat-sifat biaya tersebut sangat penting untuk diketahui seorang manajer dalam perencanaan usahanya, karena dengan demikian suatu gambaran klasifikasi biaya yang baik untuk tujuan perencanaan dan pengawasan dalam proses produksi.

DAFTAR PUSTAKA


Anthony, N. Robert, and James S. Robert, 1999, Management Accounting, Fifty Edition, Home Work, Illinois Richard, D, Irwin.

Hartanto, D, 2002, Akuntansi Untuk Usahawan, (Management Accounting), Cetakan Kedua Edisi Ketiga, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta.

Horgren, Charles, T, 2001, Cost Accounting, A.Managerial   Emphasis, Fourth Edition, Prentice-Hall, of  India Private Limited, New Delhi.

Person, Hunt, 1999, Basic Business Finance, Second Edition, London : Irwin Dorsay Internationl, Geogetown, Limited New York.

Nitisemito, Alex, S,  2001, Manajemen Resiko Piutang, Edisi III,  Penerbit Erlangga Yogyakarta.

Riyanto, Bambang, 2004,  Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Kedua,  Cetakan Kedelapan, Penerbit Fakultas Ekonomi, UGM, Yogyakarta.       

Simarmata, A. Dj, 2001 , Pendekatan Sistem Dalam Analisa Proyek Investasi dan Dasar Modal,  Penerbit Gramedia, Jakarta.

Sutoyo, Siswanto, 2002, Studi Kelayakan Proyek, Konsep dan Tehnik, Seni Management, No. 66, Jakarta, PT. Pustaka, Binaman Presindo, Jakarta.

Wrigth, M.G. B. Com, 2000, Manajemen Keuangan, diterjemahkan oleh Djoerban, Wachid, Penerbit Yayasan Kanisius, Jakarta.

Weston Fred, J. and Bugene F. Brigham, 2000, Manajemen Keuagan, Edisi Ketujuh, Jilid II, Penerbit Erlangga, Yogyakarta.

Winardi, 2000, Akuntansi Biaya, Edisi Ketujuh, Penerbit Alumni, Bandung

Ikatan Akuntansi Indonesia, 1994, Norma-Norma Pemeriksaan Akuntansi, Penerbit YKPN, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar