Powered By Blogger

Minggu, 22 September 2013

Bagaimana penerapan Activity Based Costing untuk meningkatkan akurasi dalam perhitungan harga pokok konstruksi pada pelaksanaan pengecatan perusahaan jasa konstruksi

2.1 Landasan Teori

2.1.1  Pengertian dan Fungsi Akuntansi Biaya
”In the past, cost accounting was widely regarded as the calculation of the inventory cost presented in balance sheet and cost of goods sold figure in the income statement”. Seperti yang diungkapkan oleh Carter dan Usry (2002:7) tersebut, akuntansi biaya pada mulanya hanya dipandang sebagai sebuah cara perhitungan atas nilai persediaan yang dilaporkan di neraca dan nilai harga produk penjualan yang dilaporkan dalam laporan laba rugi.
Perkembangan akuntansi biaya selanjutnya mampu menyediakan berbagai informasi dan data yang dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk berbagai tujuan termasuk perencanaan, pengendalian serta penentuan biaya produk. Sehingga, akuntansi biaya menjadi partner manajemen yang utama dalam kegiatan perencanaan dan pengawasan dengan memberikan manajemen alat yang diperlukan untuk merencanakan, mengawasi, melakukan penilaian atas berbagai kegiatan perusahaan serta pengambilan keputusan. Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa akuntansi biaya memberikan informasi biaya kepada pihak manajemen dan akuntansi manajemen sebagai salah satu tipe informasi yang digunakan untuk membantu manajemen.
Menurut Mulyadi (2005:7) definisi akuntansi biaya adalah: “Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya”.
Menurut Horngren, Datar, dan Foster (2003:3) “Cost Accounting provides information for management accounting and financial accounting. Cost Accounting measures and reports financial and non financial information relating to the cost acquiring or utilization resource in organizations”.
Berdasarkan kedua pendapat di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa akuntansi biaya adalah kegiatan yang terdiri dari prosedur sistematis mengenai pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya maupun sumber daya yang digunakan dalam operasi perusahaan. Dengan demikian, akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi manajemen.

2.1.2 Definisi Akuntansi Manajemen
Akuntansi manajemen di definisikan oleh Hansen dan Mowen (2003:7) adalah “The management accountant identifies, collects, measures, classifies, and reports information that is useful to internal users in planning, controlling and decision making activities”.
Berdasarkan definisi tersebut dapat dikatakan bahwa akuntansi manajemen adalah suatu kegiatan atau proses yang menghasilkan informasi keuangan bagi manajemen yang digunakan  manajer untuk :
  1. Perencanaan, yaitu pernyataan lengkap suatu kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan identifikasi metode untuk mencapai tujuan tersebut.
  2. Pengendalian, yaitu aktivitas untuk mengarahkan kegiatan agar berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
  3. Pengambilan keputusan, yaitu proses memilih diantara beberapa alternatif.
Informasi akuntansi manajemen meliputi data historis maupun estimasi yang digunakan oleh manajemen untuk melaksanakan operasi sehari-hari, perencanaan operasi di masa datang, dan mengembangkan strategi bisnis secara menyeluruh. Akuntansi manajemen mampu membantu manajer mengenali masalah-masalah, menyelesaikan masalah-masalah tersebut dan mengevaluasi kinerja. Dengan demikian, akuntansi manajemen diharapkan mampu membantu perusahaan menghadapi perubahan lingkungan operasi sehingga perusahaan dapat terus bertahan

2.1.3  Konsep Biaya dan Cara Penggolongan Biaya
Para akuntan telah mendefinisikan biaya sebagai suatu nilai tukar, prasyarat atau pengorbanan yang dilakukan untuk memperoleh manfaat. Terdapat dua istilah yang sering digunakan oleh akuntan manajemen, yaitu: biaya (cost) dan beban (expense). Menurut Hansen dan Mowen (2003:4) definisi cost dan expense adalah: “Cost is the cash or cash-equivalent value sacrified for goods and services that are expected to bring a current or future benefit to organization… As cost are used up in the production of revenues they are said to expired. Expired costs are called expense”.
Dari definisi diatas dapat dikatakan bahwa biaya (cost) adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang dan jasa yang diharapkan memberikan manfaat pada saat ini atau pada masa yang akan datang bagi perusahaan. Sedangkan beban (expense) menunjukkan biaya yang telah dihabiskan dalam proses menghasilkan pendapatan atau bagian pengorbanan yang diberikan untuk suatu periode akuntansi tertentu.
Untuk memudahkan dalam penyajian informasi biaya yang dibutuhkan manajemen agar dapat mengelola perusahaan secara efektif, maka dalam mencatat dan menggolongkan biaya haruslah selalu diperhatikan untuk tujuan apa manajemen memerlukan informasi biaya tersebut. Maka sebaiknya selalu diterapkan konsep “different cost for different purpose” yaitu, untuk tujuan yang berbeda kita harus menggunakan konsep biaya yang berbeda pula. Tidak ada satu konsep biaya yang dapat digunakan untuk semua tujuan. Maka dari itu, dalam akuntansi biaya dikenal berbagai macam klasifikasi atau penggolongan biaya.
Klasifikasi biaya sangat diperlukan untuk mengembangkan data biaya yang dapat membantu pihak manajemen dalam mencapai tujuannya. Menurut Mulyadi (2005:13) terdapat lima cara penggolongan biaya yaitu diantaranya sebagai berikut:
1.      Penggolongan biaya menurut objek pengeluaran:
Merupakan dasar penggolongan biaya yang terdiri dari:
  1. Biaya bahan baku
  2. Biaya tenaga kerja langsung
  3. Biaya overhead
2.      Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan:
  1. Biaya produksi. Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.
  2. Biaya pemasaran. Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk.
  3. Biaya administrasi dan umum. Merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasikan kegiatan produksi dan pemasaran produk.

3.      Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayainya:
  1. Biaya langsung. Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayainya. Jika sesuatu yang dibiayainya tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi.
  2. Biaya tidak langsung. Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayainya. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik (factory overhead costs).
4.      Penggolongan biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan   volume aktivitas:
  1. Biaya variabel.Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan
  2. Biaya semivariabel. Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
  3. Biaya semifixed. Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.
  4. Biaya tetap. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu.
5.      Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya:
  1. Pengeluaran modal (capital expenditure). Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya periode akuntansi adalah satu tahun kalender).
  2. Pengeluaran pendapatan (revenue expenditure). Pengeluaran pendapatan adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut.

2.1.4  Harga Pokok Produk atau Jasa
Hansen dan Mowen (2003:44) memberikan definisi harga pokok produksi adalah: “The cost of goods manufactured represent the total cost assigned to good completed during the current period”. Menurut Hilton (1999:43) mengemukakan sebagai berikut: “Product cost is a cost assigned to goods that were either purchased or manufactured for sale”.
Jadi, harga pokok produksi atau jasa adalah biaya-biaya yang timbul karena adanya aktivitas produksi. Proses produksi suatu perusahaan akan mengeluarkan biaya-biaya yang akan digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa. Biaya-biaya yang timbul tersebut dinamakan biaya produksi atau biaya jasa.
Menurut Hansen dan Mowen (2003:40), unsur-unsur yang membentuk harga pokok produk atau jasa adalah: ” The only cost assigned to goods and service completed are the manufacturing costs of direct material, direct labor and overhead”. Unsur-unsur biaya produk atau jasa menurut Hansen dan Mowen (2003:42), dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis, yaitu:
1.            Biaya Bahan Baku
Bahan baku merupakan dasar yang akan digunakan untuk membentuk bagian yang menyeluruh menjadi produk jadi. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi dapat diperoleh melalui pembelian lokal, impor atau dari pengolahan sendiri. Biaya bahan baku meliputi harga pokok semua bahan yang dapat diidentifikasi dengan pembuatan suatu jenis produk, dengan mudah dapat ditelusuri atau dilihat perwujudannya di dalam produk selesai. Biaya bahan baku memiliki bagian yang signifikan dari total biaya suatu produk.
2.            Biaya Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja merupakan kegiatan fisik yang dilakukan oleh karyawan untuk mengolah suatu produk. Biaya tenaga kerja langsung meliputi biaya-biaya yang berkaitan dengan penghargaan dalam bentuk upah yang diberikan kepada semua tenaga kerja yang secara langsung ikut serta dalam pengerjaan produk yang hasilnya kerjanya dapat ditelusuri secara langsung pada produk dan upah yang diberikan merupakan bagian yang besar dalam memproduksi produk.
3.            Biaya Overhead
Pada umumnya dalam suatu perusahaan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung merupakan biaya produksi langsung. Semua biaya selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung yang berhubungan dengan produksi adalah biaya produksi tidak langsung. Istilah ini sesuai dengan sifat biaya overhead yang tidak dapat atau sulit untuk ditelusuri secara langsung kepada produk atau aktivitas-aktivitas pekerjaan. Biaya tidak langsung ini terkumpul dalam suatu kategori yang disebut biaya overhead pabrik (BOP) dan membutuhkan suatu proses alokasi yang adil untuk tujuan perhitungan harga pokok produksi atau jasa.

2.1.5  Metode Pengumpulan Harga Pokok Produksi
Harga pokok produksi merupakan salah satu informasi yang penting bagi perusahaan yang akan digunakan oleh manajer untuk tujuan yang beraneka ragam. Sebagai contoh, harga pokok produk dari sebuah produk jadi berguna untuk menetapkan harga jual produk. Di samping itu, harga pokok produksi yang akurat juga memungkinkan bagi manajer untuk mengelola operasi secara efektif dan efisien, serta merupakan faktor penting dalam pembuatan laporan keuangan.
Ada dua jenis sistem akuntansi biaya yang digunakan untuk menentukan harga pokok, yaitu: job order cost systems dan process cost systems. Jenis mana yang digunakan untuk menentukan harga pokok sangat tergantung pada jenis proses produksi perusahaan yang bersangkutan.
TABEL 2.1
PEMBANDINGAN KALKULASI BIAYA PESANAN DAN PROSES
Kalkulasi Biaya Pesanan
Kalkulasi Biaya Proses

1.      Variasi perbedaan produk luas.
2.      Biaya diakumulasi berdasarkan pekerjaan.
3.      Biaya per unit dihitung melalui pembagian total biaya pekerjaan dengan unit yang diproduksi

1.      Produk homogen.
2.      Biaya diakumulasi berdasarkan proses atau departemen.
3.      Biaya per unit dihitung melalui pembagian proses satu periode dengan unit yang diproduksi selama periode tersebut.

Sumber: Hansen dan Mowen (2003:208)

2.1.5.1 Job Order Cost Systems
      Metode harga pokok pesanan adalah cara penentuan harga pokok produksi dimana biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk sejumlah produk tertentu, atau suatu jasa yang dapat dipisahkan identitasnya dan yang perlu ditentukan harga pokoknya secara individual. Metode ini tepat digunakan bila produksi terdiri dari atau merupakan pesanan khusus serta waktu yang dikehendaki untuk memproduksi suatu unit produksi relatif panjang dimana harga jual banyak tergantung dari biaya produk.
Oleh karena itu metode job order cost systems adalah metode yang paling tepat untuk dipergunakan dalam perhitungan harga pokok pada perusahaan kontraktor. Dalam perhitungan biaya produksi pesanan, biaya diakumulasikan menurut pekerjaan atau pesanan tertentu. Metode ini mengasumsikan bahwa semua pesanan yang dikerjakan dapat diidentifikasi secara fisik dan setiap pesanan dapat dibebani dengan biaya yang hanya berkaitan dengan pesanan itu sendiri.

2.1.5.2 Process Cost Systems
Metode ini digunakan untuk barang-barang yang diproduksi melalui cara pengolahan yang berkesinambungan atau melalui proses produksi masal karena unit-unit bahan yang dikerjakan tidak dapat dibedakan satu sama lain selama satu proses pabrikasi atau lebih. Oleh karena sifat dari outputnya, biaya per unit harus dihitung tiap proses.
Karakteristik dari kalkulasi biaya proses menurut Carter dan Usry (2002:156) adalah :
1.      Biaya dibebankan ke perkiraan barang dalam proses pada setiap departemen.
2.      Laporan biaya produksi digunakan untuk mengumpulkan, mengikhtisarkan dan menghitung biaya per unit dan biaya total. Biaya per unit diperoleh dengan membagi jumlah biaya yang dibebankan ke suatu departemen dengan total produksi departemen tersebut pada periode tertentu.
3.      Barang dalam proses pada akhir periode akan dinilai kembali dalam satuan unit ekuivalen (artinya dihitung berapa unit barang jadi yang setara dengan barang dalam proses tersebut).
4.      Biaya-biaya dari unit jadi pada suatu departemen akan ditransfer ke departemen pemrosesan berikutnya agar pada akhirnya dapat diketahui total biaya untuk barang jadi selama satu periode, dan biaya yang harus dibebankan ke barang dalam proses.
           
2.1.6 Functional Based Product Costing
Functional Based Product Costing membebankan biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung dengan menggunakan direct tracing (penelusuran langsung). Sementara itu, biaya overhead dibebankan ke produk dengan menggunakan penelusuran penggerak dan alokasi. Sistem ini membebankan biaya overhead melalui dua tahap yaitu tahap pertama adalah mengalokasikan biaya overhead yang terjadi ke pusat biaya (cost center) dan tahap kedua mengalokasikan biaya-biaya tersebut dari masing-masing cost center ke produk dengan menggunakan pemicu yang berbasis pada unit produksi, misalkan jam tenaga kerja langsung, jam mesin, biaya bahan baku, dan lain-lain.
            Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menghitung biaya produk adalah membebankan biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung, karena kedua biaya ini dapat langsung ditelusuri ke produk. Sedangkan pembebanan biaya overhead unit produk dalam berbagai hal merupakan tugas yang sulit. Untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan teknik alokasi. Teknik alokasi dikerjakan melalui pemilihan suatu dasar aktivitas yang dikaitkan pada seluruh produk melalui proses produksi pada satu periode, kemudian dihitung tarif overheadnya.
            Tarif overhead yang dipilih menyatakan hubungan dari overhead pabrik dengan dasar yang dipilih. Bila perusahaan banyak menggunakan tenaga kerja sehingga biaya upah pekerjanya dominan dalam struktur biaya produk, maka dasar yang digunakan adalah jam tenaga kerja langsung. Demikian pula jam mesin menjadi unsur yang dominan, maka pembebanan biaya overhead berdasarkan jam mesin.
            Sistem ini mengalokasikan biaya overhead melalui dua pendekatan, yakni dengan menggunakan tarif overhead keseluruhan pabrik (plantwide rate) dan tarif overhead departemen (departemental rate). Kedua pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa biaya overhead yang terjadi berhubungan dengan volume unit yang diproduksi. Pendekatan yang digunakan oleh sistem ini sebenarnya bukanlah suatu pendekatan yang salah. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, metode ini sudah menjadi kurang akurat untuk digunakan sebagai penunjang decision making oleh manajemen suatu perusahaan.

2.1.6.1 Functional Based Product Costing: Plantwide Rate
   Perhitungan dengan pendekatan plantwide rate mengasumsikan bahwa semua biaya overhead yang bervariasi dapat dibebankan ke produk dengan satu dasar pengalokasian, pada umumnya menggunakan jam tenaga kerja langsung atau jam mesin. Perhitungan dengan pendekatan ini mengandung dua tahap. Pertama, menghitung tarif overhead terlebih dahulu dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
 



      
            Setelah tarif overhead diketahui, maka akan dihitung total overhead yang dibebankan ke produksi aktual pada suatu waktu disebut overhead yang dibebankan  yang dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :
Overhead yang Dibebankan = Tarif Overhead X Output Aktivitas Aktual
 
 




            Ilustrasi bagaimana tarif overhead dihitung dengan plantwide rate dapat dilihat pada gambar 2.1.
GAMBAR 2.1
FUNCTIONAL-BASED PRODUCT COSTING: PLANTWIDE RATE
Sumber: Don R. Hansen and Maryanne M. Mowen. Management Accounting. Sixth Edition. South-Western College Publishing. Cincinnati, Ohio. 2003. halaman 115.





2.1.6.2 Functional Based Product Costing: Departemental Rate
            Biaya overhead dibagi per departemen dan tarif overhead untuk masing-masing departemen ini menggunakan satuan pengukuran jam mesin atau jam tenaga kerja langsung yang paling dominan pada masing-masing departemen. Metode ini tidak menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang akurat.
            Pada Hansen dan Mowen (2003:117), dicontohkan rumus dalam menghitung departemental rates adalah sebagai berikut:


Applied Overhead = ( Fabrication Rates x Actual Machine Hours ) +
                                  ( Assembly Rates x Actual Direct Labor Hours )
 
            Setelah diketahui fabrication rates dan assembly rates, maka akan dihitung total applied overhead rates dengan rumus sebagai berikut:




Ilustrasi bagaimana tariff overhead dihitung dengan pendekatan departemental rate dapat dilihat pada gambar 2.2.

GAMBAR 2.2
FUNCTIONAL-BASED COSTING: DEPARTEMENTAL RATES

Overhead Costs
 
                                                                                                                                                                     

Sumber: Don R. Hansen and Maryanne M. Mowen. Management Accounting. Sixth Edition. South-Western College Publishing. Cincinnati, Ohio. 2003. halaman 116
           
Functional based costing selama ini dinilai masih mampu untuk mengukur secara akurat sumber daya dikonsumsi dengan jumlah unit yang diproduksi dari suatu produk. Namun, berkaitan dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, penggunaan sumber daya dan aktivitas dalam proses produksi tidak lagi tergantung pada volume industri. Akibat pengalokasian dalam sistem biaya ini akan mengalami distorsi, khususnya untuk perusahaan yang multiproduk, dimana produk-produk yang dihasilkan memiliki perbedaan dalam volume produksi.

2.1.6.3 Keterbatasan Functional Based Product Costing
            Menurut Hansen dan Mowen (2003:117), terdapat dua faktor utama yang menyebabkan pembebanan biaya overhead kurang akurat, yaitu:
1.      The proportion of non unit related overhead cost to total overhead cost
Biaya overhead terdiri dari berbagai biaya yang terkait dengan volume unit yang diproduksi (misalnya biaya listrik) dan biaya-biaya yang tidak terkait dengan volume produksi (misalnya biaya set up mesin, biaya penanganan bahan baku, dll). Non unit based cost driver adalah faktor-faktor selain jumlah unit yang diproduksi yang memicu biaya. Oleh sebab itu, tidak semua biaya overhead dapat dikaitkan dengan jumlah unit yang diproduksi. Misalnya, terdapat tiga aktivitas overhead yakni inspeksi, set up mesin, dan tenaga listrik. Tenaga listrik pada umumnya dapat dihubungkan dengan jumlah unit yang diproduksi. Namun, biaya inspeksi dan biaya set up tidak dipengaruhi oleh banyaknya unit yang diproduksi. Biaya set up mungkin lebih dipengaruhi oleh jumlah batch yang diproduksi, jumlah batch merupakan non unit level driver. Oleh karena itu, pengalokasian biaya overhead dengan menggunakan hanya unit level driver akan mengakibatkan distorsi biaya produk. Besarnya distorsi yang terjadi bergantung pada berapa proporsi dan non unit related overhead cost dari total biaya overhead.
2.      The degree of product diversity
Diversifikasi produk berarti bahwa produk-produk mengkonsumsi aktivitas-aktivitas overhead dalam proporsi yang berbeda-beda. Banyak alasan mengapa produk mengkonsumsi biaya overhead dalam proporsi yang berbeda. Misalnya perbedaan ukuran, kelengkapan produk, waktu set up dan ukuran batch semuanya ini menyebabkan biaya overhead yang dikonsumsi produk menjadi berbeda. Harga pokok produk akan terdistorsi jika volume related yang dikonsumsi oleh suatu produk tidak berubah seiring dengan perubahan non unit related yang dikonsumsi oleh produk tersebut. Proporsi dan aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk disebut ratio konsumsi. Apabila non unit based overhead cost merupakan proporsi yang besar terhadap total biaya overhead, maka biaya produk dapat menyimpang jika unit based cost driver yang digunakan.
            Untuk mengatasi keterbatasan dari Functional Based Product Costing, diperlukan suatu sistem akuntansi biaya yang baru yang mampu menyajikan informasi biaya dengan lebih akurat. Sistem akuntansi biaya tersebut dikenal sebagai sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing.



2.1.7  Activity Based Costing
2.1.7.1  Definisi Activity Based Costing
Definisi Activity Based Costing menurut Horngren dan Foster (2003:39) adalah: “An approach to costing that focuses on activities as the fundamental cost objects. It uses the costs these activities as the basis for assigning costs to other cost objects such as products, services or customer”.
Menurut Mulyadi (2003:40) Activity Based Costing systems (ABC systems) adalah:
  “Activity Based Costing adalah sistem informasi biaya yang berorientasi pada penyediaan informasi lengkap tentang aktivitas untuk memungkinkan personel perusahaan melakukan pengelolaan terhadap aktivitas. Sistem informasi ini menggunakan aktivitas sebagai basis serta pengurangan biaya dan penentuan secara akurat biaya produk atau jasa sebagai tujuan. Sistem informasi ini diterapkan dalam perusahaan manufaktur, jasa, dan dagang”.

            Garrison dan Noreen (2003:316) mendefinisikan Activity Based Costing sebagai berikut: “Activity Based Costing is a costing method that is designed to provide managers cost information for strategic and other decision that potentially affect capacity and therefore ‘fixed’ costs”. Menurut Hansen dan Mowen (2003:122) adalah: “Activity Based Costing systems first trace cost to activities then to product….”.
            Hilton, Maher, dan Selto (2006:14) memberikan pengertian Activity Based Costing sebagai berikut: “Activity Based Costing or ABC is a costing method that first assigns costs to activies and then to goods services based on how much each good or service use the activities”.

            Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Activity Based Costing adalah suatu pendekatan terhadap sistem akuntansi yang memfokuskan pada aktivitas yang dilakukan untuk memproduksi produk, dimana aktivitas tersebut merupakan titik akumulasi biaya yang mendasar. Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas ini didasarkan pada konsep produk yang mengkonsumsi aktivitas dan aktivitas mengkonsumsi sumber daya. Dengan metode ini diharapkan manajemen dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai tambah (aktivitas yang dipertimbangkan tidak memberi kontribusi terhadap nilai pelanggan atau terhadap kebutuhan organisasi).

2.1.7.2  Asumsi dan Konsep Dasar Activity Based Costing Systems
Activity Based Costing adalah pendekatan penentuan biaya produk yang membebankan ke biaya atau jasa berdasarkan konsumsi sumber daya yang disebabkan karena aktivitas. Dasar pemikiran pendekatan penentuan biaya ini adalah bahwa produk atau jasa perusahaan dilakukan oleh aktivitas dan aktivitas yang dibutuhkan tersebut menggunakan sumber daya yang menyebabkan timbulnya biaya. Henry Simamora (1999:114) menyatakan bahwa perbedaan komputasional prinsipil antara metode tradisional dengan ABC Systems berkenaan dengan sifat dan jumlah pemicu biaya (cost driver) yang digunakan.
Menurut Robin Cooper dan Robert S. Kaplan (1991:269) menyebutkan bahwa ada dua asumsi penting yang mendasari ABC Systems, yaitu:

1.            Aktivitas menyebabkan timbulnya biaya (activities cause cost)
ABC Systems berangkat dari asumsi bahwa sumber daya pendukung atau sumber daya tidak langsung menyediakan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas, bukan sekedar menyebabkan timbulnya biaya yang harus dialokasikan. Tahap pertama dari ABC Systems adalah membebankan biaya-biaya dari sumber daya pendukung ke aktivitas-aktivitas yang menggunakan sumber daya tersebut. Karena itu, ABC Systems berangkat dari asumsi bahwa aktivitas menyebabkan timbulnya biaya.
2.      Produk dan pelanggan menyebabkan timbulnya permintaan atas aktivitas ( product and customers create the demand for activities)
Untuk membuat produk diperlukan berbagai aktivitas dan setiap aktivitas memerlukan sumber daya untuk pelaksanaan aktivitas tersebut. Karena itu, pada tahap kedua dari ABC Systems biaya-biaya aktivitas dibebankan ke produk berdasar konsumsi atau permintaan masing-masing produk terhadap aktivitas tersebut.
Berdasarkan keterangan-keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya ABC Systems mengatribusikan biaya produk melalui dua tahap, yaitu:
1.            Tahap pertama sistem ini menelusuri beban-beban sumber daya penunjang kepada aktivitas yang dilaksanakan oleh sumber daya.
2.            Tahap kedua, biaya-biaya ditelusuri ke produk berdasarkan penggunaan aktivitas oleh produk-produk terhadap aktivitas.
Activity Based Costing merupakan sistem yang mempertahankan dan memproses data keuangan dan operasional dari sumber daya perusahaan berdasarkan aktivitas, objek biaya, cost driver, dan cost pool.
1.      Activities
Aktivitas merupakan setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya, yaitu bertindak sebagi faktor penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi.aktivitas dalam ABC Systems menjadi titik dari perhimpunan biaya.
2.      Cost Object
Objek biaya dapat berupa apapun, baik produk, pelanggan, jasa, kontrak, unit kerja, aktivitas, dan sebagainya yang diukur biayanya dan dibebankan untuk tujuan tertentu.
3.      Cost Driver
Pemicu biaya adalah setiap faktor yang menyebabkan perubahan dalam biaya suatu aktivitas. Satu perubahan dalam pemicu biaya akan mempengaruhi total biaya aktivitas. Cost driver digunakan untuk mengalokasikan biaya pada aktivitas atau produk.
4.      Cost pool
Dalam ABC Systems, cost pool merupakan suatu aktivitas tunggal atau sekelompok aktivitas dimana biaya diakumulasikan dan selanjutnya mendistribusikan biaya tersebut ke produk.
Oleh Garrison dan Noreen (2003:322) struktur umum model ABC digambarkan pada gambar 2.3 sebagai berikut:

GAMBAR 2.3
STRUKTUR UMUM MODEL ABC
 
Sumber: Ray H. Garrison & Eric W. Noreen. 2003. Concept for Planning, Contolling, Decision Making. Managerial Accounting. Tenth Edition. Richard D. Irwin Inc. pp: 322.

2.1.7.3  Identifikasi dan Klasifikasi Aktivitas
Pada tahap pertama untuk mengalokasikan biaya dalam metode Activity Based Costing, biaya-biaya dari sumber daya penunjang dialokasikan ke aktivitas. Oleh sebab itu, mengidentifikasikan aktivitas merupakan langkah pertama yang perlu dilakukan sebelum mengalokasikan sumber daya penunjang tersebut. Pengidentifikasian aktivitas membutuhkan daftar dari semua jenis pekerjaan yang dilakukan, misalnya material handling, inspection, process, engineering, dan sebagainya. Pengidentifikasian aktivitas umumnya dikerjakan dengan mewawancarai para manajer atau wakil dari area kerja fungsional. Suatu rancangan pertanyaan-pertanyaan kunci diajukan, dan jawabannya akan dapat membantu menyediakan berbagai informasi yang diperlukan bagi sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas.
Identifikasi aktivitas merupakan bagian penting dari proses Activity Based Costing. Dalam tahap identifikasi aktivitas ini, aktivitas yang luas dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori aktivitas, yaitu:
1.      Aktivitas tingkat unit
Aktivitas tingkat unit adalah aktivitas yang dilakukan setiap kali suatu unit diproduksi. Sebagai contoh, permesinan dan perakitan adalah aktivitas yang dikerjakan tiap kali unit diproduksi. Biaya aktivitas tingkat unit bervariasi dengan jumlah unit yang diproduksi.
2.      Aktivitas tingkat batch
      Aktivitas tingkat batch adalah aktivitas yang dilakukan setiap suatu batch produk diproduksi. Biaya aktivitas tingkat batch bervariasi dengan jumlah batch tetapi tetap terhadap jumlah unit pada setiap batch. Penyetelan, pengawasan (kecuali apabila setiap unit diperiksa), jadwal produksi, dan penanganan bahan, adalah contoh-contoh aktivitas tingkat batch.
3.      Aktivitas tingkat produk
Aktivitas tingkat produk adalah aktivitas yang dilakukan bila diperlukan untuk mendukung berbagai produk yang diproduksi oleh perusahaan. Aktivitas ini mengkonsumsi input yang mengembangkan produk, atau memungkinkan produk diproduksi atau dijual.aktivitas ini dan biayanya cenderung meningkat sejalan dengn peningkatan jenis produk yang berbeda. Perubahan teknik, pengembangan prosedur pengujian produk, pemasaran produk, rekayasa teknik produk, dan pengiriman, adalah contoh-contoh dari aktivitas tingkat produk.
4.      Aktivitas tingkat fasilitas
Aktivitas tingkat fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses umum produksi suatu pabrik. Aktivitas tersebut memberi manfaat bagi organisasi pada beberapa tingkat, tetapi tidak memberikan manfaat untuk setiap produk secara spesifik. Contohnya-contohnya meliputi manajemen pabrik, tata letak, pendukung program komunitas, keamanan, pajak kekayaan, dan penyusutan di pabrik.

2.1.7.4  Pemicu Biaya
Pemicu biaya merupakan faktor-faktor yang akan menyebabkan perubahan dalam biaya total dari objek biaya yang terkait. Suatu aktivitas mungkin mempunyai banyak pemicu biaya yang berhubungan dengannya.
ABC Systems mampu menghasilkan keakuratan pengukuran biaya yang lebih baik bila dibandingkan dengan penggunaan sistem biaya tradisional. Hal ini disebabkan ABC menggunakan lebih banyak cost driver dibandingkan dengan sistem biaya tradisional yang hanya menggunakan satu atau dua cost driver.  Jenis cost driver yang digunakan dalam ABC systems meliputi cost driver yang berkaitan dengan unit (misalnya jam mesin, jam tenaga kerja langsung, dan lain-lain) maupun cost driver yang tidak berkaitan dengan unit misalnya jumlah batch, jumlah persiapan, jumlah perubahan desain dan lain-lain. Karena sangat pentingnya cost driver dalam penentuan biaya supaya menghasilkan ketepatan informasi, maka perlu diperhatikan faktor-faktor yang  harus dipertimbangkan dalam memilih cost driver yang akan digunakan. Menurut Cooper dan Kaplan (1991:383) mengatakan bahwa terdapat tiga faktor yang dapat digunakan dalam memilih cost driver, yaitu:
1.      Kemudahan untuk memperoleh data yang dibutuhkan oleh cost driver tersebut.
Untuk mengurangi biaya dari pengukuran cost driver, Activity Based Costing systems mencoba untuk menggunakan driver dengan kuantitas yang mudah diketahui. Sebagai contoh, driver berupa jam inspeksi dapat digantikan dengan driver berupa jumlah inspeksi. Pergantian ini pada umumnya diterima apabila durasi dari setiap inspeksi adalah sama. Penggunaan cost driver berupa jumlah dari transaksi ini merupakan sebuah teknik untuk mengurangi biaya pengukuran dalam perancangan Activity Based Costing systems. Data yang digunakan untuk pemilihan  cost driver pada umumnya adalah data yang tersedia untuk digunakan supaya menghasilkan informasi yang lebih nyata dan menghindari pengeluaran-pengeluaran untuk mencari informasi baru.
2.      Korelasi antara konsumsi dari aktivitas seperti yang digambarkan melalui cost driver dengan konsumsi yang sesungguhnya.
Penggunaan cost driver yang secara tidak langsung menunjukkan konsumsi aktivitas oleh produk menimbulkan resiko, yakni cost driver tersebut akan mengakibatkan distorsi biaya produk karena tidak mampu menunjukkan secara akurat konsumsi aktual produk terhadap aktivitas. Sebagai contoh, apabila aktivitas inspeksi membutuhkan  durasi waktu yang berbeda-beda, penggunaan jumlah inspeksi sebagai cost driver tidak berkaitan secara tepat dengan penggunaan jam inspeksi sebagai cost driver. Korelasi merupakan bagian penting dalam pemilihan cost driver. Cost driver harus mencerminkan sumber daya yang dikonsumsi.
3.      Pengaruh cost driver terhadap perilaku
Pemilihan cost driver juga harus mempertimbangkan pengaruh dari cost driver tersebut terhadap perilaku individu dalam perusahaan, terutama apabila cost driver tersebut digunakan untuk penilaian prestasi.
Cost driver yang digunakan dalam ABC Systems sangat bergantung pada tingkat keakurasian biaya yang diharapkan yang akan dilaporkan dan tingkat diversifikasi produk yang diproduksi. Semakin tinggi tingkat keakuratan yang diharapkan dan semakin besar tingkat diversifikasi produk, maka semakin banyak cost driver yang harus digunakan. Penerapan dan pemahaman yang tidak tepat mengenai cost driver akan menyebabkan kegagalan dalam ABC systems.

2.1.7.5  Penerapan Activity Based Costing Systems
Menurut Hansen dan Mowen (2003:122-127), proses penerapan Activity Based Costing systems dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu:
1.      Tahap Pertama
Pada tahap pertama dalam penerapan sistem ABC adalah sebagai berikut :
  1. Mengidentifikasi aktivitas
  2. Membebankan biaya ke pool biaya aktivitas
  3. Aktivitas yang berkaitan dikelompokkan untuk membentuk kumpulan sejenis.
  4. Biaya aktivitas yang dikelompokkan dijumlah untuk mendefinisikan kelompok biaya sejenis
  5. Menghitung tarif (overhead) kelompok.
2.      Tahap Kedua
Dalam tahap ini biaya setiap kelompok overhead ditelusuri ke produk dengan menggunakan tarif kelompok yang dikonsumsi oleh masing-masing produk, sehingga biaya aktivitas yang ada dibebankan kepada produk terhadap setiap aktivitas. Kemudian biaya overhead perunit diperoleh dengan menelusuri biaya-biaya overhead dari kelompok-kelompok tertentu pada produk. Total biaya tersebut kemudian dibagi dengan jumlah unit yang diproses dan akan menghasilkan biaya overhead perunit.
Menurut Blocher, Chen, dan Lin (2002:109) terdapat tiga langkah utama dalam merancang sebuah ABC systems, yaitu:
  1. Mengidentifikasi biaya sumber daya dan aktivitas
  2. Membebankan biaya sumber daya ke aktivitas
  3. Membebankan biaya aktivitas ke objek biaya
Garrison dan Noreen (2003:322) membagi proses penerapan Activity Based Costing systems menjadi enam tahap:
  1. Mengidentifikasi dan mendefinisikan aktivitas dan pool aktivitas
  2. Bila mungkin, menelusuri langsung ke aktivitas dan objek biaya
  3. Membebankan biaya ke pool biaya aktivitas
  4. Menghitung tarif aktivitas
  5. Membebankan biaya ke objek biaya dengan menggunakan tarif aktivitas dan ukuran aktivitas.
  6. Menyusun laporan manajemen.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas mengenai langkah-langkah dalam penerapan Activity Based Costing, maka dapat disimpulkan bahwa tahap-tahap penerapan ABC systems secara umum adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasikan aktivitas utama dan membuat kamus aktivitas, (2) menentukan biaya aktivitas-aktivitas tersebut, (3) mengidentifikasikan ukuran konsumsi untuk biaya aktivitas (penggerak aktivitas), (4) menghitung tarif aktivitas, (5) mengukur permintaan aktivitas tiap produk, (6) menghitung biaya produk.

2.1.7.6  Manfaat Activity Based Costing systems
ABC systems memperbaiki keakuratan perhitungan biaya produk dengan mengakui bahwa banyak dari biaya overhead tetap, ternyata bervariasi secara proporsional dengan perubahan selain volume produksi. Dengan memahami apa yang menyebabkan biaya-biaya tersebut meningkat atau menurun, biaya tersebut dapat ditelusuri ke masing-masing produk. Hubungan sebab akibat ini memungkinkan manajer untuk memperbaiki ketepatan perhitungan biaya produk, yang dapat secara signifikan memperbaiki pengambilan keputusan. Selain itu, kelompok biaya overhead tetap yang besar tersebut tidak lagi begitu misterius. Mengetahui perilaku biaya-biaya tersebut akan memungkinkan manajer untuk menggunakan lebih banyak pengendalian atas berbagai aktivitas yang menimbulkan biaya-biaya tersebut.
Menurut Cooper dan Kaplan (1991:276), terdapat tiga manfaat ABC systems bagi manajemen perusahaan, yaitu:
1.      Improved Decision, perhitungan biaya produk dengan menggunakan ABC systems menghasilkan informasi yang lebih akurat, sehingga manajemen perusahaan dapat mengambil keputusan dengan tepat karena terhindar dari distorsi yang terjadi pada perhitungan biaya produk menggunakan sistem tradisional.
2.      Continuous Improvement Activities to Reduce Overhead Costs, dalam penerapan ABC systems penghematan biaya secara signifikan dapat dilakukan dengan cara penanganan bahan baku secara lebih efisien tanpa harus menurunkan harga beli bahan baku, mengurangi biaya set up dan membuat penjadwalan produksi. Dengan disertai perbaikan aktivitas secara terus menerus dan penggunaan informasi yang lebih akurat maka seharusnya penghematan biaya tersbut dapat tercapai.
3.      Ease of Determining Relevant Cost, ABC systems mengurangi kebutuhan untuk melaksanakan pembelajaran khusus mengenai analisa yang lebih mendalam untuk mendapatkan informasi yang relevan dalam rangka keputusan tertentu dengan meningkatkan akurasi dari laporan biaya produk dan menghasilkan biaya secara terpisah dari keempat kategori aktivitas.
Agar manfaat-manfaat diatas didapat dengan optimal, Cooper, Robin, dan Kaplan (1991:372) mensyaratkan tiga hal yang harus dipenuhi, yaitu:
1.      Diversitas produk oleh perusahaan termasuk tinggi
Bahwa produk memproduksi berbagai macam jenis atau lini produk yang diproses dengan menggunakan beberapa fasilitas manufaktur yang sama, sehingga akan timbul masalah dalam mengalokasikan sumber daya yang dikonsumsi oleh masing-masing produk.
2.      Perusahaan menghadapi persaingan yang ketat
Bahwa terdapat beberapa perusahaan yang memproduksi produk sejenis, sehingga dalam keadaan persaingan memperbesar pangsa pasar ini informasi tentang harga pokok produk yang akurat akan mendukung berbagai macam pengambilan keputusan manajemen.
3.      Biaya pengukuran dapat dikatakan rendah
Bahwa biaya-biaya pengukuran yang digunakan untuk menghasilkan informasi biaya produk tersebut haruslah lebih rendah dibandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh dimasa yang akan datang.

2.1.7.7  Kelemahan Activity Based Costing systems
Ada beberapa kelemahan yang dimiliki oleh Activity Based Costing systems menurut Carter dan Usry (2002:513), yaitu:
1.      ABC systems mengharuskan manajer membuat perubahan radikal dalam cara berpikir mereka mengenai biaya.
Cara yang paling berguna untuk memahami logika ABC systems adalah dengan mengakui bahwa ABC memperlakukan semua biaya sebagai biaya variabel, karena ABC didesain sebagai alat pembuat keputusan strategis dalam jangka panjang.
2.      ABC systems tidak menunjukkan biaya yang akan dapat dihindari dengan menghentikan suatu produk.
ABC berusaha untuk menunjukkan konsumsi sumber daya dalam jangka panjang dari setiap produk, namun tidak memprediksikan berapa banyak pengeluaran yang akan dipengaruhi oleh keputusan tertentu.
3.      ABC systems memerlukan usaha pengumpulan data melampaui yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan pelaporan eksternal
Di perusahaan yang memiliki sejarah sukses yang panjang dengan mengandalkan pada perhitungan biaya tradisional, akan sulit untuk meyakinkan manajemen bahwa sistem perhitungan biaya baru dibutuhkan. Solusi bagi masalah ini adalah untuk terus menggunakan sistem tradisional yang selama ini sudah dikenal, dan melakukan eksperimen dengan ABC secara terpisah, dengan cara menggunakannya pertama-tama untuk satu lini produk, satu fasilitas, atau suatu kategori biaya seperti biaya departemen jasa. Jika wawasan penting baru diperoleh dari ekperimen tersebut, manajer menjadi yakin bahwa ABC pantas diterapkan secara luas.


2.1.7.8  Perbandingan Antara ABC Systems dan Sistem Perhitungan Biaya Tradisional
Suatu perbedaan umum antara ABC systems dan sistem tradisional adalah homogenitas dari biaya dalam satu tempat penampungan biaya. ABC mengharuskan perhitungan tempat penampungan biaya suatu aktivitas, maupun identifikasi suatu pemicu aktivitas untuk setiap aktivitas yang signifikan dan mahal. Akibatnya, ada lebih banyak kehati-hatian, paling tidak dalam membentuk tempat penampungan biaya dalam ABC systems dibandingkan dalam perhitungan biaya tradisional. Hasil yang biasa ditemukan adalah bahwa semua biaya dalam satu tempat penampungan biaya aktivitas sangat serupa dalam hal hubungan logis antara biaya-biaya tersebut dengan pemicu aktivitas, sementara hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk kebanyakan sistem tradisional.
Perbedaan lain antara ABC systems dan sistem tradisional adalah bahwa semua ABC systems adalah sistem perhitungan biaya dua tahap, sementara sistem tradisional bisa merupakan sistem perhitungan satu atau dua tahap. Di tahap pertama dalam ABC systems, tempat penampungan biaya aktivitas dibentuk ketika biaya sumber daya dialokasikan ke aktivitas berdasarkan pemicu sumber daya. Di tahap kedua, biaya aktivitas dialokasikan dari tempat penampungan biaya aktivitas ke produk atau objek biaya final lainnya. Tetapi, sistem biaya tradisional menggunakan dua tahap hanya apabila jika departemen atau pusat biaya lain dibuat. Biaya sumber daya dialokasikan ke pusat biaya di tahap pertama, dan kemudian biaya dialokasikan dari pusat biaya ke produk di tahap kedua. Beberapa sistem tradisional hanya terdiri dari satu tahap karena sistem tersebut tidak menggunakan pusat biaya yang terpisah, tetapi tidak ada ABC systems yang hanya terdiri dari satu tahap.

2.2  Penelitian Sebelumnya
Penerapan metode ABC systems untuk menentukan harga pokok produk telah banyak dilakukan dalam penelitian skripsi. Namun, pada umumnya penelitian tersebut diterapkan pada perusahaan manufaktur, sedangkan penelitian mengenai penerapan Activity Based Costing systems pada perusahaan jasa tidak sebanyak penelitian pada perusahaan mnufaktur.
Aminda Citra Febrianni (2007) melakukan penelitian pada sebuah perusahaan percetakan. Dalam penelitiannya, diungkapkan bahwa perusahaan masih menggunakan metode tradisional dalam menghitung harga pokok produksi. Untuk perhitungan biaya overhead, perusahaan tersebut menggunakan tarif yang diperoleh dengan cara membagi biaya overhead yang telah dianggarkan dengan taksiran jam tenaga kerja langsung selama satu tahun. Tarif ini berlaku untuk semua produk yang dihasilkan perusahaan, jadi perusahaan hanya menggunakan satu jenis cost driver yang berkaitan dengan volume produksi. Sehingga akan menimbulkan masalah karena beberapa biaya meningkat secara tidak proporsional dengan kenaikan volume produksi. Kendala ini akan semakin besar apabila diversifikasi produk semakin meningkat. Dengan penggunaan ABC systems akan dapat memberikan informasi harga pokok produksi dengan lebih akurat. Persamaan dengan penelitian sebelumnya adalah perusahaan yang dijadikan objek penelitian masih menggunakan metode tradisional dalam melakukan perhitungan harga pokok. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian sebelumnya dilakukan pada perusahaan percetakan, bukan pada perusahaan jasa konstruksi khususnya painting contractor.  

2.3  Model Analisis
Penelitian ini dilakukan dengan model analisis sebagai berikut:
GAMBAR 2.4
SKEMA MODEL ANALISIS

Activity Based Costing systems akan menghasilkan informasi yang lebih akurat mengenai perhitungan harga pokok konstruksi dan bermanfaat bagi pihak manajemen untuk pengambilan berbagai keputusan.
 
 



           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar