Powered By Blogger

Jumat, 22 Februari 2013

Pengertian Persediaan


Persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang sangat aktif dalam perusahaan dagang maupun perusahaan industri (perusahaan manufactur). Dalam perusahaan dagang persediaan dimiliki dalam kegiatan pembelian barang tanpa mengadakan perubahan bentuk. Sedangkan bagi perusahaan industri persediaan merupakan salah satu unsur penting diproses lebih lanjut sehingga menjadi barang siap jual. Pembelian dan penjualan mempunyai akibat langsung terhadap harga penjualan.
      Untuk menguraikan pengertian persediaan penulis mencoba mengutip beberapa ahli ekonomi sebagaimana Bambang Karyadi (2000 : 122) menyatakan bahwa persediaan adalah  barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan pada suatu saat tertentu dengan maksud dijual kembali baik secara langsung maupun melalui proses produksi dalam sirkulasi operasi normal perusahaan dalam hal ini termasuk pula barang-barang yang masih dalam proses produksi atau menunggu untuk digunakan.
      Sedangkan Bambang Riyanto  (2004 : 89) membahas pengertian persediaan, sebagai berikut persediaan adalah barang untuk perusahaan yang diadakan untuk dijual secara langsung sebagai usaha utama perusahaan atau pengembangan usaha bagi perusahaan atau masih diolah dalam proses produksi kemudian dijual sebagai barang dagangan dalam seluruh operasi normal perusahaan.
      Lebih jauh dikemukakan Nopriyono (1999 : 8), menyatakan bahwa istilah persediaan digunakan untuk menyatakan barang-barang yang berwujud  yaitu :
  -  Tersedia untuk dijual (barang dagangan/barang jadi).
- Masih dalam proses produksi untuk diselesaikan kemudian dijual (barang dalam proses/ pengolahan).
-   Akan  dipergunakan  untuk  produksi  barang-barang jadi yang akan dijual (bahan baku dan bahan penolong dalam perusahaan), dalam penjualan maupun yang dititipkan pada orang lain.
      Menurut Kriso Weygandi (1999 : 491) persediaan adalah pos harta yang ditahan untuk dijual dalam kegiatan usaha yang biasa atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam produksi barang yang akan dijual.
      Perusahaan dagang biasanya membeli persediaannya dalam bentuk yang sudah siap untuk dijual. Melaporkan harga pokok yang diterapkan dalam unit-unit tersimpan yang belum dijual sebagai persediaan barang dagangan.
     Dari keempat pengertian di atas, persediaan merupakan barang yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual kembali atau dipergunakan lebih lanjut untuk merubah bentuk dari persediaan bahan baku menjadi barang jadi yang akan dijual sebagai barang dagangan dalam seluruh operasi normal perusahaan tertentu. 
      Selanjutnya  Munandar (2000 : 94) mengemukakan bahwa persediaan industri digolongkan dalam empat bagian yaitu :                                                             
a.  Inventory of direct materials
    Persediaan barang yang belum dimasukkan dalam proses produksi, tetapi menunggu giliran untuk diolah lebih lanjut.
b.  Inventory of indirect materials
     Persediaan bahan pembantu adalah persediaan dari bahan-bahan yang secara tidak langsung dikerjakan dalam proses produksi.
c.  Inventory of work in process      
     Persediaan barang dalam proses pada akhir periode akuntansi masih berupa barang setengah jadi, selanjutnya akan diproses menjadi barang jadi.
d.  Inventory of finished good      
     Persediaan barang jadi adalah persediaan barang-barang yang telah selesai dikerjakan dan siap untuk dijual.
      Selanjutnya, D. Hartanto (2000 : 14) menyatakan bahwa persediaan adalah aktiva yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal dalam proses produksi atau dalam perjalanan dan bentuk bahan atau  perlengkapan (suplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
     Penjelasan dan Standar Akuntansi Keuangan menyatakan bahwa, dalam memberikan suatu gambaran bahwa persediaan harus digolongkan (dipisahkan) sesuai dengan jenis persediaan tersebut dan disajikan dengan harga perolehan atau harga pokoknya.
1.  Metode Pencatatan Persediaan
      Titik berat daripada pencatatan adalah pengawasan dan pengamatan persediaan guna menentyukan persediaan secara fisik. Kalau D. Hartanto ( 2000 : 92) membadi prosedur pencatatan persediaan di dalam dua metode yaitu metode fisik, metode permanen (perpetual).
a.  Metode pisik
Menurut Zaki Baridwan (2001 : 47) mengartikan metode fisik sebagai berikut metode fisik adalah metode pencatatan persediaan yang tidak mengikuti mutasi persediaan sehingga untuk mengetahui jumlah persediaan pada suatu saat tertentu dengan menggunakan sistem pencatatan persediaan barang.
Pada metode ini dalam pencatatannya tidak ada hubungan antara transaksi pembelian dengan perkiraan persediaan barang, demikian pula penjualan atau pemakai barang dalam proses produksi.
Apakah terjadi pembelian barang, maka dijurnal sebgai berikut :
       Pembelian  ............... Rp. XXX
             Hutang Dagang  ............ Rp. XXX
        Apabila terjadi penjualan baik tentang barang dagangan maupun hasil produksi maka pencatatan di dalam jurnal, sebagai berikut : 
     Piutang dagang ............. Rp. XXX
             Penjualan  ................ Rp. XXX  
b.  Metode permanen (perpetual)
     Dalam metode ini setiap persediaan dibuktikan dalam rekening sendiri-sendiri yang merupakan buku pembantu persediaan. Sedangkan Zaki Baridwan (2001; 84) metode perpetual adalah metode pencatatan persediaan yang mengikuti mutasi persediaan baik kuantitasnya maupun harga pokoknya.
     Pengertian di atas, maka perincian dalam buku pembantu diawasi rekening kontrol persediaan barang dalam buku besar. Kalau terjadi pembelian barang,maka pencatatannya adalah : 
     Persediaan barang dagangan ..... Rp. XXX
                           Hutang dagang  ............... Rp. XXX  
     Atau Persediaan barang dagangan ..... Rp. XXX
                                 K a s   ...................... Rp. XXX  
   Apabila terjadi penjualan atau pemakaian bahan baku adalah
   1. Untuk mencatat transaksi penjualan
       Piutang dagang   ........ Rp. XXX
              Penjualan  ................. Rp. XXX  
   2. Untuk mencatat pembebanan harga pokok penjualan
       Harga pokok penjualan ....... Rp. XXX
           Persediaan barang dagangan  ........ Rp. XXX  
2. Metode Penilain persediaan 
          M. Munandar (2000 : 117) menyatakan bahwa metode penilaian persediaan barang adalah menentukan nilai persediaan yang dicantumkan dalam neraca. Persediaan akhir dihitung harga pokoknya dengan menggunakan beberapa cara pencatatan harga pokok persediaan akhir, metode penilaian adalah :
a. Metode harga pokok persediaan
b. Metode harga pokok pasar
c. Metode harga jual.
d. Metode harga pokok                                                                                                                   
   Metode harga pokok persediaan memakai metode, sebagai berikut :
   a. Metode fifo (first in first out)
   b. Metode lifo (last in first out)
   c. Harga rata-rata (average)
   d. Metode identifikasi khusus
ad a.  Metode fifo (first in first out)
Metode penerapan harga pokok persediaan bahwa barang-barang yang pertama dibeli juga barang yang pertama dijual dalam metode ini persediaan
akhir dinilai dengan harga pokok pembelian yang paling akhir.
ad b. Metode lifo (last in first out
         Metode penetapan harga pokok persediaan bahwa barang-barang yang paling terakhir dibeli itupula barang yang dijual pertama. Dalam metode ini persediaan akhir dinilai dengan harga pokok pembelian sesuai dengan pencatatan barang persediaan.
ad c.  Harga rata-rata (average)
Metode ini, penetapan harga pokok persediaan bahwa penerapan harga pokok rata-rata dari barang yang tersedia untuk dijual akan dipergunakan untuk melalui harga pokok barang yang dijual dan yang terdapat dalam persediaan. 
ad d. Metode identifikasi khusus
         Metode penetapan harga pokok untuk barang-barang yang siap dijual masih terdapat dalam persediaan yang didasarkan atas barang-barang yang siap dipasarkan.
          Soemarso S.R (1998 : 411) menyatakan bahwa persediaan barang dadangan (merchandise inventory) adalah barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali.
b. Metode yang rendah cacatan harga perolehan atau harga pasar
Penilaian harga pasar yang dilakukan sebagai alat ganti untuk memproduksi barang suatu saat tertentu dengan tujuan untuk menentukan nilai yang sebenarnya dalam laporan keuangan dengan ketentuan bahwa :
   - Harga pasar tidak boleh rendah dari pada nilai  bersih yang dapat direalisasikan.
   - Harga pasar tidak boleh rendah dari pada nilai  bersih  yang dapat  direalisasikan  sesudah  dikurangi  dengan laba yang rendah.
c.    Metode harga jual
       Metode harga jual yang merupakan penyimpangan dari prinsip harga pokok untuk penilaian persediaan dengan mencantumkan persediaan dengan harga jual laba bersihnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar