Powered By Blogger

Sabtu, 17 Agustus 2013

“Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan menggunakan Metode Full Costing ''

A.    Akuntansi Biaya

1.      Pengertian Akuntansi Biaya

Perusahaan yang mengolah bahan baku untuk menghasilkan barang jadi memerlukan prosedur serta pencatatan tentang proses produksi yang mengolah bahan-bahan tersebut. Pemakaian bahan untuk proses produksi perhitungan biaya produksi untuk menilai persediaan barang jadi ataupun barang setengah jadi dan persediaan bahan yang sedang diproses tetapi belum selesai, kesemuanya ini termasuk dalam bidang akuntansi biaya.
Akuntansi biaya biasanya hanya dianggap berlaku untuk operasi pabrikase, namun dalam dunia ekonomi dewasa ini setiap jenis organisasi dari berbagai ukuran dapat mengambil manfaat dari penggunaan konsep dan teknik akuntansi biaya. Dalam hal ini penulis hanya menerapkan akuntansi biaya sesuai dengan judul skripsi yang ditulis dalam memecahkan suatu masalah-masalah yang terjadi di lapangan.
Akuntansi biaya juga dapat diartikan sebagai kunci atau alat yang penting guna membantu manajemen dalam melakukan pertimbangan, perencanaan, pengawasan serta sebagai penilaian terhadap kegiatan perusahaan.
Menurut Mulyadi bahwa pengertian Akuntansi Biaya ialah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk jasa dengan cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya.1)
Matz ‑ Usry mendefinisikan akuntansi biaya sebagai berikut :
“Cost accounting sometime call management accounting, should be considered the key managerial partner, furnishing management with the necessary accounting tools to plan and control activities.” 2)

Kemudian Abdul Halim mengemukakan definisi akuntansi biaya sebagai berikut :
“Akuntansi biaya adalah akuntansi yang membicarakan tentang penentuan harga pokok (cost) dari suatu produk yang diproduksi (atau dijual di pasar) baik untuk memenuhi pesanan dan pemesan maupun untuk menjadi persediaan barang dagangan. yang akan dijual.” 3)

Selanjutnya dikemukakan pula definisi akuntansi biaya menurut R. A. Supriyono dalam bukunya Akuntansi Biaya, bahwa :
Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan alat manajemen untuk memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis serta menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya.4)

Jadi akuntansi biaya merupakan penentuan harga pokok suatu produk dengan melakukan suatu proses pencatatan, penggolongan dan penyajian transaksi biaya secara sistematis serta menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya.
Akuntansi biaya dinyatakan oleh Fess and Warren dalam bukunya adalah :
“Cost accounting emphasizes the determination and the control of costs. It is concerned primarily with the costs of manufacturing processes and of manufactured products. In addition, one of the most important duties of the cost accountant is to gather and explain cost data, both actual and prospective. Management uses these data in controlling current operations and in planning for the future. 5)

Dari definisi di atas, jelaslah bahwa fungsi akuntansi biaya adalah sebagai alat informasi bagi seorang pimpinan dalam rangka pengambilan keputusan. Disamping itu, dikemukakan juga bahwa akuntansi biaya pada umumnya identik dengan manajerial dan sebagai alat bagi seorang manajer dalam merencanakan dan mengontrol serta mengevaluasi kegiatan perusahaan.
Menurut R. A. Supriyono, Akuntansi biaya bertujuan untuk :
1.       Perencanaan dan pengendalian biaya.
2.       Penentuan harga pokok produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan dengan tepat dan teliti.
3.       Pengambilan keputusan oleh manajemen. 6)

Adapun menurut Matz and Usry, Akuntansi Biaya mempunyai peranan sebagai berikut :
1.      Menyusun dan melaksanakan rencana dan anggaran operasi perusahaan dalam kondisi yang ekonomis dan bersaing.
2.      Menetapkan metode kalkulasi biaya dan prosedur yang menjamin adanya pengendalian biaya dan jika memungkinkan, pengurangan atau pembebanan biaya.
3.      Menentukan nilai persediaan dalam rangka kalkulasi biaya dan penetapan harga, dan sewaktu-waktu memeriksa jumlah persediaan dalam bentuk fisis.
4.      Menghitung biaya dan laba perusahaan untuk periode akuntansi tahunan atau periode yang lebih singkat.
5.      Memilih alternatif terbaik yang bisa menaikkan pendapatan atau menurunkan biaya.7)

Akuntansi biaya memberikan klasifikasi dan pembagian biaya yang tepat dalam mengontrol bahan baku, bahan penolong, upah tenaga kerja dan biaya-biaya tak langsung menetapkan standar untuk mengukur efisiensi, memberikan data dan menyusun anggaran serta untuk menetapkan harga pokok produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan secara teliti.
Adapun tujuan dari akuntansi biaya adalah untuk menyediakan informasi biaya bagi manajemen guna membantu mereka dalam mengelola perusahaan.
Penentuan harga pokok produk juga merupakan tujuan dari pada perusahaan pabrikase hanya dapat dilakukan jika diadakan pemisahan antara biaya produksi dan biaya non produksi
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka biaya-biaya yang terjadi di dalam perusahaan harus dicatat dan digolongkan sedemikian rupa, sehingga jelas yang mana biaya langsung dan biaya tak langsung yang termasuk biaya produksi dan apa saja yang merupakan biaya non produksi, dengan demikian memungkinkan untuk menentukan harga pokok atau menetapkan biaya produksi secara baik dan teliti. Akuntansi biaya bukanlah tujuan tetapi merupakan alat dari manajemen untuk berbagai tujuan dan keperluan yang dibutuhkan manajemen termasuk pengawasan dan penekanan biaya produk yang dihasilkan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akuntansi biaya itu sendiri dapat membantu manajemen dalam mengambil keputusan mengenai :

1.      Penentuan harga pokok persatuan produk atau jasa.
2.      Pengendalian biaya.
3.      Pengendalian data biaya bagi pengambilan keputusan khusus, perumusan kebijaksanaan dan perencanaan jangka panjang.

2.      Siklus Akuntansi Biaya

Siklus kegiatan perusahaan manufaktur dimulai dengan pengolahan bahan baku di bagian produksi dan berakhir dengan penyerahan produk jadi ke bagian gudang. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan harga pokok bahan baku yang dimasukkan dalam proses produksi, dilanjutkan dengan pencatatan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang dikonsumsi untuk produksi serta berakhir dengan disajikannya harga pokok produk jadi yang diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang.
Siklus akuntansi biaya dalam perusahaan manufaktur digunakan untuk mengikuti proses pengolahan, sejak dimasukkannya bahan baku ke dalam proses produksi sampai dihasilkannya produk jadi dari proses produksi tersebut. Hubungan antara siklus pembuatan produk dan siklus akuntansi biaya dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini :
Gambar 1. Hubungan antara siklus pembuatan produk dan siklus akuntansi biaya.

Siklus                                                                     Siklus
Pembuatan Produk                                                 Akuntansi  Biaya

Pembelian dan penyimpanan bahan baku
 
Pengolahan bahan baku menjadi produk jadi
 
Penentuan harga pokok produk jadi



 
 














3.      Pengertian Biaya dan Penggolongan Biaya

Perusahaan dapat dipandang sebagai salah satu sistem yang memproses masukan untuk menghasilkan keluaran. Perusahaan yang bertujuan mencari laba mengolah masukan berupa sumber ekonomi untuk menghasilkan keluaran berupa sumber ekonomi yang lain yang nilainya lebih tinggi dari pada nilai masukannya.
Untuk menjamin suatu kegiatan usaha menghasilkan kegiatan keluaran yang lebih tinggi dari pada nilai masukan yang dikorbankan, akuntansi biaya mengukur pengorbanan nilai masukan tersebut guna menghasilkan informasi bagi manajemen yang salah satu manfaatnya adalah untuk mengukur apakah kegiatan usahanya menghasilkan laba atau rugi.
Pengertian biaya pada hakekatnya merupakan pengorbanan yang diukur dengan satuan uang yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan, yakni dalam hal memproduksi barang dan jasa.
Dalam akuntansi biaya, biaya merupakan semua pengeluaran yang sudah terjadi (expired) yang digunakan dalam memproses produk yang dihasilkan, sernua biaya yang terjadi tersebut membentuk suatu harga pokok yang kalau dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan atau produk yang dipesan menghasilkan harga pokok per unit.
Berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian biaya itu sendiri.
Menurut R. A. Supriyono bahwa biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan (revenues) dan akan dipakai sebagai pengurang penghasilan.8)
Sedangkan menurut Mulyadi bahwa biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang mungkin akan terjadi untuk tujuan tertentu.9)

Kemudian Selamet Sugiri mendefinisikan biaya sebagai berikut:
“Cost (biaya) adalah pengorbanan sumber daya ekonomis tertentu untuk menghasilkan sumber daya ekonomi lainnya, sedangkan expense adalah pengorbanan ekonomis untuk memperoleh penghasilan (revenue).”10)

Selanjutnya pengertian biaya menurut Letricia G. Raiburn adalah “Biaya (cost) adalah mengukur pengorbanan ekonomis yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi.” 11)
Dari beberapa definisi di atas tersirat bahwa biaya merupakan semua pengorbanan ekonomi yang dapat diukur dengan unit moneter baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi tidak dapat dihindarkan dan digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan. Oleh karena itu merupakan persyaratan dasar bahwa biaya harus diartikan dalam hubungannya dengan tujuan dan keperluan penggunaannya.
Dalam menggolongkan dan mencatat biaya-biaya hendaknya harus selalu diperhatikan untuk tujuan apa manajemen memerlukan informasi biaya tersebut, untuk itu maka sebaiknya dipakai konsep “different cost and different purposes”, karena tidak ada suatu konsep biaya yang dapat memenuhi berbagai macam tujuan.

Apabila penggolongan biaya-biaya untuk tujuan penentuan harga pokok produk, maka penggolongan biaya harus disesuaikan dengan proporsinya masing-masing yaitu dengan menelusuri biaya-biaya yang ada berdasarkan pertimbangan dan sebab pembebanan dari biaya tersebut.

Untuk menelusuri atau meneliti tentang biaya yang terjadi di dalam kegiatan operasi perusahaan, diperlukan data biaya yang merupakan sumber informasi, selain itu juga perlu adanya struktur organisasi dan prosedur atau proses produksi yang jelas dalam pengolahan bahan baku sampai kepada bahan jadi pasa suatu perusahaan atau pabrik.
Menurut Mulyadi, biaya digolongkan dalam 5 (lima) penggolongan biaya yaitu :
1.      Penggolongan biaya menurut obyek pengeluaran.
Dalam cara penggolongan ini nama obyek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya.
2.      Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan.
Pada penggolongan biaya ini dikelompokkan menjadi tiga yaitu :
a.      Biaya Produksi
b.     Biaya Pemasaran
c.      Biaya Administrasi  dan Umum
3.     Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan suatu yang dibiayai.
Pada penggolongan ini dibagi menjadi :
a.      Biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah suatu yang dibiayai.
b.      Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
4.      Penggolongan biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatannya dibagi menjadi :
a.       Biaya variabel
b.      Biaya semi variabel
c.       Biaya semi tetap
d.      Biaya tetap
5.      Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya.
Pengeluaran Modal (Capital Expenditure) adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya satu tahun) Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure) adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi pengeluaran tersebut.12)

 

Oleh karena itu dalam akuntansi biaya terdapat berbagai macam cara penggolongan biaya berikut ini :
1.      Penggolongan biaya berdasarkan obyek pengeluaran.
2.      Penggolongan biaya atas dasar fungsi-fungsi pokok dalam perusahaan (functional cost classification).
3.      Penggolongan biaya atas dasar hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.
4.      Penggolongan biaya sesuai dengan tingkah lakunya terhadap perubahan volume kegiatan.
5.      Penggolongan biaya atas dasar waktu. 13)

1.      Penggolongan biaya atas dasar obyek pengeluaran dibagi menjadi 3 (tiga) golongan yaitu : Biaya bahan baku, Biaya tenaga kerja dan Biaya overhead pabrik.
Penggolongan biaya atas dasar obyek pengeluaran cocok digunakan dalam organisasi yang masih kecil. Penggolongan biaya ini bermanfaat untuk perencanaan perusahaan secara menyeluruh dan pada umumnya untuk kepentingan penyajian kepada pihak luar perusahaan.
2.      Penggolongan biaya atas dasar fungsi-fungsi pokok perusahaan
Biaya-biaya didalam perusahaan manufaktur dapat digolongkan menjadi biaya produksi, biaya administrasi dan umum dan biaya pemasaran.
Biaya produksi adalah biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Biaya produksi dibagi menjadi 3 elemen (1) biaya bahan baku, (2) biaya tenaga kerja dan (3) biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja disebut biaya prime cost, sedangkan biaya overhead pabrik disebut conversion cost.
Biaya administrasi dan umum adalah biaya-biaya yang terjadi hubungannya dengan kegiatan-kegiatan yang tidak dapat diidentifikasikan dengan aktivitas produksi maupun pemasaran. Contohnya adalah gaji direksi, biaya-biaya bagian akuntansi dan personalia, biaya telepon dan lain-lain.
Ada dua macam perlakuan terhadap biaya administrasi dan umum yaitu :
a.       Biaya administrasi dan umum dialokasikan kepada dua fungsi pokok dalam perusahaan : fungsi produksi dan fungsi pemasaran. Hal ini dilakukan karena pada dasarnya biaya administrasi dan umum dikeluarkan untuk dua fungsi pokok tersebut.
b.      Memisahkan biaya administrasi dan umum sebagai kelompok biaya tersendiri dan tidak mengalokasikan ke dalam fungsi produksi maka biaya produksi akan bertambah. Jika ada produk yang belum laku terjual pada akhir periode maka ada sebagian biaya administrasi dan umum yang masih melekat pada persediaan pokok tersebut. Pengendalian biaya administrasi dan umum dapat lebih mudah dilakukan, jika biaya tersebut dikelompokkan dan disajikan secara terpisah.
Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh atau memenuhi pesanan dari pihak luar, begitu juga untuk menarik pihak luar dengan mengadakan promosi, advertensi dan sebagainya. Biaya pemasaran dan biaya administrasi disebut juga biaya komersial (commercial expenses).
3.     Penggolongan biaya atas dasar hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai
Biaya dapat dihubungkan dengan sesuatu yang dibiayai atas obyek pembiayaan. Apabila perusahaan mengolah bahan baku menjadi produk jadi, maka sesuatu yang dibiayai adalah berupa produk, sedangkan jika perusahaan menghasilkan jasa , maka sesuatu yang dibiayai adalah berupa penyerahan jasa tersebut.
Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat digolongkan menjadi biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, dimana ada sesuatu yang dibiayai. Jika tidak ada sesuatu yang dibiayai maka biaya ini tidak akan terjadi. Biaya tak langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
Biaya langsung dan biaya tidak langsung harus dibebankan dalam hubungannya dengan produk apabila perusahaan menghasilkan lebih dari satu produk. Jika perusahaan hanya memproduksi satu macam produk, maka semua jenis biaya tersebut adalah biaya langsung, sehingga tidak perlu dibedakan antara biaya langsung dan biaya tidak langsung. Contohnya perusahaan semen, perusahaan gula.
Dalam hubungannya denga produk, biaya produksi dibagi menjadi 3 (tiga) unsur yaitu : biaya bahan langsung (bahan baku), biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik (biaya produksi tak langsung).
Bahan baku adalah bahan yang diproses yang menjadi barang jadi yang membentuk bagian menyeluruh dari pada produk jadi dan biaya bahan baku adalah harga pokok bahan baku tersebut yang diolah dalam proses produksi.
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang jasanya dapat diperhitungkan langsung dalam pembuatan produk tertentu. Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja yang dapat diidentifikasikan secara langsung terhadap produk tertentu.
Biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi, selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik terdiri dari biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tak langsung dan biaya-biaya produksi tak langsung lainnya.
4.      Penggolongan biaya sesuai dengan tingkah lakunya terhadap perubahan volume kegiatan.
Untuk keperluan pengendalian biaya dan pengambilan keputusan, biaya dapat digolongkan sesuai dengan tingkah lakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, yaitu biaya tetap, biaya variabel dan biaya semi variabel. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap, tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkatan tertentu. Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume atau aktivitas. Biaya semi variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas tetapi tingkat perimbangannya tidak proporsional atau sebanding.
5.      Penggolongan biaya atas dasar waktu
Perhitungan laba atau rugi suatu perusahaan dilakukan dengan berbagai cara mempertemukan penghasilan yang diperoleh dalam satu periode akuntansi tertentu, dengan biaya-biaya yang terjadi di dalam periode yang sama. Atas dasar waktu biaya dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu : (1) Pengeluaran modal (capital expenditure), (2) Pengeluaran penghasilan (revenue expenditure).
Pengeluaran modal adalah biaya-biaya yang dinikmati oleh lebih dari satu periode akuntansi. Dimana pada saat terjadinya, pengeluaran tersebut dicatat sebagai harga pokok aktiva dan pembebanannya pada periode akuntansi yang menikmatinya.
Pengeluaran penghasilan adalah biaya-biaya yang hanya bermanfaat di dalam periode akuntansi dimana biaya tersebut terjadi. Pada saat terjadinya pengeluaran penghasilan tersebut dibebankan sebagai biaya dan dipertemukan dengan penghasilan yang diperoleh didalam periode akuntansi dimana biaya tersebut terjadi.

4.      Metode Penentuan Harga Pokok Produksi

Metode penentuan harga pokok produksi adalah cara untuk memperhitungkan unsur-unsur biaya kedalam harga pokok produksi. Dalam memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi, terdapat dua pendekatan yaitu full costing dan variabel costing.
a.      Full Costing
Full costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang berperilaku variabel maupun tetap.
Menurut LM Samryn, full costing adalah :
“Full costing adalah metode penentuan harga pokok yang memperhitungkan semua biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan overhead tanpa memperhatikan perilakunya.”14)

Pendekatan full costing yang biasa dikenal sebagai pendekatan tradisional menghasilkan laporan laba rugi dimana biaya-biaya di organisir dan sajikan berdasarkan fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan. Laporan laba rugi yang dihasilkan dari pendekatan ini banyak digunakan untuk memenuhi pihak luar perusahaan, oleh karena itu sistematikanya  harus disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk menjamin informasi yang tersaji dalam laporan tersebut.


b.      Variabel Costing
Variabel costing merupakkan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.
Dalam pendekatan ini biaya-biaya yang diperhitungkan sebagai harga pokok adalah biaya produksi variabel yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel. Biaya-biaya produksi tetap dikelompokkan sebagai biaya periodik bersama-sama dengan biaya tetap non produksi.
Menurut Mas’ud Machfoed variabel costing adalah “ Suatu metode penentuan harga pokok dimana biaya produksi variabel saja yang dibebankan sebagai bagian dari harga pokok.”15)
Pendekatan variabel costing di kenal sebagai contribution approach merupakan suatu format laporan laba rugi yang mengelompokkan biaya berdasarkan perilaku biaya dimana biaya-biaya dipisahkan menurut kategori biaya variabel dan biaya tetap dan tidak dipisahkan menurut fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan.
Dalam pendekatan ini biaya-biaya berubah sejalan dengan perubahan out put yang diperlakukan sebagai elemen harga pokok produk. Laporan laba rugi yang dihasilkan dari pendekatan ini banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pihak internal oleh karena itu tidak harus disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.


4.      Perbedaan Full Costing dan Variabel Costing
Perbedaan pokok antara metode full costing dan variabel costing sebetulnya terletak pada perlakuan biaya tetap produksi tidak langsung. Dalam metode full costing dimasukkan unsur biaya produksi karena masih berhubungan dengan pembuatan produk berdasar tarif (budget), sehingga apabila produksi sesungguhnya berbeda dengan budgetnya maka akan timbul kekurangan atau kelebihan pembebanan. Tetapi pada variabel costing memperlakukan biaya produksi tidak langsung tetap bukan sebagai unsur harga pokok produksi, tetapi lebih tepat dimasukkan sebagai biaya periodik, yaitu dengan membebankan seluruhnya ke periode dimana biaya tersebut dikeluarkan sehingga dalam variabel costing tidak terdapat pembebanan lebih atau kurang.
Adapun unsur biaya dalam metode full costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang sifatnya tetap maupun variabel. Sedangkan unsur biaya dalam metode variabel costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang sifatnya variabel saja dan tidak termasuk biaya overhead pabrik tetap.
Akibat perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya perbedaan lain yaitu :
a.       Dalam metode full costing, perhitungan harga pokok produksi dan penyajian laporan laba rugi didasarkan pendekatan “fungsi”. Sehingga apa yang disebut sebagai biaya produksi  adalah seluruh biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi, baik langsung maupun tidak langsung, tetap maupun variabel. Dalam metode variabel costing, menggunakan pendekatan “tingkah laku”, artinya perhitungan harga pokok dan penyajian dalam laba rugi didasarkan atas tingkah laku biaya. Biaya produksi dibebani biaya variabel saja, dan biaya tetap dianggap bukan biaya produksi.
b.       Dalam metode full costing, biaya periode diartikan sebagai biaya yang tidak berhubungan dengan biaya produksi, dan biaya ini dikeluarkan dalam rangka mempertahankan kapasitas yang diharapkan akan dicapai perusahaan, dengan kata lain biaya periode adalah biaya operasi. Dalam metode variabel costing, yang dimaksud dengan biaya periode adalah biaya yang setiap periode harus tetap dikeluarkan atau dibebankan tanpa dipengaruhi perubahan kapasitas kegiatan. Dengan kata lain biaya periode adalah biaya tetap, baik produksi maupun operasi.
c.       Menurut metode full costing, biaya overhead tetap diperhitungkan dalam harga pokok, sedangkan dalam variabel costing biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periodik. Oleh karena itu saat produk atau jasa yang bersangkutan terjual, biaya tersebut masih melekat pada persediaan produk atau jasa. Sedangkan dalam variabel costing, biaya tersebut langsung diakui sebagai biaya pada saat terjadinya.
d.      Jika biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atau jasa berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka dan jumlahnya berbeda dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya maka selisihnya dapat berupa pembebanan overhead pabrik berlebihan (over-applied factory overhead). Menurut metode full costing, selisih tersebut dapat diperlakukan sebagai penambah atau pengurang harga pokok yang belum laku dijual (harga pokok persediaan).
e.       Dalam metode full costing, perhitungan laba rugi menggunakan istilah laba kotor (gross profit), yaitu kelebihan penjualan atas harga pokok penjualan.
f.        Dalam variabel costing, menggunakan istilah marjin kontribusi (contribution margin), yaitu kelebihan penjualan dari biaya-biaya variabel.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari perbedaan laba rugi dalam metode full costing dengan metode variable costing adalah :
a.         Dalam metode full costing, dapat terjadi penundaan sebagian biaya overhead pabrik tetap pada periode berjalan ke periode berikutnya bila tidak semua produk pada periode yang sama.
b.        Dalam metode variable costing seluruh biaya tetap overhead pabrik  telah diperlakukan sebagai beban pada periode berjalan, sehingga tidak terdapat bagian biaya overhead pada tahun berjalan yang dibebankan kepada tahun berikutnya.
c.         Jumlah persediaan akhir dalam metode variable costing lebih rendah dibanding metode full costing. Alasannya adalah dalam variable costing hanya biaya produksi variabel yang dapat diperhitungkan sebagai biaya produksi.
d.        Laporan laba rugi full costing tidak membedakan antara biaya tetap dan biaya variabel, sehingga tidak cukup memadai untuk analisis hubungan biaya volume dan laba (CVP)  dalam rangka perencanaan dan pengendalian.
Dalam praktiknya, variable costing tidak dapat digunakan secara eksternal untuk kepentingan pelaporan keuangan kepada masyarakat umum atau tujuan perpajakan.

B.     Metode Pengumpulan Biaya Produksi

Dalam menyusun harga pokok dari suatu perusahaan sangat erat hubungannya dengan metode yang akan dipakai. Metode pengumpulan biaya produksi, dimana metode pengumpulan harga pokok produksi tergantung dari sifat pengolahan produk yang pada dasarnya sifat pengolahan produk tersebut dapat dibedakan kedalam 2 (dua)  klasifikasi, yaitu :
1.      Pengolahan produk yang didasarkan atas pesanan
2.      Pengolahan produk yang merupakan produksi massa
Oleh karena itu, metode pengumpulan harga pokok produksi pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
1.      Metode harga pokok pesanan (Job order cost method)
2.      Metode harga pokok proses (Process cost method)
Menurut Mulyadi dalam bukunya :
Metode harga pokok pesanan adalah cara penentuan harga pokok produk dimana biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan-pesanan tertentu dan harga pokok produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan. Sedangkan yang dimaksud metode harga pokok proses adalah produk dimana biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka waktu tertentu dan biaya produksi persatuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi dalam proses tertentu, selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan diproses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan. 16)

Adapun R. A. Supriyono mendefinisikan sebagai berikut :
Metode harga pokok pesanan adalah metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya dikumpulkan untuk setiap pesanan atau kontrak atau jasa secara terpisah, dan setiap pesanan atau kontrak dapat dipisahkan identitasnya. Sedangkan yang dimaksud dengan metode harga pokok proses adalah metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya dikumpulkan untuk setiap satuan waktu tertentu (misalnya bulan, triwulan, semester, tahun).17)

Berikut ini akan disajikan format perhitungan antara harga pokok pesanan dan harga pokok proses sebagai berikut :
-          Harga pokok pesanan
Taksiran biaya produksi :
·         Taksiran biaya bahan baku                                         Rp xxx
·         Taksiran biaya tenaga kerja langsung                         Rp xxx
·         Taksiran biaya overhead pabrik                                  Rp xxx
Total biaya produksi       Rp xxx
·         Laba yang diinginkan                                                 Rp xxx
Taksiran harga jual yang dibebankan kepada pemesan          Rp XXX
-          Harga pokok proses
Biaya produksi :
·         Biaya bahan baku                                                       Rp xxx
·         Biaya tenaga kerja langsung                                       Rp xxx
·         Biaya overhead pabrik                                                Rp xxx
Jumlah biaya produksi                                                                  Rp XXX


                                                                    Jumlah biaya produksi
Harga pokok produksi per satuan =                                              18)
Unit ekuivalensi

Selanjutnya Abdul Halim mengemukakan karakteristik penggunaan metode harga pokok proses, yaitu sebagai berikut :
1.      Kegiatan produksi dilakukan dengan tujuan mengisi persediaan atau disebut juga berproduksi massa,     sehingga :
a.        produk tidak tergantung pembeli dan bersifat homogen
b.       sifat produksi adalah kontinyu (tidak terputus-putus)
2.      Biaya produksi dikumpulkan secara periodik per departemen produksi atau pusat biaya.
3.      Dikenal adanya istilah unit ekuivalen yaitu unit yang disamakan dengan satuan produk jadi (selesai) untuk kepentingan perhitungan barang dalam proses.
4.      Setiap akhir periode dibuat laporan harga pokok produksi yang dibuat per cost center.
5.      Pada umumnya barang jadi departemen satu menjadi bahan baku departemen berikutnya sampai barang selesai.19)

Ciri khas proses produksi seperti tersebut di atas, mengakibatkan pengumpulan biaya produksi pada perusahaan yang berproduksi secara massal mempunyai ciri-ciri dimana biayanya dikumpulkan tiap periode tertentu dan harga pokok persatuan produk dihitung pada tiap akhir periode yang bersangkutan.
Jadi kalkulasi pada metode harga pokok proses ini digunakan untuk mengumpulkan biaya dalam perusahaan yang menghasilkan produk homogen, bentuk produk bersifat standar, tidak tergantung spesifikasi yang diminta oleh pembeli, proses produksi dapat dilaksanakan kontinyu dan produksi ditujukan untuk memenuhi dan mengisi persediaan.

Berbeda dengan perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan, dimana pengolahan produk akan dimulai setelah datangnya pesanan dari langganan/ pembeli, produksi ditujukan untuk melayani pesanan dan sifat produksinya akan terputus-putus. Metode pengumpulan biaya produksi ditentukan oleh karakteristik proses produksi perusahaan.


C.    Hipotesis
Berdasarkan uraian latar belakang dan kerangka teoritis yang ada, maka penulis mengajukan hipotesis dalam penelitian ini adalah : “Diduga bahwa perhitungan harga pokok produksi flooring bengkirai PT Rimba Karya Rayatama lebih kecil jika dihitung dengan menggunakan metode harga pokok produksi pendekatan full costing”.

D.    Definisi Konsepsional
Sesuai dengan judul skripsi yaitu penerapan metode harga pokok proses perhitungan harga pokok produksi pada PT Rimba Karya Rayatama di Samarinda maka penulis akan memberikan batasan mengenai konsep tersebut.
Yang dimaksud penulisan dalam skripsi ini adalah mengadakan perhitungan harga pokok produksi dengan pendekatan metode full costing sehingga harga pokok dapat diketahui dengan tepat. Biaya-biaya yang diperhitungkan dalam hal ini adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik baik yang bersifat tetap maupun bersifat variabel.
Menurut LM Samryn full costing adalah :
“Full costing adalah metode penentuan harga pokok yang memperhitungkan semua biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan overhead tanpa meperhatikan perilakunya.”20)

Menurut Amin Widjaja Tunggal bahwa harga pokok adalah :
Harga pokok suatu produk adalah jumlah pengeluaran dan beban yang diperkenankan langsung atau tidak langsung untuk menghasilkan barang atau jasa didalam kondisi dan tempat dimana barang tersebut dapat digunakan atau dijual. 21)

Jadi harga pokok suatu produk adalah jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi suatu barang ditambah biaya-biaya yang seharusnya hingga barang tersebut sampai dipasar, sedangkan biaya produksi adalah biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan proses pengolahan bahan baku hingga menjadi produk jadi.
Objek dari penelitian ini adalah PT Rimba Karya Rayatama di Samarinda yaitu perusahaan yang bergerak di bidang usaha pengolahan kayu bulat (log) menjadi kayu olahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode harga pokok proses (process cost method) dengan pendekatan metode full costing.



1) Mulyadi, Akuntansi Biaya, Edisi ke-5, BP-STIE YKPN, Yogyakarta, 1993, halaman 6.
2) Adolph Matz and Milton F .Usry, Cost Accounting Planning and Control, Eight Edition, South Western Publishing.Co. Ohio, 1997, Page 9.
3) Abdul Halim, Dasar-dasar Akuntansi Biaya, Edisi Keempat, Cetakan Ketiga, BPFE-Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1999, halaman 3.
4) R. A. Supriyono, Akuntansi Biaya : Pengumpulan Biaya dan Penentuan Harga Pokok, Buku I, Edisi Ke-2, BPFE-UGM, Yogyakarta, 1994, halaman 12.
5) Phillip E. Fess and Carl s. Warren. Accounting Principles. Fifteenth Edition. South-Western Publishing Co. Cincinatti. West Chicago, IL. Dallas. Livermore. CA. 1989, page 16.
6) R.A. Supriyono, Op. Cit., halaman 14.
7) Adolph Matz and Milton F. Usry, Akuntansi Biaya, Perencanaan dan Pengendalian, Jilid I, Cetakan kesembilan, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1994, halaman 10-11.

8) R. A. Supriyono, Op. Cit., halaman 16.
9) Mulyadi, Op. Cit., halaman 8-9.
10) Selamet Sugiri, Akuntansi Manajemen, Edisi Revisi, UPP AMP YKPN, Yogyakarta, 1999, halaman 15.
11) Letricia G. Raiburn, Akuntansi Biaya : dengan menggunakan Pendekatan Manajemen Biaya, alih bahasa : Sugiarto, Edisi Keenam, Jilid I, Erlangga, Jakarta, 1993, halaman 4.
12) Mulyadi, Op. Cit., halaman 14 -17.
13) Ibid, halaman 14.
14) LM Samryn, Akuntansi Manajerial Suatu Pengantar, Cetakan Pertama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, halaman 63.
15) Mas’ud Mahfoedz, Akuntansi Manajemen, Buku Satu, Edisi IV, Cetakan Ketiga, BPFE -Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1993, halaman 230.
16) Mulyadi, Loc.Cit.
17) RA. Supriyono, Op.Cit., halaman 36-37.
18) Mulyadi, Op. Cit., halaman 77.
19) Abdul Halim, Op. Cit., halaman 147-149.
20) LM Samryn, Akuntansi Manajerial Suatu Pengantar, Cetakan Pertama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, halaman 63.
21) Amin Widjaja Tunggal, Akuntansi Untuk Usahawan, Rineka Cipta, Jakarta, 1996, halaman 11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar