Powered By Blogger

Selasa, 27 Desember 2016

Pengertian konsumen dan Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen

Menurut Philip Kotler dalam buku manajemen pemasaran (1998 : 183) konsumen merupakan suatu pembelian yang bertujuan memilih barang-barang yang dibeli untuk dijual atau untuk digunakan dalam perusahaan dan rumah tangga dengan harga pelayanan dari penjual dan kualitas produk tertentu.

            Perilaku konsumen dapat dirumuskan sebagai perilaku yang ditunjukkan oleh orang-orang dalam hal merencanakan, membeli dan menggunakan barang-barang ekonomi dan jasa-jasa
            Dalam pola komsumsi kita jarang hemat, dan kadang-kadang kita royal, kita kadang-kadang penuh pertimbangan, kadang-kadang bertindak mementingkan diri sendiri dan kadang-kadang mementingkan pihak lain.
            Dalam menganalisis perilaku konsumen terhadap suatu produk maka harus diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi sampai pada pengambilan keputusan pembelian. Menurut kotler (2003 : 06), mengemukakan bahwa fakto-faktor utama yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah:
  1. Marketing Mix
·      Produk
·      Harga
·     Tempat
·      Promosi
  1. Faktor Internal
·     Kebudayaan
·     Sosial
·     Personal
·     Psikologi
  1. Faktor Eksternal
·     Ekonomi     
·     Politik
·     Tekhnologi
·     Lingkungan Alam
·     Sosial Budaya
            Sehubungan dengan penelitian ini maka permasalahan akan segera dipersempit pada variabei-variabel dari bauran pemasaran (marketing mix) yaitu produk, harga, dan distribusi dan tempat yang mempengaruhi prilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian.
            Perialku konsumen merupakan: “kegiatan-kegitan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.”
            Defenisi lain yang dikemukakan oleh David L. Londoun dan Albert J. Della Bitta:
 “ Perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan, proses dan hubungan sosial yang dilakukan individu, kelompok dan organisasi dalam mendapatkan, menggunakan suata produk atau lainya sebagai akibat dari pengalamannya dengan produk, pelayanaan dan sumber-sumber lainnya.
            Disini dikatakan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan –tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang-barang atau jasa ekonomis yang dapat mempengaruhi lingkungan.
            Dalam mempelajari variabel-variabel perilaku konsumen, secara sederhana dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu:
1.         Faktor-faktor intern, atau individu yang menentukan perilaku, antaralain motivasi, persepsi, kepribadian, dan konsep diri, belajar dan sikap dari individu.
2.         Faktor-faktor ekstern, yang terdiri dari kebudayaan, kelas sosial, kelompok-kelompok sosial dan referensi, setra keluarga.
3.         Proses pengambilan keputusan dari konsumen, proses dilakukan dalam lima tahap yaitu:
1.    Menganalisis keinginan dan kebutuhan
2.    Pencarian informasi dari sumber-sumber yang ada
3.    Penilaian dan pemilihan (seleksi) terhadap alternatif pembelian
4.    Keputusan untuk membeli
5.    Perilaku sesudah pembelian
Faktor-faktor Intern atau Individual yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah faktor Psikologis yang berasal dari proses intern individu, sangatlah berpengaruh dalam pembelian konsumen.
Faktor-faktor psikologis yang menjadi dasar dalam perilaku konsumen, yaitu:
a.  Motivasi
Istilah motivasi berhubungan dengan rangsangan internal psikologi seoarang konsumen, maksudnya kondisi yang menyebabakan para konsumen memulai perilaku mereka. Motivasi atau motif juga merupakan suatu dorongan kebutuhan dan keinginan individu yang diarahkan pada tujuan untuk memperoleh kepuasan.
b.   Pengamatan (persepsi)
Pengamatan adalah suatu proses dimana konsumen (manusia), menyadari dan menginterprestsikan aspek lingkungannya. Atau dapat dikatakan sebagi proses penerimaan dan adanya rangsangan didalam lingkungan intern dan ekstern, sehingga pengamatan tersebut bersifat aktif.
c.   Belajar
Belajar didefinisikan sebagai perubahan-perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil akibat adanya pengalaman. Proses pembelian yang dilakukan oleh konsumen merupakan suatu proses belajar, dimana hai ini sebagai bagian hidup konsumen. Proses belajar pada suatu pembelian terjadi apabila konsumen ingin menanggapi dan memperoleh suatu kepuasan, atau sebaliknya tidak terjadi apa-apa bila konsumen merasa dikecewakan oleh produk yang kurang baik. Tanggapan konsumen sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu. Apabila merasa puas, maka tanggapannya akan diperkuat, dan ada kecenderungan bahwa tanggapan yang sama akan berulang, jadi konsumen dalam proses pembeliannya selalu mempelajari sesuatu.
d.  Kepribadian dan Konsep Diri
Kepribadian disini dapat dikatakan sebagai pola sifat individu yang dapat menentukan tanggapan dan cara untuk bertingkah laku.


e.  Konsep Diri
         Faktor lain yang ikut menentukan perilaku konsumen adalah konsep diri yang merupakan individu yang diterima oleh individu itu sendiri.
Konsep diri terbagi atas dua bagian yaitu:
  1. Konsep diri yang nyata adalah bagaiman kita melihat diri dengan sebenarnya.
  2. Konsep diri yang ideal adalah bagaiman diri kita yang kita inginkan.
f.   Sikap
Sikap merupakan suatu kecenderungan yang dipelajari untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam masalah-masalah yang baik ataupun yang kurang baik secara konsekuen.
Sikap ini dilakukan konsumen berdasarkan pandangan terhadap produk dan proses belajar baik dari segi pengalaman maupun dari segi lainnya.
Faktor-faktor lingkungan ekstern yang mempengaruhi perilaku konsumen.
            Perilaku konsumen sangat dipengaruhui oleh berbagai lapisan masyarakat dimana ia dibesarkan. Ini berarti lingkungan yang berbeda akan mempunyai penilaian, kebutuhan , pendapat, sikap dan selera yang berbeda pula.
Faktor-faktor lingkungan ekstern yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu:
a.   Kebudayaan
Kebudayaan bersifat sangat luas, dan menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Defenisi kebudayaan yang dikemukakan oleh Stanton adalah kebudayaan merupakan simbol dan fakta yang kompleks yang diciptakan oleh manusia diturunkan dari generasi kegenerasi sebagai penentu dan pengatur perilaku manusia dalam masyarakat.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh kebudayaan yang melingkupinya, dan pengaruhnya akan selalu berubah setiap waktu sesuai dengan kemajuan atau perkembangan jaman dari masyarakat tersebut. Dan perilaku manusia cenderung untuk menyerap adat kebiasaan kebudayaannya.
b.  Kelas Sosial    
   Kelas sosial didefinisikan sebagai suatu kelompok yang terdiri dari sejumlah orang yang mempunyai kedudukan yang seimbang dalam masyarakat.
   Dalam hubungannya dengan perilaku konsumen masyarakat dapat kita kelompokkan dalam tiga golongan yaitu:
  1. Golongan Atas
Adalah golongan yang memiliki kecenderungan untuk membeli  barang-barang yang mahal, berkualitas baik dan barang-barang  yang dibeli cenderung menjadi warisan bagi keluarganya. Yang  termasuk dalam golongan ini antara lain: Pengusaha kaya dan Pejabat tinggi.
  1. Golongan Menengah
      Adalah golongan yang cenderung membeli barang untuk menampakkan kekayaannya, membeli barang dengan jumlah yang banyak dan kualitas cukup memadai. Mereka berkeinginan membeli barang yang mahal dengan sistem kredit, misalnya membeli kendaraan, rumah mewah perabotan rumah tangga dan lain-lain. Yang termasuk dalam golongan ini adalah: Karyawan instansi pemerintah, dan pengusaha menengah.
  1. Golongan bawah
      Adalah golongan yang cenderung membeli barang dengan mementingkan kuantitas dari pada kualitasnya. Pada dasarnya mereka membeli barang untuk kebutuhan sehari-hari, memanfaatkan penjualan barang-barang yang diobral atau penjualan dengan harga promosi. Yang termasuk dalam golongan ini antara lain: Buruh pabrik, pegawai rendahan, tukang becak serta pedagang kecil.
c.  Kelompok Anutan
     Kelompok anutan didefinisikan sebagai suatu kelompok orang yang mempengaruhi sikap, pendapat, norma, dan perilaku konsumen. Kelompok anutan merupakan kumpulan keluarga, kelompok atau organisasi tertentu misalnya kelompok remaja mesjid, kelompok pemuda atau organisai kecil lainnya.
      Kelompok anutan juga mempengaruhi perilaku seseorang dalam pembeliannya dan sering dijadikan pedoman oleh konsumen dalam bertingkah laku. Anggota-anggota kelompok anutan sering menjadi penyebar pengaruh dalam hal ini selera dan hobbi.
d.   Keluarga
      Keluarga dapat diartikan sebagai individu yang membentuk keluarga baru atau membentuk suatu rumah tangga baru dengan kata lain keluarga merupakan suatu unit masyarakat terkecil yang perilakunya sangat mempengaruhi dan menentukan dalam pengambilan keputusan membeli.

            Dalam menganalisis perilaku konsumen, faktor keluarga dapat berperan sebagai pengambil inisiatif, pemberi pengaruh, pengambilan keputusan, melakukan pembelian, serta sebagai pembeli atau pemakai.

Pengertian pemasaran

Dengan adanya perkembangan dibidang tehnologi dan ilmu pengetahuan, memungkinkan dihasilkannya barang-barang pemuas kebutuhan manusia dalam jumlah yang besar dan beragam. Hal ini akan menimbulkan masalah-masalah dalam bidang pemasaran hasil-hasil produksi tersebut, dengan kata lain pemasaran memainkan peranan yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan dan kelangsungan hidup perusahaan.
            Masalah pemasaran merupakan salah satu masalah yang dihadapi perusahaan pada umumnya. Hal ini dikarenakan tumpuan suatu perusahaan pada umumnya untuk memasarkan produk yang dihasilkan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemasaran merupakan tulang punggung perusahaan dengan tidak mengabaikan fungsi-fungsi lainnya.
            Pemasaran merupakan salah satu faktor yang penting dalam suatu siklus yang dimulai dengan kebutuhan konsumen dan diakhiri dengan pemenuhan kebutuhan konsumen. Dengan kata lain pemasaran adalah suatu fungsi dalam perusahaan dimana melalui fungsi ini perusahaan mengidentifikasikan segala kebutuhan dan keinginan konsumen, memperkirakan dan menentukan target pasar yang dituju, mendesain produk atau servis jasa dengan tepat, memilih para tenaga pemasar yang profesional serta hal-hal yang menjadi tugas dan fungsi memasarkan. Oleh karena itu pemasaran merupakan suatu kegiatan pengambilan keputusan yang sulit bagi perusahaan. Ketepatan keputusan yang diambil oleh perusahaan pada saat tertentu akan mempengaruhi aktivitas perusahaan selanjutnya.
            Beberapa ahli pemasaran telah mengemukakan pendapatnya tentang pengertian marketing, walaupun pengertian tersebut seakan-akan berbeda, namun pada prinsipnya mempunyai kesamaan.
            Menurut Philip kotler dalam buku Manajemen Pemasaran (2000 : 09) bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
            Selain itu William J. Stanton dalam buku Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen  (2000 : 31) menyatakan bahwa pemasaran adalah semua sistem dari aktivitas perusahaan untuk menentukan tempat, harga, promosi dan saluran distribusi barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan konsumen baik yang aktual maupun yang potensial.
            Berdasarkan hal tersebut yang telah dikemukakan para ahli pemasaran, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pemasaran adalah semua kegiatan atas tindakan-tindakan yang menyebabkan perpindahan barang dan jasa dari produsen ke konsumen, yang dapat memasarkan keinginan dan kebutuhan konsumen, sehingga dapat menimbulkan proses pertukaran.
            Salah satu cara untuk mengetahuinya berhasil tidaknya usaha yang dijalankan oleh perusahaan adalah terletak pada besarnya jumlah permintaan untuk meningkatkan volume penjualannya. Seluruh faktor yang dikuasai dan yang dipegang oleh manajer produksi untuk mempengaruhi permintaan akan hasil produksi perusahaan disebut marketing mix.


Minggu, 25 Desember 2016

Pengertian dan Unsur-Unsur Biaya

1   Pengertian Biaya
      Sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menghasilkan  suatu produk  baik berupa  barang maupun jasa adalah besarnya  biaya yang  dikorbankan. Oleh  karena itu  sebelum menjalankan  kegiatan operasi, maka  diperlukan konsep biaya yang merupakan informasi bagi manajemen. Hal ini sangat penting dalam menghitung harga pokok produksi, menyatakan penganalisaan  dalam  hubungannya antara biaya dengan volume produksi  yang  diharapkan, serta  merupakan informasi dalam estimasi laporan rugi/laba  dan juga memberi kan informasi yang berguna  bagi manajemen dalam menetapkan suatu kebijaksanaan.
      Unsur manajemen dalam menentukan setiap kebijaksanaan yang akan dilaksanakan, maka biaya harus dipertimbangkan dengan baik jika dihubungkan dengan masalah pendapatan yang hendak dicapai perusahaan.
      Perusahaan dalam melakukan kegiatan produksi untuk menciptakan barang  atau jasa diperlukan pengorbanan dari faktor-faktor produksi. Nilai pengorbanan dari faktor-faktor yang dikeluarkan untuk proses produksi ini, biasanya di   namakan cost atau biaya.
      Hubungannya dengan analisis penetapan harga pokok penjualan, maka terlebih dahulu dikemukakan beberapa  pengertian biaya yang merupakan baris dalam analisa untuk selanjutnya.
      Penulis mengutip definisi menurut Mulyadi (2001; 3), menyatakan bahwa Biaya adalah pengorbanan dari unsur-unsur biaya yang diukur dalam satuan uang, yang di   ciptakan untuk mencapai tujuan tertentu.                                                         
      Berbicara mengenai masalah biaya merupakan suatu  masalah yang sudah cukup lama, oleh karena di dalamnya dapat terlihat dua pihak yang saling  berhubungan. Winardi  (2002; 147 ), menyatakan bahwa bilamana kita memperhatikan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu proses produksi,                                                               maka dapat dibagi ke dalam  dua sifat, yaitu  yang merupakan biaya bagi produsen adalah untuk mendapat bagi pihak yang memberikan faktorproduksi yang bersangkutan.
      Biaya konsumen atau biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh alat pemuas dengan kebutuhannya atau merupakan pendapatan bagi pihak yang memberikan alat pemuas kebutuhan tersebut. Ikatan Akuntan Indonesia (1993: 11), dikatakan bahwa biaya ( cost )  adalah  jumlah  yang diukur dalam satuan uang, yaitu pengeluaran-pengeluaran dalam bentuk konstan atau dalam  bentuk pemindahan kekayaan dalam pengeluaran modal saham, jasa-jasa yang disertakan atau kewajiban-kewajiban yang ditimbulkannya, dalam hubungannya dengan barang atau jasa-jasa diperoleh atau yang akan diperoleh.
      Berdasarkan beberapa definisi biaya di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa pengertian biaya yang dikemukakan adalah suatu hal yang masih merupakan pengertian secara luas oleh karena  semua yang  tergolong dalam pengeluaran secara   nyata keseluruhannaya termasuk biaya.

2   Unsur - Unsur Biaya      
      Untuk membicarakan unsur-unsur dlam proses produksi, pihak perusahaan telah memperhitungkan terhadap biaya-biaya yang dikorbankan, sehingga proses produksi tidak mengalami hambatan yang berarti, maka  dalam dapat memperoleh hasil penjualan hasil produksi bisa memperoleh laba.
      Dalam suatu proses produksi melibatkan suatu unsur- unsur biaya dibebankan menurut kelompok biaya tertentu guna menyusun harga pokok produksi dapat digabungkan ke dalam  unsur-unsur biaya. Tetapi ini tidaklah segera dapat di pandang sebagai biaya, karena itu harus sesuai dengan faktor biaya, karena biaya itu harus sesuai dengan faktor biaya yang dianut perusahaan.
      Penjelasan dari unsur - unsur biaya tersebut di atas, adalah sebagai berikut :
1. Manufacturing cost, adalah semua biaya yang muncul  sejak pembelian bahan-bahan sampai berubah menjadi produk  selesai (final product)
    Manufacturing cost terbagi atas :
   a. Prime cost  (biaya utama), adalah biaya dari bahan-   bahan secara langsung dan upah tenaga  kerja langsung dalam kegiatan pabrik.
 -  Prime cost terdiri dari :
       - Direct material, yaitu semua bahan baku yang  membentuk  keseluruhan  bahan yang dapat secara langsung dimasukkan dalam perhitungan kerja pokok.
       - Direct  cost, yaitu setiap tenaga  kerja yang  ikut secara langsung pemberian  sumbangan dalam  proses produksi.
   b. Manufacturing  expenses,  dapat  juga disebut  factory   over  head cost atau atau biaya pabrikkasi tidak  langsung. Yang termasuk golongan biaya ini adalah :
      - Indirect labour, yaitu  tenaga  kerja  yang  tidak  terlibat  langsung  dalam  proses  produksi, misalnya kepada bagian bengkel, mandur, pembantu umum dan sebagainya.
       - Other manufacturing expenses, yaitu biaya - biaya tidak langsung selain dari indirect labour danindirect material, seperti  biaya atas penggunaan tanah, pajak penghapusan, pemeliharaan dan perbaikan
2. Commercial expenses, yang meliputi :
   a. Selling expenses, adalah semua ongkos yang dikeluarkan setelah selesainya proses produksi sampai pada saat terjualnya. Ongkos-ongkos ini meliputi penyimpangan, pengangkutan  penagihan  dan ongkos  yang menyangkut  fungsi-fungsi penjualan.
   b. Administration  expenses,  adalah  ongkos-ongkos  yang meliputi ongkos perencanaan dan pengawasan.
     Biasanya semua ongkos-ongkos yang tidak dibebankan pada  bagian  produksi  atau  penjualan  dipandang sebagai ongkos administrasi.
      Sedangkan  menurut  Charles  T. Horngren, ( 1999: 15 )   unsur-unsur biaya dapat diklasifikasikan ke dalam :           
     1. Time when camputed
         a. Historical cost
         b. Budgeted cost                                                                                                          
    2. Behavior in relation to fluctuation in activity :
         a. Variabel cost
         b. Fixed cost
         c. Other cost
    3.  Degree of overaging :
         a. Total cost
         b. Unit cost
      4.  Management function :
         a. Manufacturing cost
         b. Selling cost
         c. Administration cost
    5.  Easy of tracekbility :
         a. Direct cost
         b. Indirect cost
    6. Timing of change againts revenue :
         a. Product cost
         b. Priod cost
      Adapun penjelasan dari unsur-unsur biaya tersebut diatas adalah sebagai berikut :
1. Historical cost, merupakan biaya yang telah terjadi dimasa lalu, sedangkan budgeting cost adalah biaya  yang  diperkirakan terjadi pada masa yang akan datang.
2. Variabel cost, adalah  biaya  yang  secara  keseluruhan  akan  berubah-ubah  dengan  berubahnya  volume produksi atau  penjualan. Sedangkan fixed cost, adalah biaya yang secara keseluruhan  tidak  akan   mengalami  perubahan  pada suatu tingkat  produksi atau penjualan.
3. Total cost, adalah sejumlah biaya yang dibebnkan pada seluruh biaya obyektif. Sedangkan unit cost, adalah biaya rata-rata dari setiap unit dari obyektif.
4. Manufacturing  cost, adalah biaya  yang diperlukan  untuk menghasilkan  barang (dengan menggunakan mesin, peralatan dan tenaga kerja).
   Manufacturing  cost terdiri  dari direct  cost,  material cost, direct labour cost dan inderect cost/overhead cost. Sedangkan  administratif cost adalah biaya-biaya yang  diperlukan untuk pengelolaan perusahaan secara keseluruhan.

5. Direct cost, adalah  biaya-biaya  yang  mudah  ditelusuri terhadap  suatu obyek  tertentu.  Sedangkan indirect cost adalah biaya - biaya  yang tidak  ditelusuri  hubungannya dengan obyek tertentu. Sedangkan priod cost merupakan biaya-biaya yang timbul karena berjalannya waktu. Dengan kata lain, period cost adalah  setiap biaya  yang dialokasikan  berdasarkan waktu.

Pengertian Economic Order Quantity (EOQ)

      Kebijaksanaan permintaan pengadaan bahan baku material merupakan bagian dari kepentingan beberapa mamajer dalam suatu perusahaan. Manajemen investasi atau persediaan tidak hanya berhubungan dengan manajer pembelian kalau melainkan juga berhubungan dengan manajer keuangan. 
      Manajer pembelian agak cenderung berorientasi pada pembelanjaan dalam jumlah yang besar untuk memperoleh discount atau potonga dari suplier. Begitu pula manajer produksi ingin mempertahankan jumlah persediaan yang besar untuk menjamin kelancaran proses produksi. Sedangkan manajer financial, empertahankan pembelian dalam jumlah yang kecil, demi efisiensi penggunaan dana.
      Untuk lebih jelasnya pengertian Economic Order Quanti ty oleh Sofyan Assauri (2000: 176) menyatakan bahwa Dalam menentukan kebutuhan untuk menghasilkan sejumlah barang jadi yang direncanakan untuk suatu periode tertentu dengan    sejumlah biaya.
      Pengendalian bahan baku merupakan bagian daripada kepentingan beberapa manajer dalam suatu perusahaan. Hal ini penting untuk menjaga agar tidak terjadi kekurangan bahan baku yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan karena dapat memenuhi dari para langganan atau konsumen sebagai pemakai.
      Demikian pada terlalu banyaknya persediaan walaupun hal ini mempunyai kebaikan terhadap kelancaran proses  produksi, akan tetapi menimbulkan biaya penyimpanan yang terlalu besar dan dapat menimbulkan kerugian karena  kemungkinan kerusakan persediaan yang berlebihan tersebut.
      Aktiva keseluruhan dan kekurangan inilah diperlukan optimal yaitu tersedianya jumlah persediaan yang ekonomis. Hal ini dapat terlaksana bila melakukan sistem pemesanan yang ekonomis yang disebut "Economic Order Quantity" dalam menghitung Economic Order Quantity ini dipertimbangkan 2 (dua) jenis biaya yang bersifat variabel, yaitu :
1.  Biaya pemesanan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan bahan baku. Biaya ini berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pemesanan.                                                                                                                     
      Semakin tinggi frekuensi pemesanan semakin tinggi pula biayanya, yang dibutuhkan dan sebaliknya biaya ini berbanding terbalik dengan jumlah/kuantitas setiap kali pesanan berarti akan semakin rendah tingkat frekuensi pemesanan.

2. Biaya penyimpanan, yaitu biaya yang dikeluarkan sehubung-an dengan kegiatan penyimpanan bahan baku yang telah dibeli. Biaya ini berubah-ubah sesuai dengan jumlah bahan baku yang dipesan. Makin besar bahan baku yang dipesan akan semakin besar pula biaya penyimpanannya dengan biaya pemesanan.

Kualitas Standar Eksport

      Kualitas adalah merupakan salah satu bagian penting dalam suatu perusahaan untuk menunjukkan kelebihannya. Dalam menguraikan pengertian produksi sesuai dengan pandangan dan perkembangan dunia usaha dan perkembangan ekonomi pada masa sekarang, maka muncul pendapat para ahli oleh Sofyan Assauri, (1999 : 7) menyatakan bahwa barang ekspor adalah mempunyai alat untuk mengukur segala sesuatu yang menjadi standar kualitas ekspor barang atau jasa, untuk kegiatan mana dibutuhkan faktor-faktor produksi.   
      Uraian di atas, maka bahwa setiap hasil produksi mempunyai kegunaan tertentu dan dibutuhkan mutu dan kualitas untuk dapat menjadi standar ekspor pada beberpa negara lain yang telah memenuhi syarat untuk mendapat standar ISO atau pengakuan oleh pemeritah.  
      Sedangkan Mubyarto (1997 : 62), menyatakan bahwa kalau diumpamakan kualitas pertanian adalah suatu hasil yang diperoleh sebagai akibat pekerjaan faktor-faktor produksi sekaligus, yakni tanah, tenaga kerja, dan modal.
      Definisi tersebut membewrian pengertian bahwa kualitas adalah untuk menambah nilai guna suatu barang, dengan dasar itulah barang perlu diperhatikan terhadap mutu produk sehingga mempunyai jaminan tersendiri.  
      Selanjutnya oleh Sofyan Assauri (1999 : 221), bahwa mutu atau kualitas ekspor diartikan sebagai faktor-faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa barang tersebut dimaksudkan atau dibutuhkan.
      Berbicara mengenai mutu dan standar ekspor memang menjadi acuan bagi pengusaha untuk membuat barang atau jasa agar dapat diterima barang mereka mendapat pengakuan dari pihak manapun saja atau dengan kata lain telah mendapat ISO (mengakuan secara nasional) terhadap barang yang telah diproduksi telah memenuhi standar kualitas ekspor.
      Jadi setiap pabrik/ pengolahan sebaiknya kalau dapat menentukan suatu kebijaksanaan tentang mutu/ kualitas produk dengan menetapkan suatu standar. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pembentukan suatu standar dikemukakan oleh H.A. Harding (2000 : 58) membagi dalam 3 (tiga) bagian yaitu :
1)    Memenuhi syarat kegunaan yang ditetapkan.
2)    Memenuhi standar kualitas perusahaan
3)    Dapat diproduksi dengan peralatan yang ada sekarang.

      Berdasarkan ketiga dalam pengelolaan mutu yang memerlukan pertimbangan dan kebijaksanaan atas dasar kehati-hatian dalam menentukan sikap untuk produksi, perlunya standar kualitas ekspor dipertahankan dan menggunakan peralatan secukupnya dan menekan biaya seefektif mungkin.

Pengertian Ekspor

Ekspor suatu barang yang harus memenuhi standar yang ditentukan pada suatu negara, sehingga para pelaku bisnis perlu memperhatikan hal-hal yang ditentukan untuk diterima atau tidak barang yang telah diproduksi, karena setiap barang yang akan di ekspor ada kriteria-kriteria yang telah ditentukan oleh negara yang bersangkutan.
Selanjutnya, barang ekspor yang menjadi titik tolak dalam pembahasan ini, krisis kepercayaan Indonesia di luar negeri sudah kian memburuk akibat dari segala kebijaksanaan utamanya mutu dan kualitas barang kurang mendapat respon terhadap pesanan. 
      Sejaka abad yang lalu para ahli ekonomi telah menelaah tentang peranan ekspor dalam pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di dalam masa klasik, analisa mengenai keterkaitan antara perdagangan luar negeri dan pembangunan mendapat perhatian yang lebih besar lagi. Beberapa ahli ekonomi pada masa lalu yakni, Richardo Smith dan mill telah menunjukkan bahwa perdagangan luar negeri dapat memberi sumbangan yang pada akhirnya dapat memperlancar perkembangan ekonomi suatu negara.
      Peranan ekspor dalam pembangunan menurut seorang ahli ekonomi yaitu Sudono, (1999 : 48) menyatakan bahwa, para ekonomi klasik mengemukakan sumbangan-sumbangan penting dari kegiatan-kegiatan perdagangan luar negeri dalam pembangunan ekonomi, yakni apabila suatu negara telah mencapai tingkat kesimpulan kerja penuh, perdaganga luar negeri menginkan untuk mencapai tingkat konsumsi yang lebih tinggi daripada yang memungkinkan dicapai tanpa adanya kegiatan. Kemudian untuk memungkinkan negara untuk menggunakan tehnologi yang dikembangkan di luar negeri, yang lebih baik keadaannya ari pada yang terdapat di dalam negeri.
      Jadi ekspor yang merupakan yang merupakan bentuk dan perdagangan luar negeri yang akan mendorong sektor produksi yang lebih tinggi produktivitasnya, dab selain itu akan mempertinggi spesialisasi dan efisiensi penggunaan mesin yang ada akan mendorong usaha-usaha untuk memperbaiki efisiensi proses produksi dengan mengadakan pembaharuan-pembaharuan (inovasi).
      Sedangkan pengertian ekspor menurut H.A. Harding (2000 : 104), menyatakan bahwa ekspor diartikan sebagai suatu kegiatan ekonomi dimana barang-barang (termasuk jasa) yang dijual kepada penduduk negara tersebut berupa pengangkutan dengan kapal permodalan dan hal-hal yang membantu ekspor tersebut.
      Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa beberapa kegiatan ekonomi dengan barang-barang dan jasa-jasa yang di ekspor kepada negara tertentu yang siap diterima dan akan dikonsumsinya oleh negara. Keadaan ini dengan sendirinya akan mempengaruhi pula akan kemampuan untuk mengimpor (capacity to impor), artinya bila ekspor (dalam bentuk devisa) meningkat, ini berarti tingkat kemampuan impor akan meningkat pula.

      Di dalam suatu sistem perdagangan luar negeri, di mana ekspor barang atau jasa pada negara-negara maju adalah berupa barang-barang industri, sedangkan pada negara-negara berkembang adalah berupa bahan-bahan mentah.    

Pengertian Kualitas

      Usaha pengembangan perusahaan dan untuk menjamin kontinutas perusahaan, maka perlu adanya sejumlah keuntungan diharapkan dapat menunjang kelangsungan hidup perusahaan. Merealisir hal tersebut maka perlu diciptakan antara lain peningkatan volume penjualan hasil produk pengolahan, penekanan biaya produksi, peningkatan kwalitas, perluasan seluruh distribusi. Tanpa adanya peningkatan perubahan dalam suatu produk perusahaan yang termasuk dalam hal ini kebijaksanaan peningkatan kualitas produksi, maka akibatnya perusahaan akan mengalami dan menghadapi tantangan atau  persaingan yang semakin  tajam utamanya dalam hal pencapaian tujuan perusahaan.
      Disadari bahwa dalam usaha pengembangan mutu produksi, pada tahap tersebut mungkin terjadi penyimpangan yang tidak sesuai dengan rencana semula maka hal  ini  mungkin  disebabkan oleh adanya keterbatasan tenaga manusia didalam proses produksi, keadaan/ kerusakan peralatan yang digunakan atau mungkin disebabkan faktor-faktor lain.
      Menjamin agar kualitas produk yang dihasilkan sesuai dengan standar, maka perlu ada bahagian tersendiri yaitu bahagian pengawasan mutu, karena tanpa adanya pengawasan mutu, maka besar kemungkinan hasil akhir tidak sesuai dengan sasaran semula (standar).
      Terperinci menurut Sofyan Assauri (2002 : 167) tentang pengawasan mutu bahwa :
1.  Agar hasil produksi dapat mencapai standar mutu yang  telah ditetapkan.
2.. Mengusahakan agar biaya inspection dapat menjadi serendah mungkin.
3. Mengusahakan agar biaya desain  produk dan dalam proses dengan     menggunakan mutu produksi tertentu dapat menjadi sekecil mungkin.
4.  Mengusahakan agar biaya  produksi menjadi  serendah mungkin.
      Harold, (1997; 6) membagi dalam beberapa bagian,sebagai berikut :
       "1. Increase production  
        2.  Lower unit cost      
        3.  Inproved employed morale
        4.  Better quality".     
       Berikut ini dalam pengendalian kualitas mempunyai 3 (tiga) tahap pelaksanaan dalam proses produksi barang dan jasa, yaitu :
1.  Pengendalian bahan mentah
2.  Pengendalian selama proses produksi
3.  Pengendalian hasil produksi akhir.
      Berdasarkan ketiga tahap pengendalian ini juga digambarkan oleh Elwood S. Buffa, (1998: 643), membagi 4 (empat) fase umum dari pengendalian kualitas, yaitu :
1.   Policy levela in determining desired market level of    quality.
2.  The engineering design stage during which quality levels spesified to achieve the  market target levels.                                                                                                             
3. The producing stage whan control over incoming raw   materials and produktive overation and mecesary to  inplement the policies.
4. The  use stage in the field where instalation can effect final quality and where the guarantee of quality and  perfotmance must the made effective.     
      Berdasarkan keempat tingkatan ini dapat dijelaskan hubungan kerjasama secara bersama-sama dapat dilihat dari keempat hal tersebut di atas, dengan beberapa hubungannya. Sesuai dengan penjelasana di atas, menunjukkan empat tahap dalam pengendalian mutu melalui perencanaan, produksi dan distribusi. Hal  yang dijelaskan oleh Buffa ini adalah pengendalian mutu secara keseluruhan dalam perusahaan.
      Tahap pertama, menunjukkan pimpinan perusahaan yang seharusnya mengadakan kebijaksanaan mutu terlebih dahulu dalam hubungannya dengan tinjauan pasar, biaya investasi retularen on invesmen (pengambilan investasi) yang potensial serta faktor-faktor saingan. Tahap kedua, diadakan penentuan mutu yang akan dapat diproduksikan ditentukan oleh designer. Disini tentu di pertimbangkan mengenai bahan baku, cara memprosessing dan jasa-jasa yang diproduksikan.
      Pada tahap ketiga, barulah diadakan pengendalian mutu dalam proses produksi yaitu ada tiga, sebagai berikut :
1.  Pemeriksaan pengendalian mutu dan bahan baku
2.  Pemeriksaan dan pengendalian mutu bahan baku
3.  Pemeriksaan dalam pengujian produk yang dihasilkan.
      Perusahaan yang melaksanakan pengendalian produksi untuk mengarah pada sfesifikasi yang akan ditentukan oleh mutu produk, maka diperlukan suatu ketelitian dalam quality control dan pemeriksaan yang lebih cermat. Perlu juga diketahui bahwa dalam usaha bagaimana untuk menghasilkan produk, tentu memerlukan sejumlah tenaga kerja. Demikian pula halnya dalam usaha produksi quality control khususnya gula. Analisis pengendalian mutu produk khususnya udang beku memerlukan tenaga kerja quafied untuk ditempatkan dalam gudang supaya terjamin dari kontinutas perusahaan mengenai mutu produk.
      Melaksanakan usaha pengendalian dalam produksi khususnya pada udang beku merupakan sumber pembahasan, sehingga proses kegiatan dari berbagai produksi yang dirubah dalam bentuknya oleh perusahaan yang menggunakan dalam bentuk barang/ jasa atau produksi di mana beberapa barang dan jasa yang disebabkan hasil yang diinginkan perusahaan dapat terjamin dari kontinutas.
      Setiap pimpinan memiliki manajemen tersendiri, sehingga dengan  kepemimpinan pada bawahannya terarah dan efisiensi. Artinya walaupun faktor-faktor tertentu harus dimiliki, tapi manajemen penting untuk dimiliki. Oleh karena itu faktor produksi terdapat kesenjangan produktivitas yang dihasilkan oleh para pelaksana antara produktivitas sekarang dengan produktivitas yang lalu. Pada kenyataannya produksi yang dikaitkan dengan pengendalian memang agak sulit dipisahkan, antara satu dengan yang  lainnya.                                                               
      Pemeriksaan dikaitkan dengan produksi berati harus menggunakan tenaga kerja yang pernah mengadakan pelatihan, atau minimal mempunyai pengalaman kerja pada perusahaan lain.
      Akhirnya dapat disimpulkan bahwa hanya ada 3 (tiga) tahap pelaksanaan quality control dalam proses yaitu :
1. Sebelum produksi dimulai
2. Sebelum proses dimulai
3. Sesudah produksi dilaksanakan
      Adapun peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan quality control (pengawasan produk)  menurut Hoffman, (1997: 209), adalah :
       "1. Panca indra, misalnya  mengetahui mutu  ikan yang baik, dapat dilihat dengan  mata.                   
        2.  Mempergunakan  alat, umpamanya diukur dengan  mistar dan alat pengukur melihat dan timbangan         
        3. Menggunakan metode statistik, yang lazim  disebut statistical quality control".