Suatu perusahaan yang berorientasi profit, di saming untuk memenuhi
permintaan konsumen dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya harus
memperhatikan berbagai faktor seperti penghasilan dan biaya. Dalam upaya
mencari laba yang sebesar-besarnya (keuntungan) perusahaan harus mampu menjual
dalam jumlah yang besar dan tingkatan harga tertentu. Keinginan perusahaan
untuk memperoleh laba (keuntungan) yang sebesar-besarnya, perusahaan harus
meningkatkan kualitas dan mutu produk agar dapat bersaing di pasar.
Penjualan yang dilakukan perusahaan ditentukan oleh permintaan konsumen
terhadap barang yang dijual dan salah satu yang mempengaruhi permintaan
konsumen dalam suatu barang adalah harga jual barang yang bersangkutan. Apalagi
jumlah perusahaan yang semakin banyak bergerak dalam bidang yang sama, dimana
terdapat banyak penjual, konsumen mempunyai banyak pilihan terhadap barang yang
dibutuhkan berdasarkan harga dan tingkat kepuasaan yang diperoleh dan barang-barang
yang dibelinya.
Sering terjadinya dalam penetapan jual
perusahaan tidak melakukan kalkulasi terhadap biaya yang telah dikeluarkan oleh
perusahaan, karena hasil produksi langsung diserahkan ke bagian pemasaran untuk
menetapkan harga jual, sehingga bagian pemasaran dalam menetapkan harga jual
tanpa mempertimbangkan biaya-biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan produk
tersebut.
Sehubungan dengan uraian tersebut, maka
salah satu kebijakan perusahaan untuk mencapai keuntungan adalah dengan cara
analisis penetapan harga jual barang, penetapan harga jual merupakan profit planning apporoach yang
didasarkan pada hubungan antara volume penjualan, laba dan pembiayaan. Oleh
karena itu perusahaan harus mampu dalam menetapkan harga jual sebagai pedoman
dalam menentukan kebijaksanaan dalam bidang penjualan maupun dibidang
perencanaan laba perusahaan dengan
kebijakan harga jual dapat dipertimbangkan harga pasar dan kondisi sosial
konsumen.
Analisis menetapkan harga jual merupakan
suatu masalah ketika perusahaan akan menentukan harga pertama kali. Hal ini
terjadi ketika perusahaan mengembangkan suatu produk atau barang yang baru,
ketika perusahaan ingin memperkenalkan produk atau barangnya kesaluran
distribusi atau kedaerah baru, harus memutuskan posisi produknya untuk mutu dan
harga. Dalam penentuan harga pokok per unit memang rumit, karena semuanya harus
dipertimbangkan terlebih dahulu terhadap unsur-unsur yang terkait menyangkut
masalah biaya untuk menghasilkan.
Dalam hal penetapan harga jual terlebih
dahulu harus biaya ditetapkan per unit produk yang dihasilkan dan telah
memperhitungkan seluruh elemen-elemen biaya.Tanpa mengetahui harga per unit
produk harga jual tidak mungkin dapat ditentukan, dalam penetapan harga jual
yang pertama kali dilakukan adalah perhitungan biaya per unit produk.
Harga jual per unit yang telah ditetapkan
perusahaan memang sudah diketahui secara keseluruh unsur-unsur biaya dalam
pengelolaan kayu yang berkaitan dari seluruh unsur-unsur biaya yang telah
dikorbankan untuk mencapai hasil. Dalam hal proses produksi, dengan memulainya
sejak pembelian bahan baku hingga proses produksi dapat di pasar dan dapat
diterima dipasar.
Pengelolaan kayu gelondongan menjadi kayu
olahan untuk siap di pasarkan dalam berbagai daerah yang dapat menentukan peningkatan volume penjualan
adalah penetapan harga jual dengan dasar bahwa penetapan harga jual telah
diperhitungan unsur-unsur biaya yang telah dikorbankan.
Pperusahaan yang bergerak dalam bidang produksi dan penjualan kayu di Kota
Makassar dan sekitarnya. Dalam Wilayah Kota Makassar banyak perusahaan yang
bergerak dalam bidang yang sama, oleh larena itu perusahaan harus berhati-hati
dalam menetapkan harga jual.
A. Pengertian Harga Jual
Pengertian harga jual menurut Sofyan Assauri, dalam buku Manajemen
Produksi (2000 : 7), menyatakan bahwa
harga jual adalah harga yang telah disesuaikan berdasarkan hasil perhitungan
dari harga pokok produksi.
Sedangkan menurut Martin Kenneth,
Management Production, (1998; 3) yang diterjamahkan oleh Mulyadi dalam
pengertian harga jual menyatakan bahwa harga jual itu merupakan prosedur penetapan harga
setelah dihitung biaya-biaya yang telah dikeluarkan selama dalam proses
produksi.
Berdasarkan dari kedua definisi tersebut
di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa harga jual adalah suatu
usaha untuk menetapkan harga jual yang diperhitungkan dari seluruh pengeluaran
yang menyangkut biaya-biaya selama dalam proses produksi berlangsung, dalam hal
ini produksi barang dan jasa. Jadi barang yang diproduksi mengatalami tahapan
tersendiri dengan mempunyai kegunaan tertentu sebagai berikut :
1. Azas efisiensi
maksudnya dengan biaya yang kecil mungkin untuk
mendapatkan hasil tertentu
ataupun dengan pengorbanan tertentu
untuk mendapatkan hasil yang
semaksimal mungkin.
2. Azas kontinutas,
adalah azas yang menghendaki agar dalam pemakaian alat-alat produksi terdapat dalam perbandingan yang
serasi.
Selanjutnya akan dikemukakan arti kualitas ( mutu ) oleh Sofyan Assauri, dalam
buku, Manajemen Produksi (2000; 221) mengemukakan bahwa mutu diartikan sebagai
faktor-faktor yang terdapat dalam suatu
hasil yang menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk
apa barang tersebut dibuat.
Sesuai dengan pengertian di atas ada beberapa faktor yang dapat menghasilkan
barang. Faktor-faktor produksi tersebut yaitu :
3. Faktor produksi
tanah
2.
Faktor produksi modal
3.
Faktor produksi tenaga kerja
Sedangkan Richard dalam buku
Faktor-Faktor Produksi Pertanian, (1997; 84), sebagai berikut dalam berproduksi
sangat berhati-hati terhadap kwality untuk di pertahankan bagi para konsumen
harus konsisten.
Sesuai dengan definisi tersebut di atas,
menyebutkan bahwa unsur keberhati-hatian dalam mempertahankan hasil produksi
harus diawali dari bibit, karena hasil produksi inilah yang merupakan
pengendalian mutu untuk berperan serta
dalam bersaing di pasar.
Dalam hubungannya dengan pengertian
diatas, maka dapat dibagi dalam beberapa tahap yang mempunyai bagian dalam
proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa sebagai berikut :
4. Grade yaitu sifat
kelakuan, kemiripan, tingkat reabilitas tingkat operasinya dan lain-lain.
5. Fitenss for use
menunjukkan tingkat produk produk yang mana memberikan kepuasan.
6. Consistency in
characteristic adalah suatu kumpulan spesifikasi untuk setiap
komponen dari produk itu. Bilamana produk terakhir sesuai dengan
spesifikasi design atau maka disebut consistency atau quality of conformance
(mutu sesuai dengan krakteristiknya).
Jadi setiap perusahaan pabrik/pengolahan
dengan menetapkan suatu standard. Hal-hal yang perlu dipertimbang kan
dalam pembentukan suatu standard
dikemukakan oleh Harding, dalam buku Production Management, (2001 ; 58),
menyatakan bahwa :
1) Memenuhi syarat kegunaan yang ditetapkan
2) Memenuhi standard kualitas perusahaan
3) Diproduksi dengan peralatan yang ada
sekarang.
Untuk itulah E.Mansffiel, dalam buku
Penetapan Harga jual, (1999 ; 121), menyatakan bahwa proses produksi memerlukan kehati-hatian
terhadap variasi dari beberapa produksi barang dan jasa yang sama pada
perusahaan.
Selanjutnya menurut R.A. Bilas, Proses
Produksi Dalam Pertanian, (1998; 127), adalah sebagai berikut kalau input sabagai
salah satu cara proses yang diperhatikan oleh bagian produksi untuk
mempertahakna mutu dan kwalitas produksi sesuai dengan permintaan konsumen,
sehingga perusahaan ini tetap produksi, jika tetap memperhatikan selera
konsumen.
Dari
beberapa pengertian produksi yang telah dikemukakan diatas, maka
dapatlah disimpulkan bahwa produksi merupakan suatu proses kegiatan dari
berbagai faktor produksi yang dirubah bentuknya oleh perusahaan yang menggunakan dalam bentuk barang/jasa atau
produksi di mana beberapa barang dan jasa
yang disebabkan input dirubah
menjadi barang dan jasa lain yang
disebut output.
Pengertian produksi diatas dapat
dikatakan bahwa dengan menggunakan faktor-faktor produksi sekaligus, maka akan diperoleh suatu faedah dalam memenuhi kebutuhan atau
pemenuhan kebutuhan pertanian yang
dihasilkan akibat bekerjanya faktor-faktor produksi sekaligus saling terkait
dengan satu sama lainnya.
Paul A. Samuelson, dalam buku Dasar-Dasar
Penganggaran Bagi Eksekutif (1997; 357), membatasi diri dalam memberikan
definisi proses produksi yang menyatakan bahwa produksi ini mempunyai fungsi
untuk technical pada relasi diantara faktor-faktor produksi, sehingga out put
dari proses produksi garus sepesifikasi produksi, agar barang yang telah
diproduksi tetap menjadi pokus perhatian dari relasi.
Sedangkan Soemitro Djoyohadikusumo, dalam
buku Perencanaan Produksi, (1999 ; 136), memberikan definisi tentang produksi,
berpendapat bahwa produksi pertanian adalah penggunaan unsur-unsur dengan maksud untuk menciptakan suatu faedah
atau untuk memenuhi kebutuhan.
Pendapat di atas, bahwa dapat menggambarkan fungsi-fungsi dari produksi
adalah merupakan hubungan fisik antara input dan output. Dengan kata lain bahwa
faktor produksi yang digunakan sebagai masukan ke dalam proses produksi dan
banyaknya hasil yang akan diperoleh. Misalnya dengan menggunakan input yang
akan bisa menambah output atau produksi.
Dalam hubungan antara input dengan output
berarti dibicarakan mengenai masalah pendapatan
dan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, sehingga dapat diketahui
hasil yang telah diperoleh dapat memperoleh hasil atau tidak
memperoleh keuntungan ( rugi ) dan perlu
kita memperhatikan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi dalam satu
periode tersebut.
B Perhitungan dan Tujuan Penetapan Harga
Pokok
a. Perhitungan Harga Pokok Produksi
Sebelum proses produksi dimulai, terlebih
dahulu harus diketahui berapa besarnya
harga pokok dari barang yang akan diproduksikan. Dengan demikian, dapat pula diketahui
besarnya harga jual
serta pengendalian biaya
produksi.
Demikian halnya untuk, mengetahui
besarnya harga pokok produksi, maka terlebih dahulu harus diketahui jalannya
kegiatan-kegiatan atau proses produksi, yang berarti unsur-unsur biaya yang
melekat pada produksi tersebut dapat pula diidentifikasikan.
Untuk mendapatkan gambaran tentang
perhitungan harga pokok produksi, penulis memperlihatkan contoh perhitungan
sederhana sebagaimana dikemukakan oleh Sofyan Assauri, dalam buku Manajemen
Produksi, (1999 : 54) sebagai beberikut
:
Perhitungan
Harga Pokok Penjualan
Untuk
Jenis Perusahaan Dagang
Persediaan awal
barang dagangan Rp.
............
Pembelian barang
dagangan '
............
Jumlah barang
dagangan yang siap dijual Rp.
............
Persediaan
akhir barang dagangan '
............
Harga Pokok
Produksi
Rp. ............
Sedangkan harga pokok propduksi (HPP) untuk jenis perusahaan industri
(manufacturing), yang tidak mempunyai barang setengah jadi, bertutur dapat dilihat pada contoh perhitungan yaitu :
Perhitungan
Harga Pokok Penjualan
Untuk
Perusahaan Industri Tanpa Barang Setengah Jadi
1) Pemakaian bahan
:
- Persediaan awal bahan baku Rp. .........
- Pembelian bahan baku Rp.
......... +
- Jumlah bahan yang siap untuk diproduksi Rp. .........

- Nilai bahan baku yang diproses Rp. .........
2) Biaya produksi
:
- Nilai bahan yang dipakai Rp. .........
- Nilai upah Rp. .........

Jumlah
biaya produksi
Rp. .........
3) Perhitungan
harga pokok penjualan :
- Persediaan awal barang jadi Rp.
.........
- Nilai barang yang diproduksi Rp. ......... +
- Jumlah nilai barang yang siap
dijual Rp. .........

Harga
pokok penjualan
Rp. .........
=============
Perhitungan
Harga Pokok Penjualan
Untuk
Perusahaan Industri Barang Setengah Jadi
1) Pemakaian bahan
:
- Persediaan awal bahan baku Rp. .........

- Jumlah bahan yang siap untuk diproduksi Rp.
.........

- Jumlah Nilai bahan baku yang
dipakai
Rp…………(A)
2) Perhitungan
Biaya Produksi :
- Persediaan awal barang setengah jadi Rp.
.........
- Nilai bahan baku yang dipakai Rp. .......
- Biaya upah Rp. .......

- Jumlah nilai barang setengah jadi yang dapat
menjadi barang
jadi ................ Rp. .................
- Persediaan akhir barang setengah jadi Rp.
...............
- Jumlah biaya
produksi
Rp. ......... (B)
3) Perhitungan
harga pokok penjualan :
- Persediaan awal barang jadi Rp.
.........
- Nilai barang yang diproduksi Rp. ......... +
Jumlah nilai barang yang siap
dijual
Rp. .........
- Persediaan akhir barang jadi Rp.
......... _
- Harga pokok penjualan
Rp …………..
b. Tujuan Penetapan Harga Pokok
Adapun tujuan penetapan harga pokok
sebagaimana dikemukakan Winardi dalam buku Kapita Selecta, (2002; 149),
mengemukakan bahwa :
1) Sebagai alat untuk perencanaan
2) Sebagai alat untuk pengawasan atau pengendalian biaya.
3) Sebagai alat untuk memecahkan persoalan
khusus.
Sedangkan Winardi menyatakan bahwa tujuan
penetapan harga pokok adalah :
1) Sebagai dasar bagi harga pokok
penawaran
2) Sebagai dasar guna menentukan hasil -
hasil perusahaan.
3) Penilaian mengenai harga-harga pasar
yangberlaku
4) Sebagai alat guna mengontrol efisiensi perusahaan.
Dengan demikian, apabila diketahui
harga pokok sesuatu
barang yang diproduksikan, maka penentuan harga pokok penjualan dapat
pula ditentukan. Demikian pula dengan
diketahuinya harga pokok produksi dalam suatu barang, maka untuk
kepentingan pengendalian efisiensi dalam
proses produksi dengan mudah dapat dilakukan pengontrolan dan
pengawasan.
Efisiensi
yang dimaksud tersebut adalah
penawaran prinsip-prinsip ekonomi dalam perusahaan, yaitu dengan
pengorbanan yang seminimal akan mencapai hasil yang maksimal
mungkin.
C. Pengertian dan Jenis-Jenis Biaya
a. Pengertian Biaya
Untuk menghasilkan sesuatu apakah itu
barang atau jasa maka perlulah dihitung dan diketahui besarnya biaya yang
dikeluarkan atau yang perlu dan kemungkinan memperoleh pendapatan yang mungkin
diterima. Setiap pengorbanan biaya selalu diharapkan akan mendatangkan hasil
yang lebih besar dari pada yang telah dikorbankan tersebut pada masa yang akan
datang.
Dengan demikian, seorang pengusaha
hendaknya dapat mengetahui bagaimana besarnya pengorbanan dalam proses produksi
pada dasarnya setiap untuk yang merupakan komponen biaya peruhaan. Dalam hal
ini, total biaya selalu dapat dihitung dan dapat dibandingkan dengan total
penerimaan yang mungkin dapat diperoleh dengan kemungkinan laba yang akan
diperoleh.
Berbicara mengenai masalah biaya
merupakan suatu masalah yang cukup luas, oleh karena di dalamnya terlihat dua
pihak yang saling berhubungan. Oleh Winardi, dalam buku Kapita Selecta, ( 2002:
147), menyatakan bahwa bahwa bilamana kita memperhatikan biaya-biaya yang harus
dikeluarkan untuk suatu proses produksi, maka dapat dibagi ke dalam dua sifat,
yaitu yang merupakan biaya bagi produsen adalah mendapat bagi pihak yang
memberikan faktor produksi yang terbaik pada perusahaan bersangkutan untuk
berproduksi berkualitas.
Demikian halnya bagi konsumen, biaya
yang dikeluarkan untuk memperoleh alat pemuas kebutuhannya atau merupakan
pendapatan bagi pihak yang memberikan alat pemuas kebutuhan tersebut. Oleh
Ikatan Akuntansi Indonesia, (1994: Pasal I ayat 1) dikatakan bahwa biaya (cost)
adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang, yaitu pengeluaran-pengeluaran
dalam bentuk konstan atau dalam bentuk
pemindahan kekayaan pengeluaran modal saham, jasa-jasa yang disertakan atau
kewajiban-kewajiban yang ditimbulkannya, dalam hubungannya dengan barang-barang
atau jasa-jasa yang diperoleh atau yang akan diperoleh pada masa yang datang,
karena mengeluarkan biaya berarti mengharapkan pengembalian lebih banyak.
Dari definisi dan pengertian biaya di
atas, dapatlah dikatakan bahwa
pengertian biaya yang dikemukakan
di atas adalah suatu hal yang masih merupakan pengertian secara luas
oleh karena semua yang tergolong dalam pengeluaran secara nyata keseluruhannya
termasuk biaya.
Sejalan dengan definisi dan pengertian di
atas, maka D. Hartanto, dalam buku Akuntansi Untuk Usahawan, ( 2002 : 89),
memberikan atasan tentang biaya (cost) dan ongkos (expense), sebagai berikut
cost adalah biaya-biaya yang dianggap akan memberikan manfaat atau service
potensial di waktu yang akan datang dan karenanya merupakan aktiva yang
dicantumkan dalam neraca. Sebaliknya expense atau expred cost adalah biaya yang
telah digunakan untuk menghasilkan prestasi. Jenis-jenis biaya ini tidak dapat
memberikan manfaat lagi diwaktu yang akan datang, maka tempatnya adalah pada
perkiraan laba rugi.
b. Jenis-Jenis Biaya
Sehubungan dengan jnis-jenis biaya
tersebut, maka D. Hartanto, dalam buku Akuntansi Untuk Usahawan, (1998: 37)
mengelompokkan biaya menurut tujuan perencanaan dan pengawasan, sebagai berikut
"1) Biaya variabel dan biaya tetap
2) Biaya yang dapat
dikendalikan".
Sedangkan menurut Mulyadi, dalam buku,
Akuntansi Biaya, Penentuan Harga Pokok dan Pengendalian Biaya, (2000: 57)
menetapkan biaya adalah sejumlah pengeluaran yang tidak bisa dihindari menghubungkan tingkah laku biaya dengan
perubahan volume kegiatan sebagai berikut biaya variabel adalah sejumlah biaya
yang secara total berfluktuasi secara
langsung sebanding dengan volume
penjualan atau produksi, atau ukuran kegiatan yang lain yang mengarah pada
proses produksi.
Sedangkan biaya tetap atau biaya
kapasitas merupakan biaya untuk mempertahankan kemampuan beroperasi
perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu.
Dari gambaran umum di atas, maka dapat
diketahui sebagai berikut :
1) Biaya variabel adalah
sejumlah biaya yang ikut berubah
untuk mengikuti volume produksi atau
penjualan. Misalnya atau bahan langsung
hanya yang ikut dalam proses produk, bahan baku langsung yang dipakai dalam
proses produksi biaya tenaga kerja langsung.
2) Biaya tetap adalah sejumlah biaya
yang tidak berubah walaupun ada perubahan volume produksi atau penjualan.
Misalnya gaji bulanan, asuransi, penyusutan, biaya umum dan lain-lain.
Sifat-sifat biaya tersebut sangat penting untuk dikethui seorang manajer dalam
perencanaan usaha pengembangan karena dengan demikian akan didapatkan suatu
gambaran klasifikasi biaya yang baik untuk tujuan dan perencanaan serta
pengawasan.
D. Unsur - Unsur
Biaya
Untuk membicarakan unsur-unsur dlam
proses produksi, pihak perusahaan telah memperhitungkan terhadap biaya-biaya
yang dikorbankan, sehingga proses produksi tidak mengalami hambatan yang
berarti, maka dalam dapat memperoleh
hasil penjualan hasil produksi bisa memperoleh laba.
Dalam suatu proses produksi melibatkan
suatu unsur - unsur biaya dibebankan menurut kelompok biaya tertentu guna
menyusun harga pokok produksi dapat digabungkan ke dalam unsur-unsur biaya. Tetapi ini tidaklah
segera dapat dipandang sebagai biaya, karena itu harus sesuai dengan faktor
biaya, karena biaya itu harus sesuai dengan faktor biaya yang dianut
perusahaan.
Unsur - unsur biaya menurut Mulyadi,
dalam buku Akuntansi Biaya, Penentuan Harga Pokok dan Pengendalian Biaya, (2000
: 15) tersebut di atas, adalah sebagai berikut :
1) Manufacturing cost, adalah semua
biaya yang muncul
sejak pembelian bahan-bahan sampai berubah menjadi
produk selesai (final product)
Manufacturing
cost terbagi
atas :
a) Prime cost (biaya utama), adalah biaya dari bahan-bahan
secara langsung dan upah tenaga kerja
langsung dalam kegiatan pabrik.
- Prime
cost terdiri dari :
- Direct material, yaitu semua
bahan baku yang membentuk
keseluruhan bahan yang dapat
secara langsung dimasukkan dalam perhitungan kerja pokok.
- Direct cost, yaitu setiap tenaga kerja yang
ikut secara langsung pemberian
sumbangan dalam proses produksi.
b) Manufacturing expenses,
dapat juga disebut factory
over head cost atau biaya pabrikasi tidak langsung.
Yang termasuk golongan biaya ini adalah
- Indirect labour,
yaitu tenaga kerja
yang tidak terlibat
langsung dalam proses
produksi
Proses produksi, misalnya kepada
bagian bengkel, mandur, pembantu umum dan sebagai dasar untuk menyelesaian
terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.
-
Other manufacturing expenses,
yaitu biaya - biaya tidak langsung selain dari indirect labour dan indirect
material, seperti biaya atas
penggunaan tanah, pajak penghapusan, pemeliharaan dan perbaikan
2) Commercial expenses, yang meliputi :
a. Selling expenses, adalah
semua ongkos yang dikeluarkan setelah selesainya proses produksi sampai pada
saat terjualnya. Ongkos-ongkos ini meliputi penyimpangan, pengangkutan penagihan
dan ongkos yang menyangkut fungsi-fungsi penjualan.
b. Administration expenses,
adalah ongkos-ongkos yang meliputi ongkos perencanaan dan pengawasan.
Biasanya semua ongkos-ongkos yang tidak
dibebankan pada bagian produksi
atau penjualan dipandang sebagai ongkos administrasi.
Sedangkan
menurut Charles T. Horngren, dalam buku, Cost Accounting
A.Managerial Emphasis, ( 1999: 15 )
unsur-unsur biaya dapat diklasifikasikan ke dalam :
1) Kapan waktu berkompromi
a. Biaya yang harus dikeluarkan
b. Anggaran Biaya
2) Kelakuan dihubungkan dengan adanya
fluktuasi dalam aktivitas :
a. Biaya variabel
b. Biaya tetap
c. Biaya lain-lain
3) Resiko dalam pengeluaran biaya :
a. Total biaya
b. Biaya per unit
4) Fungsi manajemen :
a. Biaya pabrik
b. Biaya pemasaran
c. Biaya administrasi
5) Mudah untuk mengubahnya :
a. Biaya langsung
b. Biaya tak langsung
6) Perubahan biaya pajak tentang keuntungan :
a. Biaya produksi
b. Biaya Industri
Adapun penjelasan dari unsur-unsur biaya
tersebut diatas adalah sebagai berikut :
1) Historical
cost, merupakan biaya yang telah terjadi dimasa lalu, sedangkan budgeting cost adalah biaya yang diperkirakan terjadi pada masa yang akan
datang.
2) Variabel
cost, adalah biaya yang secara
keseluruhan akan berubah-ubah dengan
berubahnya volume produksi atau penjualan. Sedangkan fixed cost, adalah biaya yang secara keseluruhan tidak
akan mengalami perubahan pada
suatu tingkat produksi atau penjualan.
3) Total
cost, adalah sejumlah biaya yang dibebankan pada seluruh biaya obyektif.
Sedangkan unit cost, adalah biaya rata-rata dari setiap unit dari obyektif.
4) Manufacturing cost, adalah biaya yang diperlukan untuk menghasilkan barang (dengan menggunakan mesin, peralatan
dan tenaga kerja). Manufacturing cost terdiri dari direct cost,
material cost, direct labour cost dan inderect cost/overhead cost.
Sedangkan administratif cost
adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk pengelolaan perusahaan secara
keseluruhan.
5)
Direct cost, adalah biaya-biaya
yang mudah ditelusuri terhadap suatu obyek
tertentu.
Sedangkan indirect cost adalah
biaya - biaya yang tidak ditelusuri
hubunganny dengan obyek tertentu.
Sedangkan priod cost merupakan
biaya-biaya yang timbul karena berjalannya waktu. Dengan kata lain, period cost adalah setiap biaya
yang dialokasikan berdasarkan
waktu.
E. Pengertian
Penjualan
Sebenarnya laba
yang diperoleh suatu perusahaan merupakan pencerminan diri usaha-usaha
perusahaan yang memberikan kepuasan konsumen. Untuk mencapai hal itu,
perusahaan harus dapat menyediakan dan menjual barang atau jasa yang paling
sesuai menurut konsumen dengan harga yang dapat dijangkau tetapi tidak
merugikan produsen artinya dengan harga yang layak.
Dengan demikian, sasaran perusahaan dalam
melaksanakan tugas pokok tersebut serta untuk mencapai tujuan sebagai unit
usaha adalah meningkatkan volume penjualannya, karena penjualan adalah sumber
pendapatan bagi perusahaan.
Stanton, dalam buku Prinsip-Prinsip
Pemasaran, (1999 : 8) memberikan definisi sederhana tentang penjualan, bahwa
penjualan adalah bagian pemasaran itu sendiri adalah salah satu bagian dari
keseluruhan sistem pemasaran.
Pengertian penjualan berarti bahwa
menyerahkan barang atau jasa aktivitas lainnya dalam suatu periode dengan
membebankan suatu jumlah tertentui pada langganan/ konsumen atau pembeli/
penerima barang atau jasa.
Penjualan barang dagangan oleh sebuah
perusahaan dagang biasanya hanya disebut “Penjualan” Soemarso, dalam buku,
Analisa Pemasaran Produk, (1999 : 178) jumlah transaksi penjualan yang terjadi
biasanya cukup besar dibandingkan dengan
jenis transaksi yang lain. Beberapa perusahaan hanya menjual barangnya secara
tunai, perusahaan yang lain hanya menjualnya secara kredit, dan yang lain lagi
menjual barangnya dengan kedua syarat jual beli tersebut.
Penjualan adalah suatu proses pertukaran
barang dan/ atau jasa antara penjua;l dan pembeli. Tugas pokok adalah
mempertemukan pembeli dan penjual. Hal ini dapat dilakukan secara langsung atau melalui wakil mereka sebagai distrbutor.
Fungsi penjualan mencakup sejumlah
fungsi-fungsi sebagai berikut :
7. Fungsi perencanaan
8. Fungsi memberi
kontrak ( contractual function )
9. Fungsi menciptakan
permintaan (demand creation)
10. Fungsi ,mengadakan
perundingan (negotiation)
11. Fungsi kontraktual
(contractual fungtion)
Pada umumnya, para pengusaha mempunyai
tujuan untuk mendapatkan laba tertentu (mungkin maksimal), dan mempertahankan
atau bahkan meningkatkannya untuk jangka waktu lama. Tujuan tersebut dapat
direalisasikan apabila penjualan dapat dilaksanakan seperti yang direncanakan.
Dengan demikian tidak berarti bahwa barang dan jasa yang terjual selalu akan
menghasilkan laba. Oleh karena itu pengusaha harus memperhatikan beberapa
faktor-faktor sebagai berikut :
1. Modal yang
diperlukan
2. Kemampuan
merencanakan
3. Kemampuan
menentukan tingkat harga yang tepat
4. Kemampuan memilih
penyalur yang tepat
5. Kemampuan
menggunakan cara-casra promosi yang tepat
6. Unsur penunjang
Perusahaan, pada umumnya mempunyai tiga
tujuan umum dalam penjualan yaitu
1. Mencapai tujuan tertentu
2. Mendapatkan laba tertentu
12. Menunjang
pertumbuhan perusahaan.
E Metode Penentuan
Harga Pokok
Metode penetapan harga pokok menurut Basu Swastha, dalam bukunya
Pengantar Bisnis Modern (2003 :
215) dengan penentuan harga jual yaitu :
pendekatan biaya (penetapan harga biaya plus, penetapan harga mark up, dan
penetapan break even) serta pendekatan
pasar atau persaingan, adalah :
1. Penetapan harga biaya plus (Cost-Plus
Pricing Method)
Metode ini harga jual per unit ditentukan dengan menghitung juml;ah
seluruh biaya per unit ditambah jumlah tertentu untuk menutup laba yang
dikehendaki, jadi harga jual produk itu dapat dihitung dengan rumus :
Biaya Total + Marjin = Harga Jual
2.
Penetapan harga jual Mark-Up (Mark-Up Pricing Method)
Penetapan harga jual berdasarkan dengan mark up ini hampir sama dengan
penetapan harga biaya plus, karena para pengusaha lebih banyak menggunakan
peetapan harga marl-up. Bagi pedagang yang membeli barang dagangan akan
menentukan harga jualnya setelah menambah harga beli dengan sejumlah mark-up,
dengan formulasi :
Harga Beli + Mark up = Harga Jual
Penetapan harga jual berdasarkan mark-up merupakan kelebihan harga jual
di atas harga harga belinya. Keuntungan dapat diperoleh dari sebagian mark up.
Selain itu pedagang juga harus mengeluarkan sejumlah biaya eksploitasi yang
juga diambil dari sebagian mark up.
3.
Penetapan harga break even (Break even pricing)
Penetapan harga yang didasarkan pada permintaan pasar dan masih
mempertimbangkan biaya dalam penetapan harga break even, dalam keadaan break
even bilamana penghasilan yang diterima sama dengan ongkosnya, dengan anggapan
bahwa harga jualnya sudah tertentu. Metode ini perusahaan akan mendapatkan laba
bilamana penjualan yang dicapai berada di atas titik break even.
Metode penetapan harga berdasarkan break even ini dapat diterapkan
dengan menggunakan konsep biaya, sebagai berikut :
a. Biaya variabel, adalah biaya yang berubah-ubah disebabkan oleh adanya
perubahan jumlah hasil. Apabila jumlah barang yang dihasilkan bertambah, maka
biaya variabelnya juga akan meningkat.
b. Biaya tetap, adalah biaya-biaya yang tidak mengalami perubahan
(konstan) untuk setiap tingkatan/ sejumlah hasil yang diproduksi, biaya tetap
ini termasuk gaji pimpinan, sewa gedung, dan pajak kekayaan.
c. Biaya total, adalah merupakan
seluruh biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan atau biaya total ini
merupakan jumlah dari biaya variabel dan biaya tetap. Biaya total yang
disebabkan pada setiap unit disebut biaya total rata-rata (average total cost)
dengan formulasi :
Biaya Total = Biaya tetap + Biaya variabel
d. Penghasilan total adalah jumlah
penerimaan yang dapat diperoleh perusahaan dari penjualan produk, yang dapat
dihitung dengan mengalikan jumlah hasil dengan harga jual per unit.

Titik Break
Even =
BTT
(dalam unit)
H - BVR
![]() |
Titik Break
Even =
BTT

BVR

H
Dimana :
- BTT = biaya tetap total
- H = harga jual per
unit
- BVR = Biaya variabel
rata-rata
- H – BVR disebut kontribusi per unit pada overhead
4.
Penetapan haraga dalam hubungannya dengan pasar.
Penetapan harga pasar tidak didasarkan
pada biaya, tetapi justru harga yang menentukan biaya bagi perusahaan.
Perusahaan dapat menentukan harga sama dengan tingkat harga pasar agar ikut
bersaing atau ditentukan lebih tinggi atau lebih rendah dari tingkat harga
dalam persaingan.
G Pengertian Harga
Harga merupakan ukuran untuk dapat mengetahui berapa besar nilai
suatu barang dan jasa. Harga turut menentukan berhasil tidaknya akan
laku dipasaran, karena harga merupakan nilai dari suatu barang yang dinyatakan
dalam satuan uang. Selain itu juga harga dipakai sebagai patokan atau titik
permulaan bagi penentuan harga lainnya atau harga merupakan saran penghubung
antara pembeli dan penjual. Artinya harga ditentukan oleh permintaan dan
penawaran akan suatu produk barang atau jasa.
Basu Swastha, Cost Accounting, Planning and Control, (1999 : 147) memberikan definisi tentang
harga, yaitu harga adalah merupakan jumlah uang atau barang (ditambah beberapa
barang kalau memungkinkan) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi
dari produk dan pelayanannya.
Perusahaan menginginkan harga yangf lebih tinggi, akan tetapi masyarakat
sudah mengetahuiu situasi dan harga, pihak produsen perlu menjamin kualitas
produksi, sehingga tidak ada tanggapan lain dari konsumen atau kurang puas.
Harga sebagai suatu standar nilai barang dan
jasa, sehingga harga itu sangat penting ditentukan cuma perlu ditekankan bahwa
untuk ingin memiliki suatu barang tersebut seseorang membayar dengan sejumlah
uang untuk mengumpulkan barang dan sudah termasuk pelayanan yang diberikan oleh
penjual. Bahkan penjual juga mengharapkan keuntungan dari harga yang telah
ditentukan tersebut.
Kemudian Nitisemito, dalam buku
Dasar-Dasar Pemasaran, (2000 : 11)
memberikan batasan mengenai harga yaitu harga adalah suatu barang dan jasa yang
diakui dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai tersebut atau perusahaan
bersedia melepaskan barang atau jasa yang dimilikinya kepada orang lain.
Harga menunjukkan pula terlaksananya
suatu transaksi pembelian yang dapat terjadi, jika pembeli dan penjualtelah
secara bversama-sama sepakat pada suatu tingkat harga tertentu dari suatu
produk yang dijual, sehingga dengan demikian perusahaan PT. Karya Triagung
Permai Makassar di Kota Makassar dalam hal ini melaksanakan kegiatan untuk
pemasarannya tidak terlepas diri dari suatu penentuan harga produk yang akan
ditawarkan.
Dengan demikian, harga mempunyai peranan
serta fungsi yang tidak dapat dipisahkan dengan fungsi-fungsi lainnya seperti
halnya produksi, pemasaran juga pembelanjaan dan fungsi-fungsi lainnya.
Perusahaan PT. Karya Triagung Permai Kota
Makassar dalam menjalankan aktivitasnya sesuai dengan obyek penelitian dalam
hal penetapan harga jual kepada langgan selalu memperhatikan berbagai
pertimbangan seperti harga pada perusahaan lain, daya belu masyarakat,
pengawasan dan pengendalian harga oleh pemerintah dan lain pertimbangan tentang biaya produksinya.
DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, Zaki, 2001, Cost Accounting, Fourth Edfition, Prentice-Hall, Ner York
Hartanto, D, 1999, Akuntansi Untuk Usahawan, Edisi Kedua, Penerbit LPFE, Universitas Indonesia, Jakarta.
Horngren, Charles, T, 1998, Cost Accounting, A. Managerial Emphasis, Fourth Edition, Prentice-Hall, Of India Private Limited, New Delhi.
Kartasasmita, Abbas, 1998, Akuntansi Manaemen dan Analisa Biaya, Penerbit Bina Aksara, Jakarta.
Mulyadi, 2000, Akuntansi Biaya, Penentuan Harga Pokok dan Pengendalian Biaya, BPFE, Universditas Gajah Mada, Yogyakarta.
Matz dan Usry, 1998, Cost Accounting, Planning and Control, Fifth Edition, South Westeren Publishing, Company, Ohio.
Nitisemito, Alex, S, 2000, Dasar-Dasar Penggarana Bagi Eksekutif, Terjemahan dari Budgetying Fundamentals For Financial Executive, oleh Allen Sweeny dan John N, Penerbit Pustaka Binaman Press Indonesia, Jakarata.
Sigit, Soehardi, 1997, Metode penelitian Ekonomi, Penerbit Universitas Gajah Mada, Fakultas Ekonomi, Yogyakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia 1994, Prinsip-Prinsip Akuntansi Indonesia, Universitas Indonesia, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar