Powered By Blogger

Jumat, 06 Januari 2017

Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Mie Instant

      Untuk mengembangkan suatu perusahaan diperlukan pembukuan atau pencatatan sebagai sumber informasi yang mempunyai peranan penting dalam memberikan gambaran tentang keadaan keuangan perushaan. Biasanya gambaran keuangan tersebut pada setiap periode akuntansi dilaporkan dalam suatu laporan keuangan sebagai produk akhir dari suatu kegiatan perusahaan. Laporan keuangan tersebut biasanya dalam bentuk neraca serta perhitungan laba rugi atau    laporan rugi laba, di samping itu terdapat pula laporan laba yang ditahan dalam suatu periode tertentu.
      Selanjutnya,  perusahaan yang  selalu berpatokan  pada neraca, karena menggambarkan tentang posisi atau kekayaan, hutang  dan modal, perhitungan rugi laba atau laporan rugi laba,  akan  memperlihatkan  perubahan  posisi keuangan untuk  suatu periode  tertentu.  Sedangkan laporan rugi laba yang  ditahan  merupakan  laporan perubahan  posisi keuangan yang  berasal dari  kegiatan  usaha sesuatu perusahaan dalam suatu periode tertentu.
      Dengan demikian, tujuan penyusunan laporan keuangan adalah memberikan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap kegiatan usaha perusahaan. Baik pihak interen maupun pihak eksteren perusahaan untuk dijadikan pertimbangan dalam peramalan dan pengambilan keputusan ekonomi, sesuai dengan kepentingan masing-masing. Pihak berkepentingan memperhatikan aspek likuiditas dan profitabilitas perusahaan agar mendapat gambaran lebih jelas keadaan perusahaan. Dengan dasar itulah pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan harus disusun secara baik dan sistematis sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim diterima umum.Untuk itu, laporan keuangan suatu perusahaan dapat dijadikan bahan penguji dari pekerjaan bagian pembukuan dan sebagai alat untuk menentukan atau menilai posisi keuangan suatu perusahaan pada waktu tertentu dan dapat diketahui tingkat kemampuan perusahaan yang dimiliki, apabila dibutuhkan oleh pihak  yang membutuhkan.
      Analisis kinerja keuangan perusahaan yang selalu berpatokan pada neraca dan laporan rugi laba perusahaan adakalahnya dibutuhkan laporan perubahan keuangan untuk mengetahui perkembangan aktifitas perusahaan utamaya  pengelolaan keuangan, sehingga dapat diketahui bahwa sampai sejauhmana tingkat perputarannya. Jika perputarannnya cukup  lancar, maka tingkat resiko kurang lancar sesuai dengan yang diharapkan perusahaan yang berkesinambungan.
      Tujuan daripada neraca adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan  perusahaan untuk menyajikan hasil pengelolaan keuangannya  kepada pihak-pihak yang memerlukan data atau informasi tentang perusahaan yang bersangkutan,  sehingga pihak-pihak tersebut dapat mengambil keputusan tentang kebijaksanaan atau langkah apa yang akan diambil. Oleh sebab itu diperlukan suatu laporan  kinerja keuangan, yang berisi hasil analisa dan interprestasi posisi keuangan dimana dapat diketahui dengan jelas efekktivitas nvestasi dan biaya yang bersumber dari modal sendiri dan pinjaman. Laporan  ini sangat diperlukan oleh para kreditur, bank atau calon-calon kreditur, baik sebagai ukuran kemampuan pengembalian pinjamannya atau ukuran kemampuan perusahaan memperoleh laba.
      Hal inilah yang mendorong penulis untuk menelaah kinerja  keuangan yang  ditinjau dari efektivitas dan pengelolaan keuangan pada Perusahaan mie instanst , yang bergerak dibidang produksi dan penjualan. Di samping itu titik permasalahan yang dibahas yaitu kinerja keuangan perusahaan dianggap bermasalah terhadap penggunaan keuangan.

      Berdasarkan hal tersebut di atas yang mendorong penulis untuk menelaah kinerja  keuangan yang  ditinjau dari beberapa aspek  dalam  likuiditas, solvabilitas, aktivitas   dan rentabilitas pada perusahaan mie instanst. Di samping itu titik permasalahan yang dibahas yaitu pengelolaanan analisa hutang jangka panjang untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya perusahaan dianggap normal terhadap penggunaan keuangan, sehingga penulis memilih obyek penelitian tersebut.

A.  Pengertian Laporan Keuangan  
      Laporan keuangan dalam neraca dan perhitungan rugi laba serta segala keterangan-keterangan yang dimuat dala lampiran-lampiran antara lain laporan sumber dan penggunaan dana (laporan arus kas).
      D. Hartanto dlam buku Akuntansi Untuk Usahawan (1998 : 8) menyatakan bahwa laporan keuangan adalah untuk memberikan informas tentang posisi kewuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.   
      Dari definisi tersebut dapatdisimpulkan bahwa laporan keuangan adalah merupakan hasil akhir dari proes akuntansi yaitu neraca, perhitungan rugi laba, laporan perubahan posisi keuangan serta catatam atas keuangan yang terdiri dari :
1.  Neraca
     Untuk memberikan lebih jelas mengenai pengertian neraca oleh Basu Swastha dalam buku Analisa Neraca (1997: 320) menyataakan bahwa neraca adalah laporan keuangan yang neraca memperlihatkan keadaan keuangan sebuah perusahaan pada suatu saat.Dalam neraca tercantum jumlah kekayaan,  jumlah utang dan modal sendiri dari sebuah perusahaan, dan jumlah kekayaan terlihat pada laporan aktiva yang terdiri dari aktiva lancar, aktiva tetap dan aktiva tak berwujud. Sedangkan utang dan modal sendiri terlihat pada passiva yang terdiri dari hutang lancar, hutang jangka panjang dan modal sendiri. 
2.  Laporan rugi laba
     Laporan rugi laba perusahaan tidak semua informasi keuangan yang penting tercantum dalam neraca. Di dalam neraca tidak terkandung informasi tentang penghasilan dan biaya dari sebuah perusahaan. Laporan yang dapat memberikan informasi tentang penghasilan dan biaya yang dinamakan laporan keuangan.
     Basu Swastha dalam buku Analisa Neraca, (1997: 81) bahwa laporan perhitungan rugi laba adalah laporan perhitungan rugi laba adalah laporan tentang hasil usaha perusahaan atau penghasilan biaya yang diakui perusahaan selama satu periode     tertentu.
      Sesuai dengan definisi di atas disimpulkan bahwa penghasilan adalah imbalan yang diperoleh sehubungan dengan pemberian pinjaman atau pemberian dalam bentuk lain, seperti pemberian dalam bentuk natural. Sedangkan yang dimaksud dengan biaya adalah semua pengeluaran-pengeluaran yang dikeluarkan oleh perusahaan baik pengeluaran-                                                                                                                  pengeluaran untuk mendapatkan suatu aktiva ataupun pengeluarabn karena pemberian fasilitas-faslitas lain.
       Biaya itu banyak macamnya antara lain, biaya listrik, biaya telepon, biaya angkut, biaya perjalanan serta masih banyak lagi biaya yang lain. 
3.   Laporan perusahaan terhadap posisi keuangan
      Laporan posisi keuangan atau laporan aliran dana, atau disebut juga laporan sumber dan penggunaan dana dapat dimasukkan sebagai pelengkap dalam laporan keuan gan.
       Adapun tujuan dari laporan perusahaan posisi keuangan ini terutama adalah untuk memberikan informasi tentang perubahan aktiva lancar dan utang lancar. Jadi titik berat dari laporan ini adalah pada sumber dan penggunaan modal untuk suatu periode.
      Sedangkan yang dimaksud dengan utang adalah pengorbanan ekonomis yang wajib dilakukan perusahaan, dimasa yang akan datang dalam bentuk penyerahan harta atau pemberian jasa yang disebabkan oleh transaksi pada masa sebelumnya, misalya utang dagang, utang obligasi, uang jaminan dari langganan dan lain-lain.
      D. Hrtanto dalam buku Akuntansi Untuk Usahawan (1998 : 19) membagi jenis-jenis utang sebagai berikut :
1. Utang lancar atau utang jangka pendek adalah utang-utang yang penulasannya akan memerlukan sumber-sumber yang digolongkan dalam aktiva lancar atau dengan menimbulkan suatu utang baru yang terdiri    dari :
        - Utang dagang, yaitu utang-utang yang timbul dari pembelia barang-barang dagangan/ jasa.
        - Utang wesel, yaitu utang-utang yang memakai bukti-bukti tertulis berupa kesanggupan untuk membayar pada tanggal tertentu.
        - Taksiran uang pajak, yaitu jumlah pajak penghasilan yang dipegunakan untuk laba peiode yang bersangkutan.
        - Utang biaya, yaitu biaya-biaya yang sudah menjadi beban tetapi belum dibayar, misalnya utang gaji, utang bunga dan lain-lain.
        - Utang-utang lain yang akan dibayar dalam waktu 12 bulan.
2.  Utang jangka panjang digunakan untuk menunjukkan utang-utang yang pelunasannya akan dilakukan dalam waku lebih dari satu tahun atau akan dilunasi dari sumber-sumber yang bukan dari kelompok aktiva lancar.
       Utang yang termasuk utang jangka panjang yaitu utang obligasi, utang wesel jangka panjang, utang hipotik, uang muka dari perusahaan afiliasi, utang kredit bank jangka panjang dan lain-lain. Utang jangka panjang biasanya timbul karena adanya kebutuhan dana untuk pembelian tambahan aktiva tetap, memainkan jumlah modal kerja permanen, membeli perusahaan lain atau untuk melunasi utang-utang yang lain.
3.  Utang-utang lain, misalnya utang obligasi yang akan jatuh tempo tetapi akan dilunasi dari dana pelunasan obligasi, utang jangka panjang kepada pejabat perusahaan atau kepada anak perusahaan dan lain-lain.
 Adapun yang dimaksud dengan modal adalah bagian hak milik dari perusahaan pada umumnya modal terdiri dari atas, modal para pemilik perusahaan misalnya modal usaha.    
4.   Perhitungan rugi dan laba
      Zaki Baridwan dalam buku Pokok-Pokok Dalam Analisa Laporan Keuangan (1998 : 1) menyatakan bahwa laporan perhitungan rugi laba adalah laporan tentang hasil usaha perusahaan atau penghasilan dan biaya yang diakui perusahaan selama satu periode tertentu.
      Penghasilan adalah imbalan yang diperoleh sehubungan dengan pemberian dalam bentuk lain.
       Biya itu banyak macamnya antara lain biaya listrik, biaya telepon, biaya angkut biaya perjalanan serta masih banyak lagi biaya yang lain.
5.   Laporan perubahan posisi keuangan
       Laporan perubahan posisi keuangan ini atau laporan aliran dana, atau disebut juga laporan sumber dan penggunaan dana dapat dimaksudkan sebagai pelengkap dalam laporan keuangan perusahaan.
       Tujuan dari laporan dari laporan posisi keuangan ini terutama adalah untuk memberikan informasi tentang perubahan aktiva lancar dan utang lancar. Jadi titik berat dari laporan ini adalah pada sumber dan

B  Pengertian Pembelanjaan Perusahaan

Upaya meninjau struktur keuangan suatu perusahaan dalam hubungannya dengan profitabilitas (rentabilitas) adalah merupakan kebijaksanaan pembelanjaan perusahaan. Hal ini disebabkan karena profitabilitas muncul sebagai akibat dari kebijaksanaan pembelanjaan dalam hal memperoleh dana atau modal untuk membaiayai kegiatan perusahaan untuk mencapai tujuannya.
Bambang Riyanto dalam buku Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan (2004 : 13) meliputi semua aktivitas yang bersangkutan dengan usaha untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan oleh perusahaan besarta usaha untuk menggunakan dana tersebut seefisien mungkin. 
      Selanjutnya, Ales S. Nitisemito dalam buku Pembelanjaan Perusahaan (1999 : 13) mengemukakan bahwa pembelanjaan perusahaan merupakan semua kegiatan perusahaan yang ditujukan untuk mendapatkan dan menggunakan modal dengan cara efektif dan efisien.
      Dari definisi pembelanjaan yang dikemukakan di atas dapat dikatakan bahwa pembelanjaan meliputi usaha yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk menarik dan mengumpulkan dana beserta modal dengan biaya yang rendah dan dengan syarat yang menguntungkan, serta secra efisien dan efisien.
      Efisiensi yang dimaksud adalah perbandingan terbalik antara input dengan output dan ntara daya usaha serta hasil yang dicapai. Sedangkan efektif adalah suatu usaha pencapaian prestasi yang sebesar-besarnya dari suatu kegiatan untuk mencapai tujuan.
      Lukman Syamsuddin dalam buku Manajemen Keuangan Perusahaan (1998 : 5) mempertegas secara rinci arti penting dalam pembelanjaan dalam perusahaan sebagai berikut :
2      Penilaian posisi keuangan perusahaan
3      Mencari pinjaman-pinjaman jangka pendek dan
4      Mencakup masalah untuk mencari pinjaman-pinjaman jangka panjang, menilai dan membeli aktiva tetap serta menerapkan kebijaksanaan deviden perusahaan.
Sebagai bagian dari ilmu ekonomi sesungguhnya pembeanjaan itu merupakan prinsip-prinsip ekonomi dalam pengambilan keputusan keuangan, dan secara luas pembelanjaan perusahaan tesebut menyangkut berbagai aspek sehingga keputusa pembelanjaan, dapat mempengaruhi tingkat harga, bahkan kelancaran jalannya perusahaan secara keseluruhan.
Lukaman Syamsuddin dalam buku Manajemen Keuangan Perusahaan (1998 : 7) menyatakan bahwa fungsi-fungsi pembelanjaan perusahaan terdiri dari tiga keputusan utama yang harus diambil oleh perusahaan yaitu keputusan investasi, keputusan pembelanjaan, dan keputusan deviden.
Investment decision adalah keputusan yang berhubungan dengan struktur keungan dan struktur modal keuangan yang optimal, agar dapat meningkatkan dan memaksimalkan pendapatan dan kekayaan para pemegang saham atau pemilik perusahaan, sedangkan divident decision keputusan yang berhubungan dengan pembagian keuntungan terhadap pemegang saham dan laba yang ditahan.   
     Pengertian pembelanjaan tersebut dapat ditegaskan bahwa pembelanjaan bukan saja bagaimana mendapatkan laba tetapi juga bagaimana penggunaan dana tersebut, sehingga efektif dan efisien. Pembelanjaan tersebut dapat dipandang sebagai usaha penarik modal atau disebut pembelanjaan aktif, dapat juga dipandang sebagai usaha penggunaan modal dalam hal ini suatu perusahaan yang dimiliki uang dan meminjamkan pada perusahaan lain, maka disebut juga pembelanjaan pasif, dapat berupa kuantitatif (besarnya modal yang akan ditarik).penggunaan modal kerja untuk suatu periode tertentu.

C  Pengertian dan Jenis Rasio Keuangan

1. Pengertian Rasio Keuangan

         S. Munawir dalam buku Analisa Laporan Keuangan (1998 : 57) menytakan bahw rasio keuagan dapat menggambarkan suatu mata rantai dan sekaligus dapat diperoleh adanya peimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah lainnya.
      Dalam kenyataan, rasio finansial keuangan terdiri dari dalam jumlah yang banyak karena pada umumnya diketahui bahwa rasio keuangan tersebut dibuat sesuai dengan kepentingan dan target yang akan dicapai dalam proses penganalisaan.
2.   Jenis-Jenis Rasio Keuangan 
            S. Munawir dalam buku Analisa Laporan Keuangan (1998 : 68) mengklasifikasikan berdasarkan sumber data rasio keuangan, sebagai berikut :
       a.  Rasio-rasio neraca (balance sheet rasio) terdiri dari : current atio, acis test ratio, current liabilities to totalassets ratio, dan lain sebagainya.
       b.  Rasio-rasio laporan rugi laba dan laba perusahaan (income statement ratios) terdiri dari gross profit margin, net operation margin, operating ratio dan lain sebagainya.
       c.  Rasio-rasio antar laporan (inter – statement ratios) terdiri dari assets turnover, inventory turnover, receivable dan lain sebagainya.

D.  Pengertian dan Jenis rasio Likuiditas
      1. Pengertian Likuiditas

          Likuiditas erat kaitannya dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya yang harus sewgara dipenuhi atau dengan kata lain kewajiban-kewajiban jangka pendek perusahaan harus segara dilunasi, kemudian dengan menghubungkan elemen dari pada aktiva disatu pihak dengan passiva dilain pihak pada laporan keuangan dalam perusahaan akan diperoleh gambaran tentang keadaan financial perusahaan.
           Likuiditas suatu perusahaan berhubungan erat dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi. Untuk dapat memenuhi kewajiban tersebut, maka perusahaan harus mempunyai alat-alat likuid yang berupa aktiva lancar yang jumlahnya harus lebih besar dari jumlah kewajiban-kewajiban yang harus segera dipenuhi yang berupa hutang-hutang lancar.
          Makin besar jumlah aktiva  lancar yang  dimiliki  oleh suatu perusahaan dibandingkan dengan hutang lancar, maka makin besar tingkat likuiditas perusahaan tersebut dalam posisi likuid. Dan sebaliknya apabila jumlah aktiva lancar lebih kecil dari hutang lancar, berarti bahwa perusahaan tersebut berada dalam inlikuid.
           Beberapa penulis mengemukakan batasan pengertian rasio likuiditas antara lain Van Horne, Analisa Kinerja Keuangan, (1999 : 16) mengemukakan rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.
           Kemudian menurut Erwin Dukat, Analisa Laporan Keuangan, (1997, 225), mengemukakan bahwa rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk dapat memenuhi kewajiban bila jatuh tempo.
          Selanjutnya Bambang Riyanto, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan,  (2004, 112), bahwa suatu perusahaan dikatakan memiliki tingkat likuidi­tas yang baik apabila tingkat likuiditas berada di atas standar. Dengan menentukan tingkat likuiditas yang baik merupakan suatu tindakan hati-hati dari perusahaan dalam mengantisipasi suatu keadaan.
          Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat likuidi­tas suatu perusahaan memegang peranan penting dan dapat perhatian utama apabila perusahaan mengadakan analisis finansial, sebab tingkatan likuiditas suatu perusahaan merupa­kan salah satu untuk menentukan berhasil tidaknya suatu perusahaan dikelola karena mengakut penyediaan kebutu­han dana dan uang tunai dan sumber-sumber untuk memenuhi kebutuhan tersebut, serta turut menentukan seberapa jauh perusahaan akan menanggung resiko, dimana faktor-faktor/ resiko tersebut menyangkut dana jangka panjang serta menyangkut hubungan antara dana pemegang saham.
          Adapun hubungan antara dana pemegang saham dan dana pinjaman jangka panjang biasanya berupa pembatasan pinjaman yang melampaui batas, olehnya itu dengan pembatasan tersebut maka akan tetap dipertahankan tingkat standard yang berlaku untuk pendapatan dan cadangan harta sebagai jaminan dana tersebut.
          Tingkat likuiditas badan usaha memiliki arti bahwa perusahaan tersebut harus menjaga ketepatan janji keuangan pada pihak luar tanpa bantuan dari luar, maka kelangsungan hidup perusahaan akan terancam, sedangkan likuiditas intern menyangkut orang-orang sewaktu-waktu dapat menghambat jalannya operasi perusahaan.
            Suatu perusahaan dikatakan memiliki tingkat likuiditas yang baik apabila perusahaan tersebut memiliki dana lancar lebih tinggi dari pada utang lancar yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki jumlah dana yang banyak menganggur dan apabila terlalu rendah keselamatan perusahaan akan terancam.
     2.  Jenis Rasio Likuiditas

            Bambang Riyanto dalam buku Dasar-Dasar Pembelanjaan Perushaan (2004 : 128) menyatakan bahwa untuk menilai posisi keuangan jangka pendek berikut ini diberikan beberapa jenis rasio likuiditas yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisa data antara lain :
          a.  Current rasio
               Rasio ini merupakan ukuran yang sangat berguna untuk mengukur dan menilai kemmpuan atau kekuatan perusahaan dalam memenuhi atau membayar hutang-hutang lancarnya yang dibayar. Perhitungan dari rasio ini adalah dengan membandingkan antara aktiva lancar dengan formulasi sebagai berikut :
                                         Aktiva Lancar 
      Current Ratio =                            x 100 %
                           Hutang lancar
Walaupun belum ada ketentuan yang berlaku di Indonesia mengenai pengukuran standar ratio, akan tetapi melalui literatur dapat dijadikan pedoman. Current ratio yang tinggi memang baik dan dari sudut pandang kreditur tetapi sudut pandang pemegang saham kurang mengunungkan karena aktiva lancar tidak didayagunakan secar efektif tetapi secara sebaliknya current ratio yang rendah relatif lebih merisaukan tetapi menunjukkan bahwa manajemen telah mengoperasikan aktiva lancar yang efektif. Current  ratio  ini  juga  merupakan  indikator  tingkat likuiditas yang dipakai secara lebih kuat karena dapat memberikan informasi tentang kemampuan aktiva lancar untuk menutupi semua hutang-hutang jangka pendeknya.      
         b.  Cash Ratio
Cash ratio adalah kemampuan untuk membayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang segera dituangkan, dimana telah diketahui bahwa kas merupakan elemen harta lancar yang paling tinggi baik likuiditasnya karena semakin banyak uang kas yang tersedia dalam perusahaan semakin baik sebab keperluan jangka pendek dapat pula berguna untuk menjaga pada keperluan yang mendesak.
Untuk menghitung cash ratio dapat menggunakan rumus, sebagai berikut :
    Kas  +  Efek   
            Cash Ratio =                          x 100 %
                                   Hutang lancar
2      Acid Test Ratio
Ratio ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi segala kewajiban jangka pendeknya dengan mengeluarkan komponen persediaan karena dianggap bahwa persediaan waktu yang relatif lama untuk merealisasikan persediaan bisa dijual atau tidak. Persediaan ini merupakan komponen dari aktiva lancar yang dianggap likuiditasnya paling rendah serta mengalami fluktuasi harga. Ratio ini dapat dihitung dengan membandingkan aktiva lancar setewlah dikurangi dengan komponen persediaan dengan utang lancar dengan formulasi, sebagai berikut :
          Aktiva Lancar – Persediaan  
           Acid Test Ratio =                                                 x 100 %
                                                  Hutang lancar
Jadi acid test ratio merupakan likuiditas setelah dikurangi umur persediaan di dalamnya atau dengan membandingkan jumlah kas dan efek ditambah piutang disatu pihak dengan utang lancar di lain pihak.
Ratio ini lebih tegas dari pada current ratio karena hanya membandingkan aktiva yang sangat likuid dengan hutang lancar, sedangkan persediaan merupakan aktiva lancar yang tingkat likuiditasnya yang paling rendah dikeluarkan jika current rationya rendah menunjukkan adanya investasi yang sangat besar dalam persediaan.
     d.  Rasio modal kerja

           Indriyo dalam buku Manajemen Keuangan (1998 : 27) menyatakan bahwa modal kerja merupakan aktiva lancar yang dipelukan oleh perusahaan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan yang selalu berputar.
            Aktiva lancar yang benar-benar dapat dipergunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditas, yaitu merupakan kelebihan aktiva lancar di atas hutang lanacarnya, ini sering disebut modal kerja neto (net working capital) atau selisih dari harga lancar dan hutang lancar. Modal kerja dapat pula digunakan sebagai suatu dasar untuk mengukur tingkat likuiditas, karenamodal kerja adalah juga sebagian harta lancar yang diinvestasikan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnyayang diharapkan sampai saat modal kerja berputar kembali lagi menjadi kas.
            Rasio modal kerja ini dapat digunakan untuk mengetahui likuiditas dari total aktiva dan untuk mengetahui posisi modal kerja neto dari keseluruhan aktiva dengan rumus :  
                                        Aktiva Lancar – Ht Lancar  
           Working capital to total assets ratio =                                          x 100 %
                                                                                  Jumlah Aktiva
E.  Pengertian dan Jenis Rasio Profitabilitas

     1.  Pengertian Rasio Profitabilitas
      Mengukur prestasi perusahaan, maka rasio profitabilitas merupakan salah satu alat yang digunakan oleh para manajer untuk mengetahui kondisi dan keadaan perusahaan dalam menjalan kegiatan operasionalnya agar diketahui perkembangannya.
      Rasio profitabilitas juga akan memberikan gambaran efisiensi dan penggunaan. Mengenai hasil akan memberikan dampak kepada rentabilitas dapat dilihat setelah membandingkan pendapatan bersih setelah pajak dan bunga dengan harta.
      Alex S. Nitisemito, dalam buku Pembelanjaan Perusahaan (1999 : 78) menyatakan bahwa rasio profitabilitas adalah suatu rasio keuangan yang mengukur kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dengan sejumlah modal tertentu. Selain itu, rasio tersebut dapat memberikan gambaran tentang kontrol perusahaan dalam pengambilan keputusan keuangan.  
          D. Hartanto dalam buku Akuntansi Untuk Usahawan (1999 : 23) menyatakan bahwa profitabilitas ialah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba.
     Bambang Riyanto dalam buku Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan (2004 : 23) menyatakan bahwa profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
     Beberapa definisi tersebut rasio profitabilitas adalah perbandingan dari laba yang diperoleh dengan jumlah atau laba dengan investasi yang ada, juga dapat dikatakan kemampuan untuk mencapai keuntungan tertentu sebagai akibat dari kebijaksanaan dan keputusan atas penggunaan dana dalam perusahaan sehingga efisiensi dalam perusahaan dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan operasional.
           Dalam perhitungan rasio profitabilitas ada beberapa cara atau rumus yang dapat dipilih tergantung dari kepentingan penganalisa terhadap masalah keuangan tersebut (profit margin on sales, return on total assetsm return on net worth dan lain sebagainya).
2. Jenis-Jenis Rasio Profitabilitas
     Erwin Dukat dalam buku Alat-Alat Analisa Laporan Keuangan (1998 : 3) mengemukakan bahwa jenis rasio profitabilitas yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisa data antara lain :
2      Net profit margin (sales margin) adalah untuk melihat efisiensi perusahaan dalam  mencapai volume penjualan untuk menghasilkan laba yang diharapkan, sedangkan operating assets turnover untuk melihat efektivitas perusahaan yang dapat terjamin dan kecepatan operating assets turn over perusahaan.
Suatu faktor yang mempengaruhi perkembangan perusahaan adalah sampai sejauhmana perusahaan untuk mengelola usahanya agar dapat menghasilkan laba yang maksimal mungkin, sedangkan laba itu sangat dipengaruhi oleh sejauhmana perusahaan mencapai tingkay volume penjualan dengan biaya yang sewajarnya, karena tingkat efisensi dalam perusahaan akan menyebabkan semakin tinggi pula pencapaian net profit margin perusahaan
Adapun rumus net profit tersebut adalah :
                                Laba bersih setelah pajak
Net profit margin =                                                   X 100 %
                                  Hasil penjulan neto

Untuk menaikkan net profit margin ada beberapa cara yang dapat ditempuh :
3         Menaikkan hasil penjualan (net sales) yang lebih besar dari kenaikan operating expenses.
4         Mempertahankan net sales dengan menekan operating expenses.
5         Mengusahakan net  sales dengan harapan terjadi penurunan operating expenses yang lebih besar.
6      Rentabilitas ekonomis (return on total assets) yang sering juga disebut dengan istilah earning Power adalah perbndingan antara laba sebelum pajak dengan keseluruhan modal perusahaan.
Adapun laba yang dimaksud tersebut adalah laba operasi dan modal adalah jumlah aktiva.
Syarifuddin Alwi, dalam buku Alat-Alat Analisa Dalam Pembelanjaan (1999 : 13) mengemukakan bahwa rasio rentabilitas ekonomis adalah salah satu rasio rentabilitas yang dimaksud untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan pada operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.
Demikian rasio ini menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan (net operating income) dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan operasi tersebut (net operating assets)
Dari batas tersebut diberikan suatu rumusan sebagai berikut :
                                         Laba bersih sebelum pajak
Rentabilitas ekonomis =                                                       x 100 %
                                        Jumlah modal perusahaan

Dari rumus tersebut memperlihatkan bahwa rasio rentabilitas ekonomis adalah hasil perkalian profit margin dengan operating turnover, dimana keduanya sangat mempengaruhi tingkat rendahnya rasio rentabilitas ekonomis (return on total assets) 
7      Rentabilitas modal sendiri (return on net worth) yang rumusnya sebagai berikut :
                                               Laba bersih sebelum pajak
Rentabilitas modal sendiri  =                                                           x 100 %
                                               Jumlah modal sendiri

Rentabilitas modal sendiri tersebut menyangkut bagaimana kemampuan modal sendiri dengan menghasilkan keuntungan yang dibandingkan adalah bukan keseluruan modal tetapi khususnya modal sendiri.
Bambang Riyanto dalam buku Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan (2004 : 37) menyatakan bahwa rentabilitas modal sendiri adalah perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi para pemilik modal sendiri di satu pihak dengan jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut dipihak lain.
Alex S. Nitisemito dalam buku Pembelanjaan Perusahaan (1999 : 60) menyatakan bahwa rentabilitas modal sendiri adalah perbandingan antara laba bersih ( setelah dikurangi dengan biaya-biaya untuk pihak lain termasuk pajak perseroan dan bunga tetap) dibandingkan dengan modal sendiri.

a.    Pengertian dan Penentuan Rasio Standar
i.      Pengertian Rasio Standar
S. Munawir dalam buku Analisa Laporan Keuangan (1998 : 78) menyatakan bahwa pengertian rasio standar dalam analisa laporan keuangan adalah satu angka yang menujukkan hukuman antara satu unsur dengan unsur lainnya dalam laporan keuangan.
Hubungan antara unsur-unsur laporan keuangan tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana. Secara individuil rasio itu kacil artinya kecuali jika dibandingkan dengan rasio standar yang layak dijadikan dasar perbandingan. Bila tidak ada standar yang dipakai sebagai dasar perbandingan dari penafsiran rasio-rasio suatu perusahaan, penganalisa tidak dapat menyimpulkan apakah rasio-rasio itu menunjukkan kondisi yang menguntungkan atau tidak menguntungkan.
      Rasio standar ini dapat ditentukan berdasarkan alternatif, sebagai berikut :
2        Didasarkan pada catatan, kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan tahun-tahun yang telah lampau.
3        Didasarkan pada rasio dari perusahaan lain yang menjadi pesaingnya dipilh satu perusahaan yang tergolong maju dan berhasil.
4        Didasarkan pada data laporan keuangan yang dibandingkan disebut goat rasio.
5        Didasarkan pada rasio industri, dimana perusahaan yang bersangkutan masuk sebagai anggotanya.
Dengan perbandingan dengan rasio standar ini akan dapat diketahui apakah rasio perusahaan yang bersangkutan terletak di atas average, atau dibawah average. Rasio standar yang baik adalah yang memberikan rata-rata. Gambaran rata-rata yang paling tepat adalah rasio industri (gabungan perusahaan yang sejenis).
Perlu dipahami bahwa laporan keuangan itu merupakan kombinasi dari fakta yang telah dicatat, kesempatan akuntansi dan pertimbangan pribadi, sehingga rasio itu bukan merupakan ukuran eksak, maka raso standar janganlah dianggap sebagai kondisi yang ideal. Walaupun rasio industri memberikan gambaran rata-rata yang baik, seperti umumnya rasio industri sukar diperoleh untuk keperluan perbandingan dapat dipakai dalam bentuk rasio standar yang lain, misalnya “goal ratio” atau rasio dari perusahaan itu sendiri yang dimodifikasi dengan mengantisipasikan perubahan-perubahan yang diharapkan terjadi selama satu periode akutansi.
     2.  Penentuan Rasio Sandar           
           S. Munawir dalam buku Analisa Laporan Keuangan menyatakan bahwa rasio standar dapat ditentukan dengan cara-cara, sebagai berikut :
     a.  Mengumpulkan data laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan (dalam industri) yang diperbandingkan. Perusahaan-perusahaan tersebut hendaknya mempunyai keseragaman dalam sistem akuntansi dan prosedur akuntansi termasuk keseragaman dalam penggolongan rekening-rekening dan metode penyusutan, keseragaman periode akuntansi, kesamaan dalam penilaian aktiva dan kebijaksanaan manajemen.
       b. Menghitung angka-angka rasio yang dipilih dari tiap-tiap perusahaan dalam industri.             
G.  Kinerja Keuangan
      Indriyo dalam buku Manajemen Keuangan (1998 : 207) mengemukakan bahwa kinerja keuangan adalah merupakan prestasi keuangan yang dicapai perusahaan dalam periode tertentu.
     Selanjutnya, James C. Van Horne Financial Management Policy (1998 : 9) menyatakan bahwa kinerja keuangan merupakan ukuran prestasi perusahaan, maka keuntungan perusahaan merupakan salah satu alat yang digunakan oleh para manajer.
      Kinerja keuangan juga akan membeikan gambaran efisiensi atas penggunaan dana, mengenai hasil akan kemampuan memperoleh keuntungan dapat dilihat setelah membandingkan pendapatan bersih setelah pajak dan bunga (EBIT) dengan harta.
      Kinerja keuangan adalah suatu rasio keuangan yang mengukur kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dengan sejumlah modal tertentu. Rasio juga dapat memberikan gambaran tentang kontrol perusahaan dalam pengambilan keputusan keuangan.
      Analiasa rasio juga dapat memberikan gambaran tentang kontrol perusahaan dalam pengambilan keputusan keuangan. Menurut Erwin Dukat dalam buku Alat-Alat Analisa Laporan Keuangan (1998 : 113) mengemukakan bahwa kinerja keuangan adalah diukur dengan keberhasilan suatu perusahaan dalam mempertahankan kebijaksanaan deviden yang menguntungkan sementara pada waktu yang bersamaan mampu untuk menunjukkan adanya suatu kenaikan modal yang stabil dan mantap.
      Berdasarkan uraian dan definisi yang dikemukakan para ahli, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kinerja keuangan adalah prestasi yang dicapai perusahaan yang dinyatakan dalam prosentase setelah membandingkan antara hasil yang telah dicapai dengan besarnya modal yang digunakan. Semakin bsar prosentase atas perbandingan tersebut, semakin tinggi prosntase keuangan yang dicapai untuk perusahaan tersebut dan sebaliknya pula.
      Untuk mengetahui kinerja keuangan yang dicapai oleh suatu perusahaan dimaksudkan untuk memberi gambaran tentang efisiensi dan efektivitas yang dicapai perusahaan atas penggunaan dana.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Syarifuddin, 2001, Analisa Neraca, Cetalan Ketujuh, Edisi Ketiga, Ghalia Indonesia, Jakarta. 

Cahyono, Bambang, 2000, Analisa Kinerja Keuangan, TPWT, Jakarta.

Djarwanto, 1999, Pokok-Pokok Analisa Laporan Keuangan, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta. 

Dukat, Erwin, 1997,  Analisa Laporan Keuangan, Analisa Rasio, Edisi Pertama, Cetakan Pertama,  Liberty Yogyakarta.

Husnan, Suad, 2001, Pembelanjaan Perusahaan, (Dasar-Dasar Manajemen Keuangan),  Liberty, Yogyakarta.

Halim, Abdul, 2003, Analisa Investasi, Ceakan Keduabelas, Cetakan Ketujuh, Intermedia, Jakarta. 

Harjito, Agus, 2001, Manajemen Keuangan, Edisi Baru, Cetakan Kesembilan, Liberty, Yogyakarta.

Nafarin, M, 2004, Pengantar Akuntansi, Edisi Ketujuh, Salemba Empat, Yogyakarta.

Nitisemito, Alex, S, 1999, Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Kedua, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Riyanto, Bambang, 2004, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Kedua, Yayasan Penerbit  Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Simamoran, Henry, 1999, Akuntansi Manajemen, Cetakan Kedua, Edisi Pertama, TPWT, Jakarta.

Tunggal, Amin, 1998, Analisa Laporan Keuangan, Fakultas Ekonomi, UGM,  Yogyakarta.

Van Horn, James C, 1998, Manajemen dan Kebijakan Keuangan Perusahaan, Edisi Ketujuan, Intermedia, Jakarta.

Ikatan Akuntan Indonesia, 1997,  Norma-Norma Pemeriksaan Akuntnasi, Penerbit Bank Indonesia, Jakarta.


Kamis, 05 Januari 2017

Pengertian Analisa Ratio Financial

           Analisa ratio financial adalah alat yang digunakan untuk mengukur kelemahan dan kekuatan yang dihadapi oleh perusahaan dalam bidang keuangan dengan membandingkan angka-angka yang lainnya dari suatu laporan, financial yaitu dari neraca dan laporan rugi laba, yang akan menimbul kan bermacam-macam ratio yang dapat dijadikan sebagai ukuran dalam menganalisa.  C. James Van Horne, (2001: 129) memberikan batasan sebagai berikut : Analisa dimaksudkan untuk memudahkan penganalisa dalam mendapatkan gambaran tentang kondisi dan kebijaksanaan  pembelanjaan  perusahaan, maksud diadakannya analisa ratio untuk mengadakan penilaian likwiditas, solvabilitas, rentabilitas dan aktivitas perusahaan untuk memberikan gambaran penggunaan sumber-sumber keuangan yang ada dalam perusahaan. 
Ratio financial tersebut bukan saja dibutuhkan oleh pimpinan perusahaan tetapi juga oleh pihak luar dalam hal ini investor atau calon kreditur. Bagi pimpinan perusahaan berkepentingan terhadap ratio-ratio keuangan tersebut untuk memperoleh gambaran tentang kelemahan dan kekuatan yang dihadapi sehingga perencanaan dan penanggulangannya dapat dipikirkan, sedangkan bagi investor dengan ratio dapat dijadikan pegangan apakah akan membeli saham yang ditawar kan perusahaan atau tidak.
Dengan demikian, jelaslah bahwa mengadakan analisis financial sangat penting artinya baik terhadap perusahaan sendiri maupun terhadap investor atau calon kreditur. Untuk memudahkan dalam usaha mengetahui apakah suatu perusahaan mengerjakan sumber-sumber dananya secara efisien atau tidak maka ada beberapa ratio yang dapat digunakan.                                                         
Bambang Riyanto, (2004: 189) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut :
1) Ratio  likwiditas  adalah ratio dimaksud untuk mengukur likwiditas perusahaan (Current ratio, acid test ratio).                                                      
2) Ratio leverage adalah ratio yang dimaksud untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan hutangnya (Debt to total Assets ratio, Net worth to debt ratio dan lain-lain).                                                     
3) Ratio aktivitas yaitu ratio yang dimaksud untuk mengukur    sampai  seberapa  besar  efektivitas  perusahaan  dalam mengerjakan sumber-sumber dananya (Inventory turnover, Average collection period dan lain-lain). 
4) Ratio profitabilitas yaitu yang menunjukkan hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan keputusan (profit margin on sales, Return on total Assets, Return on net worth dan    lain-lain).
           Ratio satu dan dua disebut sebagai balance sheet   ratio, yang ketiga dikenal dengan istilah inter statement ratio sedangkan yang keempat dikenal dengan income statement ratio.


Pengertian dan Jenis-Jenis Jasa

            Jasa merupakan indikator yang penting bagi karyawan, jasa adakalanya dikatakan balas jasa pada seorang yang dipergunakan tenaganya atau sering juga dikatakan jasa produk perusahaan yang secara tidak langsung dibalas bagi para si pemakai jasa tersebut. Namun dalam pembahasan ini yaitu jasa sebagai produk perusahaan yang dapat dinikmati oleh pengguna/pemakai produk, sehingga seseorang merasa berkewajiban untuk ganti rugi dari pengguna jasa.
            Oleh karena itu setiap pekerjaan memerlukan pelayanan dan service kepada pengguna jasa, agar pelanggan dapat menikmati dengan sepuas dan jasa itu dipakai sesuai dengan tujuan serta jasa tersebut dipandang produk perusahaan yang secara tidak langsung dibuktikan produknya.
            Untuk lebih jelasnya tentang apa yang dimaksud dengan produk jasa pada perusahaan akan dikemukakan oleh Alex S. Nitisemita (1997 : 361)   menyatakan bahwa penggunaan produk perusahaan kepada pelanggan baik perorangan maupun melembaga yang dapat dipakai dengan tujuan tertentu.
            Sedangkan menurut Susilo Marjono (1998 : 114) adalah sesuatu pengguna jasa yang dapat dinilai dengan uang, yang nantikan disesuaikan dengan nilai guna dari pemakai jasa tersebut.
            Definisi di atas, dapat disadari bahwa suatu pemakai jasa dapat meningkatkan sesuatu aktivitasnya dengan menggunakan jasa produk perusahaan dan bantuan produk jasa dengan secara secepat dan proses dari aktivitas lainnya dapat dipersngkat kegiatan lainnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

            Masalah produk jasa bukan hanya penting karena merupakan produk secara tidak langsung dirasakan oleh seseorang atau secara organisasi dalam mengembangkan produk jasa, karena sesuatu hal yang dapat dipakai oleh siapapun saja, sehingga produk jasa dirasakan manfaat dan tujuan produk tersebut.         

Pengertian Solvabilitas

Solvabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk membayar seluruh kewajiban-kewajibannya baik berupa hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang seandainya perusahaan dikuiqidir/dibubarkan. Apabila perusahaan mampu membayar seluruh hutang-hutangnya bilamana diliquidir/ dibubarkan, maka perusahaan dikatakan bahwa dalam keadaan solvabel. Tetapi sebaliknya bilamana perusahaan tidak mampu membayar seluruh hutang-hutangnya baik berupa jangka pendek maupun jangka panjang bila diliquidir, maka perusahaan tersebut dikatakan dalam keadaan insolvabel atau tideak solvabel.                                
Solvabbilitas suatu perusahaan (Anonin, 1999: 122) dapat diketahui melalui neraca perusahaan yang bersangkutan dan perhitungan pada tingkat solvabilitas menggunakan dua macam ratio, yaitu :
                                      Total Assets
-          Solvabilitas =   -----------------  x 100 %        
                                 Total debt  

   Total assets suatu perusahaan adalah jumlah seluruh  aktiva yang dimiliki oleh perusahaan, yang terdapat pada sebelah debet suatu neraca atau pada bagian atas suatu debet. Perlu diperhatikan, bahwa di dalamtodal assets ini, tidak diperhitungkan aktiva bersifat inmaterial (yang tidak nyata), sedangkan total deb pada suatu perusahaan adalah sejumlah hutang perusahaan, baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang dengan rumus dibawah ini.
                                                  Net worth
    b. Net Worth to debt ratio = ----------------  x 100 %
                                                  Total debt
                       

         Net worth adalah jumlah modal sendiri yang dimiliki perusahaan yang mengcakup modal, saham, cadangan,  surplus dan lain-lain. Pengertian lain net worth adalah selisih antara jumlah hutang perusahaan dikurangi dengan total assets. Sedangkan net worth to debt ratio yang normal adalah 100% yang berarti bahwa jumlah hutang sama dengan jumlah modal sendiri.

Pengertian Likuiditas

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa dengan menghubungkan setiap elemen dari berbagai aktiva dan passiva dalam neraca pada suatu saat tertentu, maka akan diperoleh gambaran mengenai keadaan financial pada suatu perusahaan. Dalam neraca tersebut menggambarkan nilai aktiva, hutang dan modal  pada suatu saat tertentu,    sedangkan laporan rugi laba menggambarkan hasil yang  dicapai oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. melalui laporan keuangan tersebut dapatlah diketahui    keadaan likuiditas dan profitabilitas suatu perusahaan.
Masalah likuiditas suatu perusahaan berhubungan erat dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi. Untuk dapat memenuhi kewajiban tersebut, maka perusahaan harus mempunyai alat-alat likuid yang berupa aktiva lancar yang jumlahnya harus lebih besar dari jumlah kewajiban-kewajiban yang harus segera dipenuhi berupa hutang-hutang lancar dalam waktu singkat.
Makin besar jumlah aktiva  lancar yang  dimiliki  oleh suatu perusahaan dibandingkan dengan hutang lancar, maka makin besar tingkat likuiditas perusahaan tersebut. Dan sebaliknya apabila jumlah aktiva lancar lebih kecil daripada hutang lancar, berarti bahwa perusahaan tersebut berapa dalam likuid.                                        
Berapa penulis mengemukakan batasan pengertian  rasio likuiditas antara lain Van Horne yang diterjamahkan oleh Junior Tirok (1997: 16) mengemukakan rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.  Kemudian menurut J. Fred Weston (1999: 225), diterje mahkan oleh Jaka Wasana, mengemukakan bahwa rasio-rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur tingkat kemampuan perusahaan untuk dapat memenuhi kewajiban bila jatuh tempo.
Suatu perusahaan dikatakan memeliki tingkat likuiditas yang baik apabila tingkat likuiditas berada di atas standar 1 : 1. Dengan mementukan tingkat likuiditas yang baik merupakan suatu tindakan hati-hati dari perusahaan dalam mengantisipasi suatu keadaan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada tingkat likuiditas suatu perusahaan memegang peranan yang penting dan dapat perhatian utama apabila perusahaan mengadakan analisis finansial, sebab tingkatan likuiditas suatu perusahaan merupakan salah satu faktor lain yang menentukan berhasil tidaknya suatu perusahaan dikelola karena mengakut penyediaan kebutuhan dana dan uang tunai dan sumber-sumber untuk memenuhi kebutuhan tersebut, serta turut menentukan seberapa jauh perusahaan akan menanggung resiko, dimana faktor-faktor/ resiko tersebut menyangkut dana jangka  panjang serta menyangkut hubungan antara dana pemegang saham.
Adapun hubungan antar dana pemegang saham dan dana pinjaman jangka panjang  biasanya di atas, olehnya itu dengan pembatasan tersebut maka akan tetap dipertahankan tingkat standard yang berlaku untuk pendapatan dan cadangan harta sebagai jaminan dana tersebut.
Jika tingkat likuiditas harus dipertahankan pada standar yang normal, maka salah tugas utama manajer adalah untuk menilai rencana kerja mereka dengan memperhitungkan akan kebutuhan uang tunai untuk jaminan agar dapat memenuhi kewajiban-kewajiban yang  mana kewajiban-kewajiban tersebut berasal dari luar perusahaan yang biasa disebut likuiditas badan usaha, sedangkan kewajiban yang berasal dari dalam perusahaan merupakan suatu untuk memperlancar jalannya operasional seperti gaji karyawan, pembelian bahan baku yang mana kewajiban ini biasanya disebut dengan likuiditas perusahaan atau likuiditas intern.
Tingkat likuiditas badan usaha memeliki arti bahwa perusahaan tersebut harus menjaga ketepatan janji keuangan pada pihak luar karena tanpa perusahaan maka kelangsungan hidup perusahaan akan terancam, sedangkan likuiditas intern menyangkut orang-orang yang sewaktu-waktu dapat menghambat jalannya operasi perusahaan.
Suatu perusahaan dikatakan memiliki tingkat likuiditas yang baik apabila perusahaan tersebut memiliki tingkat likuiditas yang wajar. Tingkat likuiditas yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki jumlah dana yang banyak menganggur dan apabila terlalu rendah maka keselamatan perusahaan terancam.                                                                                                                       
Adapun beberapa peralatan rasio likuiditas oleh Syafaruddin Alwi (1998: 115) yang dapat digunakan untuk mengukur dan mengetahui tingkat likuiditas yaitu :
- Current ratio
- Quick ratio
- Cash ratio
Namun dalam hal ini penulis hanya menggunakan current ratio, maka sebab itu selain untuk umum dipergunakan oleh perusahaan, currnet ratio juga merupakan peralatan yang mengukur pada tingkat likuiditas secara kasar dibandingkan dengan yang lainnya. Untuk lebih jelasnya maka dibawah ini akan dijelaskan mengenai rasio likuiditas yang diukur dengan current ratio.
Current ratio merupakan ukuran yang sangat berharga dalam menilai kemampuan yang dimiliki perusahaan dalam memenuhu hutang-hutang lancarnya yang segera jatuh tempo. Akan tetapi suatu perusahaan dengan current rasio yang tinggi belum tentu menjamin akan dapat membayar hutang perusahaan yang jatuh tempo karena proporsi dan aktiva lancar yang tidak menguntungkan misalnya jumlah persediaan yang relatif tinggi dibandingkan dengan taksiran pada  tingkat penjualan yang akan datang, sehingga tingkat  perputaran persediaan rendah dan menunjukkan adanya saldo piutang yang besar sulit untuk ditagih.
Current ratio yang terlalu tinggi yang menunjukkan kelebihan uang kas atau aktiva lancar dibandingkan dengan yang dibutuhkan sekarang. Namun timbul masalah sampai pada tingkat manakah rasio tersebut akan dapat dipertahankan agar dapat memenuhi kewajibannya dengan segera. Ukuran tentang current rasio yang tepat bagi perusahaan tidak dapat ditentukan dengan pasti, oleh Bambang Riyanto (2004: 25) mengemukakan bahwa pedoman current rasio 2 : 1 sebenar nya hanya didasarkan pada prinsip hati-hati.
Jadi tingkat likuiditas yang sebaiknya dipertahankan adalah 200 %. Namun pedoman ini bukanlah merupakan pedoman yang mutlak dan hanya merupakan tidakan hati-hati bagi perusahaan, sebab apabila suatu perusahaan menetapkan current rasio 2 : 1 atau 200 %, ini berarti bahwa setiap satu rupiah hutang lancar, dapat dijamin dengan dua rupiah aktiva lancar.
Adanya current rasio sebesar 200 % memberikan suatu petunjuk kepada manajer perusahaan tentang berapa besar kredit yang bida dipinjan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek yang tidak mengganggu tingkat likuiditasnya menurut D. Hartanto (2001: 123).
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung current rasio adalah sebagai berikut :
                               Aktiva Lancar 
Current Rasio  =   -------------------   x 100 %
                              Hutang lancar       
                                                  

Current rasio ini merupakan indikator likuiditas yang dipakai secara luas, karena dapat memberikan informasi tentang kemampuan aktiva lancar untuk menutupi hutang lancar.

Pengertian dan Jenis-Jenis Laporan Keuangan

Pengertian Keuangan  
Analisa laporan keuangan perusahaan berkaitan erat dengan bidang akuntansi yang pada dasarnya merupakan   kegiatan mencatat, menganalisa, dan menafsirkan data keungan dari lembaga perusahaan dan lembaga lainnya dengan aktivitas nya berhubungan dengan produksi dan pertukarang barang dan jasa.
Untuk lebih jelasnya analisa laporan keuangan menurut Djarwanto, (1997: 1), menyatakan bahwa kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan yang tercermin pada laporan-laporan keuangan perusahaan pada hakekatnya merupakan hasil akhir dari kegiatan akuntansi perusahaan.
Pengertian di atas sebagai informasi tentang kondisi keuangan dari hasil operasi perusahaan yang berguna bagi berbagai pihak, baik pihak-pihak yang ada dalam perusahaan maupun diluar perusahaan. Pimpinan perusahaan mengadakan analisa laporan  keuangan pada suatu perusahaan akan dapat mengetahui keadaan perkembangan keuangan dari  hasil yang dicapai baik pada analisa laporan keuangan yang dicapai maupun keberha silan dan kegagalan pada waktu lalu. Dari laporan keuangan memang penting untuk penyusunan kebijaksanaan yang akan dilakukan.     
Laporan keuangan disusun guna memberikan informasi kepada  berbagai  pihak  terdiri  dari meraca, laporan rugi laba, laporan bagian laba yang ditahan atau laporan modal sendiri. Dan laporan perubahan posisi keuangan atau laporan sumber dan penggunaan dana.
Neraca menggambarkan kondisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu, umumnya pada akhir tahun pada saat    penutupan buku. Neraca ini memuat aktiva (harta kekayaan yang dimiliki perusahaan), hutang kewajiban perusahaan untuk membayar dengan uang atau aktiva lain kepada pihak lain pada waktu tertentu yang akan datang dan modal sendiri (kelebihan aktiva di atas hutang).
Laporan laba rugi perusahaan memperlihatkan hasil yang  diperoleh dari penjualan barang-barang atas jasa-jasa dan ongkos-ongkos yang timbul dalam proses pencapaian hasil. Laporan ini juga memperlihatkan adanya pendapatan bersih atau kerugian bersih sebagai hasil dari operasi  perusahaan.
Laporan bagian laba yang ditahan, yaitu digunakan dalam perusahaan yang berbentuk perseroan, menunjukkan suatu analisa perubahan besarnya bagian laba yang ditahan selama jangka waktu tertentu. Sedangkan laporan modal sendiri diperuntukkan                                                              bagi perusahaan perseroan dan pada bentuk persekutuan, meringkaskan perubahan besarnya modal pemilik atau pemilik selama periode tertentu.
Laporan perubahan posisi keuangan memperlihatkan aliran modal kerja selama periode tertentu. Laporan ini memperlihatkan sumber-sumber dari mana modal kerja telah diperoleh  dan penggunaan atau pengeluaran modal kerja yang telah dilakukan selama jangka waktu tertentu.                                                                                                                   
Kalau menurut Ikatan Akuntan Indonesia (1997: 12) menyatakan bahwa laporan keuangan sebagai pertanggungan jawab kepada pihak ekstern harus disusun sedemikian rupa, sehingga :
1. Memenuhi keperluan untuk :
   a. Memberikan informasi keuangan secara kuantitatif mengenai perusahaan tertentu, guna memenuhi keperluan para pemakai dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi.
   b. Menyajikan informasi yang dapat dipercaya menganai posisi keuangan dan    perubahan - perubahan  kekayaan  bersih perusahaan.
   c. Menyajikan informasi keuangan yang dapat membantu para pemakai dalam menaksir kemampuan memperoleh laba  dari  perusahaan.
   d. Menyajikan informasi yang diperlukan mengenai suatu perubahan dalam harta dan kewajiban serta mengungkap kan lain-lain informasi yang sesuai dengan keperluan para pemakai.
2. Mencapai mutu sebagai berikut :
   a. Relevan
   b. Jelas dan dapat dimengerti
   c. Dapat diuji kebenarannya
   d. Mencerminkan keadaan perusahaan
   e. Dapat dibandingkan
   f. Lengkap                                                        

   g. Netral.         
              Jenis-Jenis Laporan Keuangan 
Pengertian laporan keuangan perusahaan bahwa yang diperumpakan akuntansi merupakan suatu bahasa bisnis dapat memberikan informasi kondisi bisnis dan hasil usaha perusahaan pada periode tertentu untuk dijadikan sebagai bahan pengambilan keputusan bagi pihak-pihak berkepentingan akuntansi, informasi-informasi yang dimaksud adalah laporan keuangan yang terdiri dari daftar-daftar yang menunjukkan posisi keuangan dan hasl kegiatan suatu perusahaan untuk satu periode.
Untuk lebih memahami tentang laporan keuangan di bawah ini akan dikemukakan oleh bebepara pengertian analisa   laporan keuangan, oleh Myer dijerjemahkan Munawir (1999: 5) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Dua daftar itu adalah neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi laba.                                                            
Selanjutnya, Ikatan Akuntan Indonesia (1999: 1), bahwa istilah laporan keuangan yang meliputi neraca,laporan rugi laba, laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya sebagai laporan atus kas atau laporan arus dana dan catatan laporan keuangan, analisa laporan keuangan lain serta materi penjelasannya merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Beredasarkan pengertian laporan keuangan yang telah dikemukakan  di atas, dapat diketahui bahwa analisa laporan adalah merupakan poduk atau hasil akhir dari suatu siklus akuntansi. Laporan  keuangan inilah yang menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan. Di samping itu bahan informasi analisa laporan keuangan juga sebagai pertanggung jawaban atau accountability dan dapat juga sebagai indikator kesuksesan suatu perusahaan.
1) Komponen-Komponen Laporan Keuangan
Untuk memenuhi kepentingan pemakai laporan keuangan yang meliputi investasi  sekarang  dan  investasi  potensial, karyawan, pemberian pinjaman pemasol dan kredit usaha lainnya, pelanggan, emerintah serta lembaga-lembaga dan masyarakat. Dalam menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda.
   Berdasarkan hal tersebut di atas, maka laporan keuangan bank harus disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuang an dan Standar Khusus Akuntansi Perbankan Indonesia  adalah sebagai berikut :
   a. Neraca
   b. Laporan komitmen dan kontijensi
   c. Laporan laba rugi
   d. Laporan arus kas
   e. Catatan atas laporan keuangan.
   Laporan keuangan mempunyai fungsi dan kegunaan dalam penyampaian  informasi  yang  akurat  dan  efektif untuk kepentingan pemakai laporan keuangan.                                                                            
2) Dasar Penyajian Laporan Keuangan                                                             
    Ikatan akuntansi Indonesia (1999: 31) menyatakan bahwa seluruh penyerahan laporan keuangan bank harus daftar mata uang rupiah. Dalam hal ini bank memiliki aktiva kewajiban komitmen serta kontijensi dalam valuta asing harus disajikan ke dalam mata uang rupiah dengan harus menggunakan kurs tengah yang berlaku pada tanggal laporan Untuk modal yang disetor valuta asing dijabarkan dengan menggu nakan kurs  konversi  Bank Indonesia pada saat modal disetor.
    Adapun yang dimaksud dengan kurs tengah adalah kurs jual beli dari Bank Indonesia dibagi dua pada saat tanggal laporan. Selanjutnya asumsi dasar penyusunan laporan keuangan disusun atas dasar akrual. Dengan dasar ini transaksi dan peristiwa lain diakui saat kejadian dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam  laporan keuangan pada periode yang bersangkutan.
Laporan yang disusun secara karual memberikan informasi kepada pemakai tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas di masa depan serta sumber daya yang memprestasikan kas yang akan diterima di masa depan.
3) Tujuan Laporan Keuangan
       Tujuan laporan keuangan menurut Ikatan akuntansi Indonesia (1999: 121) memberikan informasi tentang posisi keuangan kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebahagian besar kalangan penggunaan laporan dalam rangka keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stawardship) manajemen atas suatu penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.    
       Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang memungkinkan dibutuhkan pemakai dalam hal pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum dapat menggambarkan pengaruh keuangan dari  kejadian  masa  lalu  dan  tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang dilakukan manajemen  atau pertanggungjawaban manajemen atau sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
            Selanjutnya, tujuan laporan menurut APB Statements Nomor 4 berjudul dikutip oleh Syafri Syafif Harahap (1999: 98), mengatakan bahwa laporan ini bersifat deksriptif dan laporan ini banyak mempengaruhi studi-studi berikut nya tentang tujuan laporan keuangan. Dalam laopran keuangan ini berutujuan laporan keuangan digolongkan, sebagai berikut :
   a. Tujuan khusus
       Tujuan khusus dari laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan  posisi  keuangan  lainnya secara wajar dan   
sesuai dengan GAAP.
   b. Tujuan umum                                                   
      Adapun tujuan umum laporan keuangan, sebagai berikut :
      * Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber sumber  ekonomi  dan  kewajiban  perusahaan  dengan   maksud :
        - Untuk menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan
        - Untuk menunjukkan posisi keuangan dan investasinya
        - Untuk  menilai  kemampuannya  dalam  menyelesaikan utang-utangnya
        - Menunjukkan kemampuan sumber-sumber  kekayaan yang ada untuk pertumbuhan perusahaan.                                                  
      * Memberikan  informasi  yang  terpercaya   tentang   sumber  kekayaan   bersih  yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba dengan maksud, sebagai berikut  :                                                
        - Memberikan gambaran tentang dividen yang  diharapkan pemegang saham.
        - Menunjukkan  kemampuan  perusahaan  untuk membayar kewajiban pada kreditur,  supplier, pegawai, pajak,  mengumpulkan dana untuk perluasan.
        - Memberikan  informasi  kepada  manajemen  untuk  diguna kan dalam pelaksanaan fungsi kemampuan perencanaan dan pengawasan.
        - Menunjukkan tingkat  kemampuan  perubahan mendapatkan laba dalam jangka panjang.
      * Memberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi perusahaan menghasilkan laba                                                               
      * Memberikan  informasi  yang  diperlukan   lainnya   tentang   perubahan   harta  dan kewajiban.
      * Pemakai laporan  menentukan standar ini.                                        

Pengertian Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan disini adalah penggunaan keuangan  karena adanya transaksi jual beli  oleh perusahaan kepada para  langganannya. Penggunaan keuangan yang harus dipertaggung jawabkan kepada pemegang saham. Di samping itu sering perusahaan yang timbul piutang pada akhirnya akan menimbulkan hak penagihan atau piutang kepada langganan sangat erat hubungannya dengan persyaratan kredit yang diberikan. Sekaligus pengumpulan piutang tidak tepat pada waktu yang sudah ditetapkan namun sebagian besar dari piutang tersebut akan terkumpul dalam jangka waktu yang kurang dan satu tahun. Dengan atasan itulah maka piutang dimasukkan sebagai salah satu komponen aktiva lancar perusahaan.
            Bambang Riyanto, (2004 : 89) penggunaan perlu dipertanggungjawabkan tentang pengelolaannya, apakah terjadi utang piutang, ataukah keungan tersebut dialokasikan secara dengan kepentingan perusahaan.
 Kegiatan perusahaan perlu dilaporkan kepada pemegang saham baik melalui neraca maupun laporan rugi laba biasanya merupakan bagian cukup  besar  dari  aktiva lancar dan oleh  karenanya perlu mendapat perhatian yang cukup serius agar perkiraan piutang ini dapat dihitung dengan cara yang seefisien mungkin. Karena piutang yang tidak dapat ditagih merupakan faktor yang akan merugikan perusahaan. Dengan kata lain tidak tertagihnya piutang dari langganan, adalah tanggung jawab bersama di antara fungsionaris perusahaan. Untuk mengantisipasi timbulnya kerugian akibat tidak tertagih piutang, maka sebelum perusahaan memberikan pinjaman atau menambah pinjaman sebelumnya, pihak perusahaan terlebih dahulu mengadakan evaluasi tentang keadaan atau kemampuan ekonomis calon pembeli.
            Dengan demikian, untuk mengantisipasi akan adanya pencatatan yang dapat menimbulkan kerugian perusahaan perusahaan biasanya kurang tepatnya pencatatan yang dilaksanakan pada bagian pembukuan, sehingga ada kekeliruan yang bisa terjadi menimbulkan kerugian perusahaan, di samping itu karena koordinasi yang kurang bagian pemasaran dan pembelian artinya kros cek antara pemasukan dengan pengeluaran barang kurang akurat. Pencatatan yang diharuskan akurat yang tidak boleh diabaikan oleh pihak perusahaan, agar segala kekeliruan dapat berkurang akan berdampak pada perusahaan yang bisa terhindar dari segala kerugian yang dialami, sehingga pihak perusahaan perlu diperhitungkan kemungkinan kerugian.
            Kerugian piutang yang tidak tertagih, merupakan persoalan yang timbul setelah terjadinya ternsaksi penjualan barang dan jasa hal ini sering diketahui dalam jangka waktu yang relatif lama.                                                                                                                    

            Untuk mengantisipasi terjadinya resiko kerugian seperti diterangkan di atas, maka perlu menentukan standar besar kecilnya pemberian pinjaman kepada langganan. Dalam