Powered By Blogger

Jumat, 08 Februari 2013

Pengertian Kredit Konsumtif


Beragamnya jenis usaha, menyebabkan beragam pula kebutuhan akan dana . Kebutuhan  dana yang beragam menyebabkan jenis kredit juga menjadi beragam. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan dana yang diinginkan nasabah. Dalam prekteknya kredit yang diberikan bank umum dan bank perkreditan rakyat untuk masyarakat terdiri dari berbagai jenis. Salah satu diantaranya adalah kredit konsumtif.
            Kredit konsumtif adalah kredit yang digunakan untuk dikonsumsi secara pribadi. Dalam kredit ini tidak ada pertambahan barang dan jasa yang dihasilkan, karena memang untuk digunakan atau dipakai oleh seseorang atau badan usaha. Sebagai contoh kredit untuk perumahan kerdit dan mobil pribadi, kredit perabotan rumah tangga dan kredit konsumtif lainnya.

Pengertian Dan Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Bunga Kredit


   1. Pengertian Bunga Kredit
            Bunga kredit adalah balas jasa yang diberikan oleh nasabah kepada pihak bank. Menurut Kasmir dalam Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya (2000:7) bunga kredit adalah harga yang harus dibayar oleh debitur kepada bank. Selanjutnya Muchdarsyah Sinungan dalam Manajemen Dana Bank (1993:27) mengatakan bahwa bunga kredit merupakan suatu ganti rugi atas penggunaan dana oleh nasabah.
            Dari pengertian diatas, dapat diketahui bahwa bunga kredit merupakan keuntungan yang diterima atas peminjaman uang kepada nasabah dan sebaliknya bagi nasabah merupakan biaya modal yang harus dikeluarkan pihak nasabah atas penggunaan fasilitas kredit bank.
            Bank dinegara indonesia saat ini terlihat pada neraca bank didominasi oleh kredit sehingga pendapatan bunga kredit masih sangat dominan dibandingkan dengan pendapatan non bunga atau free based income. Dengan demikian bahwa penetapan bunga kredit suatu bank merupakan kebijaksanaan yang penting dan strategis sehingga dalam pengambilan keputusan tingkat suku bunga yang harus  diberikan senantiasa memperhatikan seluruh faktor yang mempengaruhinya dan dalam pelaksanaannya  harus didukung dengan perangkat administrasi (perjanjian kredit dan sisitem perhitungan dan pencatatan) yang baik.

.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bunga Kredit     
            Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan bunga kredit. Menurut Muchdarsyah Sinungan Dalam Manjemen Dana Bank (1993:45), bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi bunga kredit, yaitu :
a.  Keadaan Ekonomi dan Keuangan.
            Dalam hal ini diperhatikan keadaan pasar uang apalagi jumlah uang yang beredar makin meningkat maka bunga kredit perlu dinaikkan demikian sebaliknya apalagi uang yang beredar dipasar rendah maka bunga kredit harus diturunkan.
b.  Degree Of Risk.
            Dalam memberikan atau menetapkan bunga kredit perlu diperhatikan resiko dari kredit tersebut.
c.  Hubungan Dengan Nasabah.
            Apabila hubungan antara bank dengan nasabah semakin baik, maka perlu diberikan special rate atau bunga khusus untuk debitur maka bunga kredit yang diberikan juga rendah, agar nasabah betah dan tetap memilih bank kita.
d.  Cost Of Money.
            Bila cost of money dikeluarkan bank tinggi, maka bunga kredit yang diberikan bank juga tinggi. Sebaliknya apabila cost of money rendah maka bunga kredit bank pun rendah.

Pengertian Strategi


Di dalam pemasaran, yang diibaratkan sebagai suatu medan tempur bagi para produsen dan para pedagang, maka perlu ditetapkan strategi bagaimana memenangkan peperangan. Banyak lawan yang dihadapi dalam medan pasar, sebagaimana halnya musuh dalam perang militer. Oleh sebab itu, perusahaan memerlukan strategi.
Stretegi pemasaran memainkan peran yang sanrjat penting dalam membantu kesuksesan suatu persahaan. Meningkatnya kepentingan tentang kepuasan konsumen, perbedaan dunia bisnis, perubahan teknologi yang cepat dan tantangan persaingan global nrienuntut strategi pemasaran tintuk mempertahankan dan mengembangkan keuriggulan bersaing suatu perusahaan pemasaran strategis mengkaji konsep dan proses untuk memperoleh keuntungan bersaing dalam dunia bisnis.
Menurut  Lesser Robeit Bittel yang diki'tip oleh Alma (2005:199),  defenisi strategi ialah suatu rencana yang fundamental untuk mencapai tujuan perusahaan.
Sedangkan menurut Porter (1997:12), strategi adalah pola/rencana kegiatan mengenai cara bisnis bersaing, tujurn yang ingin dicapai dan kebijakan apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. v Dapat disimpulkan bahwa strategi perusaraan adalah pola keputusan dalam perusahaan yang menentukan dan mengungkapkan sasaran, maksud atau tujuan yang direncanakan untuk pencapaian tujuan serta merinci jangkauan bisnis yang akan dikejar oleh perusahaan.

Pengertian Occupancy Rate


Ety Rochaety dan Ratih Tresnati dalam bukunya Kamus Istilah Ekonomi (2005:237) menyatakan bahwa Occupancy Rate adalah Angka (dalam persentase) antara jumlah kamar yang disewa oleh tamu dengan jumlah seluruh kamar satu hotel.

Pengertian Discount Price


Pengertian Discount Price menurut Mahmud Machfoedz dalam bukunya Pengantar Ekonomi Modern (2005:141) adalah Potongan harga yang menarik, sehingga harga sesungguhnya lebih rendah dari harga umum. Discount yang diberikan harus mempunyai arti yang penting bagi konsumen, kalau tidak, tidak ada artinya..
Perusahaan umumnya akan menyesuaikan daftar harga mereka dan memberikan diskon atau potongan untuk setiap pembayaran yang lebih cepat, pembelian dalan jumlah besar, dan pembelian diluar musim. Perusahaan harus melakukan hal itu secara hati-hati atau mereka akan menemukan bahwa laba mereka jauh lebih kecil dibanding yang direncanakan. Adapun macam-macam diskon sebagai berikut :
1.  Diskon Tunai
Diskon tunai adalah pengurangan harga untuk pembeli yang segera menbayar tagihannya.
2. Diskon Kuantitas
Diskon Kuantitas adalah pengurangan harga bagi pembeli yang membeli dalam jumlah yang besar. Diskon kuantitas harus ditawarkan sama untuk semua pelanggan dan tidak boleh melebihi penghematanbiaya yang diperoleh penjual karena menjual dalam jumlah besar.
3. Diskon Fungsional
Juga disebut dengan diskon perdagangan, ditawarkan oleh produsen kepada para anggota saluran perdagangan jika mereka melakukan fungsi-fungsi tertentu, seperti menjual, menyimpan atau melakukan pencetatan. Produsen boleh memberikan diskon fungsional yang berbeda bagi saluran perdagangan yang berbeda tetapi harus memberikan diskon fungsional yang sama dalam tiap saluran.

4.  Diskon Musiman
 Diskon Musiman adalah pengurangan harga untuk pembeli yang membeli barang atau jasa diluar musimnya. Produsen akan memawarkan diskon musiman untuk pengecer pada musim semi dan musim panas untuk mendorong dilakukannya pemesanan lebih awal. Hotel, Motel, dan perusahaan penerbangan juga menawarkan diskon musiman pada periode-periode penjualan yang lambat.

Pengertian Harga Jual Dan Sistem Penetapan Harga Jual


Dalam konsep kebijaksanaan harga jual dalam usaha meningkatkan volume penjualan, disini akan dibatasi pada suatu pengertian mengenai kebijaksanaan harga jual menurut Radiosunu dalam bukunya Manajemen Pemasaran (2001:147) adalah usaha seseorang atau pengusaha untuk menetapkan harga benda-benda dan jasa-jasa yang akan dijualnya (dalam batasan kekuasaannya) sesuia keadaan yang sifatnya nyata.
Sebelum mengemukakan harga suatu barang, penjual harus mengutarakan terlebih dahulu tentang barang tersebut. Dengan demikian apabila telah mengerti faedah dan kualitas barang maka soal harga menjadi nomor dua. Ada empat langkah yang harus dilakukan oleh penjual pada waktu akan menjual barang agar berhasil. Keempat langkah tersebut adalah sebagai berikut :
a.    Memikat hati pelanggan
b.    Mengarahkan perhatian langganan pada barang yang akan dijual
c.    Menguraikan faedah barang
d.    Menimbulkan keinginan dalam hati pelanggan untuk membelinya
Langganan adalah orang yang mengutamakan kualitas barang daripada harga. Murah atau mahalnya harga barang sangat relaitf, karena suatu barang menurut si A, mahal, tetapi mungkin menurut pendapat si B, murah. Oleh karena itu, penjual harus mengetahui kualitas suatu barang agar dapat menentukan harga yang layak.

Sistem  Penetapan Harga Jual
Radiosunu dalam bukunya Manajemen Pemasaran (2001:148), mengemukakan secara terperinci metode penetapan harga jual sebagai berikut ;
1.    Penetapan harga berdasarkan biya plus.
dalam sistem ini perusahaan menetapkan harga jual produksinya dengan cara menambahkan tingkat keuntungan yang standar pada biaya-biaya yang telah dibebankan pada barang.
2.    Penetapan harga berdasarkan tingkat keuntungan sasaran
Dalam system ini perusahaan menetapkan harga jual produksinya, dengan cara menambahkan tingkat keuntungan yang standar pada biaya-biaya yang telah dibebankan pada barang.
3.    Penetapan harga jual menurut persaingan
Penetapan harga berdasarkan presepsi nilai suatu produk adalah salah satu system penetapan harga yang tidak menjadikan biaya sebagai salah satu unsur dasar perhitungan. Dalam metode ini perusahaan menetapkan unsure-unsur bukan harga dalam bauran pemasaran untuk membina nilai citra di dalam pikiran konsumen.
4.    Penetapan harga dengan mengikuti pasar yang ada.
5.    Penetapan harga dalam sampul tertutup

Karakteristik Jasa


Buchari Alma dalam bukunya manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa (2000:205) mengemukakan ada                                        3 karakteristik jasa yaitu:
1)    Lebih bersifat tidak berujud daripada berujud
Benda atau barang yang kita beli atau yang kita gunakan sehari-hari adalah sebuah objek, sebuah alat atau sebuah benda, sedangkan jasa merupakan perbuatan, penampilan atau sebuah usaha. Bila kita membeli barang,maka barang tersebut dipakai atau ditempatkan pada suatu tempat. Tapi bila membeli jasa, maka pada umumnya tidak ada ujudnya.
2)    Produksi dan konsumsi bersamaan waktu
Jasa, diproduksi atau dikonsumsi dalam jangka waktu yang sama. Seorang frofesor di perguruan tinggi memprouksi jasa pendidikan dan mahasiswa langsung mengkonsumsi pada waktu itu juga. Pada umumnya, barang yang diproduksi dulu kemudian dijual dan dikonsumsi, sedangkan jasa biasanya dijual dulu, kemudian diproduksi dan dikonsumsi secara serempak. Dikatakan produksi dan konsumsi berjalan serempak
artinya sipenghasil jasa, sering hadir secara pisik, pada waktu konsumsi berlangsung.
3)    Kurang memiliki standar dan keseragaman.
Industri jasa cenderung dibedakan diantara:
a. Berdasarkan Orang
b. Berdasarkan Perlengkapan
Implikasi dari perbedaan ini ialah hasil jasa berdasarkan orang (people based) jasa kurang memiliki standardisasi, dibandingkan dengan hasil jasa dari jasa hasil perlengkapan. Dengan kata lain, jasa yang memiliki pelayanan orang, memiliki tingkat variabilitas, tergantung pada orangnya, dan tingkat perbedaan ini tidak ada, pada jasa yang dilayani oleh mesin. Ini merupakan pertimbangan penting, bagi industri jasa yang menggunakan banyak tenaga orang.

Pengertian jasa dan Jenis-jenis Jasa


1. Pengertian Jasa
 Menurut Buchari Alma dalam bukunya Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa (2000:204) menyatakan bahwa Jasa adalah sesuatu yang dapat diidentifikasikan secara terpisah tidak berwujud, ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan atau suatu kegiatan okonomi yang outputnya bukan produk dikonsumsi bersama dengan waktu produksi dan memberikan nilai tambah (seperti kenikmatan,hiburan,santai,sehat) bersifat tidak berwujud.
2. Jenis-Jenis Jasa
Buchari Alma dalam bukunya Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa (2000:208) mengemukakan Jenis-jenis jasa yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a.         personalized services
Jasa ini sangat bersifat personal, yang tdak dapat dipisahkan dari orang yang menghasilkan jasa tersebut. Oleh sebab itu pelayanannya harus langsung ditangani sendiri oleh produsennya. Pemakaian perantara dalam hal ini tidak praktis. Saluran distribusinya adalah sangat pendek, karena penjualan langsung adalah yang paling tepat.
b.         financial Services
financial Services terdiri dari :

1.     Banking services ( Bank )
2.      Insurance services ( asuransi )
3.      Investment securities ( Lembaga penanam modal )
c.         Public utility and transportation services
perusahaan Public utility mempunyai monopoli secara alamiah, misalnya perusahaan listrik, air minum. Para pemakainya terdiri dari :
1.       Konsumen local
2.       Perkantoran dan Perdagangan
3.       Industri
4.       Pemda
Sedangkan dalam transportation services ialah meliputi : angkutan kereta api, kendaraan umum, pesawat udara, dsb. Pelayanan di sini ditujukan untuk angkutan penumpang dan angkutan barang
d.         Entertainment
Orang yang mempunyai usaha ini bias memperoleh pendapatan yang besar karena mereka bias mempengaruhi masyarakat, melalui advertising.Yang termasuk ke dalam kelompok ini ialah : usaha-usaha dibidang olah raga, bioskop, gedung-gedung pertunjukan dan usaha-usaha hiburan lainnya
e.         Hotel services
Hotel bukan merupakan suatu objek pariwisata melainkan merupakan salah satu sarana dalam bidang kepariwisataan, maka dalam hal ini hotel perlu mengadakan kegiatan bersama dengan tempat-tempat rekreasi, hiburan, travel biro, dll.

Pengertian Pemasaran dan Fungsi Pemasaran


1. Pengertian Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang dan mendapatkan laba. Sehingga sejak orang mengenal kegiatan pemasaran telah banyak defenisi-defenisi pemasaran yang dikemukakan.
7
 
Berikut ini dikemukakan beberapa pengertian dari pemasaran seperti yang dikemukakan oleh. Suparno dalam bukunya Marketing Profesional (2004:1) Pemasaran merupakan sebuah tonggak / pilar dari kemajuan sebuah perusahaan, karena dengan adanya seorang marketing sebuah perusahaan akan berjalan dengan dinamis dan aktif. Sedangkan menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong dalam bukunya Dasar-dasar Pemasaran (2007:7) Pemasaran adalah Proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok  memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk serta nilai dengan pihak lain. Dan menurut Radiosunu dalam bukunya Manajemen Pemasaran (2001:2) menyatakan bahwa Pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan pada usaha memuaskan keinginana dan kebutuhan melalui proses pertukaran. Menurut Sofyan Assauri dalam bukunya Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Analisis (2001:2) Menyatakan Bahwa, Pemasaran adalah untuk menyediakan dan menyampaikan barang dan jasa tepat pada orang, pada tempatnya, dan waktu serta harga yang tepat dengan promosi dan komunikasi yang tepat.
Pengertian diatas menerangkan bahwa pamasaran adalah jauh lebih luas daripada penjualan. Pemasaran mencangkup usaha perusahaan yang dumulai dengan mengidentifisier kebutuhan konsumen yang perlu dipenuhi, menentukan produk yang perlu diproduksi, menentukan harga yang sesuai, menentukan cara-cara promosi dan penyaluran / penjualan produk.
Berdasarkan pengertian diatas sebagaimana yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa pemasarn adalah kegiatan yang mencangkup penilaian kebutuhan dan kegiatan konsumen, penelitian pemasaran dan pengenalan pasar.tepat apabila dikatakan bahwa pemasaran merupakan suatu bentuk kegiatan manusia yang diarahkan kepada pemuasan dan pemenuhan keinginan orang atau pihak lain melalui proses pertukaran.
2. Fungsi-Fungsi Pemasaran
Pada sebuah perekonomian pasar, sedikitnya ada enam buah fungsi yang memenuhi kriteria untuk dinyatakan sebagai “FUNGSI PEMASARAN” adapun kriteria sebagai berikut:
1.    Fungsi yang bersangkutan harus intern dengan situasi-situasi pemasaran ekonomi (mencapai laba) dan social.
2.    Fungsi tersebut harus dapat dilaksanakan oleh para pembeli maupun oleh para penjual.
Keenam buah fungsi pemasaran adalah :
1.    Analisis pasar
2.    komunikasi pemasaran
3.    Diferensiasi produk
4.    Segmentasi pasar
5.    Penilaian
6.    Pertukaran

Pengertian dan Jenis Biaya Operasional


Mulyadi (2000 : 84), Mengemukakan pengertian biaya operasional sebagai biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Contohnya adalah biaya depresiasi mesin, equipmen, biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya gaji karyawan yang bekerja dalam bagian-bagian baik yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan proses produksi.
Menurut obyek pengeluarannya secara garis besar biaya produksi dibagi menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung disebut pula dengan istilah biaya utama, sedangkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik seringpula disebut dengan istilah biaya konversi yang merupakan biaya untuk mengkonversi (mengubah) bahan baku menjadi produk jadi.
 Menurut Sudarsono dan Edillius (2001 : 201), Menyatakan bahwa biaya operasi merupakan biaya yang dikeluarkan untuk biaya operasional usaha suatu perusahaan. Biaya operasi ini dikelompokkan menjadi :
1.    Biaya tetap (fixed), yaitu biaya yang jumlahnya tetap dalam kisaran volume kegiatan tertentu. Seperti biaya gaji karyawan yang jumlahya senantiasa tetap berapapun berubahnya volume kegiatan.
2.    Biaya semi tetap (semi fixed), yaitu biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan perubahan dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.
3.    Biaya variabel, yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
4.    Biaya semi variabel, yaitu biaya yang berubah tidak sebanding  dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semi variabel mengandung unsur biaya tetap dan unsur biaya variabel. Sebagai contoh dari biaya ini adalah biaya lembur, biaya bonus bagi karyawan yang mencapai pestasi tertentu.
Selanjutnya, pengertian biaya operasional menurut Matz (1999 : 44), Adalah semua biaya yang dikeluarkan mulai dari pembelian bahan baku kemudian diolah menjadi bahan jadi, selanjutnya biaya operasional dapat dibagi atas tiga bagian :
a.    Direct labour cost atau biaya tenaga kerja
Jenis biaya ini juga dikatakan sebagai biaya tenaga kerja secara langsung dapat diidentifikasikan terhadap produk tertentu.
b.    Direct material cost atau biaya bahan langsung
Yaitu semua bahan baku yang dapat secara langsung dimasukkan dalam perhitungan harga pokok.
c.    Manufacturing overhead cost
Biaya ini adalah merupakan biaya dari bahan tidak langsung dimasukkan dalam perhitungan harga pokok.

Pengertian dan Jenis-Jenis Pengendalian


Dalam dunia usaha diperlukan suatu alat untuk mengatur jalannya perusahaan sehingga mencapai tujuan yang diinginkan. Adapun alat tersebut yaitu dengan adanya suatu kendali yang dapat mengatur dan mengawasi aktivitas perusahaan.
Pengendalian merupakan proses yang sangat penting melalui manajer yang menjamin bahwa aktivitas sesungguhnya sesuai dengan aktivitas yang telah direncanakan. Untuk lebih memperjelas uraian di atas dalam kaitannya dengan pengendalian dikemukakan pendapat beberapa ahli sebagai berikut :
Menurut A.F. Stoner (2000 : 78), Mengemukakan bahwa pengendalian merupakan suatu upaya sistematis untuk menetapkan standar prestasi dengan sasaran perencanaan. Perencanaan sistem umpan balik informasi, membandingkan prestasi sesungguhnya dengan standar lebih dahulu ditetapkan. Ini untuk menentukan apakah ada penyimpangan dan mengukur penyimpangan tersebut dan mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menangani bahwa semua sumber daya perusahaan tengah digunakan sedapat mungkin dengan cara yang lebih efektif guna tercapainya sasaran perusahaan.
Selanjunya Earl P. Strain dan Robert D. Smith (2001 : 25), Mengemukakan bahwa pengendalian adalah sejumlah orang/pandangan yang bertentangan mengenai cara yang paling baik untuk mengelola sebuah organisasi.
Walaupun demikian para teoritis dan juga para eksekutif praktisi sepakat bahwa manajemen yang baik adalah memutuskan pengendalian yang baik dan efektif. Sebuah kombinasi yang terdiri dari sasaran terencana dengan baik, organisasi yang kuat, pengarahan yang cukup dan motivasi yang tinggi pun kecil kemungkinan akan berhasil kecuali didukung sistem pengendalian yang memadai.
Sofyan Assauri (1999 : 32), Mengemukakan bahwa pengendalian atau pengawasan merupakan kegiatan pemeriksaan dan pengendalian atas kegiatan yang telah dan sedang dilakukan agar kegiatan-kegiatan tersebut dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan dan direncanakan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi utama dari pengendalian adalah menciptakan suatu mekanisme operasional dan tata kerja yang baik dalam suatu organisasi sehingga dapat menekan dan menghindari kesalahan-kesalahan dan penyelewengan-penyelewengan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Dengan pengendalian diharapkan dapat mendorong para karyawan agar lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam suatu organisasi.
Menurut Madenan Sosronidjoyo (1999 : 19), Menyatakan bahwa jenis-jenis pengendalian dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.    Pengendalian intern (internal control), yaitu pengendalian yang dilakukan oleh organisasi sendiri terhadap semua kegiatannya dengan mempergunakan suatu unit dalam organisasi itu sebagai alat pembantu pimpinan.
2.    Pengendalian ekstern (eksternal control), yaitu pengendalian yang dilakukan oleh instansi yang tidak termasuk dalam yurisdiksi administrasi organisasi secara ekonomis dapat dilakukan, maka prosedur-prosedur dalam pengawasan itu dapat terlaksana dengan baik jika setiap pelaksanaan pengendalian itu dapat terlaksana dengan baik jika setiap pelaksanaan pengendalian selalu didahului dengan penetapan suatu keadaan atau kondisi yang diinginkan.
Salah satu eksternal control yang sering diterapkan adalah sebagai berikut :
1.    Pengendalian administrasi adalah suatu pengawasan yang berjalan dengan sendiri di mana diantara semua prosedur pelaksanaan administrasi dalam operasi perusahaan telah dilaksanakan sesuai dengan fungsinya masing-masing.
2.    Pengendalian keuangan adalah merupakan suatu pengawasan yang tidak kalah pentingnya karena menyangkut masalah keuangan, oleh karena itu perlu mendapat perhatian yang sangat khusus dan pimpinan mulai dan penerapan pengendalian sampai pada pelaksanaan administrasinya dan penggunaan serta penetapan tugas-tugas dan tanggung jawab secara tepat kepada para pegawainya.
3.    Pengendalian preventative, yaitu pengendalian seluruh kegiatan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau perusahaan guna mencegah kemungkinan adanya penyelewengan-penyelewengan yang akan terjadi.
4.    Pengendalian represive, yaitu suatu pengendalian yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan penyelewengan-penyelewengan atau kesalahan-kesalahan atau pekerjaan yang telah selesai dilakukan.
Sebagai contoh financial internal control yaitu pemisahan wewenang dan tanggung jawab pada pegawai yang melakukan atau mencatat transaksi kas dan mengeluarkan uang tunai. Dalam sistem pengendalian ini tidak diperbolehkan seorang pegawai merangkap beberapa pekerjaan, harus dipisahkan dalam pelaksanaannya. Sehingga demikian terciptalah suatu kegiatan yang sistematis pelaksanaannya dan faktor-faktor yang harus ada pada internal control itu dapat berfungsi dengan baik.

Penggolongan Biaya


Setiap perusahaan menghasilkan barang dan jasa selalu melibatkan unsur-unsur biaya yang berbeda-beda dimana penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan yang bersangkutan.untuk menunjang perincian biaya secara efisien, perlu diuraikan penggolongan biaya secara jelas demi menghitung dari kekeliruan yang terjadi.
Menurut Mulyadi (2000 : 7), mengemukakan penggolongan biaya sebagai berikut :


1)    Penggolongan biaya atas dasar obyek pengeluaran.
Penggolongan biaya ini merupakan penggolongan biaya yang paling sederhana, yakni berupa penjelasan singkat dari obyek suatu pengeluaran. Pengeluaran biaya ini cocok digunakan dalam organisasi yang masih kecil dan bermanfaat untuk perencanaan perusahaan secara menyeluruh serta kepentingan penyajian laporan kepada pihak luar.
2)    Penggolongan biaya atas dasar fungsi-fungsi pokok dalam perusahaan.
Penggolongan biaya ini terjadi atau berhubungan, seperti fungsi-fungsi pokok yang terdapat dalam perusahaan manufaktur adalah fungsi-fungsi produksi, administrasi umum dan pemasaran misalnya, oleh karena itu biaya-biaya dalam perusahaan manufaktur dapat digolongkan menjadi biaya-biaya produksi, administrasi umum dan pemasaran.
3)    Penggolongan biaya atas dasar hubungan biaya dengan suatu yang terbiayai.
Yaitu jika suatu penggolongan bahan baku menjadi produk maka sesuatu yang dibiayai adalah berupa produk atau jika perusahaan menghasilkan jasa, maka sesuatu yang dibiayai adalah berupa penyerahan jasa tersebut.
Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya ini dibagi menjadi dua golongan yakni :
1.    Biaya langsung, adalah biaya yang terjadi yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai itu tidak ada maka biaya langsung ini sama sekali tidak akan terjadi.
2.    Biaya tidak langsung, adalah biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
4)    Penggolongan biaya sesuai dengan tingkah lakunya terhadap perubahan volume kegiatannya.
Penggolongan biaya ini digunakan untuk keperluan pengendalian biaya dan pengambilan keputusan. Termasuk dalam golongan biaya ini adalah biaya tetap, biaya variabel dan semi variabel.
5)    Penggolongan biaya atas dasar waktu.
Penggolongan biaya ini dilakukan sehubungan dengan pembebanan biaya itu dalam periode akuntansi tertentu. Hal ini dilakukan supaya perhitungan laba rugi dan penentuan harga pokok produk atau penjualan dapat dilakukan secara teliti.
Atas dasar waktu ini, biaya digolongkan menjadi dua yaitu :
  1. Pengeluaran modal (capital expenditure), adalah biaya-biaya yang dinikmati oleh lebih dari suatu periode akuntansi. Namun tidak seluruh pengeluaran modal dibebankan di dalam periode akuntansi dimana pengeluaran tersebut terjadi tetapi di bagikan kepada periode-periode yang menikmati manfaat pengeluaran tersebut.
  2. Pengeluaran penghasilan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan yang hanya bermanfaat di dalam periode akuntansi dimana biaya tersebut terjadi.
Dari penggolongan biaya tersebut di atas, yang erat hubungannya dengan pembahasan ini adalah penggolongan biaya sesuai dengan tingkah lakunya terhadap perubahan volume kegiatan, yaitu biaya tetap dan biaya variabel.
Mulyadi (2000 : 64), Mengemukakan bahwa biaya semi variabel yaitu biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan, biaya tetap yaitu biaya untuk mempertahankan kemampuan beroperasi perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu, biaya variabel yaitu biaya yang secara total berfluktuasi secara langsung sebanding dengan perubahan volume penjualan atau produksi atau ukuran kegiatan lain.
Soehardi Sigit (1999 : 4), Mengemukakan bahwa biaya tetap adalah jenis-jenis biaya yang selama satu periode kerja adalah tetap jumlahnya dan tidak mengalami perubahan.
Gunawan dan Asri (1999 : 308), Mengemukakan bahwa biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya yang cenderung untuk bersifat konstan secara total dari bulan ke bulan, tanpa berpengaruh oleh volume kegiatan, dengan beberapa asumsi tertentu seperti kebijaksanaan manajemen, periode dan lain-lainnya. Biaya variabel (variable cost) yaitu biaya-biaya yang secara total selalu mengalami perubahan, dimana perubahan itu searah dan sebanding dengan perubahan tingkat kegiatan. Biaya semi variabel (semi variable cost) yaitu biaya-biaya yang tidak bersifat tetap tetapi tidak pula bersifat variabel.
Berdasarkan pengertian biaya tetap, biaya variabel dan semi variabel yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah dari waktu ke waktu meskipun terjadi perubahan volume kegiatan perusahaan. Biaya variabel adalah biaya yang berubah secara proporsional atau sebanding atau sesuai dengan perubahan volume kegiatan. Sedangkan biaya semi variabel adalah biaya yang berubah tetapi tidak secara proporsional atau tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

Pengertian dan Jenis-Jenis Sistem


Informasi dari suatu perusahaan atau instansi, terutama informasi keuangan dibutuhkan oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak di luar perusahaan atau instansi seperti kreditur, calon investor, kantor pajak dan lain-lainnya memerlukan informasi ini dalam kaitannya dengan kepentingan mereka. Disamping itu, pihak intern seperti manajemen juga memerlukan informasi keuangan untuk mengetahui, mengawasi dan mengambil keputusan-keputusan untuk menjalankan perusahaan.
Untuk mengetahui kebutuhan informasi bagi pihak luar maupun dalam perusahaan, disusun suatu sistem akuntansi. Sistem ini direncanakan untuk menghasilkan informasi yang berguna bagi pihak luar dan dalam perusahaan. Untuk mengetahui lebih jauh tentang sistem di bawah ini, dikemukakan beberapa pengertian dari para ahli sebagai berikut :
Menurut W. Gerald Cole yang dikutip oleh Zaki Baridwan (2001 : 35), Mengemukakan bahwa sistem adalah suatu kerangka dan prosedur-prosedur yang saling berhubungan yang disusun sesuai dengan suatu skema yang menyeluruh, untuk melaksanakan suatu kegiatan atau fungsi utama dari perusahaan.
Mulyadi (2000 : 6), Mengemukakan bahwa sistem merupakan suatu jaringan prosedur yang dibuat menurut pola yang terpadu untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan. Sementara prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen atau ebih yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang.
Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan di atas, dapat dikatakan bahwa suatu sistem terdiri dari jaringan dan prosedur. Sementara prosedur merupakan urutan-urutan dari kegiatan klerikal, dimana kegiatan klerikal terdiri dari :
  1. Menulis
  2. Menggandakan
  3. Menghitung
  4. Memberi kode
  5. Mendaftar
  6. Memilih
  7. Memindahkan
  8. Membandingkan
Dari kegiatan klerikal ini dibuat untuk mencatat informasi dalam formulir atau dokumen.
Sistem terdiri dari beberapa subsistem yang saling berkaitan atau dapat juga dikatakan terdiri dari prosedur-prosedur yang berhubungan, dimana jenis sistem menurut Mulyadi (2000 : 45), Terdiri atas :
1.    Sistem utama, yang mencakup klasifikasi rekening, buku besar, jurnal dan lain-lain.
2.    Sistem penjualan dan penerimaan, yang mencakup order penjualan, perintah pengiriman dan pembuatan faktur, distribusi penjualan, penerimaan dan pengawasan.
3.    Sistem pembelian dan pengeluaran yang mencakup order pembelian dan laporan penerimaan barang, distribusi pembelian dan biaya, utang serta prosedur pengeluaran.
4.    Sistem pencatatan waktu dan penggajian yang mencakup personalia, pencatatan waktu, penggajian.
5.    Sistem produksi dan biaya produksi yang mencakup order produksi, pengawasan persediaan.