Powered By Blogger

Sabtu, 09 Februari 2013

Pengertian Biaya Overhead Pabrik


         Sebagaimana diketahui bahwa masalah biaya sangat di perlukan untuk kelangsungan hidup suatu perusahaan. Tanpa biaya, maka perusahaan tidak akan dapat menjalankan kegiatan-kegiatan usahanya  dengan baik, bahkan dapat menghambat pada perusahaan untuk memperoleh suatu produk jadi, guna dipasar kan kepada konsumen dengan sasaran laba yang maksimal.
        Untuk mengatasi agar perusahaan dapat memperoleh suatu barang tidak mengalami hambatan dan bahkan dapat mempengeruhi pula kelangsungan hidup suatu perusahaan, maka diperlukan biaya produk yang digunakan untuk memperoduksi suatu produk jadi. Namun pada dasarnya biaya yang dikeluar kan perusahaan dalam memproduksi suatu produksi jadi dengan laba  yang  semaksimal  mungkin  juga  seringkali mengalami  kekurangan dan kelebihan terhadap biaya prroduksi yang digunakan dalam memproses produk.  
        Dengan demikian, maka diperlukan suatu standar cost dalam memperoduksi suatu produk dengan sasaran laba yang maksimal. Di mana standar cost adalah merupakan suatu alat pengendalian biaya dalam proses produksi barang jadi. Sebab kita ketahui dalam memproduksi suatu produk dengan mengeluarkan biaya produksi yang relatif besar nilainya. Agar lebih menguntungkan perusahaan maka diperlukan standar cost sehingga biaya yang dikeluarkan dapat lebih efisien.
        Perkembangan produksi yang sangat pesat dengan  sendirinya mempunyai peranan yang cukup besar sebagai penunjang terhadap kegiatan perusahaan bahkan dapat dikatakan bahwa sistem produksi yang tepat akan memberikan dampak positif perkembangan serta kemajuan perusahaan sebagaimana kita ketahui bahwa tujuan dari setiap perusahaan adalah untuk memproduksi produk guna dipasarkan kepada konsumen dengan sasaran laba yang semaksimal mungkin.
         Dalam hubungannya dengan uraian tersebut di atas, maka masalah produksi dapat dikatakan masalah utama di dalam perusahaan industri yang hendaknya diperhatikan oleh setiap pimpinan perusahaan sebab kegagalan di dalam memproduksi bahan baku menjadi produk jadi akan mengakibatkan perusahaan tidak memperoleh sejumlah dana untuk membiayai operasinya sehingga menghambat masalah pemasaran pembelanjaan di dalam perusahaan yang bersangkutan dan selanjutnya masalah personil di dalam perusahaan.                                                            
        Untuk menunjang pelaksanaan produksi dalam suatu perusahaan sehingga dapat menunjang kelangsungan hidup, maka diperlukan biaya produksi, di mana merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mengelolah bahan baku menjadi prodduk. Salah satu biaya yang menjadi titik pokok dalam pembahasan adalah biaya overhead pokok pabrik.
        Menurut Mulyadi (2003 : 12) yaitu semua produksi selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overad pabrik terdiri dari bahan penolong biaya tenaga kerja tak langsung dan biaya produksi tak langsung lainnya.
        Definisi tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa biaya overhead adalah semua biaya produksi selain bahan baku tak langsung dan biaya tenaga kerja tak langsung Biaya overhead pabrik terdiri dari biaya bahan penolong dan biaya tenaga kerja tak langsung serta biaya produksi tak langsung lainnya.
         Selanjutnya, menurut Mas'ud Machfoedz (1999: 31) yang memberikan pengertian biaya overhead pabrik adalah biaya overhead pabrik adalah seluruh biaya yang digunakan untuk membuat suatu barang jadi selain bahan dasar langsung dan upah tenaga kerja langsung. Dalam artian ini biaya overhead pabrik termasuk biaya bahan dasar tak langsung dan biaya tenaga kerja tak langsung.

Metode-Metode Alokasi Biaya Overhead Pabrik


          Dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen adalah mengalokasikan baya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi yang menikmati jasa departemen pembantu. Pada umumnya tarif biaya overhead pabrik hanya dihitung untuk departemen-departemen produksi saja, karena pengelolaan bahan baku menjadi produk yang biasanya terjadi di departemen produksi. Oleh karena biaya overhead pabrik yang akan dibebankan kepada produk tidak hanya terdiri dari biaya yang terjadi dalam departemen-departemen produksi saja, melainkan meliputi pula biaya overhead pabrik yang terjadi di departemen pembantu, maka dalam rangka penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen, baya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke departemen produksi.
          Alokasi biaya overhead pabrik departemen pembantu ke departemen produksi dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut ini :
1.  Metode alokasi langsung (direct alokasi method)
2.  Metode alokasi bertahap (step method) yang terdiri dari :
1  ad Metode alokasi langsung
         Dalam metode alokasi langsung, biaya overhead pabrik departemen pembantu dialokasikan ke tiap-tiap departemen produksi yang menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang dihasilkan oleh departemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi saja. Tidak ada departemen-departemen pembantu yang memakai jasa departemen pemantu lainnya.
2 ad Metode alokasi bertahap
         Metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja, tetapi digunakan pula oleh departemen pembantu yang lain. Oleh karena itu, sebelum biaya overhead pabrik didua departemen tersebut dialokasikan ke dapartemen produksi. 

Definisi Konsep


Adapun definisi konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Allokasi biaya overhead pabrik dalam proses produksi perusahaan pemisahkan antara biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap dapat diartikan bahwa biaya yang tidak mengikuti perkembangan kegiatan atau biaya tidak terpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Kalau biaya variabel setiap saat mengalami perubahan artinya mengikuti perkembangan kegiatan.
  2. Metode alokasi tertahap yaitu, metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen produksi saja, tetapi digunakan pula oleh departemen pembantu yang lain. Oleh karena itu, sebelum biaya overhead pabrik didua departemen tersebut dialokasikan ke departemen produksi.
  3. Metode aljabar yaitu : ketidak lengkapan dalam hal pembagian timbul dalam menggunakan metode bertahap karena pendistribusian yang berurut sehingga departemen yang ditutup terlebih dahulu tidak menerima pembagian biaya dari departemen yang ditutup kemudian.
  4. Biaya produksi adalah sejumlah yang dikeluarkan selama dalam produksi, hingga barang tersebut menjadi barang jadi.

Pengertian Produksi


Sebagaimana sifatnya suatu perusahaan bisa bertahan lama untuk mempertahankan kontinyu produksi dan mutu kwalitas, karena perusahaan memperhatikan selera harga dan kondisi konsumen dimana berada. Menurut  Sofyan Assauri (2002 : 7), menyatakan bahwa produksi adalah segala kegiatan dalam menciptakan dan menambah kegunaan (utility) barang dan jasa pada suatu perusahaan.
      Sedangkan menurut Martin Kenneth (2000 ; 3) pengertian produksi menyatakan bahwa produksi itu merupakan prosedur desain  barang dan jasa senagai output serta sebagai poduk terakhir input emelent.       
      Berdasarkan dari kedua definisi tersebut, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa produksi adalah suatu usaha untuk menambah nilai guna suatu barang dan jasa. Jadi barang yang diproduksi mengalami tahapan tersendiri atau dengan mempunyai kegunaan tertentu sebagai berikut :
1. Azas efisiensi maksudnya dengan biaya yang kecil mungkin untuk  mendapatkan hasil tertentu  ataupun dengan pengorbanan tertentu  untuk mendapatkan  hasil yang semaksimal mungkin.
1.    Azas kontinutas, adalah azas  sesuatu  yang menghendaki agar dalam pemakaian alat-alat  produksi terdapat perbandingan yang serasi.
      Selanjutnya menurut Sofyan Assauri, (2002 ; 221) mengemukakan bahwa mutu diartikan sebagai faktor-faktor yang  terdapat dalam suatu  hasil yang menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa barang tersebut dibuat. 
      Sesuai dengan pengertian tersebut ada beberapa faktor yang dapat  menghasilkan  barang. Faktor-faktor produksi tersebut yaitu :
1.  Faktor produksi tanah
2.  Faktor produksi modal
2.    Faktor produksi tenaga kerja      
          Sedangkan Richard (1999; 84), mengatakan dalam berproduksi sangat berhati-hati terhadap kwality untuk di pertahankan bagi para konsumen harus konsisten.
          Sesuai dengan definisi tersebut, menyebutkan bahwa unsur keberhati-hatian dalam mempertahankan hasil produksi, karena hasil produksi inilah yang merupakan pengendalian mutu untuk berperan serta dalam  bersaing di pasar.  
          Dalam hubungannya dengan pengertian tersebut, maka dapat dibagi dalam beberapa tahap yang mempunyai bagian dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa sebagai berikut :
1.    Grade yaitu sifat kelakuan, kemiripan, tingkat reabilitas singkat operasinya dan lain-lain.
2.    Fitenss for use menunjukkan tingkat produk produk yang mana memberikan kepuasan.
3.    Consistency in characteristic adalah suatu kumpulan spesifikasi untuk setiap  komponen dari produk itu. Bilamana produk terakhir sesuai dengan spesifikasi design atau maka disebut consistency atau quality ofconformance (mutu sesuai dengan krakteristiknya).             
             Menurut Harding (2001 : 58) perusahaan pabrik/pengolahan dengan menetapkan suatu standard. Hal-hal yang perlu dipertimbang kan dalam pembentukan suatu  standard  adalah sebagai berikut :
1.    Memenuhi syarat kegunaan yang ditetapkan
2.    Memenuhi standard kualitas perusahaan
3.    Diproduksi dengan peralatan  yang ada  sekarang. 
         Sedangkan menurut E.Mansffiel (2002 ; 121), menyatakan bahwa  proses produksi memerlukan kehati-hatian terhadap variasi dari beberapa produksi barang dan jasa yang sama pada perusahaan.
         Menurut R.A. Bilas (1999; 127), berpendapat kalau input sabagai salah satu cara proses yang diperhatikan oleh bagian produksi untuk mempertahakna mutu dan kwalitas produksi sesuai dengan permintaan konsu­men, sehingga perusahaan ini tetap produksi, jika tetap memperhatikan selera konsumen.
         Dari beberapa pengertian produksi yang telah dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa produksi merupakan suatu proses kegiatan dari berbagai faktor produksi yang dirubah  bentuknya oleh  perusahaan yang  menggunakan  dalam bentuk barang/jasa atau produksi di mana beberapa barang dan jasa  yang disebabkan  input dirubah menjadi barang dan jasa lain yang  disebut output.
         Pengertian  produksi dapat  dikatakan bahwa dengan menggunakan faktor-faktor produksi sekaligus, maka akan diperoleh suatu  faedah dalam memenuhi kebutuhan atau pemenuhan  kebutuhan yang dihasilkan akibat bekerjanya faktor-faktor produksi sekaligus saling terkait dengan satu sama lainnya.
          Paul A. Samuelson (2002 ; 357), definisi proses produksi yang menyatakan bahwa produksi ini mempunyai fungsi untuk technical pada relasi diantara faktor-faktor produksi, sehingga out put dari proses produksi harus spesifikasi produksi, agar barang yang telah diproduksi tetap menjadi pokus perhatian dari relasi.
          Dalam hubungan antara input dengan output berarti kita bicarakan  mengenai masalah pendapatan dan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, sehingga dapat diketahui hasil  yang telah diperoleh dapat memperoleh hasil atau tidak memperoleh  keuntungan atau menderita  rugi  dan perlu kita memperhatikan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi dalam satu periode tersebut.

Klasifikasi Biaya


     Dalam pengelolaan keuangan perusahaan  utamanya  pada proses produksi tentunya memerlukan biaya, oleh karena itu akuntansi biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang dibutuhkan manajemen agar mereka dapat mengelola perusahaan atau bagiannya secara efektif di dalam mencatat dan menggolongkan biaya harus selalu diperhatikan untuk tujuan apa  manajemen memerlukan informasi biaya. Sebaiknya  selalu dipakai konsep "different cost for different  purposes”.
       Menurut Mulyadi (2001 : 15) akuntansi biaya terdapat berbagai macam penggolongan biaya, sebagai berikut :
1.    Penggolongan biaya menurut obyek pengeluaran
Dalam cara penggolongan ini nama objek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya, misalnya nama obyek pengeluaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut biaya bahan bakar.
2.    Penggolongan biaya menurut fungsi pokok daam perusahaan
Perusahaan manufaktur ada tiga macam fungsi pokok yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran dan fungsi administrasi umum oleh karena itu biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu :
a.    Biaya produksi
Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.
b.    Biaya pemasaran
Biaya pemasaran merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk, contohnya biaya iklan, biaya promosi.
c.    Biaya administrasi dan umum
Biaya administrasi dan umum merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk, contohnya biaya gaji karyawan bagian keuangan. 
3.    Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai
Suatu yang dibiayai dapat dibiayai berupa produk atau departemen. Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai yaitu biaya dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu :
a.    Biaya langsung
Biaya langsung adalah biaya yang terjadi penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Biaya langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung
b.    Biaya tidak langsung
Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
4.    Penggolongan biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan volume aktivitas
Dalam hubungan dengan perubahan volume aktivitas, biaya dapat digolongkan menjadi :
a.    Biaya variabel
Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contohnya biaya bahan baku dibiayai tenaga kerja langsung.
b.    Biaya semi variabel
Biaya semi variabel adalah biaya yang berubah-ubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semi variabel mengandung unsur biaya variabel.
c.    Biaya tetap
Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam volume kegiatan tertentu, contohnya biaya tetap tidak adalah gaji direktur produksi.
5.    Penggolongan biaya menurut jangka waktu manfaatnya
Atas dasar jangka waktu manfaatnya biaya dapat dibagi menjadi dua yaitu :
a.    Pengeluaran modal (capital expenditure), pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut, contohnya pengeluaran untuk pembelian aktiva tetap.
b.    Pengeluaran pendapatan (revenue expenditure), pengeluaran pendapatan adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut contohnya biaya iklan, biaya tenaga kerja. 
        Klasifikasi biaya tentu ada konsep biaya yang dapat memenuhi berbagai macam tujuan. Oleh karena itu di dalam akuntansi biaya terdapat berbagai macam cara penggolongan biaya sebagai berikut :
1.    Penggolongan biaya atas dasar obyek pengeluaran
2.    Penggolongan biaya atas dasar fungsi-fungsi pokok  dalam perusahaan.
3.    Penggolongan biaya atas hubungan biaya dengan tujuan sesuatu yang dibiayai.
4.    Penggolongan biaya atas dasar hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.
5.    Penggolongan biaya atas dasar waktu.

Pengertian Biaya


        Untuk menghasilkan sesuatu apakah itu barang atau jasa maka perlulah dihitung dan diketahui besarnya biaya yang dikeluarkan atau yang perlu dan kemungkinan memperoleh pendapatan yang  mungkin diterima. Setiap pengorbanan biaya selalu diharapkan akan mendatangkan hasil yang lebih besar dari pada yang telah dikorbankan tersebut pada masa yang akan datang.
        Dengan demikian, seorang pengusaha hendaknya dapat mengetahui bagaimana besarnya pengorbanan dalam proses produksi dengan dasar itulah dapat memulai berhitung harga pada dasarnya setiap untuk yang merupakan komponen biaya  peruhaan. Dalam hal ini, total biaya selalu dapat dihitung dan dapat dibandingkan dengan total penerimaan yang mungkin dapat diperoleh.
       Menurut Winardi, (2002: 147), menyatakan bahwa bilamana kita memperhatikan biaya-biaya yang harus dikeluar kan untuk suatu proses produksi, maka dapat dibagi ke dalam dua sifat, yaitu yang merupakan biaya bagi produsen adalah mendapat bagi pihak yang memberikan faktor produksi yang bersangkutan.
    Demikian halnya bagi konsumen, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh alat pemuas kebutuhannya atau merupakan pendapatan bagi pihak yang memberikan alat pemuas kebutuhan tersebut. Ikatan Akuntansi Indonesia, (1997 : 26) di  katakan bahwa biaya (cost) adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang, yaitu sejumlah pengeluaran-pengeluaran dalam bentuk konstan atau dalam bentuk pemindahan kekayaan untuk memperoleh sesuatu dengan proses pengeluaran modal atau saham, jasa - jasa yang disertakan atau kewajiban-kewajiban yang ditimbulkannya, dalam hubungannya dengan barang-barang atau jasa-jasa yang diperoleh atau yang akan diperoleh pada masa yang datang.                                                         
    Sedangkan menurut D. Hartanto  ( 2002: 89), memberikan pengertian tentang biaya (cost) dan ongkos (expense), sebagai berikut cost adalah biaya-biaya yang dianggap akan memberikan manfaat atau service potensial di waktu yang akan datang dan karenanya merupakan aktiva yang dicantumkan dalam neraca. Sebaliknya expense atau expred cost adalah biaya yang telah digunakan untuk menghasilkan prestasi.  
        Sedangkan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (1997 : 26) pengertian biaya (cost) adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang, yaityu sejumlah pengeluaran-pengeluaran dalam bentuk konstan atau dalam bentuk pemindahan kekayaan. Untuk memperoleh suatu dengan proses pengeluaran modal atau saham. Jasa-jasa yang disertakan atau kewajiban-kewajiban yang ditimbulkannya dalam hubungannya dengan barang-barang atau jasa-jasa yang diperolehnya atau akan diperoleh.
        Menurut Mulyadi ( 2003 : 3 ) biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satua uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertantu.
        Menurut R.A Supriyono (2002 : 16) berpendapat bahwa biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan dan digunakan dalam rangka memperoleh dan akan dipakai sebagai pegurangan penghasilan.
        Berdasarkan beberapa pendapat pengertian biaya yang dikemukakan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa untuk menjamin kontinuitas perusahaan, di mana yang akan datang perlu ditetapkan suatu standar biaya manajemen perusahaan mungkin dapat mengetahui berapa besar biaya yang seterusnya dikeluarkan sebelum produksi dimulai, sehingga dapat diketahui jumlah pemborosan yang terjadi dalam dalam usaha efisiensi biaya variabel. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sejumlah biaya pengeluaran tidaklah semua digolongkan sebagai biaya, dalam hal ini tidak semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dianggap sebagai biaya, sehingga perlu diklasifikasi biaya.   

Pencatatan Akuntansi Penjualan


       Bagi perusahaan perdagangan R. Soemita Adikusumah (1997 : 177) mengemukakan bahwa penjualan merupakan kegiatan utama, oleh karena itu, sistem akuntansi penjualan untuk transaksi-transaksi penjualan ditetapkan sedemikian rupa sehingga dapat terperinci, sebagai berikut :
  1. Semua  penjualan, baik kontan maupun kredit harus  dibukukan dengan tepat dan teliti.
  2. Semua pengeluaran barang-barang dan gudang, baik yang dijual maupun untuk keperluan lain harus diperiksa sedemikian rupa sehingga kemungkinan pencurian dapat dikurangi sampai semimimun mungkin.
  3. Penerimaan piutang dari pada langganan perkas, pembebanan piutang  kepada  para  langganan  dan  pengkreditan hasil penjualan dibukukan dengan tepat.
  4. Retur penjualan harus benar-benar disetujui dan harus dicegah adanya pencurian, kecurangan dan kesalahan.
  5. Penanganan penjualan dan penerimaan uang kas harus di   pisahkan sedemikian rupa, sehingga dapat diperoleh suatu sistem pengecekan intern yang tepat.
  6. Pengendalian yang sesuai harus dilakukan terhadap penjualan  dengan kredit, sehingga ketelitiannya teratur dapat di cek dengan membuka perkiraan pengendalian piutang-piutang dagang.
      Untuk mencapai adanya di atas maka perlu organisasi yang baik di dalam penjualan barang agar terdapat pengendali an intern yang baik dalam penjualan sebaiknya diadakan pemisahan fungsi antara lain :
1.    Bagian pesanan
Pelaksanaan penjualan bagi perusahaan kecil dipegang oleh satu orang saja, sedangkan bagi perusahaan besar dipegang oleh satu bagian penjualan yang melibatkan beberapa personal fungsi dari bagian adalah :
a.    Mengawasi semua pesanan yang diterima
b.    Memeriksa surat pesanan yang diterima dari langganan dan melengkapi yang masih kurang.
c.    Jika penjualan kredit, harus diminta persetujuan dari bagian kredit.
d.    Menentukan tanggal pengiriman, membuat surat perintah pengiriman serta tembusan-tembusannya.
e.    Membuat  catatan pesanan yang dikirim dan pesanan yang sudah diperhitungkan.
f.     Melakukan hubungan dengan pembelian, apakah barang yang diterima sudah cocok dengan pesanan masih ada yang perlu dikemukakan.
2.    Bagian kredit
Penjualan secara kredit berarti melibatkan bagian kredit di mana setiap pengiriman barang yang dijual dengan kredit harus mendapat persetujuan dari bagian kredit membuat  catatan  atau  kartu  piutang  setiap  langganan tentang identitas pembeli, jumlah kredit dan jangka waktu pembayaran. Faktur penjualan yang dibuat oleh bagian pesanan dan surat perintah pengiriman atau dikirim ke bagian kredit untuk mendapat persetujuan atau penolakan dan surat perintah pengiriman. Jika ada persetujuan maka faktur penjualan dan surat perintah pengiriman diberikan kepada bagian pengiriman, kemudian barang tersebut dikirim kepada yang bersangkutan.       
3.    Pembuatan faktur
Bagian pembuatan faktur bertugas sebagai berikut :
a.    Membuat faktur penjualan dan tembusan-tembusan dan biasanya dilengkapi dengan data jenis barang, jumlah barang dan harganya.
b.    Mencantumkan data biaya pengiriman dan pihak pertam  bahan nilai yang dibebankan kepada pembeli.
c.    Sebelum faktur-faktur itu dikirim dan pajak pada bagian-bagian memerlukan  terlebih  dahulu  diperiksa, tentang kebenaran tulisan dan perhitungannya dalam faktur.           
      Kemudian untuk mengadakan pemisahan wewenang tersebut di atas tergantung dan besarnya perusahaan dan jumlah    pegawai yang ada. Apabila organisasi sudah memisahkan fungsi fungsi yang perlu ditetapkan adanya wewenang bahwa iniatif untuk menjadi barang datangnya dari satu inisiatif yang ditentukan semula misalnya bagian pesanan atau bagian-bagian lain yang memerlukan. Selain itu dimaksudkan pula agar semua pengeluaran-pengeluaran barang dari gudang baik melalui penjualan maupun untuk keperluan lainnya mendapat pengawasan sedemikian rupa, sehingga kemungkinan terjadinya kecurangan penyalagunaan dapat dihindarkan atau dikurangi sedapat mungkin.                                                                                                             
      Di dalam pelaksanaan fungsi penjualan pada umumnya dilaksanakan oleh bagian penjualan dan organisasi administ rasi penjualan serta dipengaruhi oleh sistem penjualan yang dilakukan misalnya sistem penjualan kredit, tunai dan    sebagainya.
      Selanjutnya cara-cara yang biasa dipakai di dalam sistem penjualan, sebagai berikut :
1.  Pemisahan antara
a.   Yang mencatat penjualan
Pencatatan pertama-tama dilakukan oleh petugas bagian penjualan yang membuat faktur penjualan> Faktur ini sedikitnyas dibuat rangkap 4 (empat) yang pertama (asli) untuk pembelian, lembar ke 2 dikirim ke bagian penyerahan barang, lembar ke 3 dikirim ke pemegang buku  tambahan  piutang  dan lembar ke 4 ditahan untuk arsip.
Jika pembeli akan mengambil sendiri barang yang dibeli nya, maka faktur dibawa ke kasir dan jumlah uang yang tertera di situ dibayar. Kasir akan menghitung uang memutar register kas, mencap faktur mengembalikannya pada pembeli jika ditambah kwitansi. Faktur yang telah dicap oleh si pembeli dibawa ke bagian penyerahan barang dan dikeluarkan dengan barang yang telah diserahkan lembaran kedua.                                                             
Kalau pembeli tidak mengambil sendiri barang yang dibeli, maka  sesudah ia  membayar kepada kasir diberi kwitansi  si  pembeli  akan  mendapat  surat  perintah pengeluaran atau delivery order. Satu tembusan DO dikirim kepada seksi gudang dan menerima barang-barang yang dinyatakan dalam DO tersebut.
b.   Yang menyerahkan barang
Bagian ini bertanggungjawab terhadap kehancuran distri busi barang kepada langganan sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh bagian penjualan. Penyeraahan   barang sering terjadi secara langsung dari gudang dengan memakai DO dan biasa juga secara tidak langsung yaitu dengan pengiriman barang ke rumah langganan dimana karena adanya penyerahan barang secara tunai dan penyerahan barang secara kredit.
c.   Yang menerima uang
Barang  ini  berada  di bawah  koordinasi  bagian  dan bertugas sebagai berikut :                                                           
1.    Mencatat  semua  penerimaan  uang, baik tunai, cek, maupun bilyet giro dalam suatu daftar.
2.    Daftar penerimaan diserahkan kepada pemegang buku harian dan pemegang buku tambahan piutang.
3.    Uang tunai, cek dan giro yang diterima diserahkan kepada kasir dan disetor ke bank seluruhnya,selambat  lambatnya ke esokan harinya.
4.    Harus ada pemisahan antara kasir dan petugas yang memegang buku tambahan piutang dan hutang.                                                 
2.    Penjualan secara kredit   
Pada penjualan kredit ini maka setiap kali nilai kredit, pembeli harus dinilai. Buku piutang harus setiap bulan  dibandingkan dengan perkiraan piutang di buku besar.
Pengawasan intern atas piutang meliputi :
a. Pembagian tugas antara lain :
* Penerimaan pesanan 
* Petugas yang harus menyetujui penjualan kredit
* Petugas yang harus mengirim barang
* Petugas yang mencatat buku tambahan piutang
* Petugas yang menerima uang.
b. Pembayaran mengenai faktur-faktur yang tertentu.
c. Setiap bulan secara periodik dikirim daftar saldo pada
para piutang.                    

Prosedur Penjualan


      Prosedur penjualan persediaan, seorang peneliti akan mengemukakan contoh prosedur penjualan yang disadur dari Mulyadi (1997: 213) adalah sebagai berikut :
a.      Fungsi  penjualan yang  bertanggung jawab untuk  menerima surat order dari pembeli, mengelola order dari pelunasan untuk menambahkan informasi yang belum ada pada surat order. Meminta otorisasi kredit membutuhkan, tanggal pengiriman dan dari gedung mana barang akan diterima dan mengisi surat order pengiriman.
b.      Fungsi kredit, berada dibawah fungsi keuangan yang dalam transaksi  penjualan  kredit bertanggung jawab untuk meneliti kasus kredit pelanggan dan memberikan otorisasi pemberian kredit kepada pelanggan.
c.      Fungsi gudang bertanggung jawab untuk menyimpang barang dan menyiapkan barang yang dipesan oleh pelanggan serta menyerahkan barang ke fungsi pengiriman.
d.      Fungsi pengiriman bertanggung jawab untuk menyerahkan barang atas dasar surat order pengiriman yang diterimanya dari fungsi penjualan.
e.      Fungsi penagihan, bertanggung jawab untuk membuat dan mengirimkan faktur penjualan kepada pelanggan serta menyediakan copy faktur bagi kepentingan pencatatan transaksi penjualan oleh fungsi akuntansi.
f.       Fungsi akuntansi bertanggung jawab untuk mencintai piutang yang timbul dari transaksi penjualan kredit dan membuat serta mengirimkan penyertaan piutang kepada kredit serta membuat laporan penjualan. Fungsi ini juga bertanggung jawab untuk mencatat harga pokok persediaan
yang dijual ke dalam kartu persediaan.               

Pengawasan Intern (Internal control)


      Pengendalian intern yang baik merupakan faktor yang memenuhi kelangsungan dan efisiensi kegiatan perusahaan serta dapat menjaga aktiva perusahaan dari pemborosan dan menjamin bahwa data akuntansi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah tepat dan dapat dipercaya.
      Pengendalian intern menurut Zaki Baridwan (2004 : 13) dalam arti sempit merupakan menegecekan penjumlahan baik penjumlahan  mendatar ( cross footing )  maupun  penjumlahan menurun (footing).
      Sedangkan menurut AICPA (2001 : 6) pengendalian intern atau pengawasan intern meliputi struktur organisasi dan semua cara-cara serta alat-alat yang dikoordinasikan dan digunakan dalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga keamanan harta milik perusahaan memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi, memajukan efisiensi di dalam usaha dan membantu mendorong dipatuhinya kebijaksanaan manajemen yang ditetapkan lebih dahulu.

Saat Pengakuan Pendapatan


      Dengan penjelasan-penjelasan lalu telah diuraikan tentang pengertian revenue dan income. Pendapatan (revenue) adalah hasil penjualan barang-barang atau jasa yang belum dikurangi dengan biaya dan beban yang digunakan untuk mencapai revenue, sedangkan income diperoleh dengan jalan mengurangi revenue dengan biaya dan beban yang dipakai atau digunakan untuk memperolehnya yang menjadi masalah sekarang ialah kapanlah revenue itu dipakai dan dicatat.
      Data akuntansi harus diujui kebenarannya dan ketepatan melalui bukti-bukti yang terpercaya. Maka dalam akuntansi ada suatu azas yang dikenal dengan istilah "realization concept". Konsep inilah yang menjadi pedoman dan petunjuk dalam pembahasan tentang saat pengakuan pendapatan (the timing of revenue determination).
      Untuk lebih jelasnya Hartanto, (2003 : 23) menjelaskan sebagai berikut dalam penentuan hasil, kita melihat dua aspek, ialah besarnya hasil dan waktunya hasil itu didapat.   
      Selanjutnya, Hartanto, (2002 : 24) menjelaskan hasil itu dianggap telah didapat pada waktu produk secara yuridis berpindah tangan. Pada jual beli barang-barang yang segera dapat direalisasikan, hasil itu dapat dianggap pada waktu terjadinya penjualan, dan karena prinsip ini dinamakan prinsip realisasi.
      Jadi konsep realisasi adalah merupakan pedoman dalam penentuan saat di;lakukan pendapatan, dan disamping itu bertujuan pula untuk menghindari penyajian pendapatan yang overstated atau understated selama suatu periode akuntansi dalam laporan laba rugi yang mencerminkan hasil usaha pada perusahaan tertentu. 
      Saat pengakuan pendapatan didasarkan pada pendapat- pendapat di atas terutama sekali yang dikemukakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, akan diuraikan cara pengakuan pendapatan satu persatu, yaitu :
1.    Pengakuan pendapatan pada saat penjualan
Banyak perusahaan yang biasa mengakui pendapatan pada saat penjualan terjadi. Penjualan terjadi akibat adanya persetujuan untuk mengalihkan hak milik dan adanya suatu imbalan terhadap pengalihan hak milik. Untuk penjualan menggambarkan suatu transaksi yang sempurna dan tercapai tujuan operasionil yang utama dari suatu perusahaan. Penjualan pada umumnya ditandai dengan adanya perpindahan barang atau jasa dan penerimaan uang tunai atau asset lain dalam suatu pertukaran. Dan penjualan menunjukkan pula berakhirnya semua biaya produksi dan biaya distribu­si yang dapat dikenakan pada suatu barang dan sudah biasa mengadakan matching dengan revenue untuk tujuan penetapan income.  
2.    Pengakuan pendapatan pada saat pembayaran diterima
Dalam kenyataan dijumpai adanya usaha-usaha untuk menggunakan dasar tunai (cash basis) dalam pengakuan pendapatan, meskioun penyerahan barang atau jasa telah dilakukan pada masa atau periode sebelumnya.
Alasan penggunaan cara ini ialah karena dengan adanya kemungkinan pembatalan penjualan, seperti halnya dalam penjualan bersyarat, penjualan atas persetujuan pembeli dan penjualan  ekspor. Jadi penjual menghadapi ketidak pastian mengenai barang yang telah diserahkannya kepada pembeli, apakah si pembeli akan menyetujui dan menerima barang atau tidak. Pada penjualan cicilan, disisi ain penjual menghadapi ketidak pastian apakah pembeli benar-benar akan melakukanpembayaran dalam waktu dan jumlah yang telah ditentukan atau tidak.
3.    Pengakuan pendapatan pada saat barang selesai diproduksi   
Dalam hal ini pendapatan telah diakui walaupun barangnya belum dijual atau diserahkan kepada pembeli adalah cara pengakuan pendapatan yang kurang tepat baik dilihat dari segi azas realisasi, lebih-lebih dari azas konservatisme. tetapi cara ini telah diterima oleh Ikatan Akuntan Indonesia maupun oleh profesi akuntansi lain dinegara lain khususnya Amerika Serikat.             
Cara pengakuan pendapatan setelah selesainya produksi tergantung kepada kepastian mengenai harga jual dan besarnya biaya tambahan diluar biaya produksi. Misalnya apabila telah ada kontrak penjualan dan penyerahan hasil produksi yang pasti, maka harga jual dapat diketahui dan begitu juga dengan biaya-biaya penjualan. Tentu saja masih ada ketidak pastian pastikan tentang dapat ditagih nya piutang, tetapi hal ini dapat ditaksir dengan cukup baik.
4.    Pengakuan  pendapatan pada  saat bagian  kontrak  selesai      
secara proporsional dan kegiatan sudah sama sekali tidak ada lagi, sehingga muncul pendapatan (laba).
Cara pengakuan pendapatan seperti ini adalah mengakui pendapatan selama produksi berlangsung atau berjalan. Jadi produksi belum berakhir. Cara ini biasanya digunakan oleh perusahaan kontraktor.  

Pengertian Revenue dan Income


1. Pengertian Revenue
       Konsep mengenai revenue belum didefinisikan secara jelas dalam literatur akuntansi. Artinya tidak terdapat keseragaman pengertian antara definisi yang satu dengan definisi yang lainnya.
      Pada akhirnya kita ikuti penjelasan yang dibuktikan pleh Ikatan Akuntan Indonesia (1997 : 30), menyatakan bahwa pendapatan dihasilkan dengan penjualan barang atau jasa dan jumlahnya diukur dengan pembebanan yang dilakukan terhadap atas pembeli, kliem atau penyewa untuk barang-barang atau jasa-jasa yang diserahkan kepada mereka. Dalam pendapatam jasa termasuk hasil penjualan atau penukaran aktiva diluar barang-barang dagangan, bunga dan deviden atau pembagian laba untuk penanaman-penanaman dan penambahan=penambahan lain pada kekayaan pemilik dalam usaha yang bersangkutan.   
      Penambahan dan penyesuaian modal. Pendapatan dari penjualan- penjualan atau transaksi-transaksi lainnya dalam rangka kegiatan yang merupakan tujuan dari usaha yang bersangkutan disebut dengan istilah pendapatan operasi.   
      Dari definisi dan penjelasan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.    Pendapatan  dapat terjadi  setiap  saat, dan  dapat  pula terjadi dalam waktu-waktu tertentu atau secara berkala.
2.    Pendapatan didperoleh melalui penjualan barang-barang dagangan atas jasa yang diserahkan kepada pembeli dan dapat pula diperoleh karena pertukaran aktiva, sebagai hasil dari penanaman-penanaman atau investasi seperti bunga, deviden dan lain-lain.
3.    Pendapatan dalam penambahannya kepada pembeli atau    langganan, harus diukur dengan bantuan mata uang tertentu
4.    Pendapatan mempunyai sifat menaikkan atau menambah nilai kekayaan pemilik perusahaan, namun perlu diketahui bahwa tidak semuanya menaikkan atau menambah nilai kekayaan pemilik itu, dapat dikatagorikan sebagai pendapatan, seperti halnya dengan penilaian kembali aktiva tetap yang mengakibatkan naiknya atau meningkatnya nilai kekayaan pemilik dengan jalan menimbulkan perkiraan barau yaitu perkiraan penyesuaian modal. 
2. Pengertian Income
      Banyak orang mencampur adukkan pengertian antara pendapatan (revenue) dengan income, yang sebenarnya dalam akuntansi kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang berbeda. Antara ahli ekonomi dan akuntansi timbul suatu berbedaan pandangan dalam memberikan batasan pengertian Income. 
      Perbedaan pandangan antara kedua ahli ekonomi dalam memberikan batasan pengertian income, dapat kita ikuti penjelasan Hadibroto, (2003 : 85), menyatakan bahwa dalam lapangan mikro ekonomi pengertian pendapatan dalam ilmu akuntansi umumnya berlainan dengan pengertian ekonomi, hal mana yang telah menimbulkan kesulitan-kesulitan pemakaian keterangan akuntansi untuk penyelidikan ekonomi. Biasanya kesulitan ini adalah akibat beda konsepsi antara kedua disiplin apabila ekonomi dapat merumuskan konsepsinya secara kwalitatif, misalnya pendapatan seseorang ialah apa yang dapat dipakai konsumsi dengan tidak mengurangi kemakmuran  semula, maka ilmu akuntansi terpaksa menunjukkan konsepsi pendapatan yang berdasarkan ukuran besarnya (kwantitatif). Justru soal ukuran (measurement) inilah yang menimbulkan kesulitan penyesuaian konsep-konsep.
      Dalam akuntansi pengertian income berbeda dengan pendapatan (revenue), tetapi dalam ilmu ekonomi kadang-kadang income diartikan pendapatan. Income lebih menitik beratkan pada arti pendapatan bersih (net income), atau pendapatan yang telah dikurangi dengan biaya dan beban untuk memperolehnya.
      Pada dasarnya income dapat berasal dari kelebihan revenue atas expired cost untuk mencapai revenue tadi, serta keuntungan lain yang tidak berasal dari kegiatan perusahaan yang utama.
      Untuk memperoleh income harus ada suatu proses yang tertentu disebut proses pembanding atau matching yang di dalam akuntansi justru merupakan suatu prinsip yang harus ditaati di dalam penetapan dan penentuan income. Di dalam literatur akuntansi prinsip ini dikenal dengan istilah matching principle, dapat juga disebut sebagai suatu konsep, yaitu konsep pendapatan dan biaya (matching cost and revenue koncept).