Powered By Blogger

Minggu, 01 Januari 2017

Pengertian Investasi

      Keputusan untuk menanamkan dana dalam suatu investasi bagi suatu  perusahaan atau investor dalam memainkan perannya haruslah dipertimbangkan dengan matang. Kegagalan dalam menentukan jenis investasi akan menimbulkan kerugian yang besar bagi perusahaan atau investor.
      Lebih jelasnya mengenai pengertian investasi akan diberikan gambaran oleh para ahli atau sarjana menyangkut teori tentang investasi atau berinvestasi pada perusahaan..
      James Van Horne (2002 : 76) mengemukakan bahwa capital investment is current cash outlay in the anticipation benefits to be in the future.
      Sementara itu lebih jauh Abbas Kartadinata (2003 : 42) menyatakan bahwa investasi adalah konversi uang pada saat sekarang dengan perhitungan untuk memperoleh arus dana atau penghematan atus dana di masa yang akan dating.
      Kedua definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penanaman dana dalam suatu investasi bertujuan untuk memperoleh manfaat yang menguntungkan di masa yang akan datang.
      Dengan demikian, suatu perusahaan penanamkan investasi dapat dibedakan atas investasi dalam aktiva lancar dan investasi dalam aktiva tetap. Pada aktiva lancar,  dan investasi yang ditanamkan pada persediaan, piutang dan aktiva lancar lainnya.
      Pengambilan keputusan yang diharapkan dapat diterima dalam waktu singkat yaitu kurung atau sama dengan satu tahun (satu periode), sedangkan dalam aktiva tetap, pengembaliannhya diharapkan dapat diterima dalam jangka waktu lebih dari satu tahun atau sesuai dengan umur investasi.
      Investasi dalam aktiva tetap meliputi tanah, bangunan, mesin-mesin/ peralatan, inventaris dan gedung. Oleh beberapa ilmuawan diberikan pengertian mengenai investasi tetap itu sendiri, oleh Bambang Riyanto (2004 : 10) menyatakan bahwa aktiva tetap ialah aktiva yang tahan lama yang tidak atau yang secara berangsur-angsur habis turut dalam proses produksi.
       Berbicara terhadap aktiva tetap artinya aktiva yang cukup lama dipergunakan dalam hal berangsur-angsur dapat diartikan sebagai harta dipergunakan dalam jangka waktu cukup lama atau mempunyai jangka waktu satu tahun sampai dengan lima tahun.
      Jadi aktiva adalah aktiva yang sifatnya relatif tetap atau tahan lama (yang tidak atau secara berangsur-angsur habis turut serta dalam proses produksi) dan mengalami proses produksi jangka waktu lama.
      Bambang Riyanto (2004 : 10) menyatakan bahwa aktiva tetap ialah aktiva yang tahan lama yang tidak atau yang secara berangsur-angsur habis turut serta dalam proses produksi.
      Jadi aktiva adalah aktiva yang sifatnya relatif tetap, tahan lama (yang tidak atau secara berangsur-angsur habis turut serta dalam proses produksi) dan mengalami prose perputaran dalam jangka waktu yang lama. Untuk memberikan pengertian yang lebih detail mengenai investasi dalam aktiva tetap, menurut M. Manullang (2003 : 110) menyatakan bahwa investasi dalam bentuk aktiva tetap adalah penanaman modal dalam aktiva dengan harapan perusahaan dapat menghasilkan keuntungan melalui operasinya.
      Berdasarkan dari beberapa definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa para investor yang menanamkan investasinya dalam aktiva tetap merupakan pengorbanan sejumlah kas pada waktu sekarang untuk memperoleh penghasilan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, dapatlah pula dikatakan bahwa dengan pertimbangan di atas, perlu diadakan suatu penilaian atau rangking atas usul investasi, agar dapat diambil suatu keputusan apakah investasi yang akan dikelola itu menguntungkan atau tidak menguntungkan.
      Agar dapat merealisasikan makusud tersebut, maka dapat digunakan alat evaluasi, yaitu Capital Budgeting Analysis. Untuk menggunakan alat analisis ini berbagai informasi diperlukan antara lain :
  1. Besarnya pendapatan yang diharapkan akan diperoleh atau diterima pada setiap periode atau tahun.
  2. Umur ekonomis (economic life ) proyek.
  3. Besarnya capital budgeting.
      Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa perusahaan mengadakan investasi dalam bentuk aktiva tetap adalah dengan harapan bahwa perusahaan tersebut, seperti halnya pada investasi dalam aktiva lancar. Letak perbedaan antara investasi aktiva tetap dan investasi lancar, hanya terletak pada jangka waktu dan cara pengembalian dana yang diinvestasikan dalam kedua golongan aktiva tersebut.
      Untuk mengembalikan dana yang diinvestasikan pada waktu dan jumlah sebagaimana yang diharapkan oleh perusahaan, maka tentunya dibutuhkan suatu perencanaan perhitungan tentang dana yang harus di keluarkan guna keperluan investasi tersebut, maka dalam hal ini diperlukan Capital Budgeting.                       
      Bambang Riyanto (2004 : 112) memberikan gambaran umum tentang capital budgeting menyatakan bahwa keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pengeluaran dan dimana jangka waktu pengembalian dana tersebut melebihi waktu satu tahun.
      Selanjutnya Matz dan Uzry (2003 : 37) menyatakan bahwa anggaran pengeluaran aktiva modal (Capital Expenditures Budget) merupakan komitmen jangka panjang dari sumber-sumber dana untuk merealisir keuntungan-keuntungan di masa akan datang.
       Berdasarkan beberapa definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa capital budgeting merupakan alat analisis yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dan sebagai dasar pemilihan atau seleksi dalam menentukan apakah investasi yang dilaksanakan itu menguntungkan atau tidak.
      Dengan dasar inilah untuk melihat kegunaan dan fungsi dari capital bugteing mempunyai peranan penting dalam memainkan peranannya capital budgeting, yaitu :
1.      Pengeluaran dana untuk keperluan investasi biasanya melibatkan jumlah dana yang sangat besar. Dengan jumlah dana yang sangat besar itu mungkin tidak dapat diperoleh dalam jangka waktu yang pendek atau mungkin tidak dapat diperoleh secara sekaligus, oleh karena itu harus disusun terlebih dahulu rencana yang teliti dan dipertimbangkan dengan matang.
2.      Dana yang dikeluarkan akan terikat untuk jangka waktu yang panjang. Ini berarti bahwa perusahaan harus selalu menunggu selama waktu yang panjang atau lama, sampai ke seluruhan dana yang tertanam dapat diperoleh kembali oleh perusahaan dan ini akan terpengaruh bagian penyediaan dan untuk keperluan-keperluan lain.
3.      Kesalahan dalam pengambilan keputusan mengenai pengeluaran dana tersebut akan mempunyai akibat yang panjang dan berat, oleh karena itu apabila terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan di bidang ini, maka tidak dapat diperbaiki tanpa suatu pengorbanan atau kerugian.
4.      Investasi dalam aktiva tetap menyangkut harapan untuk memperoleh pendapatan penjualan di masa yang akan datang. Oleh karena mengakibatkan kesalahan dalam mengadakan ramalan akan dapat mengakibatkan adanya over atau under investmen dalam aktiva tetap. Apabila investasi dalam aktiva tetap melebihi dari pada diperlukan maka akan memberikan beban yang besar bagi perusahaan. Sebaliknya, apabila jumlah investasi dalam aktiva tetap terlalu kecil, maka akan dapat mengakibatkan perusahaan beroperasi yang tinggi, sehingga akan mengurangi daya saingnya atau kemungkinan besar hilangnya sebagian pasar (konsumen akan lari untuk mencari produk yang harganya agak murah).

      Pertimbangan-pertimbangan dalam pengambilan keputusan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa capital budgeting merupakan dasar dalam pemilihan yang dapat memberikan informasi kepada pihak yang berwenang, dalam hal ini pihak pengambil keputusan untuk dilaksanakan atau ditolaknya suatu rencana investasi atas suatu proyek dapat menanam modal pada perusahaan.

Sumber-Sumber Pembelanjaan

      Dengan diterimanya suatu keputusan investasi, maka timbullah suatu masalah bagaimana caranya untuk mendapatkan pembelanjaan yang paling menguntungkan mengingat para pemilik uang yang mengharapkan beberapa hasil dari metode pemakaiannya.
      Menurut James Van Horne (2000 : 15) dapat dikatakan bahwa sumber pembelanjaan ditinjau dari sudut asalnya berdiri atas :
  1. Sumber intern (Internal Sources)
  2. Sumber eksteren (eksternal sources)
      Dalam membedakan modal pinjaman dan modal sendiri dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Modal pinjaman
Modal pinjaman yaitu modal yang di dapat dari pihak ketiga yang berupa pinjaman. Atas modal ini perusahaan harus membayar balas jasa berupa bunga.
a.     Modal pinjaman jangka panjang (short term debt), yaitu modal yang jangka waktunya kurang dari satu tahun tingkat perputarannya.
b.     Modal pinjaman jangka menengah (intermediate term debt), yaitu modal pinjaman yang jangka waktunya antara satu sampai tiga tahun.
c.     Modal pinjaman jangka panjang (long term debt) yaitu modal pinjaman yang mempunyai jangka waktunya lebih dari tiga tahun. 
  1. Modal sendiri
Modal sendiri yaitu modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan pengambil bagian dalam perusahaan dan merupakan modal yang akan tetap ditanamkan dalam perusahaan, dapat digolongkan modal ini dipergunakan selama perusahaan yang bersangkutan berjalan.
Modal sendiri ini dapat terdiri dari :
a.     Modal yang berasal dari pemilik perusahaan ditambah dengan modal yang berasal dari sekutu komanditer.
b.     Saldo keuntungan yang ditanam kembali dalam perusahaan. Saldo ini adalah bagian keuntungan yang tidak diambil  oleh pemilik perusahaan atau dibagi kepada persero komanditer.
c.     Surplus modal dan akumulasi penyusutan atau yang disebut sebagai cadangan modal. Modal terddiri atas selisih nilai buku dan nilai pasar dari harta yang dimiliki perusahaan.
      Sehubungan dengan uraian, maka perbedaan keduanya menurut Bambang Riyanto, (2004 : 163) memberikan gambaran tentang modal asing, sebagai berikut :
a.      Modal yang terutama memperlihatkan kepada kepentingan sendiri, yaitu kepentingan kreditur.
b.      Modal pinjaman yang tidak mempunyai pengaruh terhadap penyelenggaraan perusahaan.
c.      Modal dengan beban  bunga yang tetap tanpa memandang adanya keuntungan atau kerugian.
d.      Modal yang hanya sementara turut bekerja sama di dalam perusahaan.
e.      Modal yang dijamin, modal yang mempunyai hak didahulukan (hak preferent) sebelum modal sendiri.      
      Sedangkan Bambang Riyanto, (2004 : 173) memberikan gambaran tentang modal sendiri, sebagai berikut :
a.       Modal terutama tertarik dan berkepentingan terhadap kontinuitas, kelancaran dan keselamatan perusahaan (berkesinambungan).
b.       Modal yang dengan kekuasaannya dapat mempengaruhi politik perusahaan.
c.       Modal yang mempunyai hak atas laba sesudah pembayaran bunga kepada modal asing.
d.       Modal yang digunakan di dalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu.
e.       Modal yang menjadi jaminan, dan haknya adalah sesudah modal asing di dalam likuiditas. 

      Jadi dengan demikian, untuk mendapatkan dana dari kreditur diperlukan hubungan yang baik dengan pihak yang bersangkutan. Dalam hal ini, sangat perlu diperhatikan usaha untuk menjaga hubungan yang telah selesai agar supaya jangan menjadi rusak bahkan harus ditingkatkan. Di samping itu diperlukan usaha-usaha perluasan, perbaikan pengaturan perusahaan dan peningkatan relasi/ langganan yang kesemuanya tujuannya untuk lebih meningkatkan kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan. 

Pengertian Pembelanjaan

       Perkembangan Pembelanjaan dalam perusahaan dapat berubah-ubah setiap saat harus mengikuti sesuai dengan perkembangan perusahaan dalam dunia bisniss. Dalam mempelajari keadaan pembelanjaan pada saat ini, kita harus melihat latar belakang untuk mengetahui sejarah pemikiran dan praktek pembelanjaan. Perspektif sejarah sejaumana untuk mengerti mengapa praktek-praktek pembelanjaan yang sekarang terjadi seperti yang kita lihat. Pengkajian sejarah juga akan membantu kita untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya perkembangan di masa yang akan datang.    
      Salah satu fungsi pembelanjaan perusahaan yaitu bagaimana usaha untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan oleh perusahaan dengan cara yang menguntungkan dan juga bagaimana menggunakan dana yang ada secara efektif dan efisien di dalam perusahaan.
      Untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas mengenai pembelanjaan perusahaan, sdebaiknya terlebih dahulu kita menelaah tentang pengertian pembelanjaan sebagaimana yang diperhadapkan  kepada berbagai persoalan yang menyangkut masalah keputusan di bidang keuangan.
      Mengenai fungsi fungsi pembelanjaan perusahaan menurut James  Van Horne (2003 : 11) mengemukakan bahwa the function of finance can be broken down into the three major decisions the firm must make the investment decision, the financing decision and the devidend decision. Each mush beconsidered in relation to objective of the firm.
       Definisi tersebut dimaksudkan bahwa fungsi pembelanjaan perusahaan mencakup tiga jenis pengambilan keputusan, yaitu pengambilan keputusan investasi (investment decision), keputusan pembelanjaan (financing decision) dan keputusan mengenai kebijaksanaan deviden (dividend decision).
      Selanjutnya Pearson Hunt, (2000 : 3) juga membahas tentang fungsi pembelanjaan perusahaan dengan menitik beratkan pada hubungannya dengan pengambilan keputusan mereka berpendapat bahwa pengambilan keputusan untuk berinvestasi pada perusahaan tentu mempunyai analisa dan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan dari laporan keuangan perusahaan.

      Dengan demikian, dari pengertian tersebut bahwa fungsi pembelanjaan perusahaan  adalah masalah yang utama perusahaan dalam usahanya untuk mencapai sasaran/ tujuan yang diharapkan.

Unsur - Unsur Biaya

      Untuk membicarakan unsur-unsur dalam proses produksi, pihak perusahaan telah memperhitungkan terhadap biaya-biaya yang dikorbankan, sehingga proses produksi tidak mengalami hambatan yang berarti, maka  dalam dapat memperoleh hasil penjualan hasil produksi bisa memperoleh laba.
      Mulyadi, Akuntansi Biaya, Penentuan Harga Pokok dan Pengendalian Biaya, (2000 : 159) dalam suatu proses produksi melibatkan suatu unsur- unsur biaya dibebankan menurut kelompok biaya tertentu guna menyusun harga pokok produksi dapat digabungkan ke dalam unsur-unsur biaya. Tetapi ini tidaklah segera dapat dipandang sebagai biaya, karena itu harus sesuai dengan faktor biaya, karena biaya itu harus sesuai dengan faktor biaya yang dianut perusahaan.
      Unsur - unsur biaya tersebut di atas, adalah sebagai berikut :
1. Manufacturing  cost, adalah  semua  biaya  yang  muncul  sejak  pembelian  bahan-bahan sampai berubah menjadi produk  selesai (final product)
 Manufacturing cost terbagi atas :
   a. Prime cost  (biaya utama), adalah biaya dari bahan-bahan secara langsung dan upah tenaga  kerja langsung dalam kegiatan pabrik.
         Prime cost terdiri dari :
        1. Direct material, yaitu semua bahan baku yang membentuk  keseluruhan  bahan yang dapat secara langsung dimasukkan dalam perhitungan kerja pokok.
       2.  Direct  cost, yaitu setiap tenaga  kerja yang  ikut secara langsung pemberian  sumbangan dalam  proses produksi.
   b. Manufacturing  expenses,  dapat  juga disebut  factory over head cost  atau biaya pabrikasi tidak langsung.
 Yang termasuk golongan biaya ini adalah
         1. Indirect  labour,  yaitu  tenaga  kerja  yang   tidak  terlibat   langsung  dalam proses produksi,  misalnya kepada bagian bengkel, mandur, pembantu umum dan sebagai dasar untuk menyelesaian terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.  
        2. Other manufacturing expenses, yaitu biaya - biaya tidak langsung selain dari indirect labour dan indirect material, seperti  biaya atas penggunaan tanah, pajak penghapusan, pemeliharaan dan perbaikan
   2.   Commercial expenses, yang meliputi :
         a. Selling expenses, adalah semua ongkos yang dikeluarkan setelah selesainya proses produksi sampai pada saat terjualnya. Ongkos-ongkos ini meliputi penyimpangan, pengangkutan  penagihan  dan ongkos  yang menyangkut  fungsi-fungsi penjualan.
         b. Administration  expenses,  adalah  ongkos-ongkos  yang meliputi ongkos  perencanaan dan pengawasan.
              Biasanya  semua  ongkos-ongkos yang  tidak  dibebankan  pada bagian produksi  atau  penjualan  dipandang sebagai ongkos administrasi.
      Sedangkan  menurut  Charles  T. Horngren, Cost Accounting A. Managerial Emphasis, ( 1999: 15 )   unsur-unsur biaya dapat diklasifikasikan ke dalam :           
     1. Kapan waktu berkompromi
         a. Biaya yang harus dikeluarkan
         b. Anggaran Biaya                                                                                                          
     2. Kelakuan dihubungkan dengan adanya fluktuasi dalam aktivitas :
         a. Biaya variabel
         b. Biaya tetap
         c. Biaya lain-lain
      3. Resiko dalam pengeluaran biaya  :
         a. Total biaya
         b. Biaya per unit
      4. Fungsi manajemen  :
         a. Biaya pabrik
         b. Biaya pemasaran
         c. Biaya administrasi
      5. Mudah untuk mengubahnya  :
         a. Biaya langsung
         b. Biaya tak langsung
     6. Perubahan  biaya pajak tentang keuntungan  :
         a. Biaya produksi
         b. Biaya Industri
      Adapun penjelasan dari unsur-unsur biaya tersebut diatas adalah sebagai berikut :
1.   Historical cost, merupakan biaya yang telah terjadi dimasa lalu, sedangkan budgeting cost adalah biaya yang  diperkirakan terjadi pada masa yang akan datang.
2.   Variabel cost, adalah  biaya yang secara keseluruhan akan berubah-ubah  dengan berubahnya volume produksi atau penjualan. Sedangkan fixed cost, adalah biaya yang secara keseluruhan  tidak  akan  mengalami perubahan pada suatu tingkat produksi atau penjualan.                                                                                                            
3.  Total cost, adalah sejumlah biaya yang dibebnkan pada seluruh biaya obyektif. Sedangkan unit cost, adalah biaya rata-rata dari setiap unit dari obyektif.
4.  Manufacturing  cost, adalah biaya  yang diperlukan  untuk menghasilkan  barang (dengan menggunakan mesin, peralatan dan tenaga kerja).Manufacturing  cost terdiri  dari direct  cost,  material cost, direct labour cost dan inderect cost/overhead cost.
      Sedangkan administratif cost adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk pengelolaan perusahaan secara keseluruhan.
5.  Direct cost, adalah  biaya-biaya  yang  mudah  ditelusuri terhadap  suatu obyek  tertentu.   
     Sedangkan indirect cost adalah biaya - biaya  yang tidak  ditelusuri  hubunganny dengan obyek tertentu.
     Sedangkan priod cost merupakan biaya-biaya yang timbul karena berjalannya waktu. Dengan kata lain, period cost adalah  setiap biaya  yang dialokasikan  berdasarkan waktu.


Pengertian dan Jenis-Jenis Biaya

Pengertian Biaya
      Untuk menghasilkan sesuatu apakah itu barang atau jasa maka perlulah dihitung dan diketahui besarnya biaya yang dikeluarkan atau yang perlu dan kemungkinan memperoleh pendapatan yang mungkin diterima. Setiap pengorbanan biaya selalu diharapkan akan mendatangkan hasil yang lebih besar dari pada yang telah dikorbankan tersebut pada masa yang akan datang.
      Dengan demikian, seorang pengusaha hendaknya dapat mengetahui bagaimana besarnya pengorbanan dalam proses produksi pada setiap pengeluaran merupakan komponen biaya perusahaan. Dalam hal ini, total biaya selalu dapat dihitung dan dapat dibandingkan dengan total penerimaan yang mungkin dapat diperoleh dengan kemungkinan laba yang akan diperoleh.
      Berbicara mengenai masalah biaya merupakan suatu masalah yang cukup luas, oleh karena di dalamnya terlihat dua pihak yang saling berhubungan. Oleh Winardi, Kapita Selecta, (2000: 147), menyatakan bahwa bilamana kita memperhatikan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu proses produksi, maka dapat dibagi ke dalam dua sifat, yaitu merupakan biaya bagi produsen adalah mendapat bagi pihak yang memberikan faktor produksi yang terbaik pada perusahaan bersangkutan.
      Demikian halnya bagi konsumen, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh alat pemuas kebutuhannya atau merupakan pendapatan bagi pihak yang memberikan alat pemuas kebutuhan tersebut. Oleh Ikatan Akuntansi Indonesia, (1997: Pasal I ayat 1) dikatakan bahwa biaya (cost) adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang, yaitu pengeluaran-pengeluaran dalam bentuk konstan atau  dalam bentuk pemindahan kekayaan pengeluaran modal saham, jasa-jasa yang disertakan atau kewajiban-kewajiban yang ditimbulkannya, dalam hubungannya dengan barang atau jasa yang diperoleh atau yang akan diperoleh pada masa yang datang, karena mengeluarkan biaya berarti mengharapkan pengembalian lebih banyak.                                 
      Dari definisi dan pengertian biaya di atas, dapatlah  dikatakan  bahwa  pengertian biaya yang dikemukakan  di atas adalah suatu hal yang masih merupakan pengertian secara luas oleh karena semua yang tergolong dalam pengeluaran secara nyata keseluruhannya termasuk biaya.
      Sejalan dengan definisi dan pengertian di atas, maka D. Hartanto, Analisa Laporan Keuangan, ( 2002 : 89), memberikan atasan tentang biaya (cost) dan ongkos (expense), sebagai berikut cost adalah biaya-biaya yang dianggap akan memberikan manfaat atau service potensial di waktu yang akan datang dan karenanya merupakan aktiva yang dicantumkan dalam neraca. 

Jenis-Jenis Biaya
      Sehubungan dengan jnis-jenis biaya tersebut, maka D. Hartanto, Analisa Laporan Keuangan, (2002 : 37) mengelompokkan biaya menurut tujuan perencanaan dan pengawasan, sebagai berikut :      
      "1.  Biaya variabel dan biaya tetap
       2.  Biaya yang dapat dikendalikan".     
      Sedangkan menurut Mulyadi, Akuntansi Biaya, Penentuan Harga Pokok dan Pengendalian Biaya, (2000 : 57) menetapkan biaya adalah sejumlah pengeluaran yang tidak bisa dihindari  menghubungkan tingkah laku biaya dengan perubahan volume kegiatan sebagai berikut biaya variabel adalah sejumlah biaya yang secara total berfluktuasi  secara langsung  sebanding dengan volume penjualan atau produksi, atau ukuran kegiatan yang lain.
      Sedangkan biaya tetap atau biaya kapasitas merupakan biaya untuk  mempertahankan kemampuan beroperasi perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu utamanya dalam kapasitas biaya dalam proses produksi perusahaan.
      Dari gambaran umum di atas, maka dapat diketahui  sebagai berikut :
1.  Biaya variabel  adalah  sejumlah  biaya yang ikut berubah untuk mengikuti  volume produksi atau penjualan. Misalnya atau  bahan langsung hanya yang ikut dalam proses produk, bahan baku langsung yang dipakai dalam proses produksi biaya tenaga kerja langsung.

2. Biaya tetap adalah sejumlah biaya yang tidak  berubah walaupun ada  perubahan volume produksi atau penjualan. Misalnya gaji bulanan, asuransi, penyusutan, biaya umum dan lain-lain. Sifat-sifat biaya tersebut sangat penting untuk dikethui seorang manajer dalam perencanaan usaha pengembangan karena akan didapatkan suatu gambaran klasifikasi biaya yang baik untuk tujuan dan perencanaan serta pengawasan.

Pengertian Economic Order Quantity (EOQ)

      Kebijaksanaan permintaan pengadaan bahan baku material merupakan bagian dari kepentingan beberapa mamajer dalam suatu perusahaan. Manajemen investasi atau persediaan tidak hanya berhubungan dengan manajer pembelian kalau melainkan juga berhubungan dengan manajer keuangan. 
      Manajer pembelian agak cenderung berorientasi pada pembelanjaan dalam jumlah yang besar untuk memperoleh discount atau potonga dari suplier. Begitu pula manajer produksi  ingin mempertahankan jumlah  persediaan yang besar untuk menjamin kelancaran proses produksi. Sedangkan manajer financial, empertahankan pembelian dalam jumlah yang kecil, demi efisiensi penggunaan dana.
      Untuk lebih jelasnya pengertian Economic Order Quantity oleh Sofyan Assauri, Manajemen Produksi, (2001: 176), menyatakan bahwa Dalam menentukan kebutuhan untuk menghasilkan sejumlah barang jadi yang direncanakan untuk suatu periode tertentu dengan sejumlah biaya.
      Pengendalian bahan baku merupakan bagian daripada kepentingan beberapa manajer dalam suatu perusahaan. Hal ini penting untuk menjaga agar tidak terjadi kekurangan bahan baku yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan karena dapat memenuhi dari para langganan atau konsumen.
      Demikian pada terlalu banyaknya persediaan walaupun hal ini mempunyai kebaikan terhadap kelancaran proses produksi, akan tetapi menimbulkan biaya penyimpanan yang terlalu besar dan dapat menimbulkan kerugian karena kemungkinan kerusakan persediaan yang berlebihan tersebut.
      Aktiva keseluruhan dan kekurangan inilah diperlukan optimal yaitu tersedianya jumlah persediaan yang ekonomis. Hal ini dapat terlaksana bila melakukan sistem pemesanan yang ekonomis yang disebut "Economic Order Quantity" dalam menghitung Economic Order Quantity ini dipertimbangkan 2 (dua) jenis biaya yang bersifat variabel, yaitu :
3      Biaya pemesanan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan bahan baku. Biaya ini berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pemesanan. Semakin tinggi frekuensi pemesanan semakin tinggi pula biayanya, sebaliknya biaya ini berbanding terbalik dengan jumlah/kuantitas setiap kali pesanan berarti akan semakin rendah tingkat frekuensi pemesanan.

4      Biaya penyimpanan, yaitu biaya yang dikeluarkan sehubung-an dengan kegiatan penyimpanan bahan baku yang telah dibeli. Biaya ini berubah-ubah sesuai dengan jumlah bahan baku yang dipesan. Makin besar bahan baku yang dipesan akan semakin besar pula biaya penyimpanannya dengan biaya pemesanan.  

Tenggang Waktu (Lead Time)

      Lead time merupakan bagian dari pemesanan barang atau pengiriman barang yang mempunyai jangka waktu tertentu, sebab kapan lewat waktu yang telah ditentukan oleh Aquilano, Manajemen Produksi, (1998: 334), tingkat pemesanan kembali akan ditinjau kembali. Lead time merupakan batas waktu pemesanan barang yang harus dipenuhi jumlah persediaan yang secara ekonomis untuk siap diproduksi (tenggang waktu) dapat diadakan oleh perusahaan. Batas persediaan optimun ini kadang-kadang tidak didasarkan pertimbangan efektivitas dan efisiensi kegiatan perusahaan, melainkan atas dasar kemampuan perusahaan terutama kemampuan keuangan serta kemampuan gudang yang dimiliki perusahaan sehingga sering diadakan dalam jumlah yang besar. Keadaan seperti ini tidak ekonomis sehingga merugikan perusahaan karena akan terjadi penumpukan beban dan biaya penyimpanan atas biaya pemeliharaan menjadi besar.  
      Untuk mencapai persediaan optimun, hal tertentu tidak terlepas dari besar kecilnya biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan tenggang waktu yang telah ditentukan jumlah pesanan.
      Biaya-biaya pemesanan kembali yang dikeluarkan sehubungan dengan pengadaan persediaan menurut Aquilano, Manajemen Produksi, (1998: 314) membagi dalam beberapa baian yaitu :
1.  Holding costs (carriying costs)
2.  Production changer cost (setup costs)
3.  Ordering costs
4.  Shortage costs
ad 1 Holding costs (carriying costs) atau biaya penyimpanan yaitu biaya-biaya yang timbul sehubungan dengan adanya penyimpanan persediaan. Besarnya biaya ini berubah-ubah sesuai dengan besar kecilnya persediaan yang disimpan.                                                                                                                         
      Penentuan besarnya biaya ini didasarkan pada prosentase nilai rupiah dari persediaan yang termasuk dalam biaya ini adalah biaya perdagangan (biaya sewa gudang atau biaya penyimpanan), biaya fasilitas pergudangan, biaya pemelihara an, biaya asuransi kerugian atas pencurian, biaya kerusakan  karena usang, biaya bunga dan biaya-biaya penyusutan serta biaya pajak.
ad 2  Production  changer  cost (setup costs), yaitu biaya-biaya yang timbul karena terjadinya penambahan, pengurangan fasilitas produksi sebagai akibat persediaan yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan produksi dan penjualan pada suatu saat yang termasuk dalam production change costs seperti biaya lembur, biaya pemberhentian, biaya pelatihan/ training serta biaya pengangguran. Umumnya biaya-biaya ini sulit ditentukan jumlahnya untuk satu periode produksi sehingga dimasukkan ke dalam Setup Costs.       
ad 3 Ordering costs, yaitu biaya yang dikeluarkan sehubung an dengan adanya pemesanan bahan baku hingga sampai ke dalam gudang perusahaan. Biaya ini besarnya tergantung pada frekuensi pemesnan, yang termasuk dalam biaya ini adalah biaya administrasi, biaya pembelian dan pemesanan biaya pengangkutan dan bongkar muat biaya penerimaan serta biaya pemeriksaan.

ad 4 Shortage  costs, yaitu biaya yang dikeluarkan sebagai akibat dari jumlah persediaan yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah kebutuhan untuk proses produksi sehingga perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen. Dalam keadaan  demikian  perusahaan akan  melakukan pemesanan mendaak yang mengandung banyak resiko seperti kerusakan bahan sehingga harus dikirim kembali dengan mengeluarkan biaya tambahan.

Persediaan Pengaman (Safety Stock)

      Pada semua situasi ada suatu "safety stock" antara menempatkan pesanan untuk penggantian persediaan, penerimaan dari pada barang yang masuk kedalam persediaan. Oleh Sofyan Assauri, Manajemen Produksi,  (2001: 25) Tenggag waktu ini biasanya disebut dengan delivery lead time. Setelah mengadakan pesanan untuk penggantian, pemenuhan pesanan dari langganan harus dipenuhi persediaan yang ada. Permintaan dari langganan biasanya berfluktuasi dan tidak dapat diramalkan dengan tepat.
      Maka dengan sendirinya akan ada resiko yang tidak dapat di hindari bahwa persediaan yang ada akan habis sama sekali  sebelum penggantian datang sehingga pelayanan kepada  langanan tidak dapat dipenuhi dengan baik. Karena tingkat pelayanan  ini  harus dipertahankan dengan menciptakan suatu safety stock yang akan menampung setiap penyimpanan selama lead time.
      Menurut Sofyan Assauri, Manajemen Produksi, (2001 : 114) pengertian tentang safety stock, yaitu Yang dimaksud dengan persediaan pengaman (safety stock) adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (stock-out).
      Berdasarkan pengertian di atas, sehubungan dengan kebijaksanaan pengendalian persediaan bahan mentah yang dilakukan oleh Perusahaan CV. Prima Muda Multi Karya, persediaan pengaman (safety stock) perlu diperhatikan karena
1.  Kemungkinan  terjadinya  kekurangan bahan mentah, karena pemakain yang lebih besar dari perkiraan semula.

2.   Keterlambatan dalam penerimaan bahan mentah yang dipesan.

Pengertian Reorder Point

      Reorder point pada suatu perusahaan memang sangat penting, karena reorder berarti memperhatikan kembali, lebih jelasnya Suad Husnan, Manajemen Keuangan, (2001 : 69) mengatakan reorder point adalah saat yang tepat dimana persediaan dilakukan kembali.
      Apabila tenggang waktu antara saat perusahaan memesan dan barang tersebut datang biasanya disebut lead time sama dengan nol, maka pada saat jumlah persediaan sama dengan nol pada saat itulah dilakukan pemesanan.
      Bambang Riyanto, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, (2004 : 73) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan reorder point adalah saat atau titik dimana harus diadakan pemesanan serupa, sehingga kedatangan atau penerimaan material yang dipesan itu tepat pada waktu dimana persediaan atas safety stock sama dengan nol.
      Dengan demikian, diharapkan datangnya material yang dipesan  tidak  akan  melewati waktu sehingga akan melanggar                                                          
safety stock. Apabila pesanan dilakukan sesudah melewati reorder point, maka material yang dipesan akan diterima setelah perusahaan terpaksa mengambil material dari safety stock.
      Dengan penentuan/penetapan reorder point diperhatikan faktor-faktor, sebagai berikut :
1. Procurement  lead time, yaitu penggunaan material  selama tenggang  waktu mendapatkan barang.
2. Besarnya  safety  stock,  dimaksudkan  dengan  pengertian "procurement lead time" adalah waktu dimana meliputi saat dimulainya usaha-usaha yang diperlukan untuk memesan barang sampai barang/material diterima dan ditempatkan dalam gudang penugasan.
 Reorder point dapat ditetapkan dengan berbagai cara antara lain :
3     Menetapkan jumlah penggunaan selama "lead time" ditambah  prosentase tertentu, misalnya ditetapkan bahwa safety stock sebesar 50% dari penggunaan selama "lead time"-nya adalah 5 minggu, sedangkan kebutuhan material setiap minggunya adalah 40 Unit, maka Reorder point = (5 x 40) + 50 % (5 x 40) = (200 + 100) = 300 unit.
4     Dengan menetapkan penggunaan selama "lead time" dan ditambah dengan penggunaan selama periode tertentu sebagai safety stock misalnya kebutuhan selama 4 minggu, maka Reorder Point = (5 x 40) + (4 x 40) = 200 + 160 = 360 unit.
      Apabila  pesanan  baru  dilakukan  sesudah  persediaan tinggi 300 unit ini berarti bahwa pada saat barang yang dipesan darang, perusahaan terpaksa sudah mengambil material dari safety stock sebesar Rp. 60 unit. Pada waktu barang yang dipesan datang persediaan dalam gudang tinggal 100 unit (yaitu 300 - 200) padahal safety stock sudah ditetapkan sebesar 100 unit.

      Safety stock disini sudah tertanggar. Apabila pesanan dilakukan pada waktu persediaan sebesar 300 unit maka pada waktu barang yang dipesan datang persediaan gudang masih 160 unit (yaitu 360 - 200), persis sama besar nya dengan besarnya safety stock, yang berarti safety stock tidak tertanggar

Sistem Pengendalian Persediaan

      Sebagaimana diketahui bahwa semua perusahaan industri baik disengaja maupun tidak, selalu mempunyai persediaan bahan baku. Baik kepada perusahaan besar, maupun perusahaan menengah ataupun perusahaan kecil, masing-masing akan  mempunyai persediaan bahan baku, dalam jumlah dan keadaan yang berbeda-beda, tetapi pada prinsipnya semua perusahaan mengadakan persediaan bahan baku. Keadaan ini disebabkan karena bahan baku akan dipergunakan untuk proses produksi dalam perusahaan, tidak dapat didatangkan/dibeli secara satu per satu sebesar jumlah yang dipelukan serta pada saat bahan tersebut akan dipergunakan. Dan apabila terjadi persediaan bahan baku yang dipesan belum juga datang, maka kegiatan produksi akan terhenti karena tidak tersedianya bahan baku yang dipesan untuk kebutuhan produksi tersebut.   
      Disamping itu persediaan bahan baku yang terlalu besar juga tidak akan menguntunkan perusahaan, sebab persediaan yang terlalu besar akan menyerap dana perusahaan dalam jumlah yang besar pula, biaya menyimpan yang besar serta semakin  tingginya resiko kerusakan, bahan, resiko kecurian, dan resiko lainnya yang mungkin timbul akibat menyimpan persediaan.
                                                          
      Beroperasi tanpa menyelenggarakan persediaan bahan baku yang tidaklah mungkin. Akan tetapi persediaan bahan yang terlalu besaruya merugikan perusahaan, sebaliknya persediaan bahan baku yang terlalu kecil juga tidak menguntungkan. Untuk mempertahankan tingkat persediaan seperti apa yang dikemukakan oleh Mages,  (2002 : 107) mengemukakan sebagai berikut :
1.  By keeping inventories well under control and,
2. By fixing inventory levels and plans based an clor assesment and balancing of risks.
      Jadi pengendalian persediaan sangat dibutuhkan oleh suatu perusahaan. Untuk mempertahankan tingkat persediaan sebaik mungkin maka diperlukan suatu kontrol/pengendalian. Dan dalam hubungan ini Mages dan Boodman (2002 : 112) selanjutnya untuk mengemukakan bahwa pengawasan dalam persediaan bahan baku sangat berhati-hati, karena sangat menentukan hasil produksi berkulitas atau tidaknya, sehingga dalam produksi perlu mendapat perhatian utama bahan baku jangan sampai hasil produksi itu tidak bisa bersaing di pasaran.  Mengingat banyaknya perusahaan yang menjadi saingan dalam bidang yang sama.
      Dalam mengadakan kontrol atau pengendalian persediaan perlu sekali untuk mengadakan penyesuaian sistem pengawasan guna mencegah kegagalan dari rencana produksi atau tehnik skhedulingng. Oleh karena itu bagi suatu perusahaan dengan adanya persediaan bahan baku maka akan dihadapi dengan resiko terlampau sedikitnya persediaan atau terlampau       banyaknya persediaan.                                                                                                                     
     Untuk menghindari hal tersebut di atas diperlkan adanya  suatu  sistem pengendalian bahan baku yang merupakan  tujuan diadakan pengawasan persediaan. Pengendalian bahan baku perusahaan akan mencukupi baik jangka panjang, menengah maupun jangka pendek.
      Dengan demikian dalam pengendalian bahan baku ini diperlukan adanya kegiatan-kegiatan yang saling terpadu dari kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengendalian bahan baku ini perencanaan produksi, penyusunan skhedul operasi produksi serta pengendalian proses produksi merupakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan erat dengan pengendalian bahan baku, sehingga sangat diperlukan keterpaduan dari kegiatan-kegiatan tersebut. Disamping itu kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kegiatan-kegiatan produksi seperti misalnya perencanaan kas, perencanaan penambahan peralatan produksi serta perencanaan penjualan haruslah dikoordinir dengan baik secara keseluruhan
      Dari keterangan di atas dapatlah disimpulkan bahwa pengendalian persediaan adalah merupakan kegiatan yang dapat membantu perusahaan agar penggunaan modal pada persediaan seefisien mungkin. Hal ini berarti bahwa pengendalian persediaan memegang fungsi pengendalian dalam tiap-tiap jenis perusahaan adalah berbeda.
      Dalam pelaksanaan fungsi-fungsi ini berhubungan erat dengan seluruh bahagian yang ada dalam perusahaan dimana merupakan suatu sistem secara terpadu dengan tujuan agar proses produksi dapat berjalan secara kontinue. Dalam hubungan ini salah satu alasan yang berlaku dan menjamin keuntungan atau  manfaat yang  diperoleh  melebihi biaya dan resiko yang ditimbulkan oleh pengadaan persediaan tersebut.
      Besar kecilnya biaya tersebut sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya persediaan yang diadakan. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa dalam kegiatan operasi perusahaan, persediaan merupakan salah satu unsur yang akan diakibatkan beberapa unsur dalam beberapa fungsi seperti fungsi pembelian, penjualan dan produksi dalam usahanya mencapai efektifitas dan efesiensi pada bagiannya masing-masing mempunyai pengaruh langsung atas tingkat persediaan yang selalu cendrung untuk mengadakan persediaan yang lebih besar tanpa memperhatikan aspek biaya atau kerugian yang mungkin timbul oleh penyimpanan persediaan dalam jumlah yang lebih besar dari kebutuhan. Oleh sebab itu untuk menjamin suksesnya pelaksanaan pengendalian persediaan diperlukan adanya fungsi tertentu dalam organisasi perusaha an untuk melaksanakannya dengan wewenang dan tanggung jawab yang harus dinyatakan dengan jelas. Pelaksanaan fungsi ini mempunyai kontrak langsung dengan fungsi lain berhubungan dengan prosedure penerimaan, penggunaan dan penjualan barang yang disimpan sebagai persediaan. Oleh karena pelaksanaan fungsi ini berhubungan dengan seluruh bahagian, maka fungsi ini memainkan peranan penting sebagai koordinator yang membahas kegiatan mengenai kebijaksanaan umum agar usaha pembelian dapat terlaksana dengan cara yang menguntungkan. Pemesanan atau pembelian bahan dalam penga-wasan persediaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
3     Order point system, adalah suatu system atau cara pesanan bahan, pemesanan bahan dilakukan apabila persediaan yang ada telah mencapai suatu tingkat tertentu.
4     Order  Cycle system adalah suatu system atau cara pesanan bahan dimana jarak atau interval waktu dari pemesanan tetap.

      Dengan order point system, ditentukan jumlah dalam persediaan pada tingkat tertentu merupakan batas waktu dilakukannya pemesanan yang disebut "Order Point" atau "Reorder Point". Apabila bahan-bahan yang tersedia terus dipergunakan maka jumlah persediaan semakin menurun dan sampai suatu saat akan mencapai titik batas dimana pemesanan harus diadakan kembali.