Powered By Blogger

Sabtu, 22 Oktober 2016

Analisis Sumber dan Penggunaan Dana Terhadap Peningkatan Laba


      Lingkungan dunia usaha sekarang ini terus menerus mengalami perubahan yang sangat cepat. Proses perubahan itu telah mengantarkan dunia uhasa ke era baru yang disebut era persaingan global yang berkembang antara negara di dunia. Dalam aktivitas perdagangan pada era persaingan global ini, peluang (opportunity) dan ancaman (theat) harus menjadi serius oleh para pelaku bisnis.
      Mencermati bahwa banyak perusahaan mengalami  kelemahan pada aspek finansial, maka perusahaan perlu melakukan pembenahan lebih dini. Pembebanan aspek finansial itu yang dapat dilakukan melalui konsolidasi internal, peningkatan efisiensi, rasionalisasi, dan rekstrukturisasi yang merupakan langkah yang strategis agar perusahaan tetap dapat langgeng. Langkah-langkah strategis bagi perusahaan di Indonesia telah menjadi kenyataan untuk menghadapi era globalisasi perdagangan.
     Upaya pemulihan kepercayaan dan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi kita, diperlukan strategis atau cara dalam melaksanakan pembangunan. Berhasil tidaknya strategis perdagangan tersebut banyak tergantung dari partisipasi seluruh lapisan masyarakat, dalam arti bahwa dukungan dan bantuan mereka dalam pembangunan sangat menentukan laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang.
      Pemanfaatan peluang yang diperlukan suatu pengelolaan manajemen perusahaan adalah kerjasama antara sub sistem masing-masing yang terdapat dalam perusahaan. Sub sistem yang erat hubungannya dengan masalah yang dibahas adalah aspek finansial. Kesinambungan atau kelancaran aktivitas perusahaan memerlukan pembenahan aspek likuiditas dan aktivitas operasional. Sedangkan untuk memperoleh keuntungan yang berarti harus memperhatikan aspek  profitabilitas. Hal ini di satu pihak dan profitabilitas di pihak lain sering timbul pertentangan. Dalam hal ini terjadi kadang-kadang disebabkan keinginan perusahaan manajer keuntungan yang tinggi, sehingga potensi likuiditas nya agak diabaikan.
      Mengelola secara efektif dan efisien yang melalui pengendalian analisis pada sumber dan penggunaan modal kerja, dengan laporan-laporan statistik melalui penggunaan keuangan yang direncanakan, mengawasi, mengarahkan, mengevaluasi dan mengkoordinasikan aktvitas dari berbagai fungsi, satuan operasional.
      Analisis perencanaan kebutuhan modal kerja mengenai aktivitas perusahaan yang merupakan bagian dari rencana yang diintegrasikan dengan baik untuk memelihara adanya efisiensi. Penggunaan struktur organisasi memungkinkan untuk melakukan arus sumber dana dan penggunaan modal kerja dengan rencana dan tindakan yang ditetapkan lebih dahulu pengablikasian efektif dari penggunaan keuangan tersebut harus sepenuhnya ke dalam rencana-rencana perusahaan dan mberikan suatu tingkat pengendalian biaya-biaya operasional meliputi catatan yang menetapkan pelaporan keuangan yang memuat pertanggungjawaban yang benar-benar efektif.
      Salah satu aspek finansial perusahaan yang perlu mendapat perhatian khusus direncanakan seefektif mungkin oleh manajemen adalah rencana kebutuhan sumber dan penggunaan modal kerja. Karena modal kerja itu sangat berpengaruh terhadap kegiatan perusahaan, maka modal kerja  dipandang  perlu dikelola sumber dan penggunaannya agar  kesinambungan kegiatan perusahaan tercapai, untuk keperluan itu, perusahaan perlu memiliki perhatian yang cukup dibidang manajemen modal kerja.    
      Untuk memenuhi pangsa pasar sangat dibutuhkan perencanaan modal kerja eksternal dalam meladeni order lokal dan order interlokal. Karena perusahaan ini bekerja sesuai dengan order, maka aktivitas secara kontinyu dapat menerima seluruh order (langganan) yang dapat mengembangkan kegiatan perusahaan.    
A   Pengertian dan Jenis-Jenis Modal Kerja
      Modal Kerja dalam pembahasan ini dimaksudkan adalah merupakan investasi jangka pendek dalam perusahaan seperti investasi pada piutang, persediaan, kas begitu pula perolehan sumber pembelanjaan jangka pendek seperti trade credit dan kredit dari lembaga perkereditan.
      Untuk mendapatkan gambaran yang jelas, maka Weston and Brigham, Pembelanjaan Perusahaan, (1999; 2) mengemukakan bahwa pengelolaan modal kerja mencakup baiik untuk investasi jangka pendek maupun perolehan sumber dana perusahaan. Pengelolaan modal kerja sangat penting melihat kegiatan sehari-hari adalah operasi perusahaan yang menyangkut tentang modal kerja.
      Dan kenyataan lain dapat dilihat bahwa banyaknya dana yang tertanam pada current assets adalah sangat besat jumlahnya khususnya bagi perusahaan kecil harus meminimunkan investasinya dalam harta tetap oleh karena tidak ada cara lain untuk menghindari investasi dalam biaya, piutang dan persediaan.
      Penentuan besarnya investasi dalam current assets adalah untuk ini sangat penting untuk menjaga likuiditas dan profitabilitas  perusahaan. Oleh karena kekurangan dana akan mengganggu jalannya operasi perusahaan seperti untuk membayar utang jangka pendek, pembayaran upah, pembayaran utang dagang dan sebagainya.
      Demikian pula sebaliknya kelebihan akan membawa resiko yang harus ditanggung terhadap sejumlah modal kerja yang menganggur dalam perusahaan, untuk selanjutnya akan memperkecil profitabilitas perusahaan.
      Besar kecilnya, kebutuhan modal kerja terutama tergantung pada perputara atau periode terikatnya modal kerja dan waktu perputarannya, makin besar jumlah modal  kerja yang dibutuhkan.                                                   
      Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja adalah merupakan keseluruhan atau jumlah dari pada periode-periode yang meliputi jangka waktu lamanya pemberian piutang lamanya penyimpanan bahan mentah digudang, lamanya proses produksi, sedangkan pengeluaran sehari-harinya merupakan    pengeluaran untuk pembelian bahan mentah, pembayaran upah buruh dan biaya-biaya lainnya.
      Piutang merupakan investasi dalam modal kerja yang tidak dapat dihindari adanya dalam dunia usaha. Piutang diberikan kepada perusahaan lain atau individu dan bunganya dengan perusahaan lainnya. Pemberian piutang barang kepada pelanggang merupakan hal yang dapat dimengerti sebab tanpa memberikan piutang. Pengusaha mengalami kesulitan untuk dapat dijual barangnya dengan lancar. Tetapi dilain pihak banyak  resiko yang timbul karena memberikan piutang, yakni mendapat  kerugisn, kemacetan  bahkan membawa kegagalan pada perusahaan resiko piutang dapat disebutkan, resiko tidak terbayar, resiko piutang dapat disebutkan resiko tidak terbayar karena keterlambatan penerimaan piutang.
      Cara memperkecil resiko oleh Alex S.Nitisemito, dalam bukunya Memperkcil Resiko Piutang, (2002, 11), mengemukakan bahwa kalau perkiraan piutang yang ada akan memberikan kemungkinan akan menimbulkan resiko yang lebih besar dari kemungkinan keuntungan yang akan diterima, maka batalkanlah.
     Jadi perlu adanya batas maksimun piutang diberikan dan pertimbangan lain, seperti kemungkinan dari pada para pelanggan untuk memenuhi kewajibannya, melihat financial position perusahaan langganan yang diperlihatkan dengan Cash Flow, pengaruh trend ekonomi pada umumnya untuk perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya investasi dalam piutang adalah volume penjualan kredit, ada syarat-syarat pembayaran, kebiasaan membayar dari pada langganan dan kebijaksanaan dalam mengumpulkan piutang.
      Unsur lain dari working capital adalah investasi pada persediaan merupakan peningkatan modal perusahaan untuk jangka waktu tertentu seperti bahan baku, barang setengah jadi dan barang jadi, sama halnya piutang dan persediaan    pada umumnya tidak dapat dihindari.
      Dalam hubungan ini, maka penetapan sejumlah persediaan adalah penyediaan bahan baku dan bahan pembantu untuk menghasilkan produk. Di samping itu perlu adanya persediaan barang, jadi untuk menjamin kelancaran penjualan. Besarnya investasi dalam persediaan tergantung dari pada volume   produksi yang direncanakan, estimasi tentang fluktuasi harga bahan mentah, tingkat kecepatan material menjadi rusak, biaya penyimpangan dan resiko penyimpangan digudang.

2  Jenis-Jenis Modal Kerja
      Jenis-jenis  modal kerja  pada dasarnya terdiri atas modal kerja permanen (permanent working capital) dan modal kerja variabel (variable working capital) oleh Moelyadi, dalam bukunya Akuntansi Biaya, (2001, 56), sebagai berikut :
1.  Modal kerja  permanent (permanent working capital), yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat  menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha.
Yang termasuk modal kerja permanent antara lain :
a.  Modal kerja  primer (primary  working capital), yaitu jumlah modal kerja yang harus ada pada perusahaan untuk menjalankan kontinutas usahanya. Misalnya; kas, kas paling sedikit ada ditangan supaya dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya yang segera harus dipenuhi dalam waktu singkat.
      Persediaan akhir harus cukup memenuhi pesanan piutang yang merupakan jumlah minimum untuk memperluas kredit  kepada langganan. Jadi  primary working capital oleh Adikoesuma,  manajemen keuangan, (2003,  112) akan tetap diinvestasikan dalam perusahaan selama perusahaan itu bekerja.
b.   Modal  kerja normal  (normal working  capital), yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan menyelenggarakan  luas produksi normal.
-  Pengertian normal disini dalam arti yang dinamis, yaitu selalu dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan bahan produksi dengan keadaan kebutuhannya.
2.  Modal  kerja  variabel  ( variabel  working  capital ), modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan.                                                                                                       
Variabel working capital dapat dibagi ke dalam :
a. Modal kerja  musiman  (seasonal  working  capital), yaitu  modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim. Misalnya: Pabrik payung, pabrik gula dan sebagainya.
b. Modal  kerja  siklus  (cyclical  working  capital), yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebababkan karena konyuntur.
c.  Modal kerja  darurat ( emergency  working capital), yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.
Misalnya  perubahan ekonomi mendadak, bencana alam, buruh mogok dan sebagainya.                                                 
a.     Pengertian Sumber dan penggunaan Dana
2.7.1. Pengertian Sumber Dana
Bambang Riyanto, (1998:78) mengatakan bahwa sumber dana yang dapat diperoleh untuk membelanjai suatu investasi ialah:
1.      Sumber dana dari dalam perusahaan (internal source) dapat diartikan sebagai bentuk dana dimana pemenuhan kebutuhan dananya berasal dari dalam perusahaan itu sendiri, dengan kata lain dana dengan kekuatan atau kemampuan sendiri. Dana dari dalam perusahaan dapat diadakan dengan atau menggunakan laba cadangan dari sebagian sisa hasil usaha yang merupakan unsur dana sendiri sebagai sumber dana interen. Akumulasi penyusutan aktiva tetap karena jangka waktu penggunaan dari aktiva tersebut biasanya lama, misalnya 5 (lima) tahun, maka cadangan penyusutan yang masih menganggur dapat digunakan dan disebut sebagai sumber dana insentif. Dana dari dalam perusahaan terdiri dari :
a.    Dana yang berasal dari pemilik perusahaan.
b.    Saldo keuntungan yang ditanam kembali dalam peusahaan. Saldo ini adalah keuntungan yang tidak diambil oleh anggota.
c.    Surplus dana dan akumulasi penyusutan atau yang disebut sebagai cadangan dana. Terdiri atas nilai buku dan nilai pasar dari harta yang dimiliki oleh perusahaan.
2.      Sumber dana dari luar perusahaan (external source) yaitu pemenuhan kebutuhan dana diambil atau beras dari sumber-sumber dana yang ada diluar perusahaan. Dana yang berasal dari luar perusahaan adalah dana yang berasal dari pihak bank, asuransi, dan kreditur lainnya. Dana yang berasal daripada kreditur adalah hutang bagi perusahaan yang disebut sebagai dana pinjaman. Dana pinjaman yang dimaksud adalah dana yang didapat dari pihak ketiga (kreditur).
2.7.2. Pengertian penggunaan dana
Bambang Rianto (1998:95), mengatakan bahwa pengunaan dana akan menyebabkan perubahan-perubahan bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar, tetapi penurunan aktiva tidak selalu diikuti olah penurunan dana.
Penggunaan aktiva lancar menyebabkan berkurangnya dana, hal ini disebabkan karena :
a.    Pembayaran biaya atau ongkos perusahaan meliputi pembayaran upah, gaji, pembelian bahan baku atau barang dagangan, suplies kantor dan pembayaran biaya-biaya lainnya,
Pembayaran biaya operasi ini akan mengakibatkan terjadinya penjualan atau penghasilan perusahaan yang bersangkutan.
Penggunaan aktiva lancar untuk operasi ini baru merupakan pengunaan dana kalau jumlah biaya suatu periode lebih besar dari pada jumlah penghasilannya (timbulnya kerugian). Besarnya pengunaan dana untuk biaya operasi ini akan dapat ditentukan dengan jalan menganalisis laporan perhitungan rugi laba perusahaan tersebut, yaitu jumlah depresiasi dan amortisasi periode tersebut.
b.    Kerugian yang diderita perusahaan karena adanya penyualan surat berhargan atau efek maupun kerugian insindentil lainnya.
Diluar usaha pokok perusahaan harus dilaporkan tersendiri dalam laporan kerja perusahaan. Hal ini dimaksudkan agar laporan itu lebih informatif bagi pembaca.
Adapun kerugian yang rutin atau insidentil akhirnya akan mengakibatkan berkurangnya dana perusahaan.
c.    Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan tertentu dalam jangka panjang lainnya, misalnya dana pelunasan obligasi, dana pensin pengawai dan lain-lain.
d.    Pembayaran hutang-hutang jangka panjang yang meliputi hutang hipotik, hutang opligasi, ataupun hutang jangka panjang lainnya mengakibatkan penarikan kembali untuk atau seterusnya saham perusahaan yang beredar, atau adanya hutang jangka panjang, diimbangai dengan berkurangnya aktiva lancar.
e.    Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva lancar lainnya yang mengakibatkan berkurngnnya aktiva lancar atau timbulnya hutang lancar yang berakibat kurangnnya dana.
f.     Pengambilan uang atau barang dangangan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadi (prive) atau adanya pengambilan bagian keuntungan oleh pemilik perusahaan perorangan atau persekutuan atau adanya pembayaran deviden dalam perseroan terbatas.
Dari uraian diatas maka sumber-sumber dana adalah merupakan elemen-elemen diluar dana (current assets dan current libilities) atau sering disebut perubahan current account. Kalau besarnya dan pengunaan dana maka tidak efek nettonya terhadap dana.
Untuk lebih jelasnya sumber dan penggunaan dana adalah sebagai berikut :
1.    Sumber dana
a.    Laba ditahan
b.    Bertambahnya penyusutan
c.    Bertambahnya hutang dangang
d.    Bertanbahnya hutang jangka panjang
e.    Bertambahnya kredit bank.
2.    Pengunaan dana
a.    Bertambahnya kas
b.    Bertambahnya piutang
c.    Bertambahnya persediaan
d.    Bertambahnya kendaraan
e.    bertambahnya inventaris
f.     Berkurangnya misin dan peralatan
g.    Berkurangnya hutang lain-lain
 2.5  Penggunaan Modal Kerja
            Weston and Brigham (1998 : 123) menyatakan bahwa perputaran modal kerja adalah kemampuan perputaran modal kerja netto dalam suatu periode tertentu, dengan rumus : 

                                                            Hasil Penjualan Netto
            Working capital Turnover  =                                             = ……. kali
                                                             Ak. Lancar – Ht. Lancar

            Perputaran modal kerja sangat penting untuk melihat kegiatan sehari-hari bahwa operasi perusahaan sangat ditentukan oleh tersedianya dana dan kenyataan lain dapat dilihat bahwa banyaknya uang yang tertanam pada current assets adalah sanagat besar jumlahnya khususnya bagi perusahaan kecil harus meminimumkan investasi dalam harga tetap oleh karena ada cara lain untuk menghindar investasi dalam biaya piutang dan persediaan.
            Penentuan besarnya investasi dalam current assets adalah sangat penting untuk menjaga likuiditas dan profitabilitas perusahaan. Oleh karena kekurangan modal kerja akan mengganggu jalannya operasi perusahaan seperti untuk membayar utang jangka pendek, pembayaran upah, pembayaran utang dagang dan seterusnya. Demikian pula sebaliknya kelebihan modal kerja akan membawa resiko yang harus ditanggung terhadap sejumlah modal kerja yangt menganggur dalam perusahaan yang selanjutnya akan memperkecil profitabilitas perusahaan.
            Besar kecilnya kebutuhan modal kerja terutama tergantung pada perputaran atau periode terikatnya modal kerja dan pengeluaran kas rata-rata setiap harinya. Makin lama jangka waktu perputarannya, makin besar jumlah modal kerja yang dibutuhkan.
            Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja adalah merupakan keseluruhan atau jumlah dari periode-periode yang meliputi jangka waktu lamanya pemberian piutang. Lamanya menyimpan bahan mentah digudang, lamanya proses produksi sedangkan pengeluaran sehari-hari merupakan pengeluaran untuk pembelian bahan mentah, pembayaran upah buruh dan biaya-biaya lainnya.
            Investasi dalam kas adalah untuk menjaga likuiditas perusahaan. Untuk membiayai pengeluaran rutin perusahaan dari minggu ke minggu seperti pembayaran upah, pembayaran biaya umum dan lain-lain.



C   Pengertian Laba
      Sebagaimana diketahui bahwa keberadaan perusahaan mempunyai tujuan tertentu, sehingga perusahaan berusaha semaksimal mungkin dalam memaksimalkan laba sebagai tujuan umum perusahaan (bisnis) adalah "Membuat suatu produk atau jasa dengan biaya yang serendah-rendahnya, menjual dengan harga wajar, dan membentuk kebiasaan". Dalam pembuatan keputusan merupakan elemen penting manajemen produksi dan operasi, karena semua manajer harus membuat keputusan-keputusan, maka tidak ada salahnya bila kita membicarakan masalah pembuatan keputusan.                                                                                                              
      Dengan melaksanakan usahanya perusahaan dalam hal menggunakan sumber daya manusia (sering disebut faktor-faktor produksi) tenaga kerja, mesin-mesin peralatan, bahan mentah dan sebagainya. Dalam proses transportasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi produk atau jasa.
      Selanjutnya, T. Hani Handoko dalam bukunya Penentuan Laba Perusahaan, (2001: 84) mengemukakan bahwa dalam penentuan maksimisasi laba perusahaan akan menetapkan teknik-teknik atau metode perangcangan dan pengalokasian berbagai sumber daya yang terbatas di antara berbagai alternatif penggunaan sumber daya manusia untuk mendukung kontinuitas usaha, serta dapat meminimalisasi biaya yang telah dioptimalkan.
      Problem produksi biasanya diformulasikan sebagai maksimalisasi keuntungan  dimana sumber  daya  dialokasikan   untuk mencapai efektifitas yang maksimal dan distribusi modal berbagai periode, di mana fungsi-fungsi dan tujuan di eksperimenkan dalam kaitannya dengan Net Present Value (NPV) aplikasi-aplikasi yang bermaksud.
a. Pemilihan proses yang dapat membantu manajemen untuk memilih kombinasi metode produksi yang terbaik dari yang tersedia.
b. Pencampuran (blending) untuk menentukan biaya terkecil dari kombinasi unsur-unsur yang akan membentuk sebuah spesifikasi produk yang dihasilkan.
c. Transportasi untuk menentukan biaya transportasi minimal menggunakan rute yang tersedia.                                                                                                                
Dari ketiga aplikasi ini mempunyai fungsi dan tujuan yaitu biaya yang minimal, artinya segala aktivitas dapat dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin.

D  Penentuan Besarnya Modal Kerja
     Untuk mengukur prestasi perusahaan atau tingkat kemampuan, maka analisa memperoleh laba merupakan salah satu alat yang digunakan oleh para manajer, pada prinsipnya bahwa setipa perusahaan menginginkan suatu potensi yang baik sehingga memberikan pendapatan sampai sejauhmana hasil yang dan bunga dengan harta.Analisa resiko dalam memperoleh laba juga akan memberikan gambaran efisien atas penggunaan dana, mengenai hasil akan keuntungan dapat dilihat setelah membandingkan pendapatan bersih setelah pajak dan bunga dengan harta. Laba suatu rasio keuangan yang mengukur kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dengan sejumlah modal tertentu, selain itu rasio tersebut dapat memberikan gambaran tentang kontrol perusahaan dalam pengambilan keputusan keuangan. Untuk pengertian yang lebih jelasnya beberapa batasan yang diberikan oleh penulis berikut ini, seperti Bambang Riyanto dalam bukunya Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan  (2002; 27) mengatakan bahwa keuntungan perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dan aktiva atau model yang menghasilkan laba tersebut dengan kata lain keuntungan diperoleh yang adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba sebelum periode tertentu.                                                                                                                                                                
      Bagi batasan tersebut untuk memperoleh dari laba dengan investasi yang ada juga dapat dikatakan kemampuan suatu perusahaan untuk mencapai keuntungan tertentu sebagai akibat dari kebijaksanaan dan keputusan atas penggunaan dana dan perusahaan.
      Selanjutnya, Edwan Dekar dalam bukunya Analisa Laporan Keuangan, (2000; 68) mengemukakan bahwa profitabilitas diukur dengan keberhasilan perusahaan dalam mempertahankan kebijaksanaan deviden menguntungkan sementara ada yang bersamaan maju untuk menunjukkan adanya suatu kenaikan modal yang mantap.
      Penulis lain yaitu Hartanto dalam bukunya Akuntansi Manajemen, (1999: 46) mengemukakan bahwa keuntungan adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba. Oleh karena itu dengan membandingkan operating profit margin antara beberapa periode yang berurutan akan dapat dilihat kecenderungan harga pokok penjualan dan perubahan biaya operasi dari perusahaan tersebut.
d. Jenis-Jenis Laba
    Secara  garis  besarnya  untuk  memperoleh laba dapat dikelompokkan dalam dua bagian,   yaitu :
     Keuntungan  secara  ekonomi  (return  on  total accers) yang sering juga disebut dengan istilah Earning Power adalah perbandingan antara laba sebelum pajak dengan keseluruh an modal.
     Adapun laba yang dimaksud tersebut adalah laba  operasi dan modal adalah modal operasi. Untuk memberikan pengertian yang lebih jelas S. Munawir (1997: 13) mengemukakan bahwa keuntungan secara ekonomi adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksud untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan pada opeasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Dengan demikian ratio ini menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operaso perusahaan (Net Operating Income) dengan jumlah investasi atai aktiva yang digunakan untuk menghasilkan operasi tersebut (Net Operating Assets).
          Analisa profit margin tersebut dimaksud untuk melihat efisiensi perusahaan dalam mencapai volumepenjualan untuk menghasilkan laba yang diharapkan. Sedangkan operating Assets Turn Over untuk melihat efektivitas perusahaan yang dapat tercermin dari kecepatan operating assets turn over.
     Suatu faktor yang mempengaruhi perkembangan perusahaan adalah sejauhmana perusahaan mengelola usahanya agar dapat menghasilkan laba maksimal mungkin sedangkan laba itu sangat dipengaruhi oleh sebagaimana perusahaan mencapai tingkatan volume penjualan tertentu dengan biaya yang sewajarnya. Karena tingkatan efisiensi dalam perusahaan akan menyebabkan semakin tinggi pula penetapan profit margin perusahaan.
     Untuk menaikkan profit margin ada beberapa cara yang dapat ditempuh                                                                                                              dapat ditempuh :                                                        
   - Menaikkan  Net Sales yang lebih besar dari ke naikkan operating expenses.
   - Mempertahankan Net Sales dengan menekan operating expenses. 
   - Mengusahakan  penurunan  Net  Sales dengan harapan terjadi penurunan operating expenses yang lebih besar.
      Salah satu alternatif lain dalam menaikkan keunagnan sebagai berikut :
1.     Menaikkan net sales yang lebih besar dari kenaikan  operating expenses.
2.     Mempertahankan net sales dengan menekan  operating expenses.
3.     Mengusahakan  penurunan net  sales dengan  harapan terjadi  penurunan  operating  expenses yang lebih besar.
      Selain masalah efisiensi tersebut suatu kenyataan bahwa setiap perusahaan senantiasa memperhatikan masalah perputaran modalnya, di mana perputaran modal yang cepat menunjukkan kemajuan perusahaannya.
    Keuntungan  modal  sendiri ( return  on  net  worth )                                                     
Return on net worth tersebut menyangkut bagaimana tingkat kemampuan modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan. Dalam hal ini Return on worth tersebut yang dibandingkan adalah bukan keseluruhan modal tetapi khusus modal sendiri. Adapun batasan oleh Bambang Riyanto (1988; 37) mengatakan bahwa laba modal  sendiri juga dikenakan laba yang tersedia bagi para pemilih modal sendiri disatu pihak dengan jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut    dipabrik lain.
       Besar kecilnya kebutuhan akan modal kerja, tergantung pada kebutuhan perusahaan dalam memenuhi permintaan pasar. Menurut Bambang Riyanto dalam bukunya Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan  (2004, 12), hal itu ditentukan oleh  dua faktor yaitu :
1.  Pengeluaran kas rata-rata setiap hari.

           2. Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja.  
Ad 1 Pengeluaran kas rata-rata setiap hari
Kas adalah merupakan alat yang  mempunyai  penggunaan yang tinggi karena dengan tersedianya kas, maka akan membiayai  kewajiban-kewajiban, setiap harinya seperti untuk keperluan pembelian bahan mentah, bahan penolong, upah buruh  dan apa saja yang  dapat memenuhi segala kewajiban perusahaan.
Hal ini tidak berarti bahwa perusahaan harus mempunyai simpanan  kas yang tinggi. Karena dengan demikian berarti hanya mengutamakan kepentingan faktor likuiditas, tetapi akan menekan rentabilitas perusahaan di lain pihak ada keharusahn  untuk menahan jumlah  minimal pada kas supaya perubahan  dapat  memenuhi  kewajiban-kewajibannya dengan baik.  Persediaan minimal  adalah apa yang disebut dengan persediaan bersih kas.
Adapun  persediaan  bersih kas itu dapat dihasilkan untuk memperoleh  keuntungan,  besarnya  persediaan  bersih kas tergantung pada :
a.  Sifat  transaksi  komersial  dan  keuangan, sifat pada  transaksi  dalam  arti bagaimana pembelian bahan dan penjualan  hasil  akhir dilakukan, misalnya dengan tunai atau  kredit. Bila transaksi dilakukan dengan  tunai,  maka  tidak  perlu persediaan kas yang tinggi.                                                      
Begitupula  dengan  sering  tidaknya transksi keuangan (penerimaan/ pembayaran)  akan  berpengaruh  terhadap bersihnya kas.
b.   Selisih antara penerimaan dan pengeluaran
Besar  kecilnya  selisih  antara penerimaan dan jumlah pengeluaran kas dalam satu periode tertentu, untuk menentukan pula suatu tingkat persediaa bersih kas.
Disamping  itu, penerimaan  dan pengeluaran yang dapat diramalkan  atau diduga terlebih dahulu. Misalnya: ada pemogokan,  kegagalan dan penjualan produksi dan lain-lainnya.
Apabila telah dapat ditentukan besarnya persediaan bersih kas, maka diatur penerimaan dan pengeluaran kontinutas dapat terjamin dengan tidak menurunkan likuiditas di atas, maupun rentabilitas untuk dapat mengatur penerimaan dan pengeluaran alat dengan baik dan efisiensi perlu dibuat cash budget.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusu­nan cash budget oleh Djahidin, dalam bukunya Analisa Laporan Keuangan, (2003,  114) adalah :
- Jumlah penerimaan  selama  periode  tertentu, misalnya dalam satu bulan, pada umumnya penerimaan hal ini berasal dari :
1.  Penjualan tunai                                                     
2.  Debitur yang membayar hutang-hutangnya.
3.  Sumber-sumber lain misalnya penjualan aktiva tetap
4. Jumlah kas yang ada permulaan periode                                                      
5.  Jumlah pengeluaran-pengeluaran selama periode tertentu seperti :
6. Pembelian bahan/bahan lain secara tunai.
7. Pembayaran hutang perniagaan dan hutang lain.
8.  Adanya Surplus atau defisit
      Dalam pengertian  ini adalah termasuk simpanan dalam bank yang setiap hari atau setiap saat dapat dipergunakan  untuk  menguasai  atau memilih barang atau jasa yang  diinginkan oleh konsumen, sehingga dalam keadaan ini  istilah  surplus  atau  defisit  pada  perusahaan tergantung dari pengelolah.                                                     
      Periode perputaran dan terikatnya modal kerja. Dalam pengertian periode perputaran yang relatif  singkat,  karena perputaran dari piutang ke kas hanya memerlukan  satu tingkat saja. Adanya piutang dagang, terutama  dimaksudkan sebagai salah satu alat untuk memperbesar  volume  penjualan. Untuk mengukur periode perputaran dari piutang oleh Djarwanto, dalam bukunya Popok-Pokok Analisa Laporan Keuangan, (2001, 29) dilihat dan dihitung dengan rumus :
Penjualan Kredit
                   Perputaran piutang = 
Piutang rata-rata

       Makin tinggi tingkat perputarannya berarti bahwa modal  yang ditanamkan dalam piutang tersebut makin banyak berputar dalam satu periode. Pada transaksi penjualan dengan kredit tertentu, berarti makin tinggi turnover, juga akan berarti bahwa modal yang ditanamkan dalam piutang adalah sedikit. Disamping itu perusahaan harus menahan sejumlah piutang sebagai kredit penjualan untuk dapat memelihara transaksi normalnya yang merupakan inti dari permanent kebutuhan modal, piutang yang ditanam dalam piutang.
Faktor-faktor yang  harus  diperhatikan dalam menentukan besarnya piutang bersih, (Djarwanto 2001,  89) yaitu :
- Syarat pembayaran dari penjualan kredit
Biasanya dinyatakan dalam term 2/10 n/30, artinya pembayaran dinyatakan dalam waktu 10 hari sesudah penyerahan  barang si pembeli mendapatkan potongan 2% hari sesudah penyerahan barang.                                                                                                        
- Kebiasaan para  langganan  dalam  pembayaran. menurut pengalaman banyak yang membayar dalam waktu yang telah ditentukan untuk mendapatkan cash discount, maka    persediaan bersih piutang di atas waktu untuk     mendapatkan cash discount.
- Sifat dan kesediaan  para pelanggan dalam membayar hutangnya, sebab sering terjadi langganan yang mampu, tetapi segan memenuhi kewajibannya.

E  Implementasi Rasio Financial Terhadap Evaluasi  Kinerja Keuangan
      Analisa ratio financial penilaian terhadap kinerja keuangan di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Tujuan  untuk menemukan kelemahan-kelemahan di dalam kinerja   keuangan perusahaan yang dapat menyebabkan masalah-masalah masa yang akan datang dan untuk menentukan kekuatan-    kekuatan  perusahaan yang dapat diandalkan. Misalnya analisa internal yang dilakukan oleh karyawan suatu perusahaan dapat ditujuan terhadap penilaian likuiditas perusahaan atau penilaia penyelenggarakan-penyelenggaraan perusahaan di masa lalu. Analisa rasio finacial juga berasal dari luar      perusahaan sebagian usaha untuk menentukan keandalan kredibilitas perusahaan atau potensi industri. Dari manapun analisa berasal alat yang digunakan pada dasarnya sama.
      Rasio finansial merupakan alat utama dalam analisa keuangan, karena dapat dipergunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan mengenai kesehatan keuangan perusahaan.
     Dalam implementasi analisa rasio finansial terhadap kerja keuangan biasanya terdapat dua cara perbandingan yang akan dipergunakan perusahaan. Menurut apa yang dijelaskan oleh Van Horne dan Wachowichz, Manajemen Keuangan Perusahaan, (1997 : 133) tentang kedua cara perbandingan tersebut, sebagai berikut :
1.   Perbandingan internal
Analisa dapat membandingkan rasio saat ini dengan rasio masa lalu dan masa yang akan datang dalam perusahaan yang sama. Rasio lancar, rasio dari aktiva dibagi kewajiban lancar untuk tahun sekarang dapat di bandingkan rasio lancar tahun sebelumnya.
Jika rasio finansial diurutkan dalam beberapa periode tahun, analisa dapat mempelajari  komposisi  perubahan dan menentukan apakah terdapat perbaikan atau menurunan dalam kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.
 2.   Perbandingan  eksternal dan sumber-sumber rasio industri
Metode  perbandingan yang kedua  melibatkan  perbandingan rasio satu perusahaan dengan perusahaan-perusahaan  sejenis atau dengan rata-rata industri titik waktu yang sama. Perbandingan ini memberikan pandangan mendalam tentang kondisi keuangan dan kinerja relatif dari perusahaan. Rasio ini juga membantu dalam mengidentifi kasikan penyimpangan dari rata-rata standar industri.
Dengan perbandingan internal, perusahaan akan dapat mengetahui kecenderungan perubahan yang terjadi selama beberapa periode tahun buku yang akan dianalisis. Sedangkan melalui perbandingan eksternal perusahaan dapat melihat kekuatan persaingan (competition power) yang ada pada perusahaannya, yaitu dengan membandingkan rasio-rasio finansial internal perusahaan dengan suatu standar atau norma indutri. Akan tetapi industri yang dimaksudkan adalah rasio - rasio finansial yang di terbitkan oleh badan-badan atau lembaga-lembaga keuangan sebagai standar atau ukuran atau ukuran yang dapat dibandingkan dengan rasio finansial suatu perusahaan.  
       Pendapat lain dari Cahyono, Analisa Kinerja Keuangan, (2000, 392) juga membagi metode-metode penganalisaan rasio-rasio finansial menjadi 2 (dua) perbandingan, yaitu :
1.  Membandingkan  rasio  sekarang ( present  ratio )  dengan ratio-ratio  kita dari  waktu-waktu  yang  lalu  ( ratio historis) dengan rasio-rasio yang diperkirakan untuk waktu-waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama. Misalnya current rasio, tahun 1997 dibandingkan dengan current ratio dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan cara perbandingan tersebut akan dapat diketahui perubahan- perubahan dari rasio tersebut dari tahun ketahun. Dengan menganalisa satu macam rasio saja tidak banyak artinya, karena dapat mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan adanya perubahan. 
2. Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan (rasio perusahaan/ company ratio) dengan rasio-rasio semacam dari perusahaan lain yang sejenis atau industri rasio (rasio industri/rasio rata-rata/rasio standar) untuk waktu yang sama.                                                      
     Dengan membandingkan rasio  perusahaan dengan rasio industri, maka akan dapat diketahui apakah perusahaan yang bersangkutan itu dalam aspek finansial tertentu berada di atas rata-rata industri (above average), berada pada rata-rata (average) atau terletak dibawah rata-rata (below average).
      Jadi ada 2 (dua) metode perbandingan yang digunakan perusahaan untuk menganalisa rasio finansial oleh Amin Tunggal, Dasar-Dasar Analisa Laporan Keuangan, (2002, 125) yaitu analisa internal dan eksternal. Perbandingan internal, yaitu rasio-rasio internal yang dibandingkan antara rasio-rasio (rasio historis) yang lalu dengan rasio sekarang (present ratio). Perbandingan eksternal  yaitu  rasio-rasio yang  sengaja dikeluarkan oleh lemaga-lembaga keuangan atau badan-badan keuangan untuk dijadikan standar bagi perusahaan - perusahaan dalam  menganalisa rasio-rasio finansialnya.
      Dengan demikian, perbandingan internal dan eksternal merupakan indikator perusahaan dalam menyusun rasio finansial Manajer keuangan dapat mengambil salah satu indikator dari keduanya. Indikator ini untuk menjawab kondisi kinerja keuangan perusahaan, sehingga dapat mengambil kebijaksanaan strategis tentang pembelanjaan perusahaan di masa yang akan datang. Di Amerika Serikat perbandingan rasio perusahaan dengan rasio industri sudah sangat luas penggunaannya karena di negara tersebut ada beberapa badan atau bank yang menyusun rasio-rasio industri antara lain "DUN and Bradstreef dan Robert Morris Associates ( RMA )" (Anonim  2002,  214). Di Indonesia jika perusahaan hendak mengadakan analisa rasio, mungkin pada saat ini hanya dapat mengadakan analisa rasio internal belum adanya lembaga atau badan yang menyusun rasio industri.

F   Usaha Laba Untuk Memperbesar Profit Margin

      Besar kecilnya profit margin  pada setiap transaksi penjualan ditentukan oleh kedua faktor yaitu net sales laba usaha. Besar kecilnya laba usaha atau net operating income tergantung kepada pendapatan dari sales dan besarnya biaya usaha (operating expenses).
      Bambang Riyanto, dalam bukunya Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, (2004 : 31) dengan jumlah operating expenses tertentu dengan profit margin dapat diperbesar dengan sales, atau dengan jumlah sales tertentu, profit margin dapat diperbesar dengan menekan atau memperkecil operating expenses.
      Dengan demikian, untuk memperbesar profit margin ada dua alternatif dalam usaha untuk memperbesar profit margin, yaitu :
1.    Dengan menambah biaya usaha (operating expenses) sampai pada tingkat tertentu diusahakan tercapai tambahan sales yang sebesar-besarnya atau dengan kata lain, tambahan sales harus lebih besar daripada tambahan operating expenses.
2.    Perubahan besarnya sales dapat disebabkan karena perubahan harga penjualan per unit apabila volume sales dalam unit sudah tertentu (tetap) atau disebabkan karena bertambahnya luas penjualan dalam unit kalau tingkat harga per unit produk sudah tertentu.  
      Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa pengertian menaikkan tingkat sales disini dapat berarti memperbesar pendapatan dan sales dengan jalan, sebagai berikut :
 1.  Memperbesar volume sales dalam unit pada tingkat harga penjualan barang tertentu.
 2.  Menaikkan harga tingkat penjualan per unit pada produk luas sales dalam unit tertentu. 
      Dengan mengurangi pendapatan dari sales sampai tingkat tertentu diusahakan adanya pengurangan oprating expenses yang sebesar-besarnya, atau dengan kata lain mengurangi biaya usaha relatif lebih besar dari pada berkurangnya pendapatan dan sales. Meskipun jumlah daripada sales selama periode tertentu berkurang, tetapi oleh karena disertai berkuragnya operating expenses yang lebih sebanding maka akibatnya ialah bahwa profit marginnya makin besar.


DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2002, Standar Akuntansi Keuangan, (PSAR No. 31), Ikatan Akuntansi Indonesia, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Cahyono, B, 2000, Analisis Kinerja Keuangan, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, TPWI, Jakarta.

Djarwanto, 2001, Pokok-Pokok Analisa Laporan Keuangan, Edisi Pertama, Penerbit BPFE, Yogyakarta.

Farid, Dj, 2003, Analisa Laporan Keuangan, Edisi Kelima, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Fred, J,W, 20001, Manajemen Keuangan Perusahaan, Edisi Ketujuh,  Intermedia, Jakarta.         

Mulyadi, 2001, 2001, Akuntansi Biaya, Penentuan Harga Pokok,  Edisi Diperbaharui, Cetakan Kedua, Bina Aksara, Jakarta.

Nitisemi, A,S,2002, Pembelanjaan Perusahaan, Edisi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Riyanto,B, 2004, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahan,  Edisi Kedua, Yayasan Penerbit Universitas Gajah Mada.

Soemitro, A, 2003, Manajemen Keuangan, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Weston and Brigham, 1999, Pembelanjaan Perusahaan, disadur oleh Alex S. Nitisemita, Edisi Ketiga, Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada,      Yogyakarta.

Tirok, J, 1999, Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Kedua, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
 
Tunggal, A, 2002,  Dasar-Dasar Analisa Laporan Keuangan, Rineka Cipta, Jakarta.

Van Horne James C, 1997, Manajemen Dan Kebijakan Keuangan  Perusahaan, Edisi Ketujuh, Penerbitan Intermedia, Jakarta.        




Tidak ada komentar:

Posting Komentar