Powered By Blogger

Sabtu, 22 Oktober 2016

" Penggunaan Anggaran Belanja Daerah Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai pada Kantor Bupati

Pemerintah daerah diberikan hak untuk mengatur diri sendiri yaitu Otonomi Daerah (Otoda) yang dimulai Januari 2001 menimbulkan reaksi berbeda-beda bagi daerah. Pemerintah daerah yang memiliki sumber kekayaan alam yang besar menyambut baik otonomi dengan penuh harapan, sebaliknya daerah yang kurang sumber daya alamnya menanggapi dengan sedikit rasa khawatir dan was-was terhadap perkembangan di daerah itu sendiri.
      Pelimpahan wewenang kepada daerah tersebut bisa dipahami, oleh karena pelaksanaan otonomi daerah dan desenteralisasi fiscal membawa konsekkuensi bagi pemerintah untuk lebih mandiri baik dari system pembiayaan maupun dalam menentukan arah pembangunan daerah sesuai dengan prioritas dan kepentingan masyarakat di daerah.
       Desentralisasi atau otonomi daerah saat ini, prinsip-prinsip dasar pegelolaan keuangan daerah mengalami perubahan paragma. Paradigma baru pengelolaan keuangan daerah atau APBD paling tidak mendekati atai mengikuti paradigma yang berkembang dalam pengelolaan keuangan modern yang dapat diterapkan oleh pemerintah daerah.
       Sumber daya alam inilah yang sering mengakibatkan paradigma pengelolaan keuangan takut atau tidak berani untuk mengambil keputusan untuk bertindak. Apabila hal tersebut terjadi, maka tujuan dari pengawasan tentu saja tidak akan pernah tercapai, karena tidak pernah dilaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan pengawasan dalam mengelola keuangan dalam kaitannya dengan APBD.
      Era otonomi daerah seperti saat ini, pengelolaan keuangan daerah  atau penetapan APBD kini sepenuhnya merupakan hak dan wewenang pemerintah daerah, walaupun ada sumber pendapatan daerah dalam APBD yang berasal dari pemerintah pusat, seperti dana perimbangan (dana bagi hasil, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus). Oleh sebab itu pengelolaan dana perimbangan juga menjadi wewenang pemerintah daerah dan perundang-undangan yang berlaku.
      Peningkatan sumber daya alam kaitannya dengan APBD perlu mendapat pengawasan setiap departemen, sehingga kebocoran pelaksanaan dana dapat terhindar sebelum dana tersebut untuk dilaksanakan oleh setiap unit pada daerah masing-masing.
      Pemberian Otonomi Daerah berhak mengatur tentang pengelolaan keuangan daerah perlu diatur di dalam peraturan daerah yang dibuat pemerintah daerah atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Namun Peraturan Daerah (Perda) yang dibuat harus sesuai pula dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000, tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah yang dibuat prosedur terhadap pengelolaan oleh masing-masing departemen.       
       Peraturan Daerah mengatur tentang peningkatan organisasi perlu di lakukan evaluasi terhadap pegelolaan keuangan daerah yang merupakan sarana dari segala pelaksanaan kegiatan, sehingga bisa tercipta suasana kerja dengan memanfaatkan sumber daya alam sesuai keahlian masing-masing.
      Meningkatkan kinerja pegawai berdasarkan Anggaran Belanja Daerah (APBD) pada Pemda Kabupaten Wajo dalam kaitannya dengan  pemanfaatkan keuangan secara efektifi dan efisien memang penting utamanya dalam lingkup Pemda Kabupaten Wajo perlu adanya sistem pengendalian penggunaanya (pengendalian system), karena yang dapat dijadikan sebagai alat kontrol adalah sistem pengawasan dalam pengelolaan keuangan daerah, sehingga pengelolaan keuangan daerah dimanfaatkan sesuai dengan tujuannya. 
      Pemda Kabupaten Wajo melakukan pengawasan dengan baik terhadap pengelolaan keuangan daerah dengan tujuan yang efektif dengan menggunakan sistem pengawasan yang hanya dapat tercipta bila memenuhi 2 (dua) prinsip, yaitu :
1. Merupakan suatu keharusan, bahwa rencana merupakan alat dari  pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan. Rencana tersebut merupakan petunjuk apakah suatu pekerjaan telah selesai dan berhasil.
2.  Merupakan   suatu   keharusan  bagi  suatu  perusahaan  agar  sistem  pengawasan  benar-benar  efektif   pelaksanaannya.  Wewenang dan     isntruksi yang jelas harus diberikan kepada  karyawan  karena dengan   berdasarkan hal tersebut dapat diawasi pekerjaan seorang pegawai.
A   Pengertian dan Jenis-Jenis Anggaran
      Anggaran dalam berbagai pengertian banyak diartikan sebagai pernyataan kuantitatif. Hal ini terlihat antara lain pada pengertian anggaran yang dikemukakan oleh Charles T. Hongren dan George Foster dalam bukunya Cost Accounting, (2002: 146), sebagai berikut anggaran adalah suatu pernyataan kuantitatif tentang apa rencana atau tindakan dan alat bantu untuk koordinasi dan implementasi.
      Dalam hal ini anggaran dirumuskan untuk organisasi secara  keseluruhan ataupun sub unit, di mana anggaran merupakan suatu prosedur yang disebut budgenting system.
      Perencanaan dengan anggaran dengan mengidentifikasi pada manajemen mengenai :
1. Jumlah laba yang ditetapkan untuk dicapai perusahaan
2. Sumber dana yang diperlukan dalam mencatatkan laba
      Pengendalian biaya, yaitu membandingkan antara hasil aktual dengan anggaran yang akan membantu manajemen untuk mengevaluasi kinerja dari individu, departemen divisi atau keseluruhan organisasi perusahaan.
      Komunikasi dan koordinasi, yaitu anggaran mampu untuk  mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan keseluruh level dalam departemen, karena anggaran merupakan bagian integral dari  tujuan-tujuan tersebut departemen divisi dan organisasi perusahaan.
      Selanjutnya, definisi anggaran yang mengandung pengertian yang sama dilakukan oleh Ray H. Garisson (1995: 297), menyatakan bahwa a budget is a detail plan outlining acquistion and use of financial and other resources some gives time period.
      Selain mencakup ramalan atau perencanaan mengenai pendapatan dan pengeluaran penerimaan dan biaya untuk mempermudah proses perencanaan ini sendiri, maka semua kegiatan operasi dari perusahaan yang menyusun anggaran harus dikonversikan kedalam bentuk kesatuan nilai uang. Hal ini  dimaksudkan  agar  kegiatan-kegiatan  tersebut   dapat                                                         
diukur dalam alat kesatuan yang sama.
      Pengertian anggaran yang mengandung pengertian sebagaimana disebutkan di atas, ditemukan oleh, Teguh Pajo Mulyono (2000 : 287) yang menyatakan bahwa budget is a plan of operation expessed in monetary terms it consequently includes a forecast a forecast of income and expenditures and of receipts and cost for a specific period.
      Setiap organisasi perusahaan utamanya perusahaa dengan organisasi yang besar, tidak akan terlepas dari kegiatan pengendalian. Pengendalian ( control ) dapat memberikan keputusan bahwa sumber-sumber yang diperoleh telah digunakan secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk maksud tersebut di atas, budgeting adalah salah satu tehnik yang tersedia.   
      Budgeting  merupakan rencana kegiatan yang terperinci ditetapkan sebagai suatu pedoman pelaksanaan dan sebagai suatu dasar penilaian terhadap prestasi kerja manajer.
      Jika kita melihat pengertian budget yang dikemukakan, maka dimensi waktu juga turut dimasukkan sebagai batasan anggaran, karena dapat menyebabkan semua biaya total menjadi variabel atau semua biaya tidak dapat dibedakan antara biaya yang dapat dikendalikan (controllable cost) dengan biaya yang tidak dapat dikendalikan (uncontrollable cost).
      Pada perusahaan yang sudah sedemikian stabil, biasa saja membuat peramalan untuk beberapa tahun, atau dengan kata lain  dalam jangka panjang. Namun bagi perusahaan yang banyak menghadapi ketidak pastian, hanya mungkin untuk membuat peramalan jangka waktu yang pendek saja, jadi jangka waktu yang dicukupi oleh anggaran juga, tergantung dari sifat suatu perusahaan itu sendiri, namun anggaran yang disusun menurut kurun waktu bulanan adalah yang paling baik karena rencana kegiatan nampak. Disamping itu anggaran bulanan sangat menunjang pelaksanaan pengendalian yang terjadi dengan segera dapat diketahui.
      Proses penganggaran mempunyai beberapa tujuan :
1. Anggaran menyajikan  perencanaan keuangan yang memungkin  kan perusahaan untuk dapat mengkoordinasikan semua aktivitasnya. Dengan menggunakan anggaran para manajer dapat memproyeksikan hasil dan mengatur strategi yang dibutuhkan sebelum operasi perusahaan dapat dimulai, sehingga dapat menghindari kesalahan yang merugikan perusahaan.                                                         
2. Proses penganggaran mendorong para manajer untuk menguji kembali prestasi yang pernah diraih dan memungkinkan mereka mengubah kembali dan mengoreksi metode operasi yang kurang efisiensi ketinggalan jaman.
3. Anggaran memungkinkan para manajer untuk mengimpelementasikan fungsi perencanaan dan pengawasan.
      Berdasarkan pengertian di atas, Calvin Engler (1999 : 305), mengemukakan bahwa, A budget is a financial plan that sets forth resources neccesary to carry out activities and meet financial golas for a future period time.
      Agar  supaya  anggaran  dapat  berfungsi sebagai alat koordinasi dan kontrak, maka masing-masing manajer harus satu tahun jelas luas kekuasaan dan tanggungjawabnya. Ini supaya tidak terjadi overlapping yang mungkin menyebabkan keruwetan dan kekaburan mengenai tugas masing-masing yang telah dibebankan. Demikian pula dengan anggaran dapat berfungsi sebagai alat motivasi kalau setiap manajer dan kepala bagian diikutsertakan dalam penyusunan perencanaan anggaran ini berarti perlu adanya pendelegasian wewenang kepada masing-masing  manajer,  untuk itu menyusun anggaran operasionya. Dengan demikian masing-masing manajer akan merasa bertanggung jawab sehingga timbul partisipasi untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam anggaran.
      Dari berbagai pengertian yang dikemukakan kesemuanya itu menunjukkan sifat yang sama, yaitu bahwa anggaran itu merupakan suatu rencana kegiatan yang tertulis mengenai apa yang dilakukan oleh suatu organisasi yang  meliputi peramal an pendapatan dan pengeluaran penerimaan dan biaya-biaya selama periode tertentu yang dikonversi dalam kesatuan nilai atau moneter.
      Menurut D. Hartanto dalam bukunya Akuntansi Untuk Usahawan (2003 : 131) ada 4 (empat) macam anggaran sebagai berikut :
1. Appropriation budget
2. Performance budget
3. Fixed budget
4. Flexible budget.
ad 1. Appropriation budget adalah untuk memberikan batas pengeluaran yang  boleh dilakukan. Batas tersebut merupakan jumlah maximun yang dapat dikeluarkan untuk satu hal tertentu. Dalam macam anggaran ini umumnya digunakan dalam pemerintahan. Namun bagi perusahaan untuk hal-hal tertentu sangat terbatas keinginan seperti, hanya untuk penelitian dan advertising saja.
ad 2. Performance budget adalah anggaran yang didasarkan pada atas fungsi aktivitas dan proyek. Pada anggaran ini perhatian ditujukan pada penilaian atau biaya-biaya yang dikeluarkan untuk suatu hal tertentu. Dengan demikian efisiensi dan efektifitas operasi dapat diketahui. Di dalam perusahaan anggaran yang lazim digunakan adalah formance budget.
ad 3. Fixed budget adalah anggaran yang dibuat untuk satu tingkat kegiatan selama jangka waktu tertentu, dimana tingkat kegiatan ini dapat dinyatakan dalam prosentase dan kapasitas jumlah produk yang dihasilkan selama jangka waktu tertentu pada Foxed budget hanya digunakan jika diketahui dengan pasti bahwa volume real yang akan dicapai tidak jauh berbeda dengan volume yang direncanakan semula.  
ad 4. Flexible budget adalah bahwa untuk setiap tingkat kegiatan terdapat norma-norma atau ketentuan antar biaya yang diperlukan. Norma itu merupakan patokan dari pengeluaran yang seluruhnya dilakukan pada masing-masing tingkat kegiatan tersebut.
      Dalam penyusunan anggaran suatu perusahaan perlu diperlukan beberapa syarat seperti yang dilakukan oleh Gunawan  Adisaputra  dan  Marwan Asri dalam bukunya Anggaran Perusahaan (2000 : 7) menyatakan bahwa di dalam penyusunan anggaran perusahaan, maka perlu diperlukan beberapa syarat bahwa anggaran harus realitis, luwes dan kontinyu.
                                                                                                                   
B   Prosedur Penilaian Anggaran
      Haryani (2003 : 28) dalam penilaian anggaran terdapat dua macam prosedur penilaian anggaran yaitu :
1. Perbandingan tahun berjalan
   Laba yang ditargetkan untuk setiap divisi/departemen sebaiknya disesuaikan dengan potensi laba dari divisi yang bersangkutan, jika potensi laba dibatasi oleh tersedianya fasilitas produk, kondisi personalia, produk dan pasar, maka tidak akan terjadi perubahan hasil yang besar antara tahun tertentu dengan tahun berikutnya. Akibat penilaian anggaran pada umunya dimulai dengan penilaian anggara tahun berjalan dan membahas parubahan-perubahan yang diusulkan untuk tahun yang akan datang dan pengaruhnya terhadap presentasi keuangan perusahaan.
   Jika dalam melakukan penilaian anggaran diperlukan analisa perubahan dari presentasi tahun berjalan, maka suatu usulan anggaran sebaiknya memperhitungkan hak-hal sebagai berikut :
1. Perubahan terhadap presentasi laba aktual tahun yang sedang                                   
      berjalan diuraikan dalam terminologi kegiatan manajerial.
2. Perubahan  presentasi  laba yang disebabkan karena kegiatan    
     operasional manajerial sebaiknya diidentifikasikan dengan jelas,
     sehingga manajer puncak dapat mengetahui tindakan koreksi yang     
     tepat untuk dikembalikan pada target semula, sementara  
     perubahan laba yang disebabkan oleh faktor yang berada dibawah 
     kendali manajer divisi sebaiknya dikendalikan secara terpisah.
3. Usulan anggaran sebaiknya mempertimbangkan secara terpisah     
     pengaruh beberapa proyek investasi atau penanaman modal 
     terhadap presentasi keuangan untuk tahun yang akan datang.
2. Anggaran berdasarkan program
Penilaian anggaran yang didahului dengan penyusunan program biasanya mencakup periode dua dan lima tahun, setelah program dinilai dan disahkan, maka disusun anggaran tahun pertama untuk program tersebut, prosedur ini memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan keuntungan prosedur biasa, yaitu :
1.    Proses perencanaan hampir terjadi sepanjang tahun dan bukan
Terpusat pasa bulan-bulan tertentu menjelang akhir tahun,
sehingga dimungkinkan untuk meyusun rencana dalam waktu yang
 lebih leluasa.
2.    Manajer puncak memiliki waktu yang lebih lama dalam memutuskan anggaran.
3.    Program untuk masa yang akan datang tidak perlu disusun secara terperinci, sehingga jika terjadi revisi akan dapat disusun anggaran yang lebih terperinci sesuai dengan kebutuhan untuk keperluan analisiss varians
4.    Tahun kedua dari program manjadi dasar untuk membandingkan program-program tahun berikutnya.

C  Anggaran Sebagai Alat Pengendalian
      Anggaran merupakan suatu alat pengendali, menurut Herman C Heiser (1999 : 7) menyatakan bahwa it should be overlooked that plan, them selves also have an important role in controling operations, contant comparison of the plan with the result of it’s operations of provides not only a meansure of amount of the deviation but also the reason and these are prime requisties as a basic for determining when and how the plan should amande”.
Defenisi diatas memberikan penjelasan sebagai berikut :
1.    Bahwa tidak dapat diabaikan, anggaran sendiri mempunyai peranan penting dalam mengendalikan operasi perusahaan, pengendalian dalam arti membandingkan anggarandengan realisasinya dan dari anggaran tersebut tidak hanya untuk mengukur jumlah penyimpangan yang terjadi tetapi juga penyebab penyimpangan tersebut, serta solusi terhadap tindakan koreksi yang harus dilakukan.
2.    Pengendalian merupakan suatu usaha pengendalian atau proses, dimana pelaksanananya disesuaikan degan keadaan dan hasil yang diinginkan.
Didalam pelaksanaan sebuah anggaran terdapat kemungkinan ditemukannya suatu situasi yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya yang membutuhkan suatu perubahan atau revisi anggaran. Sebuah sistem pengendalian dapat memberikan kemudahan untuk melaksanakan penyesuaian terhadap hal-hal yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka anggaran merupakan standar bagi pelaksanaan tugas-tugas dari suatu pusat pertanggungjawaban yang harus dicapai, serta alat kontrol yang baik bagi pemimpin untuk mengetahui kegiatan yang telah di capai oleh bawahannya, yaitu dengan melihat perbandingan natara hasil kerja yang dilakukan setiap manajer dengan standar dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya.

D  Proses Penyusunan Anggaran
      Penyusunan anggaran adalah proses akuntansi dan juga proses manajemen. Proses akuntansi berarti proses penyusunan anggaran merupakan studi terhadap mekanisme, prosedur untuk merakit data, dan membentuk anggaran. Oleh Halim Abdyul (2003) menyatakan bahwa proses manajemen berarti proses penetapan peran tiap manajer dalam melaksanakan program atau bagian dari program.           
      Penyusunan anggaran berhubungan dengan peran departemen anggaran dan komita anggaran.
1. Departemen Anggaran
Departemen anggran adalah departemen yang bertugas untuk  mengadministrasikan  aliran informasi sistem pengendalian melalui anggaran. Fungsi departemen ini adalah :
1.    Menerbitkan prosedur dan formulir-formulir untuk penyusunan anggaran.
2.    Mengkoordinasikan dan menerbitkan setiap asumsi-asumsi dasar yang dikeluarkan kantor pusat untuk digunakan menyusunan anggaran
3.    Menjamin bahwa informasi dikomunikasikan secar wajar diantara unit-unit organisasi yangsaling berhubungan.
4.    Membantu pusat-pusat mempertanggungjawabkan didalam penyusunan anggaran.
5.    Menganalisis usulan anggaran dan membuat rekomendasi, pertama pada penyusunan anggaran dan selanjutnya pada manajer puncak.
6.    Menganalisis laporan prestasi sesungguhnya dibandingkan anggarannya, menginterprestasikan hasil-hasilnya, dan menyiapkan laporan ringkas untuk manajemen puncak.
7.    Mengadministrasikan proses pengubahan atau penyesuaian anggaran selama tahun yang bersangkutan.
8.    Mengkoordinasikan dansecara fungsional mengendalikan pekerjaan departemen anggaran di eselon bawah. 
2. Komite Anggaran
Komite anggaran dalah komite yang dibentuk manajemen puncak untuk mengkoordinasikan fungsi manajemen dalam penyusunan anggaran.
Tugas-tugas komite anggaran mencakup :
1.    Mengusulkan pada manajemen puncak mengenai pedoman umum penyusunan anggaran.
2.    Menyebarkan pedoman tersebut setelah disetujui manajemen puncak.
3.    Mengkoordinasi berbagai macam usulan anggaran yang disusun secara terpisah oleh berbagai unit organisasi.
4.    Menyelesaikan berbagai perbedaan yang timbul diantara ususlan anggaran.
5.    Menyerahkan anggaran final terhadap manajemen puncak dan dewan komisaris untuk disahkan.
6.    Mendistribusikan anggaran yang telah disahkan kepada berbagai unit organisasi.
Anggaran biasanya berjangka waktu satu tahun dan dirinci untuk setiap semester, atau setiap triwulan, atau setiap bulan untuk selama tahun yang bersangkutan. Langkah-langkah didalam penyususnan anggaran biasanya sebagai berikut :
1.    Menentukan pedoman perencanaan
2.    Menyiapkan anggaran penjualan
3.    Menyiapkan komponen anggaran lainnya
4.    Perundingan untuk menyesuaikan rencana final setiap komponen anggaran
5.    Mengkoordinasi dan menelaah komponen-komponen anggaran
6.    Pengesahan anggaran finjal
7.    Pendistribusian anggaran yang telah disahkan

E  Revisi Anggaran
      Ellen Christina (2001) menyatakan bahwa anggaran suatu perusahaan di susun asumsi-asumsi bahwa kondisi tertentu akan berlaku selama tahuna anggaran. Jika kondisi sesungguhnya ternyata berbeda maka perlu tidaknya untuk melakukan revisi terhadap anggaran yang telah disahkan, terdapat dua pendapat yang saling bertentangan, sebagai berikut :
1.  Pihak yang berpendapat bahwa anggaran tidak perlu revisi       mendasarkan pada alasan sebagai berikut :
b.    Revisi anggaran memerlukan waktu, pemikiran, dan biaya.
c.    Revisi anggaran mengakibatkan anggaran sebagai alat pengukur yang lentur seperti karet. Jika timbul selisih rugi dalam jumlah besar cenderung pembuatan anggaran merevisi anggarannya dengan alasan kondisi yang diasumsikan berubah, padahal kondisi sesungguhnya tidak berubah.
d.    Jika tidak terjadi perubahan kondisi, cukup ditunujkkan dalam laporan analisis penyimpanagan antara anggaran dengan realisasinya.
2. Pihak yang setuju revisi anggaran mendasarkan alasan bahawa anggaran diharapkan dapat selalu digunakan untuk mengukur prestasi unit-unit organisasi sehingga perubahan kondisi harus dicerminkan dalam revisi anggaran. Revisi anggaran dapat dilaksanakan dengan salah satu dari dua macam prosedur berikut ini :
     a. Revisi anggaran dilakukan secara sistematis, misalnya setiap triwulan.
     b. Revisi anggaran hanya dilakukan jika kondisi yang mendasari penyusunan anggaran menyimpang dari yang diasumsikan semula.

F  Tahap-tahap Penyusunan Anggaran
      Tahap-tahap penyususnan anggaran dalam suatu organisasi biasanya dikoordinasikan oleh komite anggaran dan departemen anggaran menurut Glen A Welsch (2002), sebagai berikut :
1. Memahami SWOT ( Streghts, Weaknesses, Opportunities, and Treats ) Manajemen puncak atau CEO menganalisis informasi masa lalu dan perubahan lingkungan melalui analisis SWOT atau Kekepan (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) yang dimiliki organisasi dari lingkungannya. SWOT perusahaan atau unit bisnis harus dikomunikasikan pada penyusun anggaran karena mempengaruhi tujuan, strategis, dan program yang akan mendasari anggaran yang akan disusunnya.
2. Memahami Perumusan Strategis dan Perencanaan Strategis
Atas dasar SWOT, manajemen puncak menyusun perumusan strategis yaitu proses penentuan tujuan dan strategi pokok yang akan digunakan mencapai tujuan tersebut. Atas dasr strategi pokok yang telah ditetapkan selanjutnya disusun program-program untuk melaksanakan strategi dalam rangka pencapai tujuan.
3. Mengkomunikasikan Tujuan, Strategi Pokok dan Program
Manajemen puncak selanjutnya mengkomunikasikan SWOT, tujuan, strategi, dan program yang telah ditetapkan kepada komite anggaran, para manejer devisi, dan para manjer dibawahnya agar mereka mengetahui dan memahami lingkungan yang akan dihadapi, tujuan yang akan dicapai, strategi poko yang akan dilaksanakan, serta program yang mendasari anggaran yang disusunnya.
4.  Memilih Taktik, Mengkoordinasi dan Mengawasi Operasi
 Manajer devisi-atas dasr SWOT, tujuan, program, dan strategi yang telah ditetapkan- selanjutnya memilih taktik yang akan digunakan. Selanjutnya manajer Departemen menbuat keputusan pengoperasian. Keputusan pengoperasian digunakan untuk mengkoordinir kegiatan dibawah departemennya. Manajer seksi bertanggungjawab merencanakan pengendalian operasional. Pengendalian operasional digunakan untuk mengarahkan aktivitas-aktivitas operasional disemua seksi agar efisiensi dan efektif.
5.  Menyusun Usulan Anggaran
Setiap manajer divisi menyusun dan mengkoordinasikan penyusunan anggaran untuk bagian organisasi dibawahnya yaitu departemen. Demikian juga dengan manajer departemen juga menyusun dan mengkoordinasikan anggaran bagian organisasi dibawahnya yaitu seksi. Usulan anggaran semua devisi selanjutnya selanjutnya diserahakn kepada komite anggaran.
6.  Menyarankan Revisi Usulan Anggaran
Komite anggaran menyarankan revisi terhadap usulan anggaran setiap devisi agar terdapat penyelarasan dengan anggaran divisi yang lain dan agar sesuai dengan rencana jangka panjang dan tujuan organisasi yang telah ditentukan oleh manajemen puncak.
7. Menyetujui Revisi Usulan Anggaran Dan Merakit menjadi Anggaran Perusahaan
Setelah usulan anggaran, direvisi oleh setiap divisi anggaran yang bersangkutan dan revisinya telah disetujui komite anggaran, maka komite merakit usulan tersebut menjadi anggaran perusahaan.
8.  Revisi dan Pengesahan Anggaran Perusahaan
Anggaran perusahaan mungkin masih memerlukan revisi sebelum disahkan oleh manajemen puncak menjadi anggaran perusahaan yang resmi. Setelah dilakukan Revisi, anggaran tersebut disahkan dan didistribusikan pula ke setiap divisi dan bagian organisasi sebagai alat pengendalian.

G  Hubungan Anggaran dengan Pertanggungjawaban
      Ide pokok akuntasi pertanggungjawaban adalah setiap manajer pusat pertanggungjawaban harus bertanggungjawab terhadap elemen-elemen yang secara langsung berada dibawah pengendaliannya. Sesuai dengan ide pokok pertanggungjawaban tersebut diatas, anggaran tersebut harus disusun untuk setiap jenjang manajemen pusat pertanggungjawaban yang dibebani tanggungjawab atas pendapat, biaya, laba, dan investasi. Melalui laporan kinerja, anggran setiap pusat pertanggungjawaban dibandingkan denagn realisasinya sehingga dapat ditentukan kinerja manejer setiap pusat pertanggungjawaban. Sebagai akibatnya, sistem akuntansi mempertanggungjawaban memandang pendapatan, biaya, laba, dan investasi dari sudut pengendalian pribadi atyau kinerja manajer dan bukanlah dipandang dari sudut kelembagaan atau kinerja ekonomi.
      Dengan memahami dan membiasakan diri melakukan  penganggaran, perusahaan akan lebih mampu dalam memprediksi perubahan yang akan terjadi dan dampaknya bagi operasi usaha, serta mempersiapkan sedini mungkin segala perangkat yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan target yang ditetapkan. Dengan penganggaran tidak hanya perencanaan kegiatan yang dilakukan, tetapi juga koordinasi dan pengendaliannya. Ketiga fungsi manajemen ini (repencanaan, koordinasi dan pengendalian) secara sekaligus tercermin dalam proses penganggaran.
      Skenario anggaran dapat disusun dengan mudah ditampilkan komputer, tetapi yang perlu dihyati adalah hakekat anggaran cenderung banyak persamaannya dengan hubungan antar manusia (human relation) daripada sekedar rekayasa angka. Teknik-teknik kalkulasi yang telah diciptakan untuk membantu manajemen tidak akan berhasil jika realisasinya tidak benar. Oleh karena itu berhasil tidaknya suatu anggaran tergantung dari sikap (attitude) para individu yang bersangkutan. Mekanisme anggaran semata-mata merupakan teknik yang meyakini bahwa agar kinerja yang baik dapat dicapai, perlu ditetapkan suatu standar. Bila dalam realisasinya terdapat kondisi yang akomodatif, maka tujuan-tujuan yang telah ditentukan dapat berhasil. Dengan demikian tampak bahwa anggaran mempunyai kaitan yang sangat erat dengan proses manajemen.
      Proses manajemen adalah suatu kumpulan kegiatan yang saling berhubungan yang dilakukan oleh manajemen dari suatu organisasi untuk menjalankan fungs-fungsi manajemen. Dalam hal ini fungs-fungsi manajemen adalah :
.1.1Menyusun rencana untuk dijadikan sebagai pedoman kerja
.1.2Menyusun struktur organisasi kerja yang merupakan pembagian wewenang dan pembagian tanggung jawab kepada pera karyawan perusahaan.
.1.3membimbing, memberi petunjuk dan mengarah para karyawan
.1.4Menciptakan koordinasi dan kerjasama yang serasi diantara semua bagian yang ada dalam peruahaan
.1.5Mengadakan pengawasan dan pengendalian terhadap pekerjaan para karyawan dalam merealisasikan apa yang tertuang dalam randaca perusahaan yang telah ditetapkan.
       Dengan demikian nampak bahwa anggaran adalah alat bantu bagi manajemen. Anggaran yang baik serta sempurna tidak dapat menjamin bahwa pelaksanaan serta realisasinya kelak akan baik tanpa dikelola dan dipimpin oleh manajer yang tepat. Selain itu anggaran juga memiliki berbagai keterbatsan-keterbatasan, dengan demikian sebagai alat bantu manajer, penggunaan serta pelaksanaannya sangat tergantung pada individu-individu yang berkecimpung di dalamnya.

H  Pengertian Kinerja Pegawai

      Kinerja dalam bahasa sehari-hari adalah aktivitas dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, sedangkan karyawan adalah orang yang telah diterima sebagai karyawan yang bekerja pada perusahaan. Kalau menurut J Rabianto, (1999 : 19), menyatakan bahwa :
1.     Kinerja karyawan adalah keluaran fisik per unit dari usaha yang secara produktif.
2.     Kinerja adalah tingkat keefektifan dan manajemen pemasaran di dalam penggunaan fasilitas-fasilitas untuk pendapatan.
3.     Kinerja karyawan adalah keefektifan dari penggunaan tenaga kerja.
4.      Kinerja karyawan adalah pengukuran seberapa baik sumber daya digunakan bersama di dalam organisasi untuk menyelesaikan suatu kumpulan-kumpulan hasil-hasil.
5.     Kinwerja karyawan adalah usaha untuk mencapai tingkat (level) tertinggi dari unjuk laku (performance) dengan pemakaian dari sumber daya yang minim.
      Kalau Melapyu SP Hasibuan,  (1998 : 25), menyatakan bahwa :
1.    Kinerja karyawan adalah pada dasarnya suatu sikap yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu esik lebih baik dari hari ini.
2.    Secara umumn kinerja karyawan mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang dipergunakan.
3.     Kinerja karyawan merupakan dua pengertian yang berbeda, adalah peningkatan pendapatan/ penjualan menunjukkan pertambahan suatu hasil yang telah dicapai, sedangkan peningkatan kinerja karyawan mengandung pengertian pertambahan hasil dan perbaikan cara pencapaian pendapatan yang diinginkan.
4.    Peningkatan kinerja dapat dilihat dalam tiga factor :
a. Jumlah  pendapatan/  penjualan  meningkat  dengan menggunakan sumber daya yang sama.
b.    Jumlah penjualan yang sama atau meningkat dicapai dengan menggunakan sumber daya yang kurang.
c.    Jumlah penjualan yang jauh lebih besar diperoleh dengan pertambahan sumber daya yang relative lebih kecil.  
5.    Sumber daya manusia memegang peranan utama dalam proses peningkatan pertambahan kinerja karyawan oleh karena pendapatan/ penjualan dan teknologi pada hakekatnya merupakan hasil karya manusia.
      J. Ravianto dalam bukunya Produktivitas dan Pengukurannya (1998 : 18) menyatakan bahwa kinerja karyawan adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta kerja karyawan persatuana waktu.
      Edwin B Flippo, (1999 : 112 ) menyatakan bahwa kinerja karyawan adalah sebagai suatu perbandingan antara outpout ( hasil yang dicapai) dan input (tenaga kerja), di mana kinerja karyawan yang digunakan selama proses pendpatan dikatagorikan ke dalam input pendapatan.
      Payaman J Simanjuntak, (2000 : 15) menyatakan bahwa kinerja karyawan adalah mengefektifkan factor kinerja karyawan yang secara langsung digunakan dalam proses pendapatan.
      Dengan memandang kinerja karyawan sebagai factor masukan (input) yang paling utama guna meningkatkan kinerja karyawan pada suatu instansi,  maka upaya kearah penggunaan kinerja karyawan secara efektif semestinya dilaksanakan oleh instansi itu sendiri. Upaya-upaya penggunaan kinerja karyawan secara efektif ini dapat dilaksanakan melalui berbagai pendekatan seperti pelaksanaan pendidikan, latihan dan berbagai upaya lainnya dilaksanakan dalam pembahasan ini.        


 DAFTAR PUSTAKA


Calvin Engler, 1999, Controllership, Tugas Akuntansi Manajemen, Alih Bahasa, Gunawan Hutahuruk, Edisi Ketigaa, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Chritina Ellen, Fuad M. Sugiarto, 2001, Anggaran Perushaan Suatu Pendekatan Praktis, Ghalia Indonesia, Jakarta,

Edwin B. F, 1999, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara,  Jakarta.

Hartanto, D, 2003, Akuntansi Untuk Usahawan, Edisi Pertama, Bagian Penerbit Fakultas Ekonomi, UGM, Yogyakarta. 

Horgren, Charles, T, 2002, Cost Accounting, A.Managerial  Emphasis, Fourth Edition, Prentice-Hall, of  India Private Limited, New Delhi.

Haryani, 2003, Analisis Fungsi Anggaran Sebagai Alat Pembantu Pengendalian dan Evaluasi Kinerja, PT Trakindo, Makassar.

Mulyono, Teguh, Pajo , 1999, Analisis dan Disain Sistem Informasi, Cetakan Pertama, Edisi Kelima, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Ray H. Garisson, 1995, Akuntansi Pemerintahan,  Edisi Ketiga, Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta.

Simanjuntak,  P,  J. 2000, Pengantar  Ekonomi  Sumber  Daya  Manusia,      Edisi Kedua, Fakultas ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar