Powered By Blogger

Kamis, 13 Oktober 2016

Penetapan Harga Jual Dan Peningkatan Penjualan

A   Pengertian dan Jenis-Jenis Biaya

    1  Pengertian Biaya
         Untuk menghasilkan sesuatu apakah itu barang atau jasa maka perlulah dihitung dan diketahui besarnya biaya yang dikeluarkan atau yang perlu dan kemungkinan memperoleh pendapatan yang mungkin diterima. Setiap pengorbanan biaya selalu diharapkan akan mendatangkan hasil yang lebih besar dari pada yang telah dikorbankan tersebut pada masa yang akan datang.
      Dengan demikian, seorang pengusaha hendaknya dapat mengetahui bagaimana besarnya pengorbanan dalam proses produksi pada dasarnya setiap untuk yang merupakan komponen biaya peruhaan. Dalam hal ini, total biaya selalu dapat dihitung dan dapat dibandingkan dengan total penerimaan yang mungkin dapat diperoleh dengan kemungkinan laba yang akan diperoleh.
      Berbicara mengenai masalah biaya merupakan suatu masalah yang cukup luas, oleh karena di dalamnya terlihat dua pihak yang saling berhubungan. Oleh Winardi, dalam bukunya Kapita Selecta ( 2000: 147), menyatakan bahwa bahwa bilamana kita memperhatikan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu proses    produksi, maka dapat dibagi ke dalam dua sifat, yaitu yang merupakan biaya bagi produsen adalah mendapat bagi pihak yang memberikan faktor produksi yang terbaik pada perusahaan bersangkutan.
       Demikian halnya bagi konsumen, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh alat pemuas kebutuhannya atau merupakan pendapatan bagi pihak yang memberikan alat pemuas kebutuhan tersebut. Oleh Ikatan Akuntansi Indonesia, (1994: Pasal I ayat 1) dikatakan bahwa biaya (cost) adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang, yaitu pengeluaran-pengeluaran dalam bentuk konstan atau  dalam bentuk pemindahan kekayaan pengeluaran modal saham, jasa-jasa yang disertakan atau kewajiban-kewajiban yang ditimbulkannya, dalam hubungannya dengan barang-barang atau jasa-jasa yang diperoleh atau yang akan diperoleh pada masa yang datang, karena mengeluarkan biaya berarti mengharapkan pengembalian lebih banyak.                                                         
      Dari definisi dan pengertian biaya di atas, dapatlah  dikatakan  bahwa  pengertian biaya yang dikemukakan  di atas adalah suatu hal yang masih merupakan pengertian secara luas oleh karena semua yang tergolong dalam pengeluaran secara nyata keseluruhannya termasuk biaya.
      Sejalan dengan definisi dan pengertian di atas, maka D. Hartanto dalam bukunya Akuntansi Untuk Usahawan ( 2002 : 89), memberikan atasan tentang biaya (cost) dan ongkos (expense), sebagai berikut cost adalah biaya-biaya yang dianggap akan memberikan manfaat atau service potensial di waktu yang akan datang dan karenanya merupakan aktiva yang dicantumkan dalam neraca. Sebaliknya expense atau expred cost adalah biaya yang telah digunakan untuk menghasilkan prestasi. Jenis-jenis biaya ini tidak dapat memberikan manfaat lagi diwaktu yang akan datang, maka tempatnya adalah pada perkiraan laba rugi.                                                                                                          
2. Jenis-Jenis Biaya
       Sehubungan dengan jnis-jenis biaya tersebut, maka D. Hartanto, (1998: 37) mengelompokkan biaya menurut tujuan perencanaan dan pengawasan, sebagai berikut :
       "1) Biaya variabel dan biaya tetap
        2) Biaya yang dapat dikendalikan".     
      Sedangkan menurut Mulyadi, dalam bukunya Akuntansi Biaya, Penentuan Harga Pokok (2000 : 57) menetapkan biaya adalah sejumlah pengeluaran yang tidak bisa dihindari  menghubungkan tingkah laku biaya dengan perubahan volume kegiatan sebagai berikut biaya variabel adalah sejumlah biaya yang secara total berfluktuasi secara langsung  sebanding dengan volume penjualan atau produksi, atau ukuran kegiatan yang lain.
      Sedangkan biaya tetap atau biaya kapasitas merupakan biaya  untuk  mempertahankan kemampuan beroperasi perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu.
      Dari gambaran umum di atas, maka dapat diketahui  sebagai berikut :
1. Biaya variabel  adalah  sejumlah  biaya yang ikut berubah untuk mengikuti  volume produksi atau penjualan. Misalnya atau  bahan langsung hanya yang ikut dalam proses produk, bahan baku langsung yang dipakai dalam proses produksi biaya tenaga kerja langsung.
2. Biaya tetap adalah sejumlah biaya yang tidak  berubah    walaupun ada  perubahan volume produksi atau penjualan. Misalnya gaji bulanan, asuransi, penyusutan, biaya umum dan lain-lain. Sifat-sifat biaya tersebut sangat penting untuk dikethui seorang manajer dalam perencanaan usaha pengembangan karena dengan demikian akan didapatkan suatu gambaran klasifikasi biaya yang baik untuk tujuan dan perencanaan serta pengawasan.
B  Pengertian Harga Jual
      Harga jual merupakan ukuran untuk dapat mengetahui berapa besar nilai suatu barang dan jasa. Harga turut menentukan berhasil tidaknya akan laku dipasaran, karena harga merupakan nilai dari suatu barang yang dinyatakan dalam satuan uang. Selain itu juga harga dipakai sebagai patokan atau titik permulaan bagi penentuan harga lainnya atau harga merupakan sasaran penghubung antara pembeli dan penjual. Artinya harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran akan suatu produk barang atau jasa. 
      Basu Swastha dalam bukunya Pengantar Bisnis (1999 : 147) memberikan definisi tentang harga, yaitu harga adalah merupakan jumlah uang atau barang (ditambah beberapa barang kalau memungkinkan) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.
      Perusahaan menginginkan harga yang lebih tinggi, akan tetapi masyarakat sudah mengetahuiu situasi dan harga, pihak produsen perlu menjamin kualitas produksi, sehingga tidak ada tanggapan lain dari konsumen atau kurang puas.
      Harga sebagai suatu standar nilai barang dan jasa, sehingga harga itu sangat penting ditentukan Cuma perlu ditekankan bahwa untuk ingin memiliki suatu barang tersebut seseorang membayar dengan sejumlah uang untuk mengumpulkan barang dan sudah termasuk pelayanan yang diberikan oleh penjual. Bahkan penjual juga mengharapkan keuntungan dari harga tersebut.
      Kemudian Nitisemito dalam bukunya Pembelanjaan Perusahaan (2000 : 11) memberikan batasan mengenai harga yaitu harga adalah suatu barang dan jasa yang diakui dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai tersebut atau perusahaan bersedia melepaskan barang atau jasa yang dimilikinya kepada orang lain.
      Harga menunjukkan pula terlaksananya suatu transaksi pembelian yang dapat terjadi, jika pembeli dan penjual telah secara bersama-sama sepakat pada suatu tingkat harga tertentu dari suatu produk yang dijual, sehingga dengan demikian perusahaan dalam hal ini melaksanakan kegiatan untuk pemasarannya tidak terlepas diri dari suatu penentuan harga produk yang akan ditawarkan pada konsumen yang bias merasa puas terhadap hasil produk perusahaan.
      Dengan demikian, harga mempunyai peranan serta fungsi yang tidak dapat dipisahkan dengan fungsi-fungsi lainnya seperti halnya produksi, pemasaran juga pembelanjaan dan fungsi-fungsi lainnya.
      Perusahaan  dalam menjalankan aktivitasnya sesuai dengan obyek penelitian dalam hal penetapan harga jual kepada langganan selalu memperhatikan berbagai pertimbangan seperti harga pada perusahaan lain, daya belu masyarakat, pengawasan dan pengendalian harga oleh pemerintah dan lain pertimbangan tentang biaya produksinya.

C  Tujuan Penetapan Harga Jual         
      Adapun tujuan penetapan harga jual  yaitu penentuan sikap dari hasil produk barang dan jasa yang akan ditawarkan kepada konsumen sebagaimana dikemukakan Winardi dalam bukunya Kapita Selesta (2002 : 149), mengemukakan bahwa :
     1) Sebagai alat untuk perencanaan         
     2) Sebagai alat untuk pengawasan atau  pengendalian biaya.
     3) Sebagai alat untuk memecahkan persoalan khusus.
      Sedangkan Winardi menyatakan bahwa tujuan penetapan harga pokok adalah :
       1) Sebagai dasar bagi harga pokok penawaran
       2) Sebagai dasar guna menentukan hasil - hasil perusahaan.
       3) Penilaian mengenai harga-harga pasar yangberlaku
       4) Sebagai alat guna  mengontrol efisiensi perusahaan.
      Dengan demikian, apabila  diketahui  harga  pokok  sesuatu  barang yang diproduksikan, maka penentuan harga pokok penjualan dapat pula ditentukan. Demikian  pula dengan diketahuinya harga pokok produksi dalam suatu barang, maka untuk kepentingan  pengendalian efisiensi  dalam  proses produksi dengan mudah dapat dilakukan pengontrolan dan pengawasan.
      Efisiensi  yang dimaksud  tersebut  adalah  penawaran prinsip-prinsip ekonomi dalam perusahaan, yaitu dengan pengorbanan  yang  seminimal akan mencapai hasil yang maksimal mungkin.


D   Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Jual  
      Faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual sebagai ukuran untuk menilai barang yang dihasilkan barang dan jasa. Harga jual dapat  dinilai bahwa produksi barang dan jasa berhasil tidaknya akan laku dipasaran, karena harga merupakan nilai dari suatu barang yang dinyatakan dalam satuan uang. Selain itu juga harga dipakai sebagai patokan atau titik permulaan bagi penentuan harga lainnya atau harga merupakan saran penghubung antara pembeli dan penjual. Artinya harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran akan suatu produk barang atau jasa yang telah disesuaikan. 
      Mulyadi dalam bukunya Akuntansi Biaya, Pengendalian Harga Pokok, (2003 : 147) memberikan definisi tentang harga, yaitu harga adalah merupakan jumlah uang atau barang (ditambah beberapa barang kalau memungkinkan) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.
      Perusahaan menginginkan harga yang lebih tinggi, akan tetapi masyarakat sudah mengetahui situasi dan harga, pihak produsen perlu menjamin kualitas produksi, sehingga tidak ada tanggapan lain dari konsumen atau kurang puas.
     Harga sebagai suatu standar nilai barang dan jasa, sehingga harga itu sangat penting ditentukan. Perlu ditekankan bahwa untuk ingin memiliki suatu barang tersebut seseorang membayar dengan sejumlah uang  untuk  mengumpulkan barang dan sudah termasuk pelayanan yang

diberikan oleh penjual.  
      Kemudian Nitisemito,  dalam bukunya Dasar-Dasar Penganggaran Bagi Eksekutif, (2000 : 11) memberikan batasan mengenai harga yaitu harga adalah suatu barang dan jasa yang diakui dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai tersebut atau perusahaan bersedia melepaskan barang atau jasa yang dimilikinya kepada orang lain.
      Harga menunjukkan pula terlaksananya suatu transaksi pembelian yang dapat terjadi, jika pembeli dan penjual telah secara bersama-sama sepakat pada suatu tingkat harga tertentu dari suatu produk yang dijual, sehingga dengan demikian perusahaan   dalam hal ini melaksanakan kegiatan untuk pemasarannya tidak terlepas diri dari suatu penentuan harga produk yang akan ditawarkan.
      Dengan demikian, harga mempunyai peranan serta fungsi yang tidak dapat dipisahkan dengan fungsi-fungsi lainnya seperti halnya produksi, pemasaran juga pembelanjaan dan fungsi-fungsi lainnya.
      Perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya sesuai dengan obyek penelitian dalam hal penetapan harga jual kepada langganan selalu memperhatikan berbagai pertimbangan seperti harga pada perusahaan lain, daya beli masyarakat, pengawasan dan pengendalian harga oleh pemerintah dan lain pertimbangan tentang biaya produksinya. 

E  Metode-Metode Penetapan Harga Jual   
      Harga pokok merupakan nilai investasi yang dikorbankan untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Mulyadi dalam bukunya Akuntansi Biaya , Penentuan Harga Pokok (2003 : 97) menyatakan bahwa komponen-komponen biaya terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Metode pengumpulannya disesuaikan dengan karakteristik system produksi dengan industrinya.
1.   Metode harga pokok pesanan
      Metode harga pokok dalam system pesanan digunakan dalam produksi yang menghasilkan dalam berbagai produk yang berbeda-beda pada setiap priode. Termasuk dalam contoh produksi ini adalah usaha meubel, percetakan dan lain sebagainya.
      Beberapa karakteristik system penentuan harga pokok pesanan yaitu :
a.    Kegiatan produksi atas dasar pesanan, sehingga bentuk barang/ produk tergantung spesifikasi pesanan. Proses produksinya terputus-putus, tergantung ada tidaknya pesanan yang diterima.
b.    Biaya produksi dikumpulkan untuk setiap pesanan sehingga perhitungan total biaya produksi dihitung pada saat pesanan selesai. Biaya per unit adalah dengan membagi total produksi dengan total unit yang dipesan.
c.    Mengumpulan biaya produksi dilakukan dengan membuat kartu harga pokok pesanan yang berfungsi sebagai buku pembantu biaya yang memuat informasi umum seperti nama pemesan, jumlah pesanan dan tanggal diselesaikan, informasi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang ditentukan dimuka.
d.    Penentuan harga pokok per unit produk dilakukan setelah produk pesanan dengan jumlah unit produk yang diselesaikan.
Dalam system harga pokok pesanan, ketiga elemen biaya produksi dikumpulkan sesuai dengan nomor pesanan yang dikerjakan. Harga pokok barang per unit dengan membagi biaya total pesanan tersebut dengan jumlah unit yang dibuat. Nilai barang jadi adalah seluruh harga pokok dari pesanan yang diolah. Nilai barang dalam proses adalah harga pokok pesanan yang belum selesai.
Kesalahan dari sistem ini adalah bahwa setiap biaya produksi yang dikeluarkan atau yang dibebankan harus dapat diidentifikasikan pada pesanan yang dibuat. Semua harus dapat menampung perhitungan harga pokok pesanan.    
2.   Metode harga pokok proses
       Sistem harga pokok dalam proses digunakan untuk perusahaan yang memproduksi suatu produk tunggal, homogen yang dihasilkan dalam jangka panjang secara berkelanjutan. Berkelanjutan dalam jangka panjang termasuk dalam contoh produksi ini adalah usaha pabrik semen, pabrik terigu dan sebagainya. Untuk menghitung harga pokok barang, perusahaan dapat menggunakan tenaga pada departemen, bagian atau seksi dalam produksi.  
       Harga pokok proses berkaitan dengan alokasi biaya produksi pada suatu departemen terhadap suatu barang yang diproses di departemen tersebut. Harga pokok proses mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut :
a.    Biaya dikumpulkan pada setiap departemen
b.    Setiap departemen mempunyai rekening persediaan barang dalam proses untuk mendebit biaya diterima dan mengkredit harga pokok barang.
       Persediaan akhir barang dalam proses akan menjadi persediaan awal periode berikutnya, hal ini dapat menimbulkan dua macam harga pokok dalam suatu departemen, yaitu harga pokok periode sekarang dan harga pokok periode yang lalu.
       Dalam sistem harga pokok proses, biaya persediaan barang dalam proses di pisahkan dari biaya yang ditambahkan dalam periode berjalan dan tidak dirata-ratakan dengan ditambah unit yang baru. Biaya untuk menyelesaikan unit-unit dalam proses pada awal periode dihitung terlebih dahulu kemudian diikuti dengan perhitungan untuk biaya unit yang dimulai dan diselesaikan pada periode berjalan.

F  Pengertian Penjualan
      Sebenarnya laba yang diperoleh suatu perusahaan merupakan pencerminan diri usaha-usaha perusahaan yang memberikan kepuasan konsumen. Untuk mencapai hal itu, perusahaan harus dapat menyediakan dan menjual barang atau jasa yang paling sesuai menurut konsumen dengan harga yang dapat dijangkau tetapi tidak merugikan produsen artinya dengan harga yang layak.
      Dengan demikian, sasaran perusahaan dalam melaksanakan tugas pokok tersebut serta untuk mencapai tujuan sebagai unit usaha adalah meningkatkan volume penjualannya, karena penjualan adalah sumber pendapatan bagi perusahaan.
      Stanton, (1999 : 8) memberikan definisi sederhana tentang penjualan, bahwa penjualan adalah bagian pemasaran itu sendiri adalah salah satu bagian dari keseluruhan sistem pemasaran.
      Pengertian penjualan berarti bahwa menyerahkan barang atau jasa aktivitas lainnya dalam suatu periode dengan membebankan suatu jumlah tertentu pada langganan/ konsumen atau pembeli/ penerima barang atau jasa.
      Penjualan barang dagangan oleh sebuah perusahaan dagang biasanya hanya disebut “Penjualan” (Soemarso, 1999 : 178) jumlah transaksi penjualan yang terjadi biasanya  cukup besar dibandingkan dengan jenis transaksi yang lain. Beberapa perusahaan hanya menjual barangnya secara tunai, perusahaan yang lain hanya menjualnya secara kredit, dan yang lain lagi menjual barangnya dengan kedua syarat jua; beli tersebut.    
      Penjualan adalah suatu proses pertukaran barang atau jasa antara penjual dan pembeli. Tugas pokok adalah mempertemukan pembeli dan penjual. Hal ini dapat dilakukan secara langsung  atau melalui wakil mereka. Fungsi penjualan mencakup sejumlah fungsi-fungsi sebagai berikut :
1.    Fungsi perencanaan
2.    Fungsi memberi kontrak ( contractual function )
3.    Fungsi menciptakan permintaan (demand creation)
4.    Fungsi mengadakan perundingan (negotiation)
5.    Fungsi kontraktual (contractual fungtion)
      Pada umumnya, para pengusaha mempunyai tujuan untuk mendapatkan laba tertentu (mungkin maksimal), dan mempertahankan atau bahkan meningkatkannya untuk jangka waktu yang lama. Tujuan tersebut dapat direalisasikan apabila penjualan dapat dilaksanakan seperti yang direncanakan. Dengan demikian tidak berarti bahwa barang dan jasa yang terjual selalu akan menghasilkan laba. Oleh karena itu pengusaha harus memperhatikan beberapa faktor-faktor sebagai berikut :
1.    Modal yang diperlukan
2.    Kemampuan merencanakan
3.    Kemampuan menentukan tingkat harga yang tepat
4.    Kemampuan memilih penyalur yang tepat
5.    Kemampuan menggunakan cara-cara promosi yang tepat
6.    Unsur penunjang
Perusahaan, pada umumnya mempunyai tiga tujuan umum dalam penjualan   yaitu
  1. Mencapai tujuan tertentu
  2. Mendapatkan laba tertentu
  3. Menunjang pertumbuhan perusahaan.

G  Cost Plus Pricing
      Perusahaan yang berorientasi produksi dan penjualan perlu ditinjau terlebih dahulu apakah kegiatan tersebut dalam jangka panjang atau jangka pendek. Perusahaan yang berproduksi hanya perusahaan musiman, misalnya pabrik payung pada saat hujang. Mulyadi (2000 : 127) menyatakan bahwa kalau jangka panjang, harga jual produk harus dapat memenuhi seluruh biaya. Jika tidak, maka perusahaan tidak mampu mempertahankan hidupnya. Harga jual yang ditetapkan sedikit di atas, biaya variabel saja, jadi harga dapat diterima dalam jangka pendek (tingkat perputarannya cepat).
      Sedangkan dalam jangka panjang, seluruh biaya adalah relevan untuk menentukan harga jual dan harus dipertimbangkan secara eksplisit agar tujuan jangka panjang dapat tercapai. Perusahaan yang mempunyai tujuan jangka panjang tentu proyeksi terhadap biaya-biaya selama dalam proses produksi telah dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum produksi terlaksana dengan baik.
      Pendekatan yang lazim mempunyai tujuan jangka panjang, maka untuk menentukan harga jual produk standar adalah menerapkan formula cost plus. Menurut pendekatan ini, harga jual adalah cost ditambah dengan mar up sebagai prosentase tertentu dari cost plus. Mar up harus ditentukan sebesar prosentase tertentu dari cost plus, karena mar up harus ditentukan sedemikian rupa, sehingga laba yang diinginkan dapat tercapai pada perusahaan, dengan harapan pemilik perusahaan disesuaikan pada tujuan semula.      

H  Pentingnya Pengendalian Harga Jual 
      Usaha pengembangan perusahaan dan untuk menjamin kontinutas perusahaan, maka perlu adanya sejumlah keuntungan diharapkan dapat menunjang kelangsungan hidup perusahaan. Merealisir hal tersebut maka perlu diciptakan antara lain peningkatan volume penjualan hasil produk pengolahan, penekanan biaya produksi, peningkatan kwalitas, perluasan seluruh distribusi. Tanpa adanya peningkatan perubahan dalam suatu produk perusahaan termasuk dalam hal ini kebijaksanaan peningkatan kualitas produksi, maka akibatnya perusahaan akan mengalami dan menghadapi tantangan atau persaingan yang semakin  berat utamanya dalam hal pencapaian tujuan perusahaan.
      Disadari bahwa dalam usaha pengembangan mutu produksi, pada tahap tersebut mungkin terjadi penyimpangan yang tidak sesuai dengan rencana semula maka hal ini mungkin disebabkan oleh adanya keterbatasan tenaga manusia didalam proses produksi, keadaan/ kerusakan peralatan yang digunakan atau mungkin disebabkan faktor-faktor lain.
      Menjamin agar kualitas produk yang dihasilkan sesuai dengan standar, maka perlu ada bagian tersendiri yaitu bagian pengawasan mutu, karena tanpa adanya pengawasan mutu, maka besar kemungkinan hasil akhir tidak sesuai dengan sasaran semula (standar).
      Terperinci menurut Sofyan Assauri (2002 : 167) tentang pengawasan mutu bahwa :
1. Agar hasil produksi dapat mencapai standar mutu yang  telah ditetapkan.
2. Mengusahakan agar biaya inspection dapat menjadi serendah mungkin.
3. Mengusahakan agar biaya desain produk dan proses dengan   menggunakan mutu produksi tertentu dapat menjadi sekecil mungkin.
4.   Mengusahakan agar biaya  produksi menjadi  serendah mungkin.
      Harold, (1999 : 6) membagi dalam beberapa bagian, sebagai berikut :
       "a. Increase production  
        b. Lower unit cost      
        c. Inproved employed morale
        d. Better quality".     
      Berikut ini dalam pengendalian kualitas mempunyai 3 (tiga) tahap pelaksanaan dalam proses produksi barang dan jasa, yaitu :
     a. Pengendalian bahan mentah
     b. Pengendalian selama proses produksi
     c. Pengendalian hasil produksi akhir.
      Berdasarkan ketiga tahap pengendalian ini juga di gambarkan oleh Elwood S. Buffa, (1998 : 643), membagi 4 (empat) fase umum dari pengendalian kualitas, yaitu :
1.  Policy levela in determining desired market level of    quality.
2. The engineering design stage during which quality levels  spesified to achieve the market target levels.
3. The producing stage whan control over incoming raw materials and  produktive overation and mecesary to  inplement the policies.
4. The  use stage in the field where instalation can effect final quality and where the guarantee of quality and  erfotmance must the made effective.
      Berdasarkan keempat tingkatan ini dapat dijelaskan hubungan kerjasama secara bersama-sama dapat dilihat dari keempat hal tersebut di atas, dengan beberapa hubungannya. Sesuai dengan penjelasana di atas, menunjukkan empat tahap dalam pengendalian mutu melalui perencanaan, produksi dan distribusi. Hal  yang dijelaskan oleh Buffa ini adalah pengendalian mutu secara keseluruhan dalam perusahaan.
      Tahap pertama, menunjukkan pimpinan perusahaan yang seharusnya mengadakan kebijaksanaan mutu terlebih dahulu dalam hubungannya dengan tinjauan pasar, biaya investasi retularen on invesmen (pengambilan investasi) yang potensial serta faktor-faktor saingan.
      Tahap kedua, diadakan penentuan mutu yang akan dapat diproduksikan ditentukan oleh designer. Disini tentu di pertimbangkan mengenai bahan baku, cara memprosessing dan jasa-jasa yang diproduksikan.
     Pada tahap ketiga, barulah diadakan pengendalian mutu dalam proses produksi yaitu ada tiga, sebagai berikut :
    a.  Pemeriksaan pengendalian mutu dan bahan baku
    b.  Pemeriksaan dan pengendalian mutu bahan baku
    c.  Pemeriksaan dalam pengujian produk yang dihasilkan.
     Perusahaan yang melaksanakan pengendalian produksi untuk mengarah pada sfesifikasi yang akan ditentukan oleh mutu produk, maka diperlukan suatu ketelitian dalam quality control dan pemeriksaan yang lebih cermat.
      Perlu juga diketahui bahwa dalam usaha bagaimana untuk menghasilkan produk, tentu memerlukan sejumlah tenaga kerja. Demikian pula halnya dalam usaha produksi quality control khususnya gula. Analisis pengendalian mutu produk khususnya gula memerlukan tenaga kerja quafied untuk ditempatkan dalam gudang supaya terjamin dari kontinuitas perusahaan mengenai mutu produk.
      Melaksanakan usaha pengendalian dalam produksi khususnya pada gula pasir merupakan sumber pembahasan, sehingga proses kegiatan dari berbagai produksi yang dirubah dalam bentuknya oleh perusahaan yang menggunakan dalam bentuk barang/ jasa atau produksi di mana beberapa barang dan jasa yang disebabkan hasil yang diinginkan perusahaan dapat terjamin dari kontinutas.
      Setiap pimpinan memiliki manajemen tersendiri, sehingga kepemimpinan pada bawahannya terarah dan efisiensi. Artinya walaupun faktor-faktor tertentu harus dimilik, tapi manajemen penting untuk dimiliki. Oleh karena itu faktor produksi terdapat kesenjangan produktivitas yang dihasilkan oleh para pelaksana antara produktivitas sekarang dengan produktivitas yang lalu. Pada kenyataannya produksi yang dikaitkan dengan pengendalian  memang agak sulit dipisahkan, antara satu dengan yang lainnya.
      Pemeriksaan dikaitkan dengan produksi berati harus menggunakan tenaga kerja yang pernah mengadakan pelatihan, atau minimal mempunyai pengalaman kerja pada perusahaan lain.
      Akhirnya dapat disimpulkan bahwa hanya ada 3 (tiga) tahap pelaksanaan quality control dalam proses yaitu :
     1. Sebelum produksi dimulai
     2. Sebelum proses dimulai
     3. Sesudah produksi dilaksanakan
     Adapun peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan  quality control (pengawasan produk)  menurut Hoffman, (1997: 209), adalah :
       "1. Panca indra, misalnya mengetahui mutu tebuh yang baik, dapat dilihat dengan mata.                   
        2. Mempergunakan alat, diukur dengan membandingkan produksi yang lain dengan kapasitas yang sama dan bahan baku.

        3. Menggunakan metode statistik, yang lazim  disebut  statistical quality  control"

 DAFTAR PUSTAKA

Assauri, Sofyan, 2002, Manajemen Produksi, Bagian Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Buffa, Elwood, S, 1998, Modern Production Management, Fourth Edition, New York, London Sydney, Toronto, Jhon Welley and Sone.

Hartanto, D, 2002, Akuntansi Untuk Usahawan, Edisi Kedua, Penerbit LPFE, Universitas Indonesia, Jakarta.

Hoffman, dan Boodman, 1999, Production Palanning and Inventory Control, Cambride, Masschussets Artur  D. Limited.                 

Mulyadi, 2000, Akuntansi Biaya, Penentuan Harga Pokok dan Pengendalian Biaya, BPFE, Universditas Gajah Mada, Yogyakarta.        

Nitisemito, Alex, S, 2000, Dasar-Dasar Penganggaran Bagi Eksekutif,  Penerbit Pustaka Binaman Press Indonesia, Jakarata.

 ………………….., 2002, Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Kedua, Pustaka Binaman Press Indonesia, Jakarta.

Soemarso, 1999,  Pemasaran Modern, Penerbit Universitas Gajah Mada, Fakultas Ekonomi, Yogyakarta.

Swastha, Basu, 1999, Pengantar Bisnis, Edisi Kedua, Cetakan Kelima, Bina Aksara, Jakarta.  

Winardi,  2000, Kapita Selecta, Edisi Kelima, Cetakan Kedelapan, Penerbit Alumni, Bandung.

Ikatan Akuntan Indonesia 1994, Prinsip-Prinsip Akuntansi Indonesia, Universitas Indonesia, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar